web analytics
Connect with us

Opini

Anak; Bibit yang Kita Tanam Untuk Masa Depan

Mitra Wacana WRC

Published

on

Belajar itu menyenangkan. Sumber gambar: https://pixabay.com

This post is also available in: Indonesia

Waktu dibaca: 3 menit
Sri Roviana

Sri Roviana

Oleh Sri Roviana (Dewan Pengawas Mitra Wacana)

Di dalam sebuah kotak nasi dengan lauk ayam, sayur dan telur; “Tasyakur…telah lahir anak kedua kami yang bernama Siti Suharti, pada tanggal 10 Oktober 2010. Mohon doanya agar menjadi anak yang sholihah, berbakti pad orangtua, berguna bagi sesama, nusa bangsa dan agama”. Kami yang berbahagia, Keluarga Rina dan Anton.

Amat sering kita mendapatkan nasi kotak, gulai kambing, roti, atau jajanan sebagai ungkapan tasyakur atas lahirnya seorang anak. Orangtua selalu berharapa agar anaknya menjadi baik, berguna, dan bermanfaat pada sesama. Jarang atau bahkan tidak ada satu orangtua pun yang berharap anknya menjadi pencuri, koruptor, mafia pajak, atau pemerkosa, bahkan tidak ada satu orangtua pun yang berdoa agar anakya menjad pelacur. Namun mengapa setelah menjadi manusia dewasa, kita menjumpai dunia diwarnai laki-laki dan perempuan yang jauh dari doa orangtua mereka. Anak-anak di mata orangtua, dalam bahasa kitab suci, seringkali dikaitkan dalam berbagai definisi:

• Anak adalah perhiasan. Perhiasan adalah sesuatu barang yang biasanya bernilai mahal, disimpan dan dikelola dengan hati-hati, menimbulkan kebanggan atau nilai lebih bagi siapa yang memakainya. Anak adalah perhiasan juga dimaknai sebagai harta. Secara sosiologis, di beberapa daerah, orangtua yang memiliki anak perempuan merasa beruntung karena setelah dewasa orangtuanya akan mendapatkan mas kawin dari laki-laki yang menikahinya, berupa harta benda seperti lembu, babi, sapi, atau emas

• Anak sering didefinisikan sebagai musuh orangtua. Amat banyak cerita adanya orangtua yang justru berseteru, atau bermusuhan dengan anaknya. Akar permusuhan ada banyak hal, misalnya, anak yang menolak mengakui orangtuanya (kisah malin kundang), anak yang berkonflik dengan orangtua hingga diusir dari rumahnya, dsb. Belum terjadi rekonsiliasi hubungan antara anak dan orangtua membuat masing-masing merasa tidakk nyaman dengan statusnya sebagai anak dan orangtua.

• Anak sebagai cobaan. Ada perumpamaan bahwa mendidik anak tidaklah mudah, banyak kisah bahwa anak-anak seringkali menguji orangtuanya dengan berbagai peristiwa. Misalnya tidak mau sekolah, tidak mau kuliah, tidak mau bekerja, kebiasaanya adalah kongkow-kongkow di atas motor di pinggir jalan. Waktu mudanya tidak dimanfaatkan secara maksimal, hingga lewatlah usia muda

• Anak adalah penyambung amal sosial orangtua. Disebutkan dalam kitab suci Al Qur’an bahwa amal yang tidak akan berhenti setelah seseorang meninggal dunia adalah doa dari anak sholih dan sholihah kepada orangtuanya.

Melihat definisi di atas, maka jika ditanya pada semua orangtua, apa harapan terdalam dan terbesar dari anak-anaknya? Tentu secara umum akan menjawab, bahwa mereka menginginkan anak-anaknya menjadi orang baik, bermanfaat, dan berguna untuk sesama. Nah, ada beberapa resep bagi kita, orangtua, agar saat usia dini, anak-anak mulai belajar menjadi pribadi yang unggul:

• Orangtua perlu menceritakan pada anak-anaknya, ketangguhan tokoh-tokoh lokal, nasional, atau bahkan dunia. Seperti misalnya orang Jepang, akan bercerita tentang perlawanan kaum samurai, yang tangkas, sehat, cerdas, penuh strategi, dalam mengadapi musuhnya. Orang Jepang juga mempunya harga diri tinggi, hingga tak mau dihina, direndahkan. Sayangnya, orangtua di Indonesia seringkali menceritakan certa rakyat “Kancil Mencuri Timun”. Sehingga, setelah dewasa melahirkan karakter licik, penipu, suka mengakali orang. Banyak orangtua yang jika disuruh maju dalam rapat, akan mengatakan: “Jangan saya, yang lain dulu lah”. Orangtua yang seperti itu pasti karena saat kecil kurang mendapat motivasi.

• Keteladanan orangtua di hadapan anak. Satu tindakan keteladanan dari orangtua lebih bermakna dari seribu kata-kata. Anak-anak belajar dari apa yang dilihat, didengar, dan dikerjakan bersama orangtuanya. Artinya, pribadi anak biasanya tiak jauh dari kepribadian orangtua, dan cara orantua mendidiknya. Pepatah jawa mengatakan “Kacang mangsa ninggal lanjaran”. Atau pepatah melayu mengatakan “Air cucuran jatuh ke bawah” artinya, apa yang dilakukan orangtua menjadi teladan bagi anaknya. Jika orangtuanya hobi ke mall maka anaknya pun tidak akan jauh dari situ. Jika orangtuanya suka membaca buku, belajar, maka anakpun akan menganggap bahwa membaca dan belajar bukan hal berat dan aneh.

• Do’a orangtua kepada anak. Doa adalah seenjata orang-orang yang percaya bahwa kekuatan doa mendorong tindakan alam bawah sadar untuk mewujudkan apa yang dicita-citakan oleh orang yang berdoa. Doa ibarat senjatanya orang-orang yang percaya pada konsep bahwa Tuhan masih ada. Karena bagi orang-orang tertentu, mereka tidak mau berdoa karena menganggap agama bukan hal penting, serta Tuhan itu tidak ada. Kepada mereka yang berkeyakinan seperti itu tentunya kita cukup mengargai perbedaab yang ada. Toh tidak ada paksaan dalam berdoa.

Waktunya kini kita berefleksi, apakah anak-anak kita kan menjadi perhiasan hidup, musuh orangtua, cobaan, atau penyambung amal sosial kita. Tentu tergantung dari bagaimana kita memiliki cara pandang. Semoga pandangan positif pada anak akan membuahkan sikap-siap yang menghargai sosok anak sesuai tahapan perkembangannya. Kini saatnya untuk mengakhiri kekerasan paa anak, sekarang juga. Pada merekalah kita titipkan masa depan kita.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Opini

KONSTRUKSI MEDIA MASSA TERHADAP CITRA PEREMPUAN

Mitra Wacana WRC

Published

on

Sumber: Freepik

This post is also available in: Indonesia

Waktu dibaca: 3 menit
TANTANGAN GERAKAN PEREMPUAN DI ERA DIGITAL

Lilyk Aprilia Volunteer Mitra Wacana

Di era globalisasi, media massa menjadi salah satu hal yang penting dalam kehidupan masyarakat baik digunakan sebagai alat untuk komunikasi, mencari informasi, atau hiburan. Media massa terus mengalami perkembangan dari yang mulanya konvensional hingga sekarang menjadi modern . Berbicara mengenai media massa tentu ada hal yang menjadikan media massa memiliki nilai tarik tersendiri terlebih jika dihubungkan dengan keberadaan perempuan.

      (Suharko, 1998)  bahwa tubuh perempuan digunakan sebagai simbol untuk menciptakan citra produk tertentu atau paling tidak berfungsi sebagai latar dekoratif suatu produk.  Media massa dan perempuan merupakan dua hal yang sulit dipisahkan. Terutama dalam bisnis media televisi. Banyaknya stasiun televisi yang berlomba-lomba dalam menyajikan sebuah program agar diminati oleh masyarakat membuat mereka mengemas program tersebut semenarik mungkin salah satunya dengan melibatkan perempuan. Perempuan menjadi kekuatan  media untuk menarik perhatian masyarakat. Bagi media massa tubuh perempuan seolah aset terpenting yang harus dimiliki oleh media untuk memperindah suatu tayangan yang akan disajikan kepada masyarakat sehingga memiliki nilai jual yang tinggi.

     Media massa memiliki beberapa fungsi diantaranya sebagai wadah untuk memberikan informasi kepada masyarakat. Informasi yang diberikan kepada masyarakat salah satunya dalam bentuk iklan sebuah produk atau layanan jasa . Iklan merupakan sebuah informasi yang diberikan kepada masyarakat mengenai hal yang berhubungan dengan suatu produk atau jasa yang dikemas dengan semenarik mungkin.  Memiliki tujuan untuk menarik minat konsumen membuat salah satu pihak menjadi dirugikan . Pasalnya pemasang iklan dalam mengenalkan produknya kepada masyarakat sering kali memanfaatkan perempuan sebagai objek  utama untuk memikat para konsumen. Memanfaatkan wajah dan bentuk tubuh sebagai cara untuk menarik perhatian masyarakat membuat citra perempuan yang dimuat pada iklan terus menjadi sumber perdebatan karena dinilai menjadikan tubuh perempuan sebagai nilai jual atas produk yang ditawarkan . Ironisnya hal ini terus menerus dilakukan. 

         Memanfaatkan fisik sebagai objek untuk diekploitasi sudah bukan menjadi rahasia umum lagi. Terlihat dari citra perempuan yang digambarkan oleh tayangan iklan ataupun acara program televisi. Kecantikan perempuan dijadikan sebagai penghias tampilan dari suatu program acara. Dipoles sedemikian rupa untuk mendapatkan tampilan yang cantik kemudian dikonsumsi oleh publik. Demi untuk mengedepankan kepentingan media bahkan hak hak perempuan yang seharusnya dimiliki mereka dikesampingkan oleh media .  

     Selain sebagai wadah informasi untuk masyarakat media massa juga berfungsi sebagai hiburan.. Tayangan televisi yang sampai saat ini menempati rating tertinggi yaitu dalam kategori sinetron. Gambaran dalam tayangan tersebut banyak yang melibatkan perempuan dengan menggambarkan posisi perempuan selalu dibawah laki-laki. Tidak terlalu memperhatikan  pesan tersirat apa yang terkandung dalam tayangan tersebut, masyarakat terus-menerus mengkonsumsinya seolah tayangan tersebut tidak memiliki pesan yang bermasalah. Jika diperhatikan lebih lanjut banyak sekali peran perempuan yang digambarkan dari sisi lemahnya atau hanya melakukan pekerjaan domestik saja. Dengan begitu apa yang disajikan oleh media akan tertanam difikiran mereka sehingga menganggap pesan media massa sebagai realitas yang benar dan menjadi nilai yang kemudian diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

 

 Kekuatan Media Massa Dalam Membentuk Citra Perempuan

      Media massa memiliki kemampuan dalam membentuk citra . Bermula dari gambaran atas kenyataan yang ada dimasyarakat kemudian dikembangkan dengan menggunakan bahasa yang mengandung makna baru  namun masih memiliki acuan terhadap fakta yang ada kemudian disajikan kepada masyarakat secara terus menerus.  Dengan begitu citra yang dibentuk oleh media massa akan mempengaruhi realitas kehidupan dimasyarakat. Mengingat minat masyarakat terhadap objektifikasi perempuan cukup tinggi, media massa berlomba-lomba membentuk citra perempuan yang sempurna untuk mencapai target pasar dengan menggiring opini publik dalam menetapkan standar ‘cantik’ menurut media. Perempuan kerap kali dijadikan alat oleh media massa sebagai ladang untuk mendapatkan keuntungan dengan menampilkan kemolekan dan kecantikan fisiknya. Konstruksi sosial pada citra perempuan yang terjadi pada media massa bukan lagi hal baru dan tabu, fenomena ini terus berulang seolah menjadi kebenaran dalam mengkotakkan citra perempuan. 

     Selain itu pembenaran yang terus dilanggengkan oleh media massa terkait citra perempuan menjadikan sudut pandang masyarakat berkiblat pada standar yang digaungkan media massa tersebut sehingga menjadi salah satu agen budaya yang berpengaruh terhadap realita di kehidupan masyarakat.  Penggambaran terhadap perempuan oleh media massa semakin memperjelas bahwa posisi perempuan diranah publik masih lemah.

Continue Reading

Who is Online

No one is online right now

Advertisement
Advertisement

Twitter

Trending

Mari bergabung bersama Mitra Wacana

Silahkan bergabung dan menjadi bagian dari Mitra Wacana.
Akan ada penghargaan untuk tulisan yang terpilih.
Terima Kasih

Gabung