web analytics
Connect with us

Opini

Biar Tua Tapi Semangat Tetap Masih Muda

Mitra Wacana WRC

Published

on

Dokumentasi sekolah Dusun P3A SEJOLI Punggelan Banjarnegara

This post is also available in: Indonesia

Waktu dibaca: 2 menit

Oleh Misdariah (P3A SEJOLI Banjarnegara)

Usia saya sudah tua, 53 tahun tapi soal aktif di desa saya sejak muda sudah aktif di desa. Saya sudah 25 tahun sebagai kader Posyandu di dusun Cilalung desa Bondolharjo, Kecamatan Punggelan, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Saya pun selalu aktif dalam kegiatan di desa. Saya adalah salah seorang yang ikut pertama kali dengan kegiatan Mitra Wacana WRC.Saya selalu ikut kegiatan Mitra Wacana WRC pada saat itu, kalau untuk saat ini karena kendala transportasi saya kurang bisa aktif kecuali jika kegiatannya di dekat rumah, saya baru bisa ikut atau ada yang mengantar.

Hal yang paling berkesan dengan Mitra Wacana WRC adalah saat saya pertama kali bertemu dengan Pak Martin, itu pertama kali saya bertemu dan berjabat tangan dengan orang asing atau orang dari luar negeri tepat nya dari Negara Jerman. Saya sangat senang, Martin juga sangat ramah, dia menyapa dan bertanya kepada saya: “Apa kamu takut dengan saya?” saya menjawab: “ Saya tidak takut Mister, saya senang sekali bisa bertemu dengan anda.” Pak Martin tertawa dan mengacungi jempol pada saya. Peristiwa itu sangat berkesan bagi saya dan tidak akan saya lupakan seumur hidup saya.

Setelah pertemuan dengan Pak Martin tersebut, saya aktif mengikuti kegiatan yang diselenggarakan oleh Mitra Wacana WRC. Banyak hal dan ilmu baru yang saya dapatkan, saya yang semula tidak tahu apa itu kekerasan, Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) dan penanganan korban kekerasan sedikit demi sedikit menjadi tahu meski masih merasa takut bila ada kasus tentang kekerasan terhadap perempuan dan anak di desa Bondolharjo.

Meskipun sudah diberi ilmu dan pengetahuan tentang Undang-Undang, pencegahan dan perlindungan terhadap perempuan dan anak dari kekerasan serta menjadi anggota P3A SEJOLI, saya masih takut jika mendapatkan laporan soal kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak. Saya masih takut dengan anggapan masyarakat dikira orang yang ikut campur dalam permasalahan orang lain. Saya juga sering mendapat nasehat serta peringatan kalau ada kasus, jangan suka ikut campur dalam permasalahan orang lain nanti ndak ada yang marah dan tidak terima dengan tindakan kita. Malah bisa jadi nanti kita yang akan mendapatkan getahnya atau resikonya.
Keluarga juga memberi nasihat yang sama, hal tersebut membuat saya masih takut dan diam saat kasus-kasus kekerasan terjadi di sekitar lingkungan.

Lebih baik saya diam daripada mendapatkan ancaman dan tekanan dari berbagai pihak. Namun satu sisi saya juga bingung, karena sudah diajari dan mendapatkan ilmu tentang perlindungan dan pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak. Saat ini saya hanya bisa mendukung Sejoli dan aktif di Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) dulu sambil menunggu masyarakat mengerti tentang sebuah kebenaran

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Opini

KONSTRUKSI MEDIA MASSA TERHADAP CITRA PEREMPUAN

Mitra Wacana WRC

Published

on

Sumber: Freepik

This post is also available in: Indonesia

Waktu dibaca: 3 menit
TANTANGAN GERAKAN PEREMPUAN DI ERA DIGITAL

Lilyk Aprilia Volunteer Mitra Wacana

Di era globalisasi, media massa menjadi salah satu hal yang penting dalam kehidupan masyarakat baik digunakan sebagai alat untuk komunikasi, mencari informasi, atau hiburan. Media massa terus mengalami perkembangan dari yang mulanya konvensional hingga sekarang menjadi modern . Berbicara mengenai media massa tentu ada hal yang menjadikan media massa memiliki nilai tarik tersendiri terlebih jika dihubungkan dengan keberadaan perempuan.

      (Suharko, 1998)  bahwa tubuh perempuan digunakan sebagai simbol untuk menciptakan citra produk tertentu atau paling tidak berfungsi sebagai latar dekoratif suatu produk.  Media massa dan perempuan merupakan dua hal yang sulit dipisahkan. Terutama dalam bisnis media televisi. Banyaknya stasiun televisi yang berlomba-lomba dalam menyajikan sebuah program agar diminati oleh masyarakat membuat mereka mengemas program tersebut semenarik mungkin salah satunya dengan melibatkan perempuan. Perempuan menjadi kekuatan  media untuk menarik perhatian masyarakat. Bagi media massa tubuh perempuan seolah aset terpenting yang harus dimiliki oleh media untuk memperindah suatu tayangan yang akan disajikan kepada masyarakat sehingga memiliki nilai jual yang tinggi.

     Media massa memiliki beberapa fungsi diantaranya sebagai wadah untuk memberikan informasi kepada masyarakat. Informasi yang diberikan kepada masyarakat salah satunya dalam bentuk iklan sebuah produk atau layanan jasa . Iklan merupakan sebuah informasi yang diberikan kepada masyarakat mengenai hal yang berhubungan dengan suatu produk atau jasa yang dikemas dengan semenarik mungkin.  Memiliki tujuan untuk menarik minat konsumen membuat salah satu pihak menjadi dirugikan . Pasalnya pemasang iklan dalam mengenalkan produknya kepada masyarakat sering kali memanfaatkan perempuan sebagai objek  utama untuk memikat para konsumen. Memanfaatkan wajah dan bentuk tubuh sebagai cara untuk menarik perhatian masyarakat membuat citra perempuan yang dimuat pada iklan terus menjadi sumber perdebatan karena dinilai menjadikan tubuh perempuan sebagai nilai jual atas produk yang ditawarkan . Ironisnya hal ini terus menerus dilakukan. 

         Memanfaatkan fisik sebagai objek untuk diekploitasi sudah bukan menjadi rahasia umum lagi. Terlihat dari citra perempuan yang digambarkan oleh tayangan iklan ataupun acara program televisi. Kecantikan perempuan dijadikan sebagai penghias tampilan dari suatu program acara. Dipoles sedemikian rupa untuk mendapatkan tampilan yang cantik kemudian dikonsumsi oleh publik. Demi untuk mengedepankan kepentingan media bahkan hak hak perempuan yang seharusnya dimiliki mereka dikesampingkan oleh media .  

     Selain sebagai wadah informasi untuk masyarakat media massa juga berfungsi sebagai hiburan.. Tayangan televisi yang sampai saat ini menempati rating tertinggi yaitu dalam kategori sinetron. Gambaran dalam tayangan tersebut banyak yang melibatkan perempuan dengan menggambarkan posisi perempuan selalu dibawah laki-laki. Tidak terlalu memperhatikan  pesan tersirat apa yang terkandung dalam tayangan tersebut, masyarakat terus-menerus mengkonsumsinya seolah tayangan tersebut tidak memiliki pesan yang bermasalah. Jika diperhatikan lebih lanjut banyak sekali peran perempuan yang digambarkan dari sisi lemahnya atau hanya melakukan pekerjaan domestik saja. Dengan begitu apa yang disajikan oleh media akan tertanam difikiran mereka sehingga menganggap pesan media massa sebagai realitas yang benar dan menjadi nilai yang kemudian diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

 

 Kekuatan Media Massa Dalam Membentuk Citra Perempuan

      Media massa memiliki kemampuan dalam membentuk citra . Bermula dari gambaran atas kenyataan yang ada dimasyarakat kemudian dikembangkan dengan menggunakan bahasa yang mengandung makna baru  namun masih memiliki acuan terhadap fakta yang ada kemudian disajikan kepada masyarakat secara terus menerus.  Dengan begitu citra yang dibentuk oleh media massa akan mempengaruhi realitas kehidupan dimasyarakat. Mengingat minat masyarakat terhadap objektifikasi perempuan cukup tinggi, media massa berlomba-lomba membentuk citra perempuan yang sempurna untuk mencapai target pasar dengan menggiring opini publik dalam menetapkan standar ‘cantik’ menurut media. Perempuan kerap kali dijadikan alat oleh media massa sebagai ladang untuk mendapatkan keuntungan dengan menampilkan kemolekan dan kecantikan fisiknya. Konstruksi sosial pada citra perempuan yang terjadi pada media massa bukan lagi hal baru dan tabu, fenomena ini terus berulang seolah menjadi kebenaran dalam mengkotakkan citra perempuan. 

     Selain itu pembenaran yang terus dilanggengkan oleh media massa terkait citra perempuan menjadikan sudut pandang masyarakat berkiblat pada standar yang digaungkan media massa tersebut sehingga menjadi salah satu agen budaya yang berpengaruh terhadap realita di kehidupan masyarakat.  Penggambaran terhadap perempuan oleh media massa semakin memperjelas bahwa posisi perempuan diranah publik masih lemah.

Continue Reading

Who is Online

No one is online right now

Advertisement
Advertisement

Twitter

Trending

Mari bergabung bersama Mitra Wacana

Silahkan bergabung dan menjadi bagian dari Mitra Wacana.
Akan ada penghargaan untuk tulisan yang terpilih.
Terima Kasih

Gabung