web analytics
Connect with us

Uncategorized @id

Diskusi Publik RUU Penghapusan Kekerasan Seksual

Mitra Wacana WRC

Published

on

Diskusi Publik RUU Penghapusan Kekerasan Seksual. Foto: Analta Inala

This post is also available in: Indonesia

Waktu dibaca: 2 menit

Dalam beberapa tahun terakhir, kasus kekerasan seksual di Indonesia terus meningkat. Hal tersebut menimbulkan kondisi darurat diperlukannya regulasi yang khusus untuk mengatur tindak kekerasan seksual. Maka dari itu, terbentuklah RUU Penghapusan Kekerasan Seksual. Akan tetapi regulasi tersebut belum disahkan hingga saat ini dikarenakan beberapa peraturan bertentangan dengan program pemerintah dan ada kendala pada kebijakan pemerintah. Sehingga, berbagai lembaga merasa terpanggil untuk mengadakan diskusi mengenai RUU Penghapusan Kekerasan Seksual tersebut. Salah satunya CIQAL, lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang bergerak pada isu disabilitas.

Rabu (25/10/2017), CIQAL mengadakan diskusi publik atau konsolidasi dengan jaringan masyarakat sipil, pemerintah dan DPRD tentang RUU Penghapusan Kekerasan Seksual. Diskusi tersebut dimulai pada pukul 10.00 WIB di Gedung Bonaventura Auditorium Kampus 3 Universitas Atmajaya Yogyakarta. Pemateri yang turut hadir dalam diskusi tersebut yaitu Nuning (CIQAL) dan Dr. Yosephine Sari Murti Widiyastuti, Ketua Forum Perlindungan Korban Kekerasan (FPKK-DIY). Peserta yang hadir dalam diskusi tersebut yaitu dari berbagai pihak, baik lembaga pemerintah maupun lembaga swasta yang terkait, salah satunya LSM Mitra Wacana yang diwakili oleh Astriani dan Analta.

Dalam diskusi tersebut, Sari Murti menyampaikan bahwa “pentingnya untuk mendorong pengesahan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual. Tetapi selama ini dalam proses penegakkan hukum kekerasan seksual masih sangat sulit dan lamban. Payung hukum yang ada selama ini masih belum memberikan dampak yang maksimal pada proses penegakkan hukum kekerasan seksual yang terjadi”.

Sedangkan Nuning, yang mewakili pihak CIQAL juga menyampaikan bahwa “selama ini kebijakan yang dibuat masih seringkali tidak menggunakan perspektif inklusi disabilitas. Selama ini masih sulit, maka dari itu penting untuk turut serta mendorong segera disahkannya RUU Penghapusan Kekerasan Seksual ini”

Selain forum diskusi, juga diadakan penggalangan dukungan melalui penandatanganan petisi oleh peserta yang hadir dalam diskusi, dengan harapan agar RUU Penghapusan Kekerasan Seksual tersebut segera disahkan, mengingat darurat kekerasan seksual di Indonesia yang nantinya sebagai payung hukum dalam menindak pelaku dan melindungi korban. (Listy/Atta).

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita

Pola Asuh Anak di Masa Pandemi Covid-19

Mitra Wacana WRC

Published

on

This post is also available in: Indonesia

Waktu dibaca: 2 menit

   

Ada apa dengan KPK ?

Agus Rahmad Hidayat
Mahasiswa Magang

Selasa (29/06/2021), Pada Sinau Sareng#34 Mitra Wacana kali ini menghadirkan Yusmashfiyah, S.Ag., MPd. (CO-Founder Karima Center For Parenting Literacy) di Podcast Mitra Wacana membahas tema “Pola Asuh Anak di masa Pandemi Covid-19 selama satu jam lebih. 

Tema ini diambil seiring dengan penyebaran wabah Covid-19 yang belum usai selama satu tahun lebih yang merubah kebiasaan kita sehari-hari. Ada begitu banyak dampak yang dirasakan  selama  wabah covid-19 mulai dari kegiatan berkumpul dibatasi, pembelajaran jarak jauh dan himbauan untuk bekerja di rumah. Sementara itu imbauan untuk menjaga jarak fisik yang aman dari orang lain terus diserukan. Situasi ini tidak mudah bagi siapapun, khususnya orang tua dalam mengasuh anaknya. 

Dalam Sinau Sareng tersebut, Yusmashifyah mengungkapkan bahwa pademi ini saat ini berdampak pada beberapa hal dalam kehidupan kita.  Dampak kesehatan mental yang terganggu akibat banyaknya pemberitaan media terkait covid-19 yang belum tentu benar dan terkadang membuat kita takut. Selain itu Covid-19 berdampak pada sektor ekonomi yang mengakibatkan terbatasnya akses untuk bekerja, keluar rumah maupun fluktuasi secara keuangan sangat berbeda pada kondisi sebelumnya. Orang tua juga harus memberikan edukasi kepada anak tentang bahayanya Covid-19 agar terhindar dari penularan virus tersebut.

Dampak-dampak tersebut sangat berpengaruh pada siklus kehidupan kita terutama di keluarga yang berdampak pada meningkatnya tekanan atau beban dalam keluarga yang mempengaruhi psikologi orang tua. Dampak psikologi ini terkadang membuat kedua orang tua mudah tersulut emosinya ketika anak melakukan kesalahan, dampak-dampak tersebut sedikit banyak berubah pada pola asuh anak oleh kedua orang tua. 

Dimasa pademi ini orang tua harus lebih sensitif terhadap kondisi mental anak karena sebelum ada wabah ini mereka biasa bermain dengan teman-temannya setiap saat tetapi saat ini hampir dua tahun mereka tidak bisa melakukannya.

Disini asa asi asuh sangat penting bagi anak, memberikan stimulasi untuk perkembangan anak, memberikan kasih sayang walaupun beban semakin meningkat, mengajak anak bermain dengan memanfaatkan fasilitas di rumah orang tua harus responsif dan kreatif. 

Disini ada peran ayah dan ibu yang harus dilakukan, pengasuhan bukan peran ibu saja tetapi kehadiran dan kasih sayang ayah dalam mengasuh anak sangat dibutuhkan.  

Ada banyak hal yang bisa dipelajari dari peran kedua orang tua di saat pandemi ini, anak bisa melihat iklim yang harmonis tercipta dalam keluarga sehingga membuat nyaman berada di rumah. Pola asuh anak ini sangat menentukan terhadap tumbuh kembang anak sehingga  orang tua harus berhati-hati dalam menjaga pola asuh tanpa kekerasan. 

Continue Reading

Who is Online

No one is online right now

Advertisement
Advertisement

Twitter

Trending

Mari bergabung bersama Mitra Wacana

Silahkan bergabung dan menjadi bagian dari Mitra Wacana.
Akan ada penghargaan untuk tulisan yang terpilih.
Terima Kasih

Gabung