web analytics
Connect with us

Opini

KEBERANIAN ADALAH DOA DARI RASA TAKUT

Mitra Wacana WRC

Published

on

Dokumentasi audiensi P3A SEJOLI kepada pemerintah desa Bondolharjo Banjarnegara

This post is also available in: Indonesia

Waktu dibaca: 2 menit

Oleh Saminah (Ketua P3A SEJOLI)

Nama saya Saminah, seorang ibu rumah tangga biasa dari keluarga yang biasa saja, bukan istri dari seorang pejabat atau perangkat desa. Sejak kedatangan MitraWacana WRC di desa saya, saya merasa mendapatkan sebuah kesadaran baru tentang banyak hal, mendidik anak, berorganisasi dan terutama tentang pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak.

Mitra Wacana WRC biasa menyebut kegiatan tersebut dengan istilah “sekolah”. Pada awalnya yang ikut sekolah dengan Mitra Wacana WRC sangat banyak, karena hal tersebut merupakan hal baru di desa kami. Namun, justru ketika kita mulai membentuk organisasi yang kami namakan “SEJOLI” (Serikat Bondolharjo Peduli) banyak ibu-ibu yang mulai tidak ikut atau tidak aktif dalam kegiatan Mitra Wacana WRC. Ada yang beralasan karena sibuk dengan pekerjaan, sibuk mengurus anak, tidak diperbolehkan suami, tidak punya transportasi atau kendaraan, pulangnya selalu sore dan lain-lain. Alasan-alasan tersebut yang membuat Sejoli akhirnya dari waktu ke waktu ditinggalkan oleh anggotanya. Ditambah dengan kurangnya dukungan dari pemerintah desa Bondolharjo membuat kami kesulitan dalam memajukan Sejoli.

Pada saat itu, melihat banyak teman-teman anggota Sejoli yang berguguran saya kepikiran untuk mengundurkan diri juga.Tapi setelah dipikir-pikir, “kalau saya keluar…siapa yang akan mengaktifkan Sejoli?”. Seiring dengan kebimbangan saya, pada tahun 2016 ada pendamping baru yang menurut saya mempunyai semangat untuk membuat Sejoli lebih hidup dan mulai bergerak.

Di akhir tahun 2016, Sejoli mengadakan pergantian kepengurusan. Saya terpilih menjadi ketua Sejoli periode 2017 – 2019. Saya merasa tidak pantas menjadi ketua, pertama karena saya merasa masih bodoh, saya kurang pandai berbicara dan tidak memiliki keberanian dibandingkan dengan ibu-ibu anggota Sejoli yang lain. Saya sudah menyampaikan kepada ibu-ibu yang lain bahwa saya tidak bisa menjadi seorang ketua, sebaiknya memilih yang lainnya yang lebih pintar dibandingkan saya. Namun, forum tetap memilih saya sebagai ketua dengan kekurangan saya.

Meski secara kesepakatan forum saya terpilih sebagai ketua, tapi saya merasa terbebani sebagai ketua, merasa tidak bisa menjadi ketua yang baik karena tidak bisa ngomong atau berbicara di depan umum dengan baik. Menurut saya seorang ketua harus bisa menjadi pembicara yang bagus, juru bicara organisasi, menjadi contoh bagi anggotanya dan memiliki kemampuan serta ilmu yang lebih bagus dibandingkan yang lain. Itulah beban yang saya rasakan ketika dipilih menjadi ketua Sejoli.

Seiring berjalannya waktu, lama-kelamaan saya menyadari bahwa apapun yang terjadi, “saya adalah ketua Sejoli”. Kemudian saya berusaha memunculkan keberanian untuk mengambil peran sekemampuan dan sekeberanian saya.Saya terus mencoba untuk berbicara yang bagus meski setiap kali saya berbicara saya sering belepotan cara ngomong dan pen yampaiannya tapi karena terus mendapat semangat dari pendamping, saya mencoba sekuat tenaga untuk mulai dan terus berbicara ketika mendapat tugas menjadi pembawa acara, sosialisasi ke sekolah dan sosialisasi ke dusun-dusun. Bagi saya, saat ini tidak ada langkah mundur, yang ada langkah maju meskipun perlahan.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Opini

KESADARAN PERAN DAN ANOMALI BUDAYA PATRIAKHI

Mitra Wacana WRC

Published

on

KESADARAN PERAN DAN BUDAYA PATRIAKHI

This post is also available in: Indonesia

Waktu dibaca: 3 menit

Muhammad Mansur

Berangkat dari sebuah perbincangan dengan salah seorang sahabat tentang keluarga yang merembet pada perbincangan tentang perempuan dalam lingkaran patriarkhi. Sahabat saya ini bercerita betapa sebenarnya perempuan dari beberapa sisi menikmati keberadaannya dan secara sengaja atau tidak ikut melanggengkan budaya tersebut. Tidak semua perempuan sepakat kesetaraan peran dianggap sesuatu yang adil ketika ada kondisi “kenyamanan” di dalamnya.

Dalam budaya patriarkhi yang “ mensuperiorkan” laki-laki ada konsekuensi “kekuasaan” menjadi kendali laki-laki, namun dari sisi yang tersembunyi tidak sepenuhnya benar adanya. Superior artinya juga mampu segalanya dalami istilah jawa “mrantasi”. Wajah yang ditampakkan karena desakan kepercayaan bahkan keyakinan yang berakar di masyarakat membuat tampilan ini harus sebagaimana pengetahuan komunal tersebut. Sehingga ketika ada kegagalan dalam menjalankan peran tersebut pilihan kekerasan kerap digunakan untuk membungkam fakta yang terjadi. Walaupun disisi tersembunyi laki-laki yang dianggap superior tadi juga merasa mengalami intimidasi atas kesuperioritasan yang dilekatkan padanya.

Jika kembali pada perbincangan dengan sahabat saya diatas, dia berupaya memberikan ruang kesempatan seluas-luasnya kepada pasangannya untuk menjadi setara. Memainkan peran setara, soal peran dan tanggungjawab terhadap keluarga tanpa harus membedakan tugas dan peran laki-laki atau perempuan, selama itu mampu dilakukan dan mendapatkan hak yang sama dalam relasi keluarga menurutnya baik. Dari konsekuensi itu dia rela menanggalkan superiortas yang dilekatkan budaya padanya.

Menurutnya ternyata tidak semua perempuan mau mengambil kesempatan itu. Dari kacamatanya selain itu dibenarkan secara kebudayaan yang membentuk pasangannya, juga karena pasangannya sudah berada pada zona nyaman. Oleh karena itu dia tidak mau mengambil resiko untuk bersusah payah yang mengganggu kenyamanannya, karena dengan keluar dari zona aman artinya ada konsekuensi yang harus diambil. Dia harus berpusing ria bagaimana berpikir income untuk keluarga, dia harus berjibaku dengan pekerjaan diluar zona nyamannya. Sedangkan dengan “manut” saja dia tinggal menikmati apa yang bisa dihasilkan pasangannya.

Dalam hal ini memang dia diuntungkan karena sikap pasangan yang sangat kooperatif dan memiliki mindset yang baik dalam relasi antara perempuan dan laki-laki. Tapi, dari itu semua rasanya ada hal berat yang dipikulnya atas standard budaya yang: “lebih” mengunggulkan laki-laki ini. Fakta ini tidak hanya terjadi pada sahabat saya, hal serupa tidak sedikit terjadi namun tak pernah nampak dipermukaan karena hal ini seperti anomali dalam kebudayaan yang dianggap “ maskulin” ini.

Sepintas memang terlihat sebagai sebuah dalih atau alasan karena dia bagian dari yang gagal itu, sehingga mendorong pasangannya untuk mengambil sebagian perannya. Terlihat masuk akal, tapi analisis itu tidak banyak kacamata untuk bisa mendapatkan konklusi yang lebih objektif. Argumentasi dia bukan soal peran dia sebagai kepala keluarga yang tak mampu ia penuhi, namun lebih kepada proyeksi kemungkinan terburuk untuk survive. Begini maksudnya, mungkin hari ini dia punya kemampuan soal peran itu, namun ketika suatu saat dia tidak mampu melakukannya lagi, karena dia sakit atau bahkan meninggal, institusi keluarga yang mereka bangun tidak serta merta roboh karena pincangnya peran ini. Sebelum itu terjadi dia ingin keluarga ini tetap mampu survive dengan kelayakan karena tidak kehilangan kesempatan dan akses, karena kesempatan itu terbatas dari kekuatan dan waktu yang dimiliki.

Menarik menurut saya argumentasi ini, bahkan juga banyak yang berpikiran sama, namun demikian banyak juga yang melakukannya tidak didasari kesadaran mentalitas kesetaraan, tapi lebih banyak atas dasar bertahan hidup saja. Apa yang terjadi kemudian tidak beranjak pendewasaan kesadaran atas peran, tapi tetap saja ada tuntutan atas masing-masing peran. Perempuan menjadi memiliki beban ganda, dan laki-laki tetap terintimidasi atas kegagalan peran.

Banyak hal yang membentangkan disparitas peran laki-laki dan perempuan, sehingga terjadi pembedaan tugas bahwa pekerjaan A. untuk laki-laki, pekerjaan B, untuk perempuan dan seterusnya. Bukan didasarkan atas kemampuan yang dimiliki atau timbul dari malasnya untuk mencoba dan berusaha untuk bisa melakukannya.

Fenomena semacam ini jelas perlu banyak kajian dan diskusi biar tidak bias, bahwa selama ini masalah strereotipe yang merugikan ini tidak hanya menimpa kaum perempuan yang ditempatkan dalam ruang tertindas dalam kultur patriarkhi, namun juga laki-laki merupakan korban dalam budaya budaya ini. Kesempurnaan peran laki-laki merupakan peran “utopis” karena berjalan dalam intimidasi dan bayang-bayang ekspektasi budaya yang belum tentu semua mampu melakukannya.

Kesetaraan dan keseimbangan peran memang harus terus didialogkan dalam rangka menemukan perubahan mindset yang lebih adil terhadap perbedaan peran laki-laki dan perempuan. Bahwa akhirnya pilihan peran bisa menjadi hal yang diambil secara sadar tanpa membedakan “karena kelaki-lakiannya” atau “karena keperempuanya”. bahwa perempuan yang memilih ruang domestik tetaplah baik, ataupun sebaliknya bagi yang ingin berperan diruang public bukanlah tabu. Laki-laki juga berhak melakukan hal yang sama, asalkan didasari kesadaran dan tanggung jawab dalam melakukannya, bukan sebagai jalan pintas melarikan diri dari tanggung jawab yang mampu dilakukannya.

Continue Reading

Who is Online

No one is online right now

Advertisement
Advertisement

Twitter

Trending

Mari bergabung bersama Mitra Wacana

Silahkan bergabung dan menjadi bagian dari Mitra Wacana.
Akan ada penghargaan untuk tulisan yang terpilih.
Terima Kasih

Gabung