web analytics
Connect with us

Ketidakadilan Gender

This post is also available in: Indonesia

Penempatan laki-laki sebagai satu-satunya yang memiliki kekuasaan utama yang dominan dalam berbagai peran; kepemimpinan, politik, modal, moral, hak sosial dan kepemilikan tanah (properti) menjadikan ketidakadilan gender semakin langgeng. Dalam tingkat keluarga, figur ayah juga sering dipandang memiliki kewenangan paling tinggi terhadap perempuan, anak dan harta benda. Sedangkan ibu, dipandang sebagai figur yang lebih identik dengan urusan dapur, makanan dan anak.

Budaya yang menempatkan laki-laki pada posisi sebagai satu-satunya yang memiliki wewenang dalam masyarakat disebut patriarki. Budaya ini juga terjadi pada tingkat yang lebih luas seperti dalam bidang politik, pendidikan, ekonomi, sosial, dan hukum. Budaya patriarki menjadi akar terjadinya dominasi (penguasaan) laki-laki terhadap perempuan. Akhirnya, perempuan hanya dianggap sebagai kelompok pengabdi dan segala sesuatu yang dilakukan oleh perempuan kurang dihargai atau tidak diperhitungkan.

Dalam tingkat individu, patriarki adalah penyebab munculnya berbagai kekerasan yang dialami oleh perempuan. Budaya patriarki akan terus ada jika kita semua tidak berusaha mengubahnya. Sejak dahulu, budaya patriaki sudah muncul dan dilakukan sejak kecil. Contohnya, anak laki-laki diberikan mainan mobil-mobilan dan anak perempuan bermain boneka. Kita juga sering mendengar nasihat “laki-laki tidak boleh menangis” karena akan dianggap cengeng dan lemah. Sedangkan perempuan harus “bersikap lemah lembut” karena akan menjadi ibu yang merawat anak-anak.

Ketidakadilan gender merupakan bentuk pembedaan perlakukan berdasarkan alasan gender. Ketidakadilan gender bisa dialami oleh laki-laki maupun perempuan. Namun, saat ini perempuan lebih banyak mengalami ketidakadilan dibanding laki-laki. Akibatnya, terjadi pembatasan peran terhadap perempuan. Di bawah ini adalah bentuk-bentuk ketidakadilan gender yang sering dialami perempuan.

Subordinasi yaitu perempuan dianggap hanya memiliki peran di tingkat rumah tangga, sementara laki-laki dalam tingkat publik. Subordinasi, biasanya lebih banyak dialami oleh perempuan dan perempuan muda. Di bawah ini adalah contoh bentuk subordinasi yang dialami oleh perempuan dan perempuan muda.

Pelabelan (stereotip) atau pemberian cap terhadap seseorang/kelompok lain. Pelabelan bisanya terjadi karena anggapan yang salah. Pelabelan sering kali digunakan sebagai alasan untuk membenarkan suatu tindakan dari satu pihak ke pihak lainnya. Di bawah ini beberapa contoh pelabelan.

Peminggiran (marjinalisasi), yaitu proses yang mengakibatkan perempuan tidak memiliki akses dan kontrol terhadap sumber daya. Banyak cara yang dapat digunakan untuk meminggirkan peran perempuan.

Menurut data dari badan Pusat Statistik (BPS), Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) pada Februari 2018 di Indonesia menyebutkan bahwa TPAK laki-laki sebesar 83,01%, sedangkan TPAK perempuan hanya sebesar 55,44%. Data tersebut di atas membuktikan jika posisi perempuan dalam bidang ekonomi masih di bawah laki-laki. Di bawah ini adalah contoh marjinalisasi terhadap perempuan.

Beban ganda pada perempuan. Beban ganda artinya beban peran/pekerjaan yang diterima perempuan lebih banyak dibandingkan laki-laki. Pekerjaan rumah tangga dianggap sebagai tanggungjawab perempuan. Akibatnya, meskipun perempuan bekerja, masih harus melakukan pekerjaan di rumah. Hal yang sama tidak terjadi pada laki-laki

Kekerasan. Kekerasan merupakan segala bentuk perbuatan yang dilakukan terhadap perempuan yang mengakibatkan penderitaan fisik, psikis, ekonomi, seksual, dan online (daring).

Who is Online

No one is online right now

Advertisement

Twitter

Mari bergabung bersama Mitra Wacana

Silahkan bergabung dan menjadi bagian dari Mitra Wacana.
Akan ada penghargaan untuk tulisan yang terpilih.
Terima Kasih

Gabung