web analytics
Connect with us

Opini

BISNIS ONLINE MENJADI PILIHAN UNTUK MEWUJUDKAN HUBUNGAN GENDER

Mitra Wacana WRC

Published

on

This post is also available in: English Indonesia

Waktu dibaca: 3 menit

Oleh : Ewinda Adlina Hashifa (Mahasiswa Magang di Mitra Wacana WRC)

Dalam budaya patriarki, biasanya sulit bagi perempuan untuk memasuki sektor publik dan menghasilkan uang secara mandiri. Mereka harus bekerja di sektor domestik saja dan sesuai sifatnya. Mereka dilarang bekerja di luar karena dianggap melanggar aturan dan nilai-nilai di masyarakat. Tetapi saat ini, banyak wanita dapat bekerja di luar dan menjadi wanita karier. Pola pikir masyarakat telah berubah sehingga peran gender harus sama untuk mewujudkan kesejahteraan bersama di masyarakat.

Di era modern ini, beberapa wanita dapat bekerja di sektor publik untuk mencari penghasilan seperti halnya pria yang mencari penghasilan di luar. Perempuan dengan keterbatasan dalam hal pendidikan, keterampilan dan pengalaman kerja, peluang kerja, faktor biologis dan kemampuan fisik dapat bekerja dengan menjadi pekerja berbasis rumahan perempuan. Menjadi perempuan pekerja berbasis rumahan membuat perempuan dapat bekerja di ruang publik dan memiliki penghasilan tanpa meninggalkan pekerjaan rumah tangga mereka sehingga mereka dapat menyeimbangkan kedua pekerjaan pada saat yang sama.

Pekerja berbasis rumahan wanita dapat ditemukan di industri rumah tangga seperti toko kerajinan tangan, dan wanita membangun bisnis mereka dengan toko online tanpa membangun toko. Lebih jauh, membangun bisnis mereka sendiri dapat menjadi pilihan bagi perempuan yang memiliki keterbatasan latar belakang pendidikan dan keterampilan untuk menghasilkan pendapatan tetapi tetap di rumah, karena sifatnya yang informal. Saat ini, bisnis berbasis rumah menarik minat wanita untuk membantu suami mereka mendapatkan penghasilan tetapi masih melakukan pekerjaan rumah tangga di rumah.

Peningkatan peluang kerja bagi perempuan di sektor industri rumah tangga disebabkan oleh beberapa hal. Pertama, memasuki usaha tidak membutuhkan pendidikan kelas tinggi. Kedua, kondisi yang dituntut oleh pekerja perempuan lebih mudah daripada pekerja laki-laki yang harus bekerja di luar. Sebagian besar, wanita yang memiliki latar belakang sosial berkualitas rendah memiliki keinginan kuat untuk bekerja. Rendahnya standar latar belakang ekonomi keluarga juga menjadi dorongan bagi perempuan untuk bekerja. Seiring dengan perkembangan zaman dalam teknologi, bisnis online mulai meningkat dan menjadi mudah diakses melalui banyak tempat pasar atau media sosial yang dapat membantu menjual produk secara luas dan cepat. Ini bisa menjadi pengaruh bagi wanita saat ini untuk menjadi lebih maju dengan mengembangkan bisnis rumah tangga mereka.

Bisnis online adalah peluang bagi perempuan untuk dapat mewujudkan kesetaraan gender dan membuktikan bahwa perempuan dapat menghasilkan pendapatan seperti halnya laki-laki tetapi dengan cara yang berbeda. Selain itu, banyak wanita mengembangkan bisnis berdasarkan hasil dari kebiasaan memasak mereka di rumah dan kemudian mereka memiliki ide untuk membuka restoran atau menjual beberapa jenis makanan ringan melalui sistem toko online. Selain itu, wanita juga melakukan bisnis mereka dengan sistem re-seller atau drop-ship yang diambil dari toko online lainnya sehingga mereka tidak memiliki produk yang dibuat sendiri. Selain itu, barang yang dibeli adalah pakaian, tas, dan lainnya.

Bagi wanita yang memiliki hobi berbelanja, maka mereka dapat membuka layanan pribadi melalui toko online. Di sisi lain, bagi wanita yang memiliki keterampilan lain seperti menenun, membuat kerajinan tangan, dan keterampilan kreatif lainnya, barang dapat dibeli di pasar online atau oleh toko fisik. Saat ini wanita mulai memajukan hubungan gender dalam keluarga mereka untuk berkontribusi bersama untuk menghasilkan pendapatan untuk digunakan sebagai keuangan keluarga. Hal ini dapat meningkatkan tingkat kesejahteraan keluarga.

Hubungan gender adalah hubungan sosial antara pria dan wanita di masyarakat dan keluarga. Dalam kehidupan sosial, istri dan suami membangun interaksi dan kewajiban yang baik sebagai pasangan dalam keluarga. Tampaknya ada keterlibatan antara istri dan suami melakukan kolaborasi peran dan interaksi sosial. Hubungan gender dapat muncul dari kolaborasi antara suami dan istri yang bekerja baik berdasarkan tujuannya untuk meningkatkan keuangan keluarga agar dapat meningkatkan kesejahteraan keluarga.

 Hubungan gender juga terlihat ketika seorang istri diizinkan oleh suaminya untuk membangun bisnis seperti industri rumahan atau hanya menjual kembali dan mengirim melalui toko online. Memberi izin kepada istri juga termasuk dalam hubungan gender karena laki-laki memberikan kebebasan kepada istri mereka untuk membuat keputusan. Wanita saat ini tidak lagi menjadi objek bawahan. Mereka memiliki kebebasan untuk bekerja dan menghasilkan pendapatan sendiri, dan tidak bergantung pada suami mereka lagi. Selain itu, penghasilan yang mereka dapatkan juga untuk kepentingan keluarga. Wanita saat ini dapat membantu menjadikan peran sebagai sumber keuangan keluarga. Tampaknya istri dan suami berkolaborasi untuk mewujudkan hubungan gender. Kesimpulannya, saat ini perempuan dapat bekerja dari rumah dengan menjadi pekerja berbasis rumahan perempuan.

Toko online adalah alternatif bagi wanita untuk menghasilkan pendapatan secara mandiri tanpa tergantung pada jumlah mereka. Ada banyak pasar melalui aplikasi atau melalui media sosial untuk menjual barang-barang mereka secara luas. Wanita yang membuka toko online mereka dapat membantu keuangan keluarga karena sumber keuangan tidak hanya dari suami tetapi juga dari istri. Istri dan suami membangun kolaborasi peran yang meningkatkan kesejahteraan keluarga. Ini menunjukkan bahwa hubungan gender antara suami dan istri dapat bekerja dengan baik.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Opini

Patriarki dan Kekerasan Seksual Terhadap Laki-Laki

Mitra Wacana WRC

Published

on

Patriarki dan Kekerasan Seksual Terhadap Laki-Laki

This post is also available in: English Indonesia

Waktu dibaca: 3 menit

I Wayan Gus Gina Volunteer Mitra Wacana

Kasus kekerasan yang menimpa laki-laki akan cenderung menjadi tertawaan, apalagi jika berkaitan dengan kekerasan dalam rumah tangga. Padahal sebenarnya tidak juga, korban kekerasan seksual baik di Indonesia maupun seluruh dunia tidak hanya dialami oleh perempuan dan anak-anak saja. Semua bisa menjadi korban kekerasan seksual, termasuk laki-laki. Perbedaannya ialah tidak banyak orang akan mengetahui apabila korban tergolong sebagai seorang laki-laki. Hal ini dikarenakan korban laki-laki lebih memilih menutupi persoalan kekerasan seksual yang dialami dibandingkan korban perempuan.

Beberapa pekan yang lalu masyarakat dihebohkan dengan sebuah kasus perundungan dan pelecehan seksual terhadap seorang karyawan laki-laki di Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) menerima permohonan perlindungan dari MS, pegawai KPI yang diduga menjadi korban perundungan dan pelecehan seksual dari beberapa orang. Para pelaku dalam kasus tersebut tidak lain adalah rekan kerja sesama pegawai di KPI dan diduga telah dilakukan selama bertahun-tahun lamanya, namun baru saat ini korban memberanikan diri untuk membawa kasus tersebut ke ranah hukum. Apa yang sebenarnya terjadi dan mengapa baru sekarang korban berupaya menyelesaikan kasus tersebut?

Berbeda dengan kasus kekerasan seksual yang biasanya terjadi pada seorang perempuan, kali ini kasus kekerasan seksual terjadi pada seorang laki-laki. Banyak penelitian menunjukkan bahwa korban kekerasan seksual didominasi oleh perempuan dan mayoritas pelaku adalah laki-laki. Akan tetapi fakta tersebut tidak dapat mengubah kenyataan bahwa kekerasan seksual juga terjadi pada laki-laki, khususnya anak laki-laki. Kekerasan seksual terhadap laki-laki seringkali tidak dianggap sebagai suatu hal yang serius. Berdasarkan Laporan Studi Kuantitatif Barometer Kesetaraan Gender yang diluncurkan Indonesia Judicial Research Society (IJRS) dan INFID, di tahun 2020 terdapat 33% laki-laki yang mengalami kekerasan seksual khususnya dalam bentuk pelecehan seksual.

Berdasarkan survei dari Koalisi Ruang Publik Aman (KRPA) yang melibatkan 62.224 responden, 1 dari 10 laki-laki pernah mengalami pelecehan di ruang publik. Data dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) memperlihatkan bahwa korban kekerasan seksual di tahun 2018 lebih banyak dialami oleh anak laki-laki, dimana ada 60% anak laki-laki dan 40% anak perempuan menjadi korban kekerasan seksual. Berdasarkan data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak tahun 2017, untuk kelompok umur 13-17 tahun prevalensi kekerasan seksual terlihat lebih tinggi pada laki-laki dibanding perempuan, yaitu sebesar 8,3% atau dua kali lipat dari prevalensi kekerasan seksual pada perempuan yang mencapai 4,1%.

Selama ini anggapan di masyarakat mempercayai bahwa laki-laki tidak mungkin atau tidak bisa menjadi korban kekerasan seksual. Korban perempuan pun merasa sulit dalam melaporkan kasus pelecehan seksual yang dialaminya karena stigma masyarakat yang kerap menyalahkan korban. Ternyata laki-laki juga sangat sulit untuk bisa melaporkan dan mendapat validasi atas peristiwa yang dialaminya. Anggapan masyarakat tentang pelecehan seksual yang selalu memposisikan laki-laki sebagai subjek sangat lah bias gender. Narasi kesetaraan seolah-olah hanya berlaku ketika korban pelecehan adalah perempuan. Media pun jarang yang memuat berita terkait kekerasan seksual yang dialami oleh laki-laki. Keadaan seperti itu menyebabkan adanya bias gender dalam pandangan masyarakat terkait fenomena pelecehan seksual. Lantas, mengapa laki-laki selalu dianggap tidak dapat menjadi korban kekerasan seksual? Hal ini tidak terlepas dari budaya patriarki yang sangat kental di Indonesia.

Dalam masyarakat patriarkis, nampaknya tak ada yang bebas dari stigma negatif. Perempuan menjadi korban utama yang selalu berada dalam bayang-bayang laki-laki. Perempuan menjadi subordinasi laki-laki yang dipandang setingkat lebih rendah. Namun, ternyata dampak dari sistem patriarki lebih parah. Laki-laki yang konon jadi sosok yang ditinggikan juga tak bebas dari stigma. Dalam masyarakat patriarkis, lazimnya adalah laki-laki menyukai perempuan, begitupun sebaliknya. Laki-laki harus mengayomi dan melindungi, sedangkan perempuan adalah sosok lemah yang perlu dilindungi. Laki-laki tidak boleh menangis dan perempuan tidak boleh melakukan pekerjaan berat. Dengan adanya stereotip maskulinitas tersebut, laki-laki diharapkan untuk bertingkah semaskulin mungkin dan menjadi figur yang kuat dalam masyarakat, hal inilah yang membuat masyarakat berpandangan bahwa laki-laki tak mungkin menjadi korban kekerasan seksual.

Data yang menunjukkan terjadinya kekerasan seksual pada laki-laki seringkali diacuhkan karena laki-laki yang memiliki pengalaman menjadi korban cenderung untuk tidak melaporkannya. Laki-laki diasosiasikan sebagai sosok kuat sehingga seorang laki-laki dewasa tidak akan dipecaya jika melapor menjadi korban pelecehan seksual. Tentu, hal ini memberatkan posisi laki-laki ketika mereka menjadi korban kekerasan seksual. Laki-laki korban kekerasan seksual seringkali merasa lemah, tidak berharga, dan kehilangan kejantanannya karena tidak mampu melindungi diri maupun komunitasnya. Belum lagi, adanya asumsi masyarakat yang menggeneralisir korban perkosaan sesama jenis sebagai bentuk penyimpangan seksual.

Walaupun laki-laki memiliki peluang yang lebih kecil untuk mengalami kekerasan seksual, banyak sekali kasus yang tak terungkap ke permukaan. Perlu adanya pemahaman yang lebih dalam terkait cara pandang terhadap kasus pelecehan atau bahkan kekerasan seksual. Kita sebagai masyarakat yang cerdas, harus mampu melihat dan menganalisa suatu kasus terkait itu tertentu. Jangan sampai memberikan pandangan, apalagi justifikasi sepihak secara kasat mata, atau bahkan karena stigma mayoritas, sehingga menimbulkan suatu kesimpulan yang bias gender.

Sumber:
1. Kompas.com
2. Suaramahasiswa.com
3. Hukumonline.com

Continue Reading

Who is Online

No one is online right now

Advertisement
Advertisement

Twitter

Trending

Mari bergabung bersama Mitra Wacana

Silahkan bergabung dan menjadi bagian dari Mitra Wacana.
Akan ada penghargaan untuk tulisan yang terpilih.
Terima Kasih

Gabung