web analytics
Connect with us

Opini

Panggilan Jiwa

Mitra Wacana WRC

Published

on

Dokumentasi pertemuan rutin P3A SEJOLI Punggelan Banjarnegara. Foto: FB P3A SEJOLI

This post is also available in: Indonesia

Waktu dibaca: 2 menit

Oleh Sulimah (P3A SEJOLI, Punggelan, Banjarnegara)

Sebelum saya bergabung dan ikut aktif di SEJOLI saya sudah mendengar tentang Mitra Wacana WRC dan SEJOLI tetapi belum mengetahui secara pasti apa saja kegiatannya. Hanya mengetahui kalau sering ada pelatihan dan sekolah tentang stop kekerasan terhadap perempuan dan anak. Dan tahunya saya hanya ibu-ibu diberi pelajaran tingkat tinggi jadi saya merasa minder untuk bergabung dengan ibu-ibu SEJOLI karena pendidikan saya tingkat rendah. Dan juga saat itu saya belum ikut kegiatan Mitra Wacana WRC karena tidak ada yang mengajak saya. Baru pada saat bulan September saya ikut kegiatannya SEJOLI dan Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga pada waktu pelatihan merajut, itu-lah pertama kali saya ikut kegiatannnya SEJOLI. Tapi belum tau apa-apa tentang apa itu kekerasan terhadap perempuan dan anak dan juga Mitra Wacana WRC. 

Setelah itu saya diajak lagi oleh Bu Emi yang kebetulan adalah tetangga saya untuk ikut pelatihan Paralegal di Gumiwang.Awalnya suami agak keberatan karena pulangnya pasti sore, nanti bagaimana dengan anak-anak? Siapa yang akan mengurus mereka? Tapi saat mengikuti pelatihan Paralegal, saya merasa mendapatkan sesuatu hal yang baru dan ilmu yang pas dengan masa lalu saya. Saat itu saya menjadi terbuka pikirannya dan perasaan saya tentang apa itu kekerasan dan perlindungan terhadap kaum perempuan dananak-anak.

Untuk menyakinkan suami saya, bahwa dari pelatihan tersebut sangat banyak manfaatnya terutama untuk saya dan banyak perempuan di lingkungan saya, maka setiap sehabis pulang dari pelatihan saya menjelaskan kepada suami apa saja yang saya peroleh dan manfaat saya ikut pelatihan tersebut. Dari penjelasan saya tersebut, suamia khirnya malah mendukung dan mengatakan “Siki jarang ono wong sing duwe jiwa sosial, langka wong sing berjiwa sosial mak. Nek koe meh terjun neng SEJOLI aku malah dukung tapi kudu serius.” Mendapat dukungan dari suami saya merasa semakin mantab dan yakin untuk ikut bergabung dengan SEJOLI ditambah lagi dengan masalah yang sama dengan masa lalu saya.

Saya bercita-cita agar jangan ada lagi perempuan ataupun anak-anak yang mengalami kekerasan baik secara fisik, psikis, ekonomi, dan seksual dan jangan sampai nasib saya menimpa perempuan yang lain.

Sejak bergabung dengan SEJOLI, saya selalu ikut dalam semua kegiatan SEJOLI dan MitraWacana, saya merasa senang sekali karena dengan aktif berorganisasi saya bertambah ilmu, wawasan, teman dan pergaulan saya. Saya tidak menyangka bisa bergaul dengan ibu-ibu anggota Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga, istri perangkat desa, Bu Lurah, bertemu dengan Pak Camat, Pak Lurah, anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD) dan pembicara-pembicara yang hebat-hebat.

Satu hal yang berubah dalam diri saya adalah saya menjadi pede dengan diri saya, saya tidak lagi minder dengan Bu Lurah dan orang-orang yang terpandang karena kita ternya tasama, sama-sama belajar dan sama-sama sedang mencoba membantu orang lain. Dan satu hal yang membuat saya merasa SEJOLI harus terus ada di Bondolharjo, karena masih belum banyak orang peduli dengan sesamanya. Jika SEJOLI tidak lagi ada bagaimana nasib perempuan dan anak di Bondolharjo?

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Opini

Sadarlah, Kita Ini Majemuk

Mitra Wacana WRC

Published

on

This post is also available in: Indonesia

Waktu dibaca: 2 menit

Wahyu Tanoto (Dewan Pengurus Mitra Wacana)

Kita semua memahami bahwa bangsa kita memiliki beragam Suku, Agama, Ras, Budaya, dan golongan sejak lama bahkan sebelum muncul Indonesia. Maka sikap toleransi mestinya menjadi nilai-nilai dan praktik kehidupan warganya. Termasuk pada bulan puasa seperti sekarang ini.

Puasa, sebagai kesadaran pribadi dan “ panggilan iman “ seyogianya dapat mengajarkan kepada kita untuk bersikap dewasa dalam beragama. Bagi yang tidak berpuasa hendaknya mampu menghormati dan menghargai yang berpuasa. Sebaliknya, bagi yang menjalankan puasa, juga dapat melihat dengan bijaksana, mampu menerima, melayani atau bahkan mengakomodasi mereka yang tidak puasa.

Meskipun penduduk Indonesia mayoritas beridentitas agama Islam, bukan berarti otomatis sebagai Negara agama. Dalam konteks ini, biarkanlah warung makan, toko-toko, restoran tetap buka dan para penjual makanan tetap dapat berkeliling menawarkan barang dagangannya dengan rasa aman-nyaman tanpa khawatir di “geruduk” oleh kelompok tertentu yang mengatasnamakan agama.

Jika kita sepakat bahwa puasa diniatkan sebagai ibadah yang menuntun terbentuknya perilaku agar lebih memahami dan toleran terhadap sesama, sejatinya pengurangan jam kerja, pembatasan pelayanan publik atau bahkan pemasangan korden/tirai di rumah makan tidaklah diperlukan.

Boleh jadi begini, bagi yang menjalankan puasa, tidak perlu manja dan minta diperlakukan istimewa. Sebaliknya bagi yang tidak puasa juga berlaku hal yang sama. Karena, di dalam puasa, terkandung nilai-nilai penghormatan kepada mereka yang puasa dan tidak berpuasa; baik yang muslim maupun non-muslim. Bahkan ada sebagian golongan yang memang dibolehkan untuk tidak berpuasa; pekerja berat, lansia, orang yang sakit “berat”, perempuan hamil dan para musafir.

Menurut aktivis perempuan Sri Roviana, dalam kajian menjelang buka puasa dengan tema Puasa, Toleransi dan Spirit Menjaga Kemajemukan (27/4/21) di kantor perkumpulan Mitra Wacana menyebutkan bahwa ada keterkaitan puasa, toleransi dan kemajemukan. ” Jadi kita bisa menemukan ajaran dan puasa ada di agama-agama di luar Islam “, ungkapnya. Kemajemukan merupakan keniscayaan yang tidak dapat ditolak oleh manusia karena memang sengaja di desain seperti itu agar manusia saling mengenal dan memahami keberadaan satu sama lain.

Ada beberapa hal yang menjadi akar kemajemukan yang diungkapkan oleh Sri Roviana, diantaranya yaitu: (1). Sebab-sebab alamiah: manusia memiliki sifat-sifat bawaan (fitrah) yang mendorong mereka melakukan perbuatan-perbuatan yang baik atau tidak baik dan membentuk karakter individual yang unik: berbeda dengan manusia yang lainnya. (2). Sebab-sebab ilmiah: perbedaan yang terjadi karena “nature” teks Agama, proses, dan pendekatan intelektual dalam memahami teks keagamaan. Sebab-sebab ilmiah melahirkan perbedaan ideologi organisasi dan gerakan keagamaan.(3). Sebab-sebab amaliah: perilaku dan kecenderungan manusia dalam melaksanakan pemahaman dan berbagai aspek yang terkait dengan proses dialog dan dialektika sosial-keagamaan.

Saya teringat pernyataan M. Amin Abdullah yang memberikan contoh sederhana untuk tema kemajemukan dalam sebuah wawancara yang pernah saya lakukan beberapa tahun lalu yang menyatakan bahwa, ketika keluar dari pintu rumah kita saja sudah majemuk, lalu untuk apa mempertentangkannya. Bajunya sudah beda, logatnya beda, kebiasaannya juga beda.

Dari sini saya dapat mengambil pelajaran berharga bahwa pada prinsipnya kemajemukan itu nyata, tidak mengada – ada. Boleh jadi yang dibutuhkan oleh saya adalah memiliki kesadaran penuh untuk menerima kemajemukan tersebut agar sisi kemanusiaan yang melekat pada saya semakin bertumbuh dewasa dan tidak merasa paling benar. Semoga. Wallahu a’lam.

Continue Reading

Who is Online

No one is online right now

Advertisement
Advertisement

Twitter

Trending

Gedongan Baru RT.06/RW.43 Pelemwulung No. 42 Banguntapan, Bantul Daerah Istimewa Yogyakarta 55198
Telpon: +62 274 451574 Email: plip_mitrawacana@yahoo.com or mitrawacanawrc@gmail.com
Copyright © 2019 Divisi Media Mitra Wacana
Tim Redaksi | Kebijakan Privasi | Disclaimer | Tata cara penulisan

Mari bergabung bersama Mitra Wacana

Silahkan bergabung dan menjadi bagian dari Mitra Wacana.
Akan ada penghargaan untuk tulisan yang terpilih.
Terima Kasih

Gabung