web analytics
Connect with us

Uncategorized @id

Pembangunan dan Pencegahan Trafficking di Kulon Progo

Mitra Wacana WRC

Published

on

This post is also available in: Indonesia

Waktu dibaca: 2 menit

Rencana pembangunan mega proyek di  Kabupaten Kulon Progo yang meliputi pembangunan Bandara Internasional meliputi Kecamatan Temon, Wates, Panjatan dan Galur, penambangan pasir besi meliputi Kecamatan Temon, Galur Wates dan Panjatan serta pabrik pengolahan bijih besi. Pembangunan markas TNI AL di desa Karangwuni Wates dan pembangunan pelabuhan internasional  akan berdampak besar bagi pertumbuhan perekonomian kabupaten Kulon Progo dan masyarakat sekitar.[1]

Bayangan akan tumbuhnya pembangunan hotel dan restoran, pembukaan usaha baru, industry kreatif, pembukaan lahan baru untuk perumahan, serta kebutuhan yang mengiringi proyek-proyek besar tersebut akan membuak lapangan kerja baru di daerah kabupaten Kulon Progo.

Namun, dampak ikutan lain seiring dengan pengembangan pembangunan adalah tersingkirnya kelompok masyarakat yang tidak memiliki kemampuan untuk mengakses peluang pengembangan wilayah sekitar. Seperti  masyarakat yang kehilangan lahan garapan dan mereka yang tidak memiliki modal, baik modal kemampuan maupun finansial. Mereka  yang kehilangan lahan serta tidak mampu mengakses peluang ini, mungkin akan memilih untuk bekerja di sektor domestik. Pilihan menjadi buruh kasar atau Pekerja Rumah Tangga (PRT) baik di luar daerah maupun ke luar negeri. Situasi ini mungkin akan memunculkan tindakan kejahatan perdagangan orang. Dan mayoritas yang akan menjadi korban adalah perempuan dan anak.

Berdasarkan catatan Mitra Wacana ketika melakukan pendampingan eks buruh migran di Kulon Progo sejak Desember 2013 sampai sekarang, dengan narasumber 59 narasumber yang berangkat antara tahun 1983-2013, praktek pengiriman tenaga Kerja ke luar negeri yang ditangani oleh Pelaksana Penempatan Tenaga Kerja Indonesia Swasta (PPTKIS), ditemukan beberapa penyimpangan seperti eksploitasi selama di penampungan, gaji tidak dibayarkan majikan tidak diuruskan oleh agen, pemalsuan identitas dengan mengubah alamat dan usia.[2]

Meskipun sampai saat ini, dalam catatan kepolisian dan Badan Pemberdayaan Masyarakat, Pemerintahan Desa, Perempuan dan Keluarga Berencana   Kabupaten Kulon Progo belum ada laporan korban kejahatan perdagangan orang di Kulon Progo, tetapi indikasi terjadinya tindak pidana perdagangan orang terjadi di Kabupaten Kulon progo. Bagaimana mencegah terjadinya tindak pidana perdagangan orang menjadi penting untuk didiskusikan.

Pembahasan masalah ini dikupas habis dalam talkshow radio yang diselenggarakan Mitra Wacana WRC bekerjasama dengan radio Sonora pada tanggal 17 Nopember 2014. Dalam talkshow ini dihadirkan narasumber Kepala Dinsonakertrans Kulon Progo, Eko Pranyoto dan Direktur Mitra Wacana WRC, Rindang Farihah.


[1] Disarikan dari Perda no 1 tahun 2012 Kabupaten Kulon Progo tentang Rencana Tata ruang wilayah kabupaten Kulon progo 2012-2032

[2] Mitra Wacana, dokumen Laporan hasil penelitian perdagangan orang di Kulon Progo, 2014

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Opini

KONSTRUKSI MEDIA MASSA TERHADAP CITRA PEREMPUAN

Mitra Wacana WRC

Published

on

Sumber: Freepik

This post is also available in: Indonesia

Waktu dibaca: 3 menit
TANTANGAN GERAKAN PEREMPUAN DI ERA DIGITAL

Lilyk Aprilia Volunteer Mitra Wacana

Di era globalisasi, media massa menjadi salah satu hal yang penting dalam kehidupan masyarakat baik digunakan sebagai alat untuk komunikasi, mencari informasi, atau hiburan. Media massa terus mengalami perkembangan dari yang mulanya konvensional hingga sekarang menjadi modern . Berbicara mengenai media massa tentu ada hal yang menjadikan media massa memiliki nilai tarik tersendiri terlebih jika dihubungkan dengan keberadaan perempuan.

      (Suharko, 1998)  bahwa tubuh perempuan digunakan sebagai simbol untuk menciptakan citra produk tertentu atau paling tidak berfungsi sebagai latar dekoratif suatu produk.  Media massa dan perempuan merupakan dua hal yang sulit dipisahkan. Terutama dalam bisnis media televisi. Banyaknya stasiun televisi yang berlomba-lomba dalam menyajikan sebuah program agar diminati oleh masyarakat membuat mereka mengemas program tersebut semenarik mungkin salah satunya dengan melibatkan perempuan. Perempuan menjadi kekuatan  media untuk menarik perhatian masyarakat. Bagi media massa tubuh perempuan seolah aset terpenting yang harus dimiliki oleh media untuk memperindah suatu tayangan yang akan disajikan kepada masyarakat sehingga memiliki nilai jual yang tinggi.

     Media massa memiliki beberapa fungsi diantaranya sebagai wadah untuk memberikan informasi kepada masyarakat. Informasi yang diberikan kepada masyarakat salah satunya dalam bentuk iklan sebuah produk atau layanan jasa . Iklan merupakan sebuah informasi yang diberikan kepada masyarakat mengenai hal yang berhubungan dengan suatu produk atau jasa yang dikemas dengan semenarik mungkin.  Memiliki tujuan untuk menarik minat konsumen membuat salah satu pihak menjadi dirugikan . Pasalnya pemasang iklan dalam mengenalkan produknya kepada masyarakat sering kali memanfaatkan perempuan sebagai objek  utama untuk memikat para konsumen. Memanfaatkan wajah dan bentuk tubuh sebagai cara untuk menarik perhatian masyarakat membuat citra perempuan yang dimuat pada iklan terus menjadi sumber perdebatan karena dinilai menjadikan tubuh perempuan sebagai nilai jual atas produk yang ditawarkan . Ironisnya hal ini terus menerus dilakukan. 

         Memanfaatkan fisik sebagai objek untuk diekploitasi sudah bukan menjadi rahasia umum lagi. Terlihat dari citra perempuan yang digambarkan oleh tayangan iklan ataupun acara program televisi. Kecantikan perempuan dijadikan sebagai penghias tampilan dari suatu program acara. Dipoles sedemikian rupa untuk mendapatkan tampilan yang cantik kemudian dikonsumsi oleh publik. Demi untuk mengedepankan kepentingan media bahkan hak hak perempuan yang seharusnya dimiliki mereka dikesampingkan oleh media .  

     Selain sebagai wadah informasi untuk masyarakat media massa juga berfungsi sebagai hiburan.. Tayangan televisi yang sampai saat ini menempati rating tertinggi yaitu dalam kategori sinetron. Gambaran dalam tayangan tersebut banyak yang melibatkan perempuan dengan menggambarkan posisi perempuan selalu dibawah laki-laki. Tidak terlalu memperhatikan  pesan tersirat apa yang terkandung dalam tayangan tersebut, masyarakat terus-menerus mengkonsumsinya seolah tayangan tersebut tidak memiliki pesan yang bermasalah. Jika diperhatikan lebih lanjut banyak sekali peran perempuan yang digambarkan dari sisi lemahnya atau hanya melakukan pekerjaan domestik saja. Dengan begitu apa yang disajikan oleh media akan tertanam difikiran mereka sehingga menganggap pesan media massa sebagai realitas yang benar dan menjadi nilai yang kemudian diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

 

 Kekuatan Media Massa Dalam Membentuk Citra Perempuan

      Media massa memiliki kemampuan dalam membentuk citra . Bermula dari gambaran atas kenyataan yang ada dimasyarakat kemudian dikembangkan dengan menggunakan bahasa yang mengandung makna baru  namun masih memiliki acuan terhadap fakta yang ada kemudian disajikan kepada masyarakat secara terus menerus.  Dengan begitu citra yang dibentuk oleh media massa akan mempengaruhi realitas kehidupan dimasyarakat. Mengingat minat masyarakat terhadap objektifikasi perempuan cukup tinggi, media massa berlomba-lomba membentuk citra perempuan yang sempurna untuk mencapai target pasar dengan menggiring opini publik dalam menetapkan standar ‘cantik’ menurut media. Perempuan kerap kali dijadikan alat oleh media massa sebagai ladang untuk mendapatkan keuntungan dengan menampilkan kemolekan dan kecantikan fisiknya. Konstruksi sosial pada citra perempuan yang terjadi pada media massa bukan lagi hal baru dan tabu, fenomena ini terus berulang seolah menjadi kebenaran dalam mengkotakkan citra perempuan. 

     Selain itu pembenaran yang terus dilanggengkan oleh media massa terkait citra perempuan menjadikan sudut pandang masyarakat berkiblat pada standar yang digaungkan media massa tersebut sehingga menjadi salah satu agen budaya yang berpengaruh terhadap realita di kehidupan masyarakat.  Penggambaran terhadap perempuan oleh media massa semakin memperjelas bahwa posisi perempuan diranah publik masih lemah.

Continue Reading

Who is Online

No one is online right now

Advertisement
Advertisement

Twitter

Trending

Mari bergabung bersama Mitra Wacana

Silahkan bergabung dan menjadi bagian dari Mitra Wacana.
Akan ada penghargaan untuk tulisan yang terpilih.
Terima Kasih

Gabung