web analytics
Connect with us

Uncategorized @id

Perempuan Dilibatkan Tangkis Radikalisme

Mitra Wacana WRC

Published

on

Seminar Pencegahan Radikalisme Ekstremisme dan Terorisme serta optimalisasi peran perempuan. Foto 3 Tnt

This post is also available in: Indonesia

Waktu dibaca: < 1 menit

WATES (MERAPI) – Upaya pencegahan radikalisme, ekstrimisme dan terorisme di Kulonprogo mulai melibatkan kaum perempuan. Pasalnya, perempuan dianggap lebih luwes dan merupakan pemegang peranan utama dalam keluarga sebagai lingkup pencegahan pertama.

Hal tersebut terungkap dalam Seminar Pencegahan Radikalisme, Ekstrimisme dan Terorisme bagi Masyarakat Desa serta Optimalisasi Peran Kelompok Perempuan yang diselenggarakan Mitra Wacana WRC (Women Resource Centre) di Gedung Kaca Pemkab Kulonprogo, Selasa (23/1). Saat menyampaikan sambutannya, Assda Kulonprogo, Jumanto mengatakan, penyelenggaraan seminar dapat menambah wawasan untuk masyarakat Kulonprogo. Dengan demikian, semua pihak dapat berperan dalam mencegah dan mengantisipasi adanya radikalisme, ekstrimisme dan terorisme di Kulonprogo.

“Kulonprogo akan menjadi daerah yang tetap terjaga keamanan dan ketenteramannya,” kata Jumanto.

Jumanto juga menyambut baik kegiatan yang diadakan panitia, berupa penelitian di Desa Hargorejo Kecamatan Kokap, Desa Salamrejo Kecamatan Sentolo dan Desa Banaran Kecamatan Galur. Hasil penelitian menyebutkan, semua pihak sepakat bahwa terorisme, radikalisme dan ekstrimisme tidak ada di Indonesia. Upaya pencegahannya, juga melibatkan kaum perempuan karena dianggap lebih luwes dan berperan penting di dalam keluarga.

Kepala Forum Komunikasi Pencegahan Terorisme DIY, KH Abdul Muhaimin yang juga merupakan Pengasuh Pesantren Nurul Ummahat dan Ketua Forum Kewaspadaan di Masyarakat (FKDM) DIY menyampaikan, dengan semakin terbukanya kehidupan sosial sekarang ini, peran keluarga sangat penting. Kunci keberhasilan dan tanggung jawab keluarga seringkali dikesampingkan karena persoalan karir, termasuk pemahaman gender yang salah. Hal ini perlu diposisikan secara proporsional karena menyangkut masa depan bangsa.

“Kualitas generasi ada di tangan ibu. Seorang Ibu harus menjadi tempat belajar pertama kali, sekaligus menjadi panutan yang paling strategis. Mendidik anak tidak memerlukan teori, cukup menjadikan orangtua sebagai contoh,” urainya. (Unt)

Sumber: https://www.harianmerapi.com/news/2018/01/24/6126/perempuan-dilibatkan-tangkis-radikalisme

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita

Pola Asuh Anak di Masa Pandemi Covid-19

Mitra Wacana WRC

Published

on

This post is also available in: Indonesia

Waktu dibaca: 2 menit

   

Ada apa dengan KPK ?

Agus Rahmad Hidayat
Mahasiswa Magang

Selasa (29/06/2021), Pada Sinau Sareng#34 Mitra Wacana kali ini menghadirkan Yusmashfiyah, S.Ag., MPd. (CO-Founder Karima Center For Parenting Literacy) di Podcast Mitra Wacana membahas tema “Pola Asuh Anak di masa Pandemi Covid-19 selama satu jam lebih. 

Tema ini diambil seiring dengan penyebaran wabah Covid-19 yang belum usai selama satu tahun lebih yang merubah kebiasaan kita sehari-hari. Ada begitu banyak dampak yang dirasakan  selama  wabah covid-19 mulai dari kegiatan berkumpul dibatasi, pembelajaran jarak jauh dan himbauan untuk bekerja di rumah. Sementara itu imbauan untuk menjaga jarak fisik yang aman dari orang lain terus diserukan. Situasi ini tidak mudah bagi siapapun, khususnya orang tua dalam mengasuh anaknya. 

Dalam Sinau Sareng tersebut, Yusmashifyah mengungkapkan bahwa pademi ini saat ini berdampak pada beberapa hal dalam kehidupan kita.  Dampak kesehatan mental yang terganggu akibat banyaknya pemberitaan media terkait covid-19 yang belum tentu benar dan terkadang membuat kita takut. Selain itu Covid-19 berdampak pada sektor ekonomi yang mengakibatkan terbatasnya akses untuk bekerja, keluar rumah maupun fluktuasi secara keuangan sangat berbeda pada kondisi sebelumnya. Orang tua juga harus memberikan edukasi kepada anak tentang bahayanya Covid-19 agar terhindar dari penularan virus tersebut.

Dampak-dampak tersebut sangat berpengaruh pada siklus kehidupan kita terutama di keluarga yang berdampak pada meningkatnya tekanan atau beban dalam keluarga yang mempengaruhi psikologi orang tua. Dampak psikologi ini terkadang membuat kedua orang tua mudah tersulut emosinya ketika anak melakukan kesalahan, dampak-dampak tersebut sedikit banyak berubah pada pola asuh anak oleh kedua orang tua. 

Dimasa pademi ini orang tua harus lebih sensitif terhadap kondisi mental anak karena sebelum ada wabah ini mereka biasa bermain dengan teman-temannya setiap saat tetapi saat ini hampir dua tahun mereka tidak bisa melakukannya.

Disini asa asi asuh sangat penting bagi anak, memberikan stimulasi untuk perkembangan anak, memberikan kasih sayang walaupun beban semakin meningkat, mengajak anak bermain dengan memanfaatkan fasilitas di rumah orang tua harus responsif dan kreatif. 

Disini ada peran ayah dan ibu yang harus dilakukan, pengasuhan bukan peran ibu saja tetapi kehadiran dan kasih sayang ayah dalam mengasuh anak sangat dibutuhkan.  

Ada banyak hal yang bisa dipelajari dari peran kedua orang tua di saat pandemi ini, anak bisa melihat iklim yang harmonis tercipta dalam keluarga sehingga membuat nyaman berada di rumah. Pola asuh anak ini sangat menentukan terhadap tumbuh kembang anak sehingga  orang tua harus berhati-hati dalam menjaga pola asuh tanpa kekerasan. 

Continue Reading

Who is Online

No one is online right now

Advertisement
Advertisement

Twitter

Trending

Mari bergabung bersama Mitra Wacana

Silahkan bergabung dan menjadi bagian dari Mitra Wacana.
Akan ada penghargaan untuk tulisan yang terpilih.
Terima Kasih

Gabung