Log In

Kartini dan Sekilas Feminisme

Muhammad Mansur

Muhammad Mansur

Oleh Muhammad Mansur

Door Duisternis Tot Licht dalam bahasa Indonesia “Habis Gelap Terbitlah Terang” adalah Buku yang berisi Surat-surat R.A Kartini kepada sahabat-sahabat pena-nya di Belanda. Buku tersebut berisi catatan yang merupakan cita-cita, harapan, dan pemikiran RA Kartini melawan ketidakadilan, kesewenang-wenangan, dan segala bentuk penindasan terhadap harkat dan martabat perempuan pribumi (Jawa) yang selalu mendapatkan perlakuan diskriminatif secara kultural.

Pemikiran Kartini lahir dari masalah perempuan Jawa. Perjuangan Kartini yang mencoba memperjuangkan hak perempuan pribumi telah menginspirasi gerakan perempuan di Indonesia agar setara dengan laki-laki. Ide dan aktivitas Kartini merupakan gerakan feminis awal di Indonesia dan memberikan perubahan signifikan terhadap cara pandang dunia terhadap perempuan. Perempuan yang dulu diposisikan hanya dalam sektor domestik mampu menunjukkan eksistensinya dalam ranah publik. Maka, saat ini bisa kita jumpai perempuan menduduki posisi penting baik di sektor pemerintahan hingga swasta.

Feminisme, selain memiliki dampak positif juga dinilai memiliki implikasi negatif yang dianggap “merusak” tananan sosial masyarakat. Feminisme yang diperjuangkan Kartini bisa jadi berbeda dengan yang dipahami perempuan zaman sekarang, Prinsip egaliterianisme yang ingin dikobarkan Kartini adalah kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan. Perjuangan Kartini berpijak pada persoalan hak perempuan atas pendidikan. Artinya, perempuan bisa berperan dalam ranah publik salah satu caranya adalah dengan bisa mengakses pendidikan. Namun, Kartini masih melihat bahwa perempuan memiliki hak dan tanggung Jawabnya atas keluarga. Hal tersebut bisa dipahami bahwa dia hidup di masa feodalisme masih sangat kuat.

Femenisme modern lahir dari feminis liberal dan sosialis. Feminisme di satu sisi menimbulkan ketidakstabilan sosial karena memang feminisme mengkritik sistem sosial yang mendominasi yaitu patriarki.  Laki-laki dan perempuan memiliki kualitas maskulin dan feminin dalam dirinya. Sifat menguasai, kompetisi, dan ambisius dilekatkan sebagai ciri maskulin dan kadang juga dipakai perempuan di sektor publik. Sedangkan kualitas yang berkarakter mengasuh dan memelihara dilekatkan sebagai kualitas feminin. Beberapa laki-laki maupun perempuan melihat kualitas maskulin yang ada pada diri perempuan dan kualitas feminin yang ada pada laki-laki menyebabkan “goyahnya” tatanan sosial.

Filosofi Yin-Yang tentang kestabilan untuk dapat saling lengkap melangkapi mulai bergeser yang pada akhirnya berujung kehancuran. Ini bisa kita lihat dalam konstelasi masyarakat modern sekarang, tatanan luhur dari budaya mulai ditabrak dan generasinya menjadi sulit dikendalikan atau “liar”. Fenomena tawuran pelajar, pemerkosaan, bahkan menurunnya budi pekerti dari remaja sekarang adalah dampak nyata yang bisa kita lihat.

Gerakan Ekofemisnisme

Dari carut-marutnya tatanan sosial khususnya yang berkaitan dengan lingkungan, ekologi dan alam memunculkan kesadaran dalam diri perempuan yang pada akhirnya melahirkan paham baru, yaitu ekofeminisme. Ekofeminisme bisa dipandang sebagai anti tesis dari berbagai aliran feminisme. Ekofeminisme lahir dari keprihatinan tergredasinya kestabilan alam dan sosio kultur masyarakat. Ekofeminisme bisa juga difahami muncul dari melemahnya kualitas feminin dalam kosmologi sosial.

Perempuan sekali lagi punya andil besar dalam kosmologi kehidupan, walaupun terkadang ia dipandang remeh dengan perannya, tapi ketika kestabilan ini terganggu tinggal menunggu kehancuran saja. Kehadiran Perempuan bukanlah sekedar sebagai pelengkap karena ia adalah bagian puzzle satu kesatuan, kesadaran inilah yang harusnya mulai tumbuhkan sehingga tidak adanya diskrimanasi dan meremehkan peran satu sama lain.

Editor: Arif Sugeng W

Tagged under
0 comments