web analytics
Connect with us

Opini

Self-Love dalam Budaya Jawa

Mitra Wacana WRC

Published

on

Waktu dibaca: 2 menit

Mencintai diri sendiri?

Nofi Tri Susanti S.Pd Aud

      Nofi Tri Susanti

Mungkin sebagian orang akan beranggapan bahwa mencintai diri sendiri akan terdengar egois, saat kita mampu mencintai diri sendiri kita akan belajar menerima kekurangan dan kelebihan pada diri kita sendiri, hal itu akan membuat kita mudah untuk bersyukur dan membuat kita bahagia, karena inti dari Self-Love adalah rasa bersyukur kita kepada Tuhan Yang Maha Esa atas apa yang sudah diberikanNya kepada kita, baik kekurangan maupun kelebihannya, karena Tuhan tidak akan menciptakan susah tanpa didampingi dengan mudah selama kita mampu untuk terus bersyukur.

Suatu hal menarik yang seharusnya dimiliki oleh individu untuk bisa memahami diri sendiri, terlebih masalah-masalah spikologis, karena obat yang ampuh untuk menyelesaikan masalah psikologis adalah diri sendiri bukan orang lain. Kamu tidak akan bisa mencintai orang lain sebelum kamu mencintai dirimu sendiri terlebih dahulu.

Bagaimanakah kita mencintai diri sendiri? Apakah itu didapatkan melalui makeover kecantikan atau satu set pakaian baru? Bisakah kita mendapat lebih banyak dengan membaca sesuatu yang menginspirasi? Atau bisakah hubungan baru akan membuat kita lebih mencintai diri sendiri? Jawabannya adalah tidak, meskipun mereka merasa baik dan memuaskan, kita tidak akan tumbuh dalam cinta diri dari jenis kegiatan ini.

Cinta diri bukan sekedar perasaan senang, ini adalah bentuk mencintai diri sendiri yang tumbuh dari tindakan yang mendukung pertumbuhan fisik, psikologis dan spiritual kita, memiliki belas kasih untuk diri sendiri ketika kita berjuang untuk menemukan makna pribadi, lebih berpusat pada tujuan dan nilai-nilai kehidupan kita, dan mengharapkan pemenuhan hidup melalui usaha diri kita sendiri.

Self-Love masing-masing untuk masyarakat Indonesia terutama suku Jawa dan masih banyak masyarakat yang belum mengetahui pentingnya Self-Love, hal ini akan semakin sulit diterapkan dengan adanya batasan dalam kebudayaan masing-masing suku, terutama suku jawa sebab dalam budaya jawa mengatakan “tidak” kepada orang lain merupakan hal yang tidak sopan, selain itu batasan yang sering menghalangi orang untuk mencintai diri sendiri adalah adanya kebiasaan untuk tidak mengungkapkan perasaan, orang tidak terbiasa mengungkapkan pikiran dan perasaannya, kita seolah tidak boleh sedih.

Pewarisan budaya jawa melalui enculturasi masih tetap berlangsung, sejumlah sifat orang jawa seperti nrimo dan pasrah, hal ini sangat mempengaruhi bagaimana orang jawa bisa mencintai dirinya sendiri, dibandingkan dengan masyarakat dari suku lain, masyarakat jawa lebih susah untuk bisa mencintai dirinya sendiri, karena ada batasan-batasan budaya di suku jawa, martabat atau harga diri bagi orang jawa selalu dikaitkan dengan sifar rasa kemanusiaan, yaitu sikap diri selalu mengutamakan perilaku manusiawi dalam memperlakukan orang lain, kamanungsan berkaitan dengan sikap diri dalam berhubungan dengan orang lain untuk menciptakan rukun, memposisikan diri terhadap orang lain menjadikan dirinya berharga di mata orang lain.

Dengan adanya batasan tersebut akan susah untuk mengajak orang jawa untuk lebih mencintai dirinya sendiri, sedangkan kita ketahui bahwa banyak sekali manfaat yang bisa kita dapatkan dengan mencintai diri sendiri salah satunya yaitu untuk menyelesaikan masalah-masalah yang terjadi terutama masalah psikologis.

 

Referensi:

Sefl-Love: Bukan soal Ego, tapi masalah penerimaan diri

https://www.idntimes.com/life/inspiration/kartika-dewi-1/self-love-penerimaan-diri-c1c2/1

Khoshaba, D. (2012). A seven-step prescription for self-love. Psychology Today Retrieved from

https://www.psychologytoday.com/us/blog/get-hardy/201203/seven-step-prescription-self-love

Felicia Maukar: (6. 2011) dalam Jangan lupa mencintai diri sendiri, ini pentingnya Self-Love untuk menyelesaikan masalah hidup.

https://beautynesia.id/47707/article/life/jangan-lupa-cintai-diri-sendiri-ini-pentingnya-self-love-untuk-selesai

 

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Opini

Patriarki dan Kekerasan Seksual Terhadap Laki-Laki

Mitra Wacana WRC

Published

on

Patriarki dan Kekerasan Seksual Terhadap Laki-Laki
Waktu dibaca: 3 menit

I Wayan Gus Gina Volunteer Mitra Wacana

Kasus kekerasan yang menimpa laki-laki akan cenderung menjadi tertawaan, apalagi jika berkaitan dengan kekerasan dalam rumah tangga. Padahal sebenarnya tidak juga, korban kekerasan seksual baik di Indonesia maupun seluruh dunia tidak hanya dialami oleh perempuan dan anak-anak saja. Semua bisa menjadi korban kekerasan seksual, termasuk laki-laki. Perbedaannya ialah tidak banyak orang akan mengetahui apabila korban tergolong sebagai seorang laki-laki. Hal ini dikarenakan korban laki-laki lebih memilih menutupi persoalan kekerasan seksual yang dialami dibandingkan korban perempuan.

Beberapa pekan yang lalu masyarakat dihebohkan dengan sebuah kasus perundungan dan pelecehan seksual terhadap seorang karyawan laki-laki di Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) menerima permohonan perlindungan dari MS, pegawai KPI yang diduga menjadi korban perundungan dan pelecehan seksual dari beberapa orang. Para pelaku dalam kasus tersebut tidak lain adalah rekan kerja sesama pegawai di KPI dan diduga telah dilakukan selama bertahun-tahun lamanya, namun baru saat ini korban memberanikan diri untuk membawa kasus tersebut ke ranah hukum. Apa yang sebenarnya terjadi dan mengapa baru sekarang korban berupaya menyelesaikan kasus tersebut?

Berbeda dengan kasus kekerasan seksual yang biasanya terjadi pada seorang perempuan, kali ini kasus kekerasan seksual terjadi pada seorang laki-laki. Banyak penelitian menunjukkan bahwa korban kekerasan seksual didominasi oleh perempuan dan mayoritas pelaku adalah laki-laki. Akan tetapi fakta tersebut tidak dapat mengubah kenyataan bahwa kekerasan seksual juga terjadi pada laki-laki, khususnya anak laki-laki. Kekerasan seksual terhadap laki-laki seringkali tidak dianggap sebagai suatu hal yang serius. Berdasarkan Laporan Studi Kuantitatif Barometer Kesetaraan Gender yang diluncurkan Indonesia Judicial Research Society (IJRS) dan INFID, di tahun 2020 terdapat 33% laki-laki yang mengalami kekerasan seksual khususnya dalam bentuk pelecehan seksual.

Berdasarkan survei dari Koalisi Ruang Publik Aman (KRPA) yang melibatkan 62.224 responden, 1 dari 10 laki-laki pernah mengalami pelecehan di ruang publik. Data dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) memperlihatkan bahwa korban kekerasan seksual di tahun 2018 lebih banyak dialami oleh anak laki-laki, dimana ada 60% anak laki-laki dan 40% anak perempuan menjadi korban kekerasan seksual. Berdasarkan data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak tahun 2017, untuk kelompok umur 13-17 tahun prevalensi kekerasan seksual terlihat lebih tinggi pada laki-laki dibanding perempuan, yaitu sebesar 8,3% atau dua kali lipat dari prevalensi kekerasan seksual pada perempuan yang mencapai 4,1%.

Selama ini anggapan di masyarakat mempercayai bahwa laki-laki tidak mungkin atau tidak bisa menjadi korban kekerasan seksual. Korban perempuan pun merasa sulit dalam melaporkan kasus pelecehan seksual yang dialaminya karena stigma masyarakat yang kerap menyalahkan korban. Ternyata laki-laki juga sangat sulit untuk bisa melaporkan dan mendapat validasi atas peristiwa yang dialaminya. Anggapan masyarakat tentang pelecehan seksual yang selalu memposisikan laki-laki sebagai subjek sangat lah bias gender. Narasi kesetaraan seolah-olah hanya berlaku ketika korban pelecehan adalah perempuan. Media pun jarang yang memuat berita terkait kekerasan seksual yang dialami oleh laki-laki. Keadaan seperti itu menyebabkan adanya bias gender dalam pandangan masyarakat terkait fenomena pelecehan seksual. Lantas, mengapa laki-laki selalu dianggap tidak dapat menjadi korban kekerasan seksual? Hal ini tidak terlepas dari budaya patriarki yang sangat kental di Indonesia.

Dalam masyarakat patriarkis, nampaknya tak ada yang bebas dari stigma negatif. Perempuan menjadi korban utama yang selalu berada dalam bayang-bayang laki-laki. Perempuan menjadi subordinasi laki-laki yang dipandang setingkat lebih rendah. Namun, ternyata dampak dari sistem patriarki lebih parah. Laki-laki yang konon jadi sosok yang ditinggikan juga tak bebas dari stigma. Dalam masyarakat patriarkis, lazimnya adalah laki-laki menyukai perempuan, begitupun sebaliknya. Laki-laki harus mengayomi dan melindungi, sedangkan perempuan adalah sosok lemah yang perlu dilindungi. Laki-laki tidak boleh menangis dan perempuan tidak boleh melakukan pekerjaan berat. Dengan adanya stereotip maskulinitas tersebut, laki-laki diharapkan untuk bertingkah semaskulin mungkin dan menjadi figur yang kuat dalam masyarakat, hal inilah yang membuat masyarakat berpandangan bahwa laki-laki tak mungkin menjadi korban kekerasan seksual.

Data yang menunjukkan terjadinya kekerasan seksual pada laki-laki seringkali diacuhkan karena laki-laki yang memiliki pengalaman menjadi korban cenderung untuk tidak melaporkannya. Laki-laki diasosiasikan sebagai sosok kuat sehingga seorang laki-laki dewasa tidak akan dipecaya jika melapor menjadi korban pelecehan seksual. Tentu, hal ini memberatkan posisi laki-laki ketika mereka menjadi korban kekerasan seksual. Laki-laki korban kekerasan seksual seringkali merasa lemah, tidak berharga, dan kehilangan kejantanannya karena tidak mampu melindungi diri maupun komunitasnya. Belum lagi, adanya asumsi masyarakat yang menggeneralisir korban perkosaan sesama jenis sebagai bentuk penyimpangan seksual.

Walaupun laki-laki memiliki peluang yang lebih kecil untuk mengalami kekerasan seksual, banyak sekali kasus yang tak terungkap ke permukaan. Perlu adanya pemahaman yang lebih dalam terkait cara pandang terhadap kasus pelecehan atau bahkan kekerasan seksual. Kita sebagai masyarakat yang cerdas, harus mampu melihat dan menganalisa suatu kasus terkait itu tertentu. Jangan sampai memberikan pandangan, apalagi justifikasi sepihak secara kasat mata, atau bahkan karena stigma mayoritas, sehingga menimbulkan suatu kesimpulan yang bias gender.

Sumber:
1. Kompas.com
2. Suaramahasiswa.com
3. Hukumonline.com

Continue Reading

Who is Online

No one is online right now

Advertisement
Advertisement

Twitter

Trending

EnglishGermanIndonesian
Mari bergabung bersama Mitra Wacana

Silahkan bergabung dan menjadi bagian dari Mitra Wacana.
Akan ada penghargaan untuk tulisan yang terpilih.
Terima Kasih

Gabung