Rilis
1Billion Rising Indonesia
Published
14 years agoon
By
Mitra Wacana
ONE BILLION RISING INDONESIA – BACKGROUNDER *
Apa itu One Billion Rising? Satu dari tiga perempuan di dunia mengalami perkosaan atau kekerasan dalam hidupnya. Satu miliar perempuan menjadi korban kekerasan adalah sebuah kekejaman. Satu miliar perempuan menari adalah sebuah revolusi.
Pada Peringatan ke 15 V-Day, 14 Februari 2013, ONE BILLION RISING Internasional mengundang SATU MILIAR perempuan dan siapa saja yang peduli untuk WALK OUT, MENARI, BANGKIT, dan MENUNTUT penghentian kekerasan terhadap perempuan. ONE BILLION RISING akan menggerakan dunia, mengaktifkan perempuan dan laki-laki di setiap negara. V-Day ingin dunia melihat kekuatan kolektif kita, jumlah kita, dan solidaritas lintas batas kita.
ONE BILLION RISING adalah Gerakan global.
Ajakan untuk menari, Seruan untuk laki-laki dan perempuan untuk menolak berpartisipasi dalam status quo sampai perkosaan dan budaya perkosaan berakhir.
Aksi solidaritas, menunjukkan kepada perempuan tentang kesamaan perjuangan dan kekuatan mereka dalam jumlah. Penolakan untuk menerima kekerasan terhadap perempuan dan anak perempuan sebagai sebuah takdir.
Jaman yang baru dan cara yang baru menjadi manusia.
Mengapa kita bergabung dengan One Billion Rising?
Secara statistik, jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan tidak jauh berbeda dari segi jumlah. Namun kekerasan terhadap perempuan di Indonesia adalah sebuah fenomena gunung es, dimana hanya sedikit kasus yang terlaporkan secara resmi. Perempuan memilih diam dan tidak melaporkan kasus kekerasan yang menimpa mereka dikarenakan banyak hal: sistem pelaporan dan perlindungan terhadap korban yang tidak berpihak terhadap korban dalam praktek hukum di Indonesia, stigma dan paradigma sosial yang menyalahkan korban kekerasan terutama kekerasan seksual, serta problem-problem psikologis lainnya.
Menurut catatan Komnas Perempuan, sepanjang tahun 2011 ada 119.107 kasus kekerasan terhadap perempuan yang dilaporkan, dimana 4311 diantaranya adalah kasus kekerasan seksual. Sepanjang 2011 – 2012, banyak kasus perkosaan yang diberitakan oleh media dan mendapat perhatian dari masyarakat.
Beberapa kasus yang mendapat banyak sorotan adalah kasus perkosaan di angkutan umum yang marak terjadi, salah satunya adalah perkosaan dan pembunuhan terhadap Livia, seorang mahasiswi, oleh lima laki-laki. Oktober tahun lalu, seorang siswi SMP di Depok juga mengalami perkosaan. Saat tulisan ini ditulis, media melaporkan kasus perkosaan terhadap siswi kelas 5 SD (berusia 11 tahun) yang mengalami koma dan akhirnya meninggal dunia.
Kasus perkosaan dan kekerasan terhadap perempuan adalah sebuah krisis global. Terjadi di semua negara di seluruh dunia, terhadap satu di antara tiga perempuan dari berbagai latar belakang yang berbeda. Maka menjadi tugas dan tanggung jawab kita bersama untuk berjuang secara kolektif untuk menghentikan kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan.
Sudah saatnya kita berhenti bersikap tidak peduli, sebab saya, anda, saudara perempuan, ibu, tante, anak perempuan, istri, kekasih kita bisa menjadi korban kapan saja.
Itu sebabya kita, ONE BILLION RISING INDONESIA akan bergabung bersama jutaan perempuan, laki-laki dan semua yang yang peduli untuk bangkit dan berteriak ‘CUKUP SUDAH!” terhadap kekerasan terhadap perempuan.
Apa yang akan kita lakukan di Indonesia?
ONE BILLION RISING INDONESIA akan mengadakan V-Dialogs di beberapa tempat di Jakarta untuk bicara tentang kekerasan terhadap perempuan dan bagaimana membangun sebuah gerakan untuk menghentikan segala bentuk kekerasan terhadap perempuan. Selain V-Dialogs, ONE BILLION RISING INDONESIA juga akan mengadakan beberapa screening film.
Sebagai puncaknya, pada tanggal 14 Februari 2013, ONE BILLION RISING INDONESIA akan bergabung dengan One Billion Rising di seluruh dunia untuk menari bersama dan menyerukan Stop Perkosaan dan Hentikan Kekerasan Terhadap Perempuan.
Sedangkan Jogja akan menari di Jalan Malioboro pada tanggal tersebut. Informasi lebih detail akan kami bagikan lewat fan page fb dan twitter.
Bagaimana anda bisa terlibat dalam One Billion Rising Indonesia?
Jika anda ingin terlibat langsung untuk acara-acara One Billion Rising Indonesia (Jakarta), silahkan kirimkan data diri anda (nama lengkap, usia, alamat e-mail, dan nomor telepon) ke vday.id@gmail.com. Anda juga bisa follow Twitter @OBR_Indonesia dan like page Facebook One Billion Rising Indonesia. One Billion Rising-Jogja, yang ingin terlibat silahkan hubungi Tia: 085743554134, Emma: 085234831703 dan selalu ikuti update dari kami lewat twitter @OBRJogja dan like page facebook One Billion Rising Jogja.
Salam,
Witri
* Facebook Kursus Parlemen Perempuan DIY diposting oleh Renny Frahesty
You may like
Berita
Beri Jalan Ulama Perempuan dalam Keanggotaan AHWA di Muktamar 3
Published
3 days agoon
20 August 2026By
Mitra Wacana
———-
Rilis Jaringan NU Kultural (JANUR)
*”Beri Jalan Ulama Perempuan dalam Keanggotaan AHWA di Muktamar 35″*
Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama di Tambakberas, Jombang, merupakan momentum terbaik untuk memberi ruang yang lebih luas bagi ulama perempuan dalam struktur pengambilan keputusan tertinggi organisasi.
Salah satu ruang tersebut adalah Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA), forum yang memiliki posisi strategis, khususnya dalam menentukan kepemimpinan Rais Aam PBNU.
Sejak mekanisme AHWA digunakan dalam Muktamar NU 33, seluruh anggota AHWA yang terpilih adalah laki-laki. Kondisi ini layak dikaji kembali, terutama karena tidak terdapat ketentuan yang secara eksplisit menyatakan bahwa anggota AHWA harus laki-laki.
AHWA semestinya diisi berdasarkan kapasitas keilmuan, integritas, keteladanan, pengabdian, pengaruh, dan kemampuan menjaga kemaslahatan jam’iyah. Jika ukuran tersebut menjadi dasar, maka kesempatan bagi ulama perempuan untuk menjadi bagian dari sembilan anggota AHWA seharusnya terbuka.
Kita tahu NU memiliki tradisi panjang dalam melahirkan ulama perempuan. Mereka tidak hanya aktif dalam Muslimat NU, pesantren, pendidikan, dan pelayanan sosial, tetapi juga berkontribusi dalam pengembangan pemikiran keislaman dan kehidupan kebangsaan.
JANUR meyakini setidaknya ada dua ulama perempuan memiliki kualifikasi di atas.
Pertama, Nyai Dr. (Hc.) Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid; selama puluhan tahun beliau menyuarakan penghormatan terhadap martabat manusia, kesetaraan, dan kehidupan beragama yang inklusif. Pengabdiannya menunjukkan bahwa otoritas keagamaan dan moral perempuan telah menjadi bagian penting dari kehidupan NU dan masyarakat Indonesia. Beliau juga masuk dalam kepengurusan Musytasyar PBNU beberapa periode.
Kedua, Nyai Hj. Machfudhoh Aly Ubaid, ulama perempuan senior yang tumbuh dari tradisi pesantren dan keluarga besar pendiri NU. Putri KH Abdul Wahab Chasbullah ini memiliki pengalaman panjang dalam pendidikan pesantren dan perjuangan NU. Hingga hari ini beliau tetap menjadi rujukan penting di lingkungan NU dan juga tercatat sebagai Mustasyar PBNU.
Kedua tokoh tersebut menunjukkan bahwa NU memiliki sumber daya keulamaan perempuan yang tidak dapat dipandang sebagai pelengkap.
Memberi ruang kepada ulama perempuan dalam AHWA bukan semata-mata persoalan keterwakilan berdasarkan jenis kelamin. Ini merupakan bagian dari upaya memperluas perspektif keulamaan dalam pengambilan keputusan jam’iyah.
Kehadiran ulama perempuan dapat memperkaya pertimbangan keagamaan, sosial, pendidikan, keluarga, dan kemasyarakatan yang dihadapi NU.
Karena itu, Muktamar ke-35 NU di Tambakberas perlu membuka jalan bagi ulama perempuan untuk menjadi bagian dari sembilan anggota AHWA.
Jika kualifikasi AHWA ditentukan oleh ilmu, integritas, keteladanan, pengabdian, dan kemampuan menjaga kemaslahatan NU, maka ulama perempuan yang memenuhi kualifikasi tersebut semestinya mempunyai kesempatan yang sama.
Sudah waktunya NU tidak hanya berbicara tentang pentingnya peran ulama perempuan, tetapi juga memberikan ruang nyata kepada mereka dalam forum strategis pengambilan keputusan organisasi, termasuk dalam 9 anggota AHWA.
Jombang, 19 Agustus 2026.
Aan Anshori (089671597364)
Penggerak JANUR
Alumni Tambakberas (masuk 1988)







