web analytics
Connect with us

volunteer

Asal Usul Nama Curug Banyunibo

Mitra Wacana WRC

Published

on

This post is also available in: Indonesia

Waktu dibaca: 2 menit

Penyusun:
Chrisvian Destanti
Ika Sari Rahayu
Indah Setiyani

Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia – UNY

 

Curug Banyunibo merupakan sebuah air terjun yang berada di dusun Kabrokan Kulon, kelurahan Sendangsari, kecamatan Pajangan, kabupaten Bantul. Nama Curug Banyunibo sama seperti nama sebuah air terjun yang berada di daerah Gunung Kidul. Curug Banyunibo terletak di sebuah hutan yang kini telah dirombak menjadi tempat wisata namun tetap tidak menghilangkan keasriannya. Di atas curug banyunibo terdapat bebatuan yang besar dan juga pepohonan sehingga menjadikan keadaan semakin rindang dan teduh. Dibalik keindahan air terjun dan juga keasrian alamnya, air terjun ini ternyata memiliki sejarah dan mitos yang menarik untuk ditelusuri. Ternyata keberadaan curug ini ada hubungannya dengan Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Banyunibo dalam bahasa Indonesia berarti air yang terjatuh.

            Berdasarkan cerita dari masyarakat setempat, pada tahun 1954 yaitu sesaat sebelum pemilu pertama kali di Indonesia dilakukan, di dusun Kabrokan Kulon terdapat peristiwa yang cukup menggemparkan masyarakat setempat. Suatu ketika, seseorang yang tidak dikenal dan berpenampilan seperti pengemis mencuri buah jambu biji milik salah seorang warga di dusun Krebet, yaitu sebuah dusun yang terletak di sebelah utara daerah tempat Curug Banyunibo berada. Orang yang mencuri tersebut ketahuan oleh warga dan akhirnya terjadilah kejar-kejaran. Kejadian kejar-mengejar tersebut berakhir di atas air terjun Banyunibo, dan pencuri tersebut berhasil dikepung oleh warga. Karena merasa terancam, akhirnya pencuri tersebut melompat ke bawah dan jatuh di kubangan air terjun. Melihat hal tersebut warga setempat sangat kaget dan dengan segera mereka mengecek keadaan pencuri itu. Akan tetapi, hal yang menakjubkan terjadi. Pencuri tersebut selamat dan tidak mengalami cidera apapun. Dikarenakan sudah banyak sekali warga yang berada di sana, akhirnya pencuri tersebut menyerahkan diri. Setelah tertangkap, warga membawa orang tersebut menuju kantor kecamatan agar dapat diadili.

            Saat sedang proses introgasi, orang tersebut dimintai informasi mengenai identitas dirinya. Semua orang terkejut ketika mengetahui bahwa ternyata pencuri tersebut adalah Sri Sultan Hamengkubuwono IX yang sedang menyamar. Setelah ditanyai lebih lanjut, ternyata kedatangan Sri Sultan bermaksud untuk menguji dan mengetahui kesiapan masyarakat setempat jika kedatangan orang asing yang mungkin saja bermaksud jahat. Beliau menyamar menjadi rakyat biasa dengan pakaian yang compang-camping agar tidak ketahuan dan mengetes respon warga sekitar terhadapnya. Ternyata warga setempat daerah tersebut sudah siap siaga jika menghadapi pencuri, dan Sri Sultan merasa bangga akan hal tersebut.

            Berdasarkan kejadian Sri Sultan yang melompat dari ketinggian dan masih selamat tersebut akhirnya disebutlah curug tersebut menjadi curug Banyunibo. Walaupun banyunibo sendiri dapat juga diartikan sebagai air terjun, akan tetapi nama banyunibo itu dapat mengingatkan warga setempat mengenai kejadian besar itu. Meskipun belum terdapat bukti yang dapat menyatakan mengenai kejadian tersebut benar atau tidak, tetapi masyarakat sekitar sampai sekarang masih mempercayai cerita tersebut secara turun-temurun.

 

 

 

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ekspresi

Asal Usul Desa Demangrejo

Mitra Wacana WRC

Published

on

This post is also available in: Indonesia

Waktu dibaca: 2 menit

Penyusun:
Chrisvian Destanti
Ika Sari Rahayu
Indah Setiyani

Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia – UNY

 

Demangrejo adalah nama desa yang berada di kecamatan Sentolo, kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Lebih tepatnya lagi apabila anda berkunjung di Kulon Progo apabila melihat Tugu Pensil yang berada di selatan jalan desa Demangrejo ini arahnya terletak di selatan Tugu pensil tersebut. Desa yang penuh sejarah dan penuh cerita.

Menurut cerita yang berkembang di daerah sekitar, dusun-dusun di desa Demangrejo terbentuk karena terdapat berbagai sejarah tersendiri. Seperti dusun Demangan  yang awal mulanya pada zaman dahulu dusun tersebut tinggal seorang sesepuh bernama Mbah Demang dan keluarganya. Beliau memiliki seorang istri bernama Sumarni, dan memiliki dua anak laki laki bernama Malik dan Ridwan. Mbah Demang hidup bersama keluarga yaitu di desa Demangan. Beliau adalah seorang sesepuh yang memegang kekuasaan di Desanya. Wilayah ini dulu hanyalah sebuah desa kecil yang bernama dusun Demangan dan hanya diduduki oleh beberapa kepala keluarga saja. Karena banyak orang beranggapan bahwa banyak tempat mistis sehingga dalam kehidupannya merasa terganggu dan tidak nyaman.

 Desa ini muncul karena pertemuan antara dua dusun yaitu dusun Demangan dan dusun Bonoharjo. Bergabungnya antara dusun Demangan dan dusun Bonoharjo ini terjadi pada tahun 1948. Dusun ini terbagi menjadi dua wilayah yaitu wilayah utara dan selatan. Wilayah selatan terbagi menjadi tiga yakni dusun Kijan, dusun Karang Patihan, dan dusun Demangan kemudian wilayah utara yaitu Desa Bonoharjo yang juga terbagi menjadi tiga wilayah yaitu dusun Belik, dusun Banaran dan dusun Kenteng. Kedua desa ini kemudian berkembang dari kekuasaan Mbah Demang hingga saat ini yang memegang kekuasaannya adalah Bapak Gunawan.

Masyarakat di desa Demangrejo termasuk Mbah Demang ini dahulu kebanyakan bekerja sebagai pekebun dan petani, dimana banyak lahan lahan perkebunan dan pertanian yang subur di daerahnya. Di masa sekarang warga di desa Demangrejo masih ada yang menjaga tradisi yang ada dan ada yang tidak, namun kebiasaan zaman dahulu yaitu bercorak petani dan pekebun masih banyak dilakukan oleh warga sebagai mata pencaharian. Namun di samping itu warga desa Demangrejo ini sudah banyak yang lupa akan sejarah yang ada di lokalitas tempat tinggal mereka.

Setelah Mbah Demang sudah lanjut usia dan sudah tidak kuat untuk mengurus lahan pertanian maupun perkebunannya Mbah Demang tiba tiba jatuh sakit. Karena pada zaman dulu belum ada fasilitas kesehatan seperti puskesmas maupun klinik pengobatan  Mbah Demang hanya berbaring di rumah dan diberikan pengobatan herbal dari hasil perkebunan. Setelah beberapa bulan kemudian Mbah Demang yang hanya berbaring di rumah akhirnya sesepuh di dusun Demangan ini meninggal dunia dan kemudian dimakamkan di makam Getasan yang beralamat di dusun Demangan rt. 03/ rw. 01 desa Demangrejo kecamatan Sentolo kabupaten Kulon Progo. Kurang lebih 500 meter dari rumah duka.

Kemudian setelah sepeninggalan beliau pemegang kekuasaan di dusun Demangan ini digantikan oleh salah satu warga yakni Mbah Bejo yang sekaligus mempersatukan dusun Demangan dan dusun Bonoharjo menjadi salah satu desa yaitu desa Demangrejo pada tahun  1948. Hingga saat ini desa Demangrejo sudah berdiri dengan kokoh dan menjadi desa yang makmur, tentram dan damai.

 

 

Continue Reading

Who is Online

No one is online right now

Advertisement
Advertisement

Twitter

Trending

Gedongan Baru RT.06/RW.43 Pelemwulung No. 42 Banguntapan, Bantul Daerah Istimewa Yogyakarta 55198
Telpon: +62 274 451574 Email: plip_mitrawacana@yahoo.com or mitrawacanawrc@gmail.com
Copyright © 2019 Divisi Media Mitra Wacana
Tim Redaksi | Kebijakan Privasi | Disclaimer | Tata cara penulisan

Mari bergabung bersama Mitra Wacana

Silahkan bergabung dan menjadi bagian dari Mitra Wacana.
Akan ada penghargaan untuk tulisan yang terpilih.
Terima Kasih

Gabung