web analytics
Connect with us

Opini

Beberapa Kegiatan P3A Galur

Published

on

Dokumentasi pertemuan rutin di dusun oleh P3A Lentera Hati

Oleh Umasih (CO Kecamatan Galur)

Di tahun ke-empat (4) ini kelompok P3A sudah berjejaring dengan dinas terkait, mulai dari pemerintah Desa, Dinas tenaga kerja dan dengan Badan penempatan pendampingan Tenaga Kerja Indonesia (BP3TKI). Atas kesungguhan peran P3A turut serta mencegah perdagangan manusia khususnya di Nomporejo, organisasi P3A telah mendaptkan dana Desa yang digunakan untuk peningkatan kapasitas kelompok yaitu mengadakan sosialisasi pencegahan trafiking dan KDRT ditahun 2016 dan 2017.

Pada Maret 2018, P3A Putri Pertiwi yang ada di Desa Nomporejo Kecamatan Galur  juga mendapatkan pendidikan dari BP3TKI bagi TKI purna. Karena peserta P3A Putri Pertiwi ini sebagian ada yang sudah memiliki usaha jasa pembuatan snack jajan pasar dan mulai menerima pesanan nasi box, maka pelatihan yang di ambil adalah pelatihan peningkatan catering.                    

Pelatihan catering bekerjasama dengan BP3TKI. Pelatihan ini mempunyai tujuan dan harapan agar setelah pulang dari merantau para pekerja migran memiliki usaha sendiri di rumah untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya supaya tanpa harus merantau ke luar Negeri. Dari hasil pelatihan tersebut sebagian peserta atau anggota P3A Putri Pertiwi ini membuka usaha warung makan. Meski belum banyak pelanggannya namun mereka antusias menekuni usaha catering. Mereka sudah mulai membuka pemesanan nasi bok dengan harga yang sangat terjangkau mulai mereka lakukan. Setelah pelatihan catering kini sebagian peserta sudah mulai banyak menerima pesanan nasi bok.

P3A Tirto Kemuning Desa Tirto Rahayu dan P3A PESISIR  Desa Banaran juga mendapatkan pelatihan dari BP3TKI. Karena peserta dari P3A ini ada beberapa yang mempunyai ternak bebek meski baru sebatas untuk konsumsi sendiri. Pelatihan ini belajar sejak awal menetaskan sampai bebek siap panen, dengan dua kategori pilihan menjadi bebek super atau bebek petelur. Peserta yang akan mengikuti pelatihan ini sejumlah 25 peserta dengan harapan setelah adanya pelatihan ini nantinya peserta mampu mengembangkan ternaknya agar lebih menghasilkan dan bisa memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Opini

Kebiasaan Untung Sendiri dan Rusaknya Aturan Bersama

Published

on

Vinsensius, S.Fil., M.M. akademisi dan penulis  kajian filsafat moral, budaya, dan ekonomi perilaku. Aktif mengajar di perguruan tinggi serta menulis opini populer.

Ada tipe orang yang selalu punya alasan. Ia melanggar aturan sedikit, tapi merasa itu wajar. Ia mengambil keuntungan kecil, tapi merasa tidak merugikan siapa pun. Baginya, yang penting urusannya beres dan dirinya aman.

Masalahnya, pola seperti ini sering dibungkus dengan kalimat, “Sudah biasa begitu.” Kebiasaan akhirnya menjadi tameng. Orang tidak lagi bertanya apakah tindakannya benar, melainkan apakah tindakannya umum dilakukan.

Di titik ini, kita perlu belajar dari Immanuel Kant. Ia bukan filsuf yang bicara rumit untuk membingungkan orang. Inti pesannya sederhana: lakukan hanya tindakan yang pantas dilakukan oleh semua orang.

Kant percaya bahwa moralitas tidak ditentukan oleh kebiasaan atau keuntungan. Moralitas ditentukan oleh kewajiban. Artinya, kita bertindak benar bukan karena takut ketahuan, bukan karena ingin dipuji, dan bukan karena ingin untung. Kita bertindak benar karena itu memang benar.

Coba bayangkan satu hal sederhana. Jika semua orang menerobos lampu merah karena merasa jalan sedang sepi, apa yang akan terjadi? Mungkin awalnya tidak apa-apa. Tapi jika semua orang berpikir sama, kekacauan tinggal menunggu waktu.

Begitu juga dalam kehidupan sosial. Jika semua pegawai memanipulasi laporan sedikit saja, jika semua pejabat mengambil keuntungan kecil saja, jika semua warga mencari celah aturan demi dirinya, lama-lama sistem akan rapuh.

Kant menyebut prinsipnya sebagai imperatif kategoris. Jangan takut dengan istilahnya. Maksudnya begini: sebelum bertindak, tanyakan pada diri sendiri, “Apakah saya rela jika semua orang melakukan hal yang sama?”

Jika jawabannya tidak, maka kemungkinan besar tindakan itu tidak bermoral. Sederhana, tapi tegas.

Masalah terbesar manusia modern bukan tidak tahu aturan. Kita tahu aturan. Kita tahu mana yang benar dan mana yang salah. Masalahnya, kita sering merasa diri kita pengecualian.

Kita merasa pelanggaran kecil tidak akan berdampak besar. Kita berkata, “Ah, cuma saya saja.” Padahal, setiap orang yang berkata demikian sedang menambah satu batu kecil pada bangunan ketidakadilan.

Lebih berbahaya lagi, kebiasaan untung sendiri ini membentuk karakter. Awalnya mungkin kecil. Lama-lama menjadi pola. Dan pola itu akhirnya membentuk pribadi yang selalu menghitung keuntungan sebelum menghitung kebenaran.

Kant juga mengingatkan bahwa manusia tidak boleh diperlakukan hanya sebagai alat. Jika kita melanggar aturan demi keuntungan pribadi, sering kali kita menjadikan orang lain sebagai sarana. Kita memakai sistem, memakai kepercayaan orang, bahkan memakai hukum untuk kepentingan diri.

Mungkin secara hukum kita tidak tertangkap. Tapi secara moral, kita sudah menggerogoti kepercayaan bersama. Dan tanpa kepercayaan, masyarakat tidak akan bertahan lama.

Lalu apa solusinya? Apakah kita harus menjadi orang yang kaku dan terlalu idealis? Tidak. Moralitas bukan soal menjadi sempurna. Moralitas soal konsisten.

Pertama, biasakan bertanya sebelum bertindak. Latih diri dengan satu pertanyaan sederhana: “Bagaimana jika semua orang melakukan ini?” Pertanyaan ini bisa menjadi rem yang kuat.

Kedua, bedakan antara kebiasaan dan kebenaran. Tidak semua yang lazim itu benar. Jangan jadikan kalimat “sudah biasa” sebagai pembenaran. Justru kebiasaan perlu diuji ulang secara berkala.

Ketiga, bangun keberanian untuk berbeda. Jika lingkungan terbiasa mencari celah, orang yang taat aturan sering dianggap aneh. Tapi perubahan selalu dimulai dari orang yang berani tidak ikut arus.

Keempat, mulai dari hal kecil. Disiplin waktu, jujur dalam laporan, tidak memotong antrean, tidak memanfaatkan jabatan untuk keluarga. Tindakan kecil yang konsisten jauh lebih kuat daripada pidato moral panjang.

Kelima, bangun budaya saling mengingatkan, bukan saling membiarkan. Banyak pelanggaran bertahan karena semua orang diam. Padahal, diam sering kali berarti setuju.

Kita mungkin tidak bisa mengubah sistem besar sendirian. Namun kita bisa memastikan bahwa diri kita tidak ikut merusaknya. Itu sudah langkah penting.

Hidup bersama membutuhkan aturan. Aturan membutuhkan kepercayaan. Dan kepercayaan hanya bisa bertahan jika orang bertindak bukan demi untung sendiri, melainkan demi kebaikan bersama.

Menjadi orang yang berpegang pada kewajiban memang tidak selalu menguntungkan secara cepat. Tapi dalam jangka panjang, itulah fondasi masyarakat yang adil dan kuat.

Pada akhirnya, peradaban tidak hancur karena satu kejahatan besar. Ia runtuh karena terlalu banyak orang merasa wajar untuk sedikit saja tidak jujur.

Di situlah kita perlu tegas pada diri sendiri. Bukan karena takut dihukum, melainkan karena kita ingin hidup dalam masyarakat yang bisa dipercaya. Dan itu selalu dimulai dari pilihan pribadi yang sederhana.

Continue Reading
Advertisement NYL2026
Advertisement
Advertisement

Twitter

Trending