Opini
Bentuk-Bentuk Kekerasan di Tempat Kerja
Published
3 years agoon
By
Mitra Wacana
Oleh Wahyu Tanoto
Menurut studi yang dilakukan oleh Equal Employment Opportunity Commission (EEOC) pada 2016 di Amerika Serikat, sekitar 75% orang yang mengalami pelecehan di tempat kerja tidak melaporkan kejadian kepada manajer, supervisor, atau perwakilan serikat pekerja. Salah satu alasan utama adalah karena merasa takut akan keamanan kerja serta takut kehilangan sumber pendapatan mereka. Selain itu ada beberapa faktor lain, seperti:
- Faktor relasi kuasa. Salah satu pihak memiliki kekuatan, posisi atau jabatan yang lebih tinggi atau dominan dibandingkan korban. Misalnya, antara bos dengan karyawan.
- Kebijakan perlindungan pekerja masih tidak jelas. Absennya perlindungan terhadap korban dapat menyebabkan korban merasa takut untuk melapor karena khawatir pelaku akan balas dendam dan melakukan kekerasan yang lebih parah.
- Mekanisme penanganan kasus kekerasan seksual yang tidak tersedia. Misalnya, perusahaan belum memiliki Standard Operating Procedure (SOP) mengenai kekerasan seksual, sehingga tidak ada jalur pelaporan atau sanksi yang jelas.
- Budaya yang kerap menyalahkan korban, seperti: “Kamu sih ke kantor pakai baju seperti itu!” “Kamu ngapain memangnya sampai bos marah begitu?”
Namun, kemungkinan lain adalah karena banyak orang belum memahami atau tidak yakin perilaku apa saja yang melanggar batas dan dapat dikategorikan sebagai pelecehan atau kekerasan. Maka dari itu, yuk kita bahas apa saja bentuk-bentuk pelecehan dan kekerasan di tempat kerja!
Kekerasan verbal
Kekerasan verbal termasuk ucapan yang merendahkan, melakukan gerakan yang ofensif, memberikan kritik yang tidak masuk akal, memberikan cercaan atau komentar yang menyakitkan, serta melontarkan lelucon yang tidak sepantasnya. Beberapa contohnya adalah:
- Mengirim email dengan lelucon atau gambar yang menyinggung identitas seseorang, seperti identitas gender, orientasi seksual, ras, atau agama.
- Berulang kali meminta kencan atau ajakan seksual, baik secara langsung atau melalui pesan.
- Membuat komentar yang menghina tentang disabilitas seseorang.
- Mengolok-olok aksen berbicara (logat) seseorang.
Kekerasan psikologis
Perilaku berulang atau menjengkelkan yang melibatkan kata-kata, perilaku, atau tindakan yang menyakitkan, menjengkelkan, memalukan, atau menghina seseorang. Ini termasuk:
- Mengambil pengakuan atas pekerjaan orang lain.
- Menuntut hal-hal yang mustahil.
- Memaksakan tenggat waktu (deadline) yang tidak masuk akal pada karyawan tertentu.
- Secara terus-menerus menuntut karyawan untuk melakukan tugas-tugas merendahkan yang berada di luar lingkup pekerjaannya.
Kekerasan fisik
Pelecehan di tempat kerja yang melibatkan ancaman atau serangan fisik, termasuk sentuhan yang tidak diinginkan. Misalnya:
- Menyentuh pakaian, tubuh, baju, atau rambut orang lain.
- Melakukan penyerangan fisik. Misalnya: memukul, mencubit, atau menampar.
- Melakukan ancaman kekerasan.
- Merusak properti pribadi. Misalnya: mengempeskan ban kendaraan, melempar ponsel orang lain.
Kekerasan berbasis digital
Ini merupakan berbagai bentuk kekerasan atau pelecehan yang dilakukan di ranah daring (online), seperti:
- Memposting ancaman atau komentar yang merendahkan di media sosial.
- Membuat akun palsu dengan tujuan merundung seseorang secara online.
- Membuat tuduhan palsu.
- Menyebarkan foto atau rekaman orang lain yang bersifat privat atau bernuansa seksual.
Kekerasan seksual
- Rayuan seksual yang tidak diinginkan.
- Melakukan sentuhan yang tidak pantas atau tidak diinginkan.
- Melontarkan lelucon bernuansa seksual.
- Membagikan media pornografi.
- Mengirim pesan yang bersifat seksual.
- Pemerkosaan dan kegiatan seksual lain yang dilakukan dengan paksaan.
- Meminta hubungan seksual sebagai imbalan atau promosi pekerjaan.
Jika kamu atau teman kerjamu mengalami salah satu atau beberapa bentuk kekerasan seperti yang disebutkan di atas dan membutuhkan bantuan lembaga layanan, kamu bisa cek website https://carilayanan.com/ atau belipotbunga.com ya. Jangan ragu untuk segera mengontak lembaga layanan, karena mereka ada untuk membantu kamu!
Sumber
Opini
Jamur: Ancaman yang Mengintai di Balik Cat Dinding
Published
20 hours agoon
10 June 2026By
Mitra Wacana

Nur Sakinah Al-Khaillah
Mahasiswa Farmasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Di musim yang tidak bisa dipresiksi kapan akan turun hujan atau kapan matahari akan sangat terik, sebuah ancaman makhluk kecil dapat membahayakan kesehatan mu jika dibiarkan. Hujan yang turun tidak menentu dan naik nya volume air mampu meningkatkan probabilitas ruangan menjadi lembab. Terlebih lagi, ventilasi dan struktur ruangan yang kurang baik, mampu membuat ruangan dalam rumah mu ditumbuhi oleh mikroorganisme yang dapat membahayakan jika dibiarkan terlalu lama. Bayangkan dinding lembab rumahmu yang mulai berubah warna menjadi hitam kehijauan dan menimbulkan bau yang bisa dikatakan “apek”. Bukan sekadar estetika buruk, tapi “penjahat” tak kasat mata yang dapat mengancam kesehatan pernapasan, ialah Si kecil jamur (mold) musuh tersembunyi di balik cat dinding.
Meskipun kecil dan jarang dibahas karena kelihatan “biasa”, jamur dapat menjadi ancaman serius bagi kesehatan terutama pernapasan.
Mengulik Lebih Jauh: Jamur dalam Ruangan dan Mengapa Mudah Tumbuh?
Jamur merupakan mikroorganisme yang banyak ditemukan di berbagai lingkungan, baik di luar maupun di dalam ruangan. Sebagai bagian dari kelompok fungi, jamur mudah tumbuh pada area dengan tingkat kelembapan tinggi. Beberapa jenis seperti Aspergillus, Penicillium, Stachybotrys chartarum, dan Chaetomium sering dikaitkan dengan kerusakan akibat kelembapan di dalam ruangan (Baxi, Portnoy, Larenas-Linnemann, & Phipatanakul, 2016). Di antaranya, Aspergillus kerap diisolasi dari debu rumah, serta dapat ditemukan pada tumpukan kompos dan vegetasi yang membusuk. Sementara itu, Penicillium umumnya terdapat di tanah, bahan makanan seperti biji-bijian, serta debu rumah, dan sering tumbuh pada bangunan yang mengalami kerusakan akibat air, seperti pada wallpaper atau kain yang membusuk, dengan ciri khas warna kehijauan (Baxi, Portnoy, Larenas-Linnemann, & Phipatanakul, 2016).
Pertumbuhan jamur tersebut sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan, terutama kelembapan tinggi, kurangnya cahaya, serta sirkulasi udara yang buruk. Dalam konteks rumah tangga di Indonesia, kondisi ini kerap dipicu oleh berbagai hal seperti atap bocor, penggunaan AC yang tidak optimal atau AC mati dalam waktu lama, dapur tanpa exhaust, serta musim hujan yang berkepanjangan. Akibatnya, ruang-ruang seperti kamar mandi, dapur, dan gudang menjadi area yang paling rentan ditumbuhi jamur.

Selain mudah tumbuh, jamur juga dapat menyebar dengan cepat. Ukurannya yang sangat kecil memungkinkan jamur terbawa aliran udara dan masuk ke dalam ruangan melalui pintu maupun jendela yang terbuka. Penyebarannya terjadi melalui spora, yaitu partikel mikroskopis yang dihasilkan jamur. Spora ini umumnya berukuran sekitar 1–10 µm, sehingga mudah terhirup dan mampu bertahan melayang di udara dalam waktu yang cukup lama (Jeong et al., 2022; Hai Xiao et al., 2025).
Lebih lanjut, variasi jenis dan jumlah jamur yang terdapat di dalam ruangan sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan sekitarnya, seperti desain dan material bangunan, keadaan iklim, serta kualitas dan efektivitas sistem ventilasi (Jeong et al., 2022; Hai Xiao et al., 2025). Oleh sebab itu, menjaga ventilasi yang baik menjadi langkah penting untuk mengurangi pertumbuhan dan penyebaran jamur sekaligus melindungi kesehatan penghuni rumah.
Hubungan Langsung: Jamur Picu Asma dan Alergi
Meski sebuah penelitian belum banyak membuktikan mengenai berapa banyak paparan (jumlah dan durasi) sehingga bisa terdampak asma, namun sebuah studi menyimpulkan bahwa kelembapan atau jamur di dalam ruangan berhubungan dengan perkembangan asma. Selain asma, paparan jamur dikaitkan dengan sejumlah penyakit lain termasuk mikosis bronkopulmoner alergi, sinusitis jamur alergi, dan pneumonitis hipersensitivitas (Baxi, Portnoy, Larenas-Linnemann, & Phipatanakul, 2016).
Temuan terbaru menunjukkan bahwa paparan jamur tidak hanya berdampak pada saluran pernapasan, tetapi juga berpotensi memengaruhi fungsi neurologis melalui mekanisme yang melibatkan sistem kekebalan tubuh. Hal ini menegaskan pentingnya kajian yang lebih mendalam terkait risiko kesehatan sistemik akibat paparan jamur (Lu et al., 2025; Hai Xiao et al., 2025).
Tinjauan literatur menunjukkan bahwa anak-anak yang tinggal di rumah dengan kondisi lembap atau pertumbuhan jamur yang terlihat, lebih rentan mengalami gejala saluran pernapasan bawah, seperti batuk dan mengi, dibandingkan anak-anak yang tinggal di lingkungan bebas jamur (Bush, Portnoy, Saxon, Terr, & Wood, 2006). Bagi individu yang memiliki alergi, bahkan paparan singkat terhadap jamur di dalam ruangan dapat memicu gejala seperti gatal-gatal, pilek, batuk, hingga mengi (Levine, 2025). Paparan jamur sejak masa kanak-kanak juga dapat meningkatkan risiko berkembangnya asma.
Selain itu, paparan jamur dalam jangka panjang dikaitkan dengan peningkatan kadar penanda inflamasi dalam tubuh, seperti protein C-reaktif (CRP), yang menunjukkan adanya proses peradangan (Levine, 2025). Gejala umum yang muncul setelah paparan termasuk batuk kering, mata gatal atau merah, pilek, dan ruam pada kulit. Kondisi ini dapat memburuk pada individu yang memiliki alergi terhadap jamur atau menderita asma.
Dukungan lebih lanjut berasal dari meta-analisis yang dilakukan oleh Institut Kedokteran terhadap 33 studi, yang menilai hubungan antara jamur yang terlihat, kelembapan, dan spora di udara dengan kesehatan pernapasan, termasuk gejala saluran pernapasan atas, batuk, mengi, dan diagnosis asma. Hasil analisis ini menunjukkan bukti kuat bahwa pertumbuhan jamur dan kondisi lembap berhubungan dengan meningkatnya gejala pernapasan tersebut. Fisk dkk., melalui analisis kuantitatif dari meta-analisis ini dan studi terkait lainnya, menyimpulkan bahwa kelembapan bangunan dan pertumbuhan jamur dikaitkan dengan peningkatan risiko 30–50% pada batuk, mengi, dan asma (Baxi, Portnoy, Larenas-Linnemann, & Phipatanakul, 2016).
Dampak Lain yang Merugikan
Selain berdampak pada kesehatan, paparan jamur di rumah juga dapat menimbulkan dampak ekonomi bagi keluarga. Perawatan asma, termasuk kunjungan dokter, obat-obatan, dan terapi, membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Belum lagi biaya perbaikan rumah untuk mengatasi sumber jamur, seperti perbaikan atap bocor atau ventilasi yang buruk, yang menambah pengeluaran keluarga.
Cara Deteksi Dini dan Pencegahan Mudah
Jamur yang menyebar di dalam ruangan akan terlihat jelas karena memiliki bercak hitam kehijauan disertai bau apek yang khas dan sedikit menyengat. Terdapat bercak-bercak hitam disertai bulu-bulu halus atau berlendir di area yang tinggi kadar kelembapannya. Biasanya terdapat di wallpaper, lemari, dan dinding.
Pencegahan yang dapat dilakukan:
– Ventilasi: Buka jendela 30 menit/hari.
– Dehumidifier: mampu mengurangi kelembaban <50%.
– Pilih Cat anti-jamur
REFERENSI
Baxi, S. N., Portnoy, J. M., Larenas-Linnemann, D., & Phipatanakul, W. (2016). Environmental Allergens Workgroup. Exposure and Health Effects of Fungi on Humans. J Allergy Clin Immunol Pract., 4(3), 396-404.
Bush, R. K., Portnoy, J. M., Saxon, A., Terr, A. I., & Wood, R. A. (2006). The medical effects of mold exposure. Journal of Allergy and Clinical Immunology, 117(2), 326-333.
Hai Xiao, J. Y. (2025). Potential respiratory hazards of fungal exposure in the residential indoor environment: a systematic review. Atmospheric Pollution Research, 16(10).
Levine, H. (2025, March). Mold in the home: Identifying and treating the issue to prevent health problems. Article. Diambil kembali dari https://www-health-harvard-edu.translate.goog/healthy-aging-and-longevity/mold-in-the-home-identifying-and-treating-the-issue-to-prevent-health-problems?_x_tr_sl=en&_x_tr_tl=id&_x_tr_hl=id&_x_tr_pto=tc

Jamur: Ancaman yang Mengintai di Balik Cat Dinding

SIARAN PERS MITRA WACANA untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan







