Connect with us

Berita

Mitra Wacana WRC Kenalkan Putri Pertiwi

Published

on

launching buku saku dan pengenalan organisai

Mitra wacana wrc didukung oleh Misereor sabtu (28/02) mengadakan acara yang bertemakan ” Pengenalan Organisasi dan Buku Saku Aman Ke Luar Negeri”. Acara berlangsung di Balai desa Nomporejo, Kecamatan Galur Kulon Progo. Tujuannya memperkenalkan organisasi P3A (Pusat Pembelajaran Perempuan dan Anak) Putri Pertiwi di Galur. perempuan – perempuan yang tergabung dalam organisasi ini belajar bersama tentang Gender, Pencegahan kekerasan dalam rumah tangga, pencegahan kekerasan terhadap anak, dan pencegahan terjadinya perdangangan orang. harapannya dengan adanya putri pertiwi ini dapat menekan dan mencegah perdagangan orang di Kulon Progo.

pada kesempatan ini juga diadakan diskusi buku saku aman merantau ke luar negeri dengan narasumber Ibu Erna Sukesih Kabid Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak pada Badan Pemberdayaan Masyarakat, Pemerintahan Desa, Perempuan dan KB (BPMPDPKB) Kulonprogo, Ibu Supartinah anggota P3A Putri Pertiwi, dan Dianah Karmilah Mitra wacana WRC.

Buku “aman merantau ke luar negeri” adalah cerita pengalaman dan kisah mantan buruh migran dari beberapa wilayah di Galur, Sentolo, dan Kokap,yang pernah dituturkan beragam pertemuan antara mitra wacana dan para perempuan perantau. dikemas dalam bentuk tanya jawab untuk memudahkan pembaca perempuan desa. Sementara itu ibu erna Sukeksi dari BPMPDPKB kulon progo sangat mengapresiasi dengan diperkenalkannya organisasi putri pertiwi dan buku ini karena sangat bermanfaat untuk masyarakat yang akan merantau.

Continue Reading
Click to comment

Tinggalkan Balasan

Berita

Marah Bolehkah?

Published

on

mitra wacana
Mitra wacana

Mei Sofia

Oleh Mei Sofia (Penggiat Rifka Annisa)

Ada seorang anak yang tidak pernah kena marah orang tuanya, kebetulan ayah ibunya semuanya penyabar. Jadilah anak tersebut tumbuh dalam keluarga yang seharusnya sangat nyaman dan mampu memupuk karakter anak secara baik. Namun terjadi masalah ketika awal masuk kuliah, ada ritual orientasi studi dan pengenalan kampus (ospek) dimana semua yang tidak pernah ada dalam hidupnya terjadi. Kata – kata caci maki dengan suara membentak dan perintah dengan suara kasar.

Setelah kejadian itu anak ini menjadi mogok kuliah, dan menghabiskan sebagian besar waktunya dengan duduk di teras rumah sambil melamun. Kata ibunya, anak perempuannya itu terganggu kesehatan jiwanya sejak ospek. Anaknya sering terlihat senyum sendiri saat duduk. Si ibu menganalisa bahwa anaknya syok berat menjalani masa orientasi kampus yang betul – betul di luar perkiraan.

Sayangnya bagaimana perasaan dan pikiran anak dari ibu itu tidak pernah tergali lebih dalam. Sedih ternyata si anak perempuan ini meninggal dunia dalam usia relatif muda (45th) dalam kondisi psikis yang masih sama. Penulis menjadi saksi bagaimana anak tersebut melamun setiap harinya, akan tetapi penulis tidak paham apa yang sebenarnya terjadi karena masih berusia (7) tahun.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh orang tua dalam mengasuh anak sebagai berikut; Pertama, kadang pola asuh di dalam keluarga tidak selaras dengan dunia luar sana yang kejam dan tak kenal pilih kasih maka persiapkanlah anak-anak kita untuk menghadapinya. Berikan pengetahuan yang lengkap betapa diluar sana anak kita harus kuat karena menjadi anak manis saja tidak cukup.

Kedua, perkenalkan anak dengan berbagai emosi, salah satunya ekspresi marah orang tuanya. Kenalkan apa itu marah, kecewa, sedih, bahkan apa itu pura pura karena dunia tidak selugu pikiran anak-anak. Tujuannya agar anak terbiasa melihat dan menghadapi berbagai jenis emosi tanpa dia harus merasa syok (tertekan) dengan berbagai perlakuan yang berbeda dengan pola asuh yang diterima selama ini.

Ketiga, biasakan membantu anak mengekspresikan emosi dengan baik dan mendiskusikan perasaan anak ketika terluka, kecewa sedih agar apa yang dirasakan tidak dipendam dan menjadikan gangguan dalam pikirannya.

Ke-empat, menurut penulis menjadi orang tua yang tidak pernah marah (seperti dalam kasus ini) punya pe-er bagaimana mengenalkan dunia luar, sementara orang tua yang sering marah-marah tinggal nunggu hasil anaknya akan lebih galak dari ortunya (pengalaman penulis)

Menurut hemat penulis, orang tua perlu mengubah pola asuh anak dengan menyelaraskan dengan dunia luar, membantu anak untuk mengekspresikan emosi dirinya. Memperkenalkan anak dengan berbagai ekspresi emosi, salah salah satunya marah. Saat orang tua marah hendaknya katakan anda sedang marah tanpa mengucapkan kata – kata kasar, tanpa membanting sesuatu dan lain sebagainya.

Apabila terjadi permasalahan antara orang tua dan anak hendaknya diakhiri dengan meminta maaf dan dilanjutkan untuk mendiskusikannya. Kita tidak pernah tau alasan orang tua / anak marah kalau tidak paham situasinya. Untuk itu diskusi tersebut wajib dilakukan agar tidak terjadi permasalahan dikemudian hari.

Continue Reading

Trending