Log In

Peran Media dalam Pencegahan Trafficking

Pada Jumat tanggal 21 Nopember 2014, Mitra Wacana bekerjasama dengan stasiun radio Eltira menyelenggarakan talkshow radio gdengan tema “Peran Media dalam Pencegahan Trafficking. Talkshow ini mengahadirkan narasumber yang sumber kompeten di bidangnya, yakni Nisrina salah satu pegiat dari Infest, sebuah LSM yang bergerak di bidang media dan penanganan buruh migran. Serta Ignaus salah seorang pegiat Mitra Wacana WRC.

Perdagangan orang (trafficking) merupakan suatu permasalahan lama yang kurang mendapatkan perhatian sehingga keberadaannya tidak begitu nampak di permukaan padahal dalam prakteknya sudah merupakan permasalahan sosial yang berangsur angsur menjadi suatu kejahatan masyarakat dimana kedudukan manusia sebagai obyek sekaligus sebagai subyek dari trafficking. Selain masalah utama Kurangnya upaya hokum pencegahan yang kuat bagi para pelaku, masalah ini juga didasari oleh lemahnya tingkat kesadaran masyarakat untuk mengerti dan paham akan adanya bahaya yang ditimbulkan dari praktek trafficking.

Lemahnya tingkat kesadaran masyarakat ini tentunya akan semakin memicu praktik trafficking untuk terus berkembang. Dalam hal ini maka selain mendesak pemerintah untuk teru mengupayakan adanya bentuk formal upaya perlindungan hukum bagi korban trafficking dan tindakan tegas bagi pelaku maka diperlukan juga kesadaran masyarakat agar masyarakat juga berperan aktif dalam memberantas praktek trafficking sehingga tujuan pemberantasan trafficking dapat tercapai dengan maksimal dengan adanya kerjasama yang baik antara pemerintah dan masyarakat

Modus baru yang dilakukan jaringan perdagangan manusia ini dengan memanfaatkan media telekomunikasi, seperti handphone dan jejaring sosial, seperti Twitter dan Facebook. Dalam aksinya para pelaku itu dengan cara mengacak nomor handphone lalu berkenalan. Selanjutnya pelaku mulai beraksi menawarkan pekerjaan dengan mendapatkan gaji dan sarana prasarana yang bagus. Sebagai langkah antisipasi atau pencegahan, saat ini juga bisa dilakukan sosialisasi kepada masyarakat, juga termasuk ke sekolah-sekolah melalui media yang ramah di masyarakat.

Peliputan media tentang kasus-kasus perdagangan orang, dengan maksud turut mencegah dan memerangi perdagangan orang, perlu dilakukan dengan:

  1. Empatik: mengenali dan memahami penderitaan yang dialami oleh korban, tidak menghakimi apalagi melahirkan stigma dan kriminalisasi pada korban. Hal sebaliknya gampang terjadi,t erutama dalam peliputan kasus perdagangan orang untuk tujuan eksploitasi seksual dimana perempuan korban dianggap terlibat, membiarkan diri, terlalu gampang menerima bujuk rayu yang berujung pada tindak perdagangan orang itu.
  2. Investigatif: informasi dihadirkan melalui penelusuran pada motif, pola dan jaringan pelaku tindak, dan pertanggungjawaban pada pemenuhan hak-hak korban atas kebenaran, keadilan dan pemulihan
  3. Solutif: mengenalkan akar masalah dan dampak, serta mendorong pelaksanaan dukungan yang tersedia dan/atau mencetuskan dukungan baru dari pihak negara maupun masyarakat untuk memulihkan korban, memutus impunitas, dan memastikan ketidakberulangan
Tagged under

Tinggalkan Balasan