Connect with us

Berita

Program Mitra Wacana WRC di Yogyakarta

Published

on

dokumentasi diskusi cerpen mitra wacana wrc

Mitra Wacana WRC dalam periode 2007-2010 mendapatkan dukungan dari STOP AIDS NOW (SAN) melakukan penguatan terhadap remaja sekolah menengah atas di dua kabupaten, Bantul dan Sleman. Dalam program tersebut kami mempromosikan kesehatan seksual dan reproduksi di beberapa sekolah dalam kabupaten tersebut yang bertujuan memperkuat pengetahuan dan meningkatkan kesadaran remaja khususnya terhadap HIV dan AIDS.

Beberapa kegiatan yang kami lakukan diantaranya yaitu: sarasehan HIV dan IDS, out bond, telusur candi di Yogyakarta dan sekitarnya, lomba majalah dinding, kampanye pencegahan HIV dan AIDS melalui penulisan cerpen, talkshaw di beberapa radio, dan membuat film bertema HIV dan AIDS. Dalam perjalanan program kami memfasilitasi berdirinya organisasi remaja bernama Forum Remaja Peduli (FoRemPed) yang bertujuan sebagai wadah untuk melakukan belajar bersama dalam mewujudkan remaja yang sehat dan bertanggung jawab. Salah satu keberhasilan FoRemPed adalah secara sukarela melakukan voluntary counseling and testing (VCT) terutama bagi anggota FoRemPed.

Hingga sekarang Mitra Wacana WRC masih melakukan kegiatan talkshaw di beberapa radio dengan berbagai tema yang sesuai dengan kebijakan lembaga sebagai upaya mengkampanyekan kesetaraan dan keadilan gender serta pencegahan kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak di Indonesia, khususnya Yogyakarta. Selain itu Mitra Wacana WRC juga tergabung dalam beberapa jaringan, diantarnya Jaringan Perempuan Yogyakarta, Perempuan Anti Korupsi, Jaringan Peduli Pekerja Rumah Tangga, Gender Working Group dan jaringan lainnya.

Continue Reading
Click to comment

Tinggalkan Balasan

Berita

Marah Bolehkah?

Published

on

mitra wacana
Mitra wacana

Mei Sofia

Oleh Mei Sofia (Penggiat Rifka Annisa)

Ada seorang anak yang tidak pernah kena marah orang tuanya, kebetulan ayah ibunya semuanya penyabar. Jadilah anak tersebut tumbuh dalam keluarga yang seharusnya sangat nyaman dan mampu memupuk karakter anak secara baik. Namun terjadi masalah ketika awal masuk kuliah, ada ritual orientasi studi dan pengenalan kampus (ospek) dimana semua yang tidak pernah ada dalam hidupnya terjadi. Kata – kata caci maki dengan suara membentak dan perintah dengan suara kasar.

Setelah kejadian itu anak ini menjadi mogok kuliah, dan menghabiskan sebagian besar waktunya dengan duduk di teras rumah sambil melamun. Kata ibunya, anak perempuannya itu terganggu kesehatan jiwanya sejak ospek. Anaknya sering terlihat senyum sendiri saat duduk. Si ibu menganalisa bahwa anaknya syok berat menjalani masa orientasi kampus yang betul – betul di luar perkiraan.

Sayangnya bagaimana perasaan dan pikiran anak dari ibu itu tidak pernah tergali lebih dalam. Sedih ternyata si anak perempuan ini meninggal dunia dalam usia relatif muda (45th) dalam kondisi psikis yang masih sama. Penulis menjadi saksi bagaimana anak tersebut melamun setiap harinya, akan tetapi penulis tidak paham apa yang sebenarnya terjadi karena masih berusia (7) tahun.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh orang tua dalam mengasuh anak sebagai berikut; Pertama, kadang pola asuh di dalam keluarga tidak selaras dengan dunia luar sana yang kejam dan tak kenal pilih kasih maka persiapkanlah anak-anak kita untuk menghadapinya. Berikan pengetahuan yang lengkap betapa diluar sana anak kita harus kuat karena menjadi anak manis saja tidak cukup.

Kedua, perkenalkan anak dengan berbagai emosi, salah satunya ekspresi marah orang tuanya. Kenalkan apa itu marah, kecewa, sedih, bahkan apa itu pura pura karena dunia tidak selugu pikiran anak-anak. Tujuannya agar anak terbiasa melihat dan menghadapi berbagai jenis emosi tanpa dia harus merasa syok (tertekan) dengan berbagai perlakuan yang berbeda dengan pola asuh yang diterima selama ini.

Ketiga, biasakan membantu anak mengekspresikan emosi dengan baik dan mendiskusikan perasaan anak ketika terluka, kecewa sedih agar apa yang dirasakan tidak dipendam dan menjadikan gangguan dalam pikirannya.

Ke-empat, menurut penulis menjadi orang tua yang tidak pernah marah (seperti dalam kasus ini) punya pe-er bagaimana mengenalkan dunia luar, sementara orang tua yang sering marah-marah tinggal nunggu hasil anaknya akan lebih galak dari ortunya (pengalaman penulis)

Menurut hemat penulis, orang tua perlu mengubah pola asuh anak dengan menyelaraskan dengan dunia luar, membantu anak untuk mengekspresikan emosi dirinya. Memperkenalkan anak dengan berbagai ekspresi emosi, salah salah satunya marah. Saat orang tua marah hendaknya katakan anda sedang marah tanpa mengucapkan kata – kata kasar, tanpa membanting sesuatu dan lain sebagainya.

Apabila terjadi permasalahan antara orang tua dan anak hendaknya diakhiri dengan meminta maaf dan dilanjutkan untuk mendiskusikannya. Kita tidak pernah tau alasan orang tua / anak marah kalau tidak paham situasinya. Untuk itu diskusi tersebut wajib dilakukan agar tidak terjadi permasalahan dikemudian hari.

Continue Reading

Trending