Connect with us

Berita

Program Mitra Wacana WRC di Purworejo

Published

on

dokumentasi pelatihan mitra wacana wrc

Mitra Wacana WRC pada 2011-2013 memiliki program di kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Selama periode ini Mitra Wacana WRC bekerja sama dengan pemerintah daerah (BKBPP) setempat melakukan penguatan di tiga desa tiga kecamatan, yaitu desa Grabag kecamatan Grabag, kelurahan Sindurjan kecamatan Purworejo dan desa Ngaran kecamatan Kaligesing. Program penguatan masyarakat untuk Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga ini mendapatkan dukungan dari CORDAID.

Selama proses penguatan di desa-desa tersebut, Mitra Wacana WRC bersama pemerintah desa setempat mencoba menginisiasi terbentuknya organisasi berbasis masyarakat di tingkat desa untuk melakukan pencegahan Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Salah satu tujuan berdirinya organisasi adalah sebagai Women Crisis Centre yang akan mendampingi korban KDRT khususnya melakukan konseling awal, mencatat kasus dan me-rujukkan kasus yang dialami korban kepada pemerintah daerah (Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak).

Dalam perjalanan Mitra Wacana WRC menemani desa-desa diatas telah melahirkan tiga organisasi berbasis masyarakat, yaitu: pertama, AKPERAN (Aktivis Perempuan Ngaran) desa Ngaran, Kaligesing. Kedua, ANNISA kelurahan Sindurjan kecamatan Purworejo dan GRACIA (Grabag Counceling Ibu dan Anak) desa Grabag kecamatan Grabag.

Continue Reading
Click to comment

Tinggalkan Balasan

Berita

Marah Bolehkah?

Published

on

mitra wacana
Mitra wacana

Mei Sofia

Oleh Mei Sofia (Penggiat Rifka Annisa)

Ada seorang anak yang tidak pernah kena marah orang tuanya, kebetulan ayah ibunya semuanya penyabar. Jadilah anak tersebut tumbuh dalam keluarga yang seharusnya sangat nyaman dan mampu memupuk karakter anak secara baik. Namun terjadi masalah ketika awal masuk kuliah, ada ritual orientasi studi dan pengenalan kampus (ospek) dimana semua yang tidak pernah ada dalam hidupnya terjadi. Kata – kata caci maki dengan suara membentak dan perintah dengan suara kasar.

Setelah kejadian itu anak ini menjadi mogok kuliah, dan menghabiskan sebagian besar waktunya dengan duduk di teras rumah sambil melamun. Kata ibunya, anak perempuannya itu terganggu kesehatan jiwanya sejak ospek. Anaknya sering terlihat senyum sendiri saat duduk. Si ibu menganalisa bahwa anaknya syok berat menjalani masa orientasi kampus yang betul – betul di luar perkiraan.

Sayangnya bagaimana perasaan dan pikiran anak dari ibu itu tidak pernah tergali lebih dalam. Sedih ternyata si anak perempuan ini meninggal dunia dalam usia relatif muda (45th) dalam kondisi psikis yang masih sama. Penulis menjadi saksi bagaimana anak tersebut melamun setiap harinya, akan tetapi penulis tidak paham apa yang sebenarnya terjadi karena masih berusia (7) tahun.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh orang tua dalam mengasuh anak sebagai berikut; Pertama, kadang pola asuh di dalam keluarga tidak selaras dengan dunia luar sana yang kejam dan tak kenal pilih kasih maka persiapkanlah anak-anak kita untuk menghadapinya. Berikan pengetahuan yang lengkap betapa diluar sana anak kita harus kuat karena menjadi anak manis saja tidak cukup.

Kedua, perkenalkan anak dengan berbagai emosi, salah satunya ekspresi marah orang tuanya. Kenalkan apa itu marah, kecewa, sedih, bahkan apa itu pura pura karena dunia tidak selugu pikiran anak-anak. Tujuannya agar anak terbiasa melihat dan menghadapi berbagai jenis emosi tanpa dia harus merasa syok (tertekan) dengan berbagai perlakuan yang berbeda dengan pola asuh yang diterima selama ini.

Ketiga, biasakan membantu anak mengekspresikan emosi dengan baik dan mendiskusikan perasaan anak ketika terluka, kecewa sedih agar apa yang dirasakan tidak dipendam dan menjadikan gangguan dalam pikirannya.

Ke-empat, menurut penulis menjadi orang tua yang tidak pernah marah (seperti dalam kasus ini) punya pe-er bagaimana mengenalkan dunia luar, sementara orang tua yang sering marah-marah tinggal nunggu hasil anaknya akan lebih galak dari ortunya (pengalaman penulis)

Menurut hemat penulis, orang tua perlu mengubah pola asuh anak dengan menyelaraskan dengan dunia luar, membantu anak untuk mengekspresikan emosi dirinya. Memperkenalkan anak dengan berbagai ekspresi emosi, salah salah satunya marah. Saat orang tua marah hendaknya katakan anda sedang marah tanpa mengucapkan kata – kata kasar, tanpa membanting sesuatu dan lain sebagainya.

Apabila terjadi permasalahan antara orang tua dan anak hendaknya diakhiri dengan meminta maaf dan dilanjutkan untuk mendiskusikannya. Kita tidak pernah tau alasan orang tua / anak marah kalau tidak paham situasinya. Untuk itu diskusi tersebut wajib dilakukan agar tidak terjadi permasalahan dikemudian hari.

Continue Reading

Trending