Connect with us

Berita

Relawan Purworejo Diajari Buat Komik Anti KDRT

Published

on

siklus kekerasan

Laporan Reporter Tribun Jogja Rento Ari Nugroho

TRIBUNJOGJA.COM, PURWOREJO – Hampir semua orang menyukai komik. Rupanya prinsip itulah yang dipakai oleh komunitas pencegahan dan penghapusan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) untuk menyampaikan pesan anti KDRTnya.

Tiga komunitas anti KDRT di Purworejo pada Minggu (15/7/2012) mengikuti pelatihan media kampanye untuk menyampaikan pesan anti KDRT. Bertempat di aula SDN Purworejo, tiga komunitas yang aktif menggerakkan kesadaran anti KDRT belajar membuat media kampanye berupa komik. Sebagai fasilitator adalah seniman gambar asal Yogya, Doni Blero.

Ketua panitia Wahyu Tanoto menuturkan, acara ini merupakan satu cara yang ditempuh untuk menyampaikan pesan anti KDRT. “Kalau memakai pendekatan biasa yaitu dengan berbicara, para anggota komunitas pendamping korban KDRT cenderung diremehkan. Namun apabila memakai media kreatif seperti komik, orang akan cenderung tertarik,” ungkapnya.

Seorang peserta bernama Anik Khomsatun (38) terlihat antusias mengikuti pelatihan ini. Beberapa kali ia bertanya pada Doni sebagai fasilitator. Dengan sabar Doni pun membantu Anik.

“Saya senang bisa diajari nggambar komik. Sebelumnya saya malah sama sekali tidak bisa menggambar,” jelas Anik. Ia berjanji, usai pelatihan ini ia akan mengajak rekan-rekan komunitasnya di kecamatan Grabag Purworejo untuk aktif berkampanye dengan komik.

Doni Blero sebagai fasilitator pun rajin berkeliling memantau para peserta yang sedang sibuk menggambar. Kepada Tribun Jogja ia menyatakan bahwa mengajar para peserta yang sebagian besar adalah perempuan dan sudah cukup berumur membuatnya memiliki pengalaman unik.

“Pokoknya gayeng lah. Saya harus mengajari mereka dari dasar. Ini bukan soal baik atau buruk, tapi bagaimana agar pesan mereka melalui komik tersampaikan,” jelasnya.

Pelatihan ini sendiri diadakan selama dua hari mulai Sabtu (14/7/2012) sampai Minggu (15/7/2012). Diikuti oleh sekitar 30 peserta dari komunitas Srikandi dari kecamatan Purworejo, Akpran dari kecamatan Kaligesing dan Gracia dari kecamatan Grabag, acara ini diselenggarakan oleh LSM Mitra Wacana yang aktif dalam penanganan dan pendampingan kasus KDRT di Purworejo. (*)

Penulis : Rento Ari Nugroho     ||     Editor : Hanan Wiyoko
Ikuti Tribunjogja.com melalui sosial media twitter @tribunjogja
Sumber:http://jogja.tribunnews.com/2012/07/15/relawan-purworejo-diajari-buat-komik-anti-kdrt
Continue Reading
Click to comment

Tinggalkan Balasan

Berita

Marah Bolehkah?

Published

on

mitra wacana
Mitra wacana

Mei Sofia

Oleh Mei Sofia (Penggiat Rifka Annisa)

Ada seorang anak yang tidak pernah kena marah orang tuanya, kebetulan ayah ibunya semuanya penyabar. Jadilah anak tersebut tumbuh dalam keluarga yang seharusnya sangat nyaman dan mampu memupuk karakter anak secara baik. Namun terjadi masalah ketika awal masuk kuliah, ada ritual orientasi studi dan pengenalan kampus (ospek) dimana semua yang tidak pernah ada dalam hidupnya terjadi. Kata – kata caci maki dengan suara membentak dan perintah dengan suara kasar.

Setelah kejadian itu anak ini menjadi mogok kuliah, dan menghabiskan sebagian besar waktunya dengan duduk di teras rumah sambil melamun. Kata ibunya, anak perempuannya itu terganggu kesehatan jiwanya sejak ospek. Anaknya sering terlihat senyum sendiri saat duduk. Si ibu menganalisa bahwa anaknya syok berat menjalani masa orientasi kampus yang betul – betul di luar perkiraan.

Sayangnya bagaimana perasaan dan pikiran anak dari ibu itu tidak pernah tergali lebih dalam. Sedih ternyata si anak perempuan ini meninggal dunia dalam usia relatif muda (45th) dalam kondisi psikis yang masih sama. Penulis menjadi saksi bagaimana anak tersebut melamun setiap harinya, akan tetapi penulis tidak paham apa yang sebenarnya terjadi karena masih berusia (7) tahun.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh orang tua dalam mengasuh anak sebagai berikut; Pertama, kadang pola asuh di dalam keluarga tidak selaras dengan dunia luar sana yang kejam dan tak kenal pilih kasih maka persiapkanlah anak-anak kita untuk menghadapinya. Berikan pengetahuan yang lengkap betapa diluar sana anak kita harus kuat karena menjadi anak manis saja tidak cukup.

Kedua, perkenalkan anak dengan berbagai emosi, salah satunya ekspresi marah orang tuanya. Kenalkan apa itu marah, kecewa, sedih, bahkan apa itu pura pura karena dunia tidak selugu pikiran anak-anak. Tujuannya agar anak terbiasa melihat dan menghadapi berbagai jenis emosi tanpa dia harus merasa syok (tertekan) dengan berbagai perlakuan yang berbeda dengan pola asuh yang diterima selama ini.

Ketiga, biasakan membantu anak mengekspresikan emosi dengan baik dan mendiskusikan perasaan anak ketika terluka, kecewa sedih agar apa yang dirasakan tidak dipendam dan menjadikan gangguan dalam pikirannya.

Ke-empat, menurut penulis menjadi orang tua yang tidak pernah marah (seperti dalam kasus ini) punya pe-er bagaimana mengenalkan dunia luar, sementara orang tua yang sering marah-marah tinggal nunggu hasil anaknya akan lebih galak dari ortunya (pengalaman penulis)

Menurut hemat penulis, orang tua perlu mengubah pola asuh anak dengan menyelaraskan dengan dunia luar, membantu anak untuk mengekspresikan emosi dirinya. Memperkenalkan anak dengan berbagai ekspresi emosi, salah salah satunya marah. Saat orang tua marah hendaknya katakan anda sedang marah tanpa mengucapkan kata – kata kasar, tanpa membanting sesuatu dan lain sebagainya.

Apabila terjadi permasalahan antara orang tua dan anak hendaknya diakhiri dengan meminta maaf dan dilanjutkan untuk mendiskusikannya. Kita tidak pernah tau alasan orang tua / anak marah kalau tidak paham situasinya. Untuk itu diskusi tersebut wajib dilakukan agar tidak terjadi permasalahan dikemudian hari.

Continue Reading

Trending