Connect with us

Berita

Sosialisasi Kebersihan Lingkungan Oleh Kebakalan News

Published

on

Menabuh musik tradisional. Foto: Mutoharoh

Senin, (9/10/2017) Tim Media Kebakalan News mengadakan serangkaian kegiatan di rumah Alvin (anggota Tim Media Kebakalan News) Desa Kebakalan, Kecamatan Mandiraja, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Rangkaian kegiatan tersebut diawali dengan rapat oleh tim media Kebakalan News, Sosialisasi pentingnya kebersihan lingkungan dan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), serta Penampilan Seni Musik.

Rapat Tim Kebakalan News bersama dengan Muazim alias Poyeng, selaku FPO (Field Project Officer) dan empat orang CO (Community Organizer; Mutoharoh, Rully, Rusmin dan Mastur Ridho. Rapat berlangsung dari pukul 14.30 – 16.30 WIB. Rapat tersebut membahas beberapa hal, yaitu tentang tiga kebutuhan dasar Warga Negara dan Membahas tentang kesehatan, khususnya kesehatan lingkungan dan posyandu.

Selain itu, juga membahas mengenai strategi yang harus ditempuh untuk merealisasikan kebutuhan warga yang melibatkan Kelompok Marginal, Kelompok Informal, pemerintah desa dan media desa. Dalam durasi waktu dua jam tersebut, rapat juga membahas tentang pengarusutamaan gender dan persoalan sosial lainnya.

Seusai rapat, kegiatan dilanjutkan dengan sosialisasi kebersihan lingkungan dan PHBS yang diwujudkan dengan pembuatan majalah dinding dan poster mengenai pentingnya kebersihan lingkungan. Tujuan diadakannya sosialisasi tersebut yaitu untuk menyadarkan warga Kebakalan tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan agar terhindar dari berbagai penyakit.

Sebagaimana yang dikatakan Alvin bahwa berdasarkan penelitian, warga Kebakalan yang tinggalnya dekat dengan lokasi timbunan sampah berisiko terkena penyakit Tuberculosis (TBC). Hal tersebut menimbulkan keresahan warga lainnya, termasuk kelompok marjinal (perempuan, warga miskin, disabilitas dan Kelompok Intermediary (PKK, tokoh masyarakat, RT/RW, Karang Taruna, Kelompo Wanita Tani).

Kemudian kegiatan ditutup dengan penampilan seni musik oleh tim media Kebakalan News. Dengan peralatan musik tradisional yaitu angklung dan gendang, mereka menunjukkan kemampuan yang dimiliki untuk menghibur warga Kebakalan yang pada saat itu sedang ada kunjungan dari Wariyatun, asisten manajer program Mitra Wacana WRC. (Mutoharoh/Listy Kh).

Continue Reading
Click to comment

Tinggalkan Balasan

Berita

Marah Bolehkah?

Published

on

mitra wacana
Mitra wacana

Mei Sofia

Oleh Mei Sofia (Penggiat Rifka Annisa)

Ada seorang anak yang tidak pernah kena marah orang tuanya, kebetulan ayah ibunya semuanya penyabar. Jadilah anak tersebut tumbuh dalam keluarga yang seharusnya sangat nyaman dan mampu memupuk karakter anak secara baik. Namun terjadi masalah ketika awal masuk kuliah, ada ritual orientasi studi dan pengenalan kampus (ospek) dimana semua yang tidak pernah ada dalam hidupnya terjadi. Kata – kata caci maki dengan suara membentak dan perintah dengan suara kasar.

Setelah kejadian itu anak ini menjadi mogok kuliah, dan menghabiskan sebagian besar waktunya dengan duduk di teras rumah sambil melamun. Kata ibunya, anak perempuannya itu terganggu kesehatan jiwanya sejak ospek. Anaknya sering terlihat senyum sendiri saat duduk. Si ibu menganalisa bahwa anaknya syok berat menjalani masa orientasi kampus yang betul – betul di luar perkiraan.

Sayangnya bagaimana perasaan dan pikiran anak dari ibu itu tidak pernah tergali lebih dalam. Sedih ternyata si anak perempuan ini meninggal dunia dalam usia relatif muda (45th) dalam kondisi psikis yang masih sama. Penulis menjadi saksi bagaimana anak tersebut melamun setiap harinya, akan tetapi penulis tidak paham apa yang sebenarnya terjadi karena masih berusia (7) tahun.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh orang tua dalam mengasuh anak sebagai berikut; Pertama, kadang pola asuh di dalam keluarga tidak selaras dengan dunia luar sana yang kejam dan tak kenal pilih kasih maka persiapkanlah anak-anak kita untuk menghadapinya. Berikan pengetahuan yang lengkap betapa diluar sana anak kita harus kuat karena menjadi anak manis saja tidak cukup.

Kedua, perkenalkan anak dengan berbagai emosi, salah satunya ekspresi marah orang tuanya. Kenalkan apa itu marah, kecewa, sedih, bahkan apa itu pura pura karena dunia tidak selugu pikiran anak-anak. Tujuannya agar anak terbiasa melihat dan menghadapi berbagai jenis emosi tanpa dia harus merasa syok (tertekan) dengan berbagai perlakuan yang berbeda dengan pola asuh yang diterima selama ini.

Ketiga, biasakan membantu anak mengekspresikan emosi dengan baik dan mendiskusikan perasaan anak ketika terluka, kecewa sedih agar apa yang dirasakan tidak dipendam dan menjadikan gangguan dalam pikirannya.

Ke-empat, menurut penulis menjadi orang tua yang tidak pernah marah (seperti dalam kasus ini) punya pe-er bagaimana mengenalkan dunia luar, sementara orang tua yang sering marah-marah tinggal nunggu hasil anaknya akan lebih galak dari ortunya (pengalaman penulis)

Menurut hemat penulis, orang tua perlu mengubah pola asuh anak dengan menyelaraskan dengan dunia luar, membantu anak untuk mengekspresikan emosi dirinya. Memperkenalkan anak dengan berbagai ekspresi emosi, salah salah satunya marah. Saat orang tua marah hendaknya katakan anda sedang marah tanpa mengucapkan kata – kata kasar, tanpa membanting sesuatu dan lain sebagainya.

Apabila terjadi permasalahan antara orang tua dan anak hendaknya diakhiri dengan meminta maaf dan dilanjutkan untuk mendiskusikannya. Kita tidak pernah tau alasan orang tua / anak marah kalau tidak paham situasinya. Untuk itu diskusi tersebut wajib dilakukan agar tidak terjadi permasalahan dikemudian hari.

Continue Reading

Trending