Log In

Warga Demangrejo Pernah Dijual Majikan

Persoalan buruh migran yang kerap dirudung masalah ketika bekerja diluar negeri menjadi salah satu alasan Mitra Wacana Woman Resource Center (WRC) mengadakan pertemuan dengan sejumlah perempuan yang sebagian besar merupakan para mantan tenaga kerja Indonesia yang pernah bekerja di luar negeri untuk belajar tentang pengelolaan organisasi dan kesetaraan gender di gedung posyandu desa Demangrejo, Sentolo, Kulon Progo pada Rabu (27/4).

Dalam kesempatan tersebut, kepala desa Demangrejo menyatakan bahwa memiliki harapan terhadap para perempuan yang tergabung dalam Pusat Pembelajaran Perempuan dan Anak (P3A) Putri Pertiwi agar semakin hebat dan bermanfaat bagi masyarakat. Saya sebagai kepala desa menyambut baik keberadaan P3A, karena menurut saya perempuan penting mengikuti organisasi agar bisa bergaul dengan orang lain, Gunawan menuturkan.

“Saya pernah dijual oleh majikan saya ketika bekerja di Kuwait. Saya dipaksa untuk bekerja untuk orang lain oleh majikan, namun gajinya yang seharusnya diberikan kepada saya diambil majikan”, kata Kariyem salah satu peserta yang hadir dalam pertemuan tersebut. Menurut Siti, yang pernah menjadi tenaga kerja Indonesia di Malaysia mengungkapkan bahwa ketika bekerja di sebuah pabrik di Malaysia, pasport ditahan oleh perusahaan dengan alasan supaya tidak kabur.

Pertemuan yang berlangsung selama sehari penuh tersebut diawali dengan perkenalan peserta, dilanjutkan dengan menonton film Imposible Dream. Ada beberapa peserta setelah menyaksikan film tersebut merasa bahwa kehidupan perempuan selalu di nomer duakan. Seolah seorang suami bebas melakukan apa saja terhadap istri, meskipun istri ikut bekerja membiayai keluarga, kata Suminen. Istri seperti di eksploitasi oleh suami, kata Sri Muryati, perangkat desa perempuan yang turut hadir.

Menurut fasilitator pertemuan tersebut, Dian Karmilah menuturkan bahwa permasalahan perempuan yang bekerja di luar negeri tidak bisa menjadi tanggung jawab para pekerja. Negara, dimulai dari desa harus terlibat aktif dalam melindungi warganya supaya perempuan tidak menjadi korban trafficking (perdagangan manusia). Meskipun sudah ada UU Pemberantasan Tindak Pidanan Perdagangan Orang, belum mampu menyelesaikan persoalan buruh migrant di luar negeri. Diana menambahkan. Ika Septy Wulandari, narasumber untuk tema trafficking menyatakan bahwa sebagaian besar korban perdangan manusia adalah perempuan. (tnt)

Tagged under

Tinggalkan Balasan