Opini
Bersama WOCA
Published
8 years agoon
By
Mitra Wacana
Oleh Suminah (Anggota P3A Women Care)
Tiga (3) tahun dua (2) bulan yang lalu saya belum tau apa itu P3A. Saya hanya seorang ibu rumah tangga yang kesibukan sehari-hari mengurus rumah, mengurus anak, dan mengurus suami. Kegiatan lain selain sebagai kader posyandu. Setelah ada Mitra Wacana dari Jogja bergabung dengan desa kami dan mendirikan kelompok wanita yang di resmikan pada tanggal 29 Desember 2014. Yang di beri nama WOMAN CARE yang berartikan wanita peduli. Yang berawal beranggotakan 20 orang. P3A adalah Pusat Pembelajaran Perempuan dan Anak.
Banyak sekali ilmu yang aku dapatkan dari program Mitra Wacana WRC yaitu tentang parenting, gender, berbagai macam kekerasan juga wokrshop-workshop lainnya. Sehingga aku mulai tahu dan tambah ilmu yang sebelumnya aku tidak tahu. Setidaknya aku terapkan pada keluargaku setelah tau bentuk-bentuk kekerasan ternyata dulu aku juga pernah melakukan kekerasan juga pada aanak saya sendiri. Bila anakku ngeyel dan tidak mau belajar saya marak bahkan pernah saya pukul. Setelah saya tahu perbuatanku melanggar dan termasuk kekerasan saya tidak melakukannya lagi.
Ilmu yang aku dapat dari mitra wacana dengan keterbatasan kemampuan saya sosialisasikan pada lingkungan saya seperti ke dasa wisma, dan masyarakat. walau ada masyarakat yang kurang setuju dengan materi tentang gender yang saya sampaikan. Tetapi itu suatu tantangan buat saya . Walau ada masyarakat yang kurang setuju tapi aku tetap semangat bersosialisasi. Alhamdulillah saya dapat dukungan dari keluarga terutama suami untuk megikuti organisasi ini.
Harapan saya setelah Mitra Wacana, WRC meninggalkan kami P3A WOCA jangan sampai bubar, tetap berjalan dan meningkatkan persatuan dan kekompakan. Karena organisasi ini organisasi yang resmi di dukung oleh pemerintahan desa, bahkan pemerintahan kabupaten.
You may like
Opini
Sejarah Perfilman Indonesia: Layar Indonesia dan Identitas Bangsa
Published
4 days agoon
21 May 2026By
Mitra Wacana

Adela Damanik, Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Andalas
Bagaimana mungkin sebuah film sederhana yang sudah diputar hampir seabad lalu dapat melahirkan sebuah tradisi seni yang terus hidup hingga kini? Pertanyaan ini akan membawa kita pada sejarah perfilman Indonesia. Sebuah perjalanan panjang yang merekam perkembangan seni dalam menciptakan identitas bangsa. Mulai dari film yang tanpa suara hingga karya yang sudah melanglang buana di kancah film internasional.
Kisah ini dimulai pada tahun 1926, dengan hadirnya Loetoeng Kasaroeng, sebuah film tanpa suara yang disutradarai oleh L. Heuveldorp dan diproduksi oleh Java Film Company. Film ini diadaptasi dari legenda Jawa Barat dan menampilkan seorang gadis pribumi sebagai pemainnya. Film ini cukup sukses, karena diputar selama satu minggu di bioskop-bioskop kota Bandung, mulai 31 Desember 1926 hingga 6 Januari 1927.
Tak sampai di situ, sejarah perfilman Indonesia dimulai sejak kembalinya seorang wartawan yang sempat ditangkap Belanda karena meliput Perjanjian Renville yang bebas pada 1949. Usmar Ismail kemudian mendirikan Perusahaan Film Nasional Indonesia (Perfini). Bersamaan dengan itu, Jamaluddin Malik mendirikan Perseroan Artis Film Indonesia (Persari). Dari sinilah lahir film Darah dan Doa. Syuting pertama film ini dimulai pada 30 Maret 1950. Film Darah dan Doa merupakan film yang menggunakan bahasa Indonesia yang baik dengan latar belakang kultura Indonesia. Itu sebabnya, tanggal 30 Maret ditetapkan sebagai Hari Film Nasional. Sejak saat itu, film-film dijadikan sebagai alat penghibur.
Namun, pada perkembangannya muncul perbedaan pandangan dalam dunia perfilman Indonesia. Terbentuk dua kubu, yaitu kalangan seniman dan para pedagang film. Bagi para seniman, film harus memiliki kualitas dan nilai seni yang baik. Sementara itu, bagi pedagang film dan pengusaha bioskop, yang terpenting adalah menarik banyak penonton. Untuk menjembatani perbedaan tersebut, akhirnya disepakati diadakannya sebuah ajang nasional, yaitu Festival Film Indonesia (FFI) pertama pada tahun 1955.
Pada tahun 1962, Jamaludin Malik dan Usmar Ismail bekerja sama dengan produser Filipina untuk membuat Film Holiday in Bali yang merupakan film berwarna pertama. Dilanjutkan kerja sama dengan Singapura dalam membuat Film Bayangan di Waktu fajar. Tahun 1965 selanjutnya dibentuk dewan produksi film nasional yang menghasilkan sejumlah film percontohan antara lain Film Apa yang Kau Cari Palupi karya Asrul Sani. Pada tahun 1967, Film Apa yang Kau Cari Palupi menjadikan film pertama Indonesia yang mendapat penghargaan di ajang festival internasional.
Tiga puluh tahun sejak pertama kali digelar, pada tahun 1992 masa kerja Festival Film Indonesia (FFI) berhenti. Vakumnya ajang penghargaan ini beriringan dengan menurunnya produksi film nasional. Namun, memasuki dekade 2000-an, perfilman Indonesia kembali bergerak dengan hadirnya Petualangan Sherina karya Riri Riza, disusul oleh Ada Apa dengan Cinta? karya Rudi Sujarwo, yang berhasil menarik kembali minat penonton. Kebangkitan film-film ini kemudian membuka jalan bagi penyelenggaraan kembali FFI pada tahun 2004, yang kali ini difasilitasi oleh pemerintah, dan sejak saat itu FFI kembali digelar secara rutin sebagai wadah apresiasi bagi insan perfilman nasional.
Era baru perfilman Indonesia ditandai dengan munculnya sejumlah pemilik modal yang kembali berinvestasi dalam produksi film nasional. Dari situ lahirlah berbagai karya populer karya Nia Dinata seperti Ca-bau-kan karya Nia Dinata, Arisan!, Berbagi Suami. Pada saat yang sama, pelaku industri film dari kalangan China dan India juga ikut kembali bergerak dengan menghasilkan film-film laris, di antaranya Kafir karya Mardaly Sjarifdan Eiffel… I’m in Love Nasri Cheepy.
Sejarah panjang ini membuktikan bahwa perfilman Indonesia bukan sekadar hiburan, melainkan juga cermin budaya, identitas, dan dinamika masyarakat. Dari Loetoeng Kasaroeng hingga era film populer modern, perjalanan perfilman Indonesia akan terus menorehkan jejak baru di masa depan.







