web analytics
Connect with us

Opini

Dampak Perang Terhadap Perempuan dan Anak

Published

on

impact ft geralt
arif sugeng widodo

arif sugeng widodo

Oleh Arif Sugeng Widodo

Perang terjadi di beberapa wilayah di dunia, situasi yang tidak aman bagi penduduk sipil tersebut terpaksa terjadi karena banyak alasan. Serangan tentara Israel ke Palestina dan juga perang karena konflik sektarian di Irak dan Suriah saat ini menjadi perhatian masyarakat dunia. Belum lagi perang saudara di Ukraina dan berbagai perang dibelahan bumi lainnya. Serangan Israel terhadap Palestina saat bulan suci ramadhan menjadi kejadian paling memilukan ditengah pelaksanaan ibadah puasa. Korban sipil di Palestina telah mencapai ribuan orang baik dari anak-anak, perempuan maupun lansia. Perang sektarian yang terjadi di Irak dan Suriah juga tidak kalah banyak, mencapai ribuan juga. Korban yang berjatuhan dalam perang tersebut bukan saja tentara atau orang yang murni mengangkat senjata tapi masyarakat sipilpun tidak luput menjadi korban dalam perang. Korban berjatuhan dari anak-anak, perempuan dan lansia padahal mereka tidak terlibat langsung dalam peperangan.

Data yang tercatat dalam majalah Tempo edisi 11-17 Agustus 20014 korban penyerangan Israel ke Palestina terdiri lebih 400 anak tewas selama penyerangan, 2.500 anak cedera. Tentunya itu bukan angka yang sedikit, banyak, bahkan kelewat banyak untuk korban yang tidak berdosa yang tidak terlibat langsung dalam “perang” dengan tentara Israel. Bahkan jika ada satu anakpun yang tewas atau cedera karena serangan Israel itupun sudah tidak adil bagi sang anak. Kenapa “perang” saya kasih tanda kutip karena menurut Noam Chomsky apa yang dilakukan Israel terhadap Palestina itu bukan perang tapi pembunuhan.

Perang dan konflik senjata kadang tidak bisa melihat korbannya apakah anak-anak, ibu-ibu maupun lansia. Serangan rudal yang dilancarkan oleh Israel tidak pandang bulu menyasar ke pemukiman warga palestina. Bukan saja target yang katanya adalah sarang kelompok Hamas target dari roket tersebut menyasar gedung-gedung public, dari sekolahan, masjid, rumah sakit bahkan gedung PBB pun menjadi sasaran rudal-rudal Israel. Di media televisi terliha kepedihan warga palestina, tangisan ibu yang kehilangan anak maupun suaminya, tangisan anak yang kehilangan orang tuanya, tangisan warga yang terluka. Betapa serangan Israel telah menghancurkan kedamaian Palestina tidak saja satu atau dua keluarga tapi ratusan bahkan ribuan keluarga atau tepatnya seluruh warga Palestina.

Dalam waktu yang bersamaan di wilayah yang masih berdekatan muncul serangan terhadap warga sipil di Irak dan Suriah yang dilakukan oleh ISIS (Islamic State of Iraq dan Syria). Perang sektarian yang terjadi di Irak pasca runtuhnya kekuasaan Saddam Husein sepertinya tidak kunjung selesai bahkan menunjukkan kerunyaman lebih lanjut. Militan ISIS melakukan berbagai tindakan brutal tidak saja pada lawannya tapi juga masyarakat sipil yang tidak sepaham dengannya. Seperti diberitakan oleh Liputan 6 mengutip dari Reuters (11/8/2014) para militan ISIS telah mengubur hidup-hidup wanita dan anak-anak serta 300 perempuan dijadikan budak. Tidak itu saja tindakan keji militan yang membunuh tawanan secara keji juga jauh dari apa yang mereka sebut menegakkan Negara Islam. Korban masyarakat sipil di Irak selalu ada bahkan mungkin lebih besar dari pihak-pihak yang terlibat perang secara langsung. Sejak serangan Amerika Serikat ke Irak untuk meruntuhkan kekuasaan Saddam Hussein warga sipil sudah banyak yang menjadi korban dan itu terus berlanjut sampai saat ini, dan semua korban yang berjatuhan tersebut ada karena perang.

Bergeser agak jauh dari wilayah Timur Tengah, di Afrika tepatnya di Nigeria juga ada peristiwa yang memilukan yaitu diculiknya 200 lebih siswa perempuan di suatu sekolah di Nigeria oleh militan Boko Haram. Konflik di Nigeria tersebut juga membawa korban dari masyarakat sipil. Tidak jauh dari Indonesia konflik sektarian juga terjadi di Thailand antara penduduk muslim dan Budha. Saat berbicara penduduk tentu didalamnya ada perempuan, anak-anak dan lansia dengan adanya konflik tentu hal tersebut membuat kehidupan mereka tidak lagi aman apalagi nyaman. Tidak jauh dari Thailand konflik di Myanmar juga bikin miris hati saat suku minoritas Rohingya yang mayoritas muslim tersebut terusir dari tanah tempat lahir mereka karena berkonflik dengan penganut Buddha garis keras.

Penduduk Rohingya akhirnya harus mengungsi ke daerah lain untuk menghindari pertumpahan darah. Dari penduduk Rohingya tersebut tentu ada kaum perempuannya, anak-anak dan juga lansia dan mereka juga harus menderita karena konflik yang ada. Di Indonesia juga sempat terjadi konflik sektarian di Ambon, Sambas serta beberapa wilayah lain di Indonesia. Konflik tersebut sudah terselesaikan, walaupun kalau tidak dijaga betul-betul konflik sektarian bisa kembali muncul. Sekilas menilik sejarah perang maka akan tergambar betapa perang menimbulkan penderitaan yang mendalam. Perang dunia pertama dan perang dunia kedua merupakan bukti sejarah betapa perang hanya menimbulkan kerusakan di muka bumi ini. Bom atom yang meluluhlantakkan Hiroshima dan Nagasaki tentu tidak saja menewaskan tentara jepang tapi juga warga sipil yang jumlahnya tentu sangat banyak.

Perang tentunya mempunyai dampak baik secara personal maupun sosial, baik lokal maupun interlokal. perang tidak hanya berdampak pada pihak-pihak yang terlibat langsung dalam perang tersebut tapi juga orang-orang yang tidak terlibat langsung dengan perang tersebut bisa mengalami dampak penderitaan akibat perang tersebut. Dampak perang sangat kompleks baik dari segi fisik maupun psikologis. Secara fisik bisa dilihat banyak bangunan hancur, kota tidak berbentuk lagi, bagi manusia atau makhluk hidup lainnya bisa menyebabkan kematian dan juga cacat seumur hidup. Secara psikologis perang bisa mengakibatkan trauma psikologis yang dalam, bisa mempengaruhi kejiwaan seseorang dan berakibat mengalami gangguan jiwa. Dalam situasi perang perempuan dan anak-anak serta lansia dalam posisi yang tidak diuntungkan. Sering terjadi kekerasan yang menimpa perempuan maupun anak-anak, baik kekerasan fisik maupun seksual.

Dalam situasi perang kehidupan anak-anak menjadi tidak normal, waktu seumuran mereka mestinya penuh keceriaan menjadi tangisan air mata dan kepedihan. Mestinya mereka bersekolah tapi harus berhenti karena harus mengungsi dan bersembunyi. Saat anak-anak di negeri lain yang damai bisa bermain dengan canda dan tawa mereka harus bermain petak umpet karena serbuan peluru atau rudal. Bagi perempuan situasi perang tentu sangat tidak nyaman apalagi yang mempunyai anak kecil atau masih mengandung. Mereka terpaksa mengungsi dengan persedian air dan makanan yang kadang sangat terbatas.

Kesehatan reproduksi mereka kadang terabaikan, kebutuhan terhadap pembalut misalnya bisa tidak terpenuhi. Mereka harus terus bergerak kalau tidak ingin ditangkap oleh pasukan musuh. Belum lagi jika terjadi pelecehan seksual dalam situasi perang, sejarah perang membuktikan banyak kasus perkosaan dan pelecehan seksual dalam situasi perang. Kalau menilik sejarah, perang rata-rata dilakukan oleh golongan maskulin. Perang sepertinya menjadi medan para maskulin untuk menunjukkan egonya, rasa gagahnya serta menunjukkan sebagai makhluk yang berkuasa. Perang adalah panggung bagi para maskulin menunjukkan kekuatan serta kekuasaan. Dalam situasi perang kadang perempuan dan anak-anak “dilindungi” tapi sejatinya adanya perang itu sendiri telah membahayakan bagi mereka dalam banyak aspek.

Perang, konflik dan berbagai tindakan kekerasan muncul dalam kehidupan ini. Berbagai peristiwa tersebut selalu berulang seperti tidak ada habis-habisnya. Korban sipil sudah tak terbilang lagi jumlahnya dan perang terus berlanjut dengan alasan yang kadang absurd dan mengada-ada. kedamaian sulit diwujudkan karena ego manusia yang ingin berkuasa terhadap yang lain. Bumi tidak dirawat dengan cinta kasih tapi dengan kebencian dan kekerasan.

Akankah kekerasan, konflik dan perang dibiarkan dan semakin menambah penderitaan warga sipil. Perlu usaha serius untuk menjaga perdamaian di bumi ini. Karena kalau perang dianggap menjadi “solusi” maka bisa jadi kita atau orang-orang terdekat kita yang akan jadi korban di masa depan. Mendorong perdamaian dan perlindungan terhadap perempuan dan anak dalam berbagai situasi khususnya dalam situasi perang sangatlah diperlukan dan semoga hal ini menjadi perhatian internasional khususnya PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) dalam menjalankan tugasnya menjaga perdamaian dunia.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opini

Sunat Perempuan, Praktik “Budaya” yang Berdampak Negatif pada HKSR

Published

on

Sumber gambar: BBC

Oleh Wahyu Tanoto

Sunat perempuan, atau yang juga dikenal sebagai Mutilasi Genital Perempuan (FGM), adalah praktik pemotongan atau melukai alat kelamin perempuan secara parsial atau keseluruhan. Praktik ini telah lama menjadi “tradisi” di berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia.

Menurut UNICEF, terdapat sekitar 200 juta perempuan dan anak perempuan di dunia yang telah disunat. Indonesia sendiri merupakan salah satu negara dengan prevalensi sunat perempuan tertinggi di dunia, dengan perkiraan jumlah perempuan yang disunat mencapai 4,8 juta orang. Praktek sunat perempuan masih marak dilakukan di Indonesia, baik di pedesaan maupun perkotaan. Hal ini terungkap dalam survei yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2021.

Survei yang dilakukan di 160 kabupaten dan kota di 10 provinsi tersebut melibatkan responden berusia 15 hingga 64 tahun. Hasilnya menunjukkan bahwa 55 persen anak perempuan dari kelompok usia 15-49 tahun yang tinggal bersama orang tua menjalankan praktik sunat perempuan.

Ada berbagai alasan mengapa sunat perempuan masih kerap terjadi di Indonesia, diantaranya yaitu:

  1. Alasan ajaran agama. Praktik sunat perempuan sering dikaitkan dengan ajaran agama tertentu. Namun, perlu ditegaskan bahwa tidak ada ajaran agama yang mewajibkan sunat perempuan.
  2. Alasan budaya. Dalam beberapa budaya, sunat perempuan dianggap sebagai bagian dari tradisi yang telah mengakar. Praktik ini sering kali dianggap sebagai tanda kebersihan, kesucian, dan sebagai bentuk menjaja “kehormatan” perempuan.
  3. Alasan mitos dan kepercayaan. Ada berbagai mitos dan kepercayaan yang melatarbelakangi praktik sunat perempuan. Beberapa mitos tersebut antara lain bahwa sunat perempuan mengontrol hasrat seksual, dan melindungi anak perempuan dari perkosaan.

Sebagaimana dipahami, bahwa praktik sunat perempuan memiliki dampak negatif bagi kesehatan perempuan dan anak perempuan, antara lain:

  1. Nyeri dan perdarahan. Praktik sunat perempuan sering kali dilakukan tanpa anestesi, sehingga dapat menyebabkan rasa sakit dan perdarahan yang parah.
  2. Praktik sunat perempuan dapat meningkatkan risiko infeksi, seperti tetanus, sepsis, dan rentan terpapar virus HIV.
  3. Gangguan fungsi seksual: Sunat perempuan dapat menyebabkan gangguan fungsi seksual, seperti nyeri saat berhubungan seksual, kesulitan mencapai orgasme, dan bahkan ketidaksuburan.
  4. Masalah psikologis. Sunat perempuan dapat menyebabkan masalah psikologis, seperti trauma, depresi, dan kecemasan.

Memang, pemerintah Indonesia telah menerbitkan berbagai kebijakan untuk mencegah dan menghapus praktik sunat perempuan. Misalnya pada 2006, Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 2006 yang melarang praktik sunat perempuan. Namun, kebijakan ini kemudian dicabut pada 2010 dengan dikeluarkannya Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 13636/MENKES/PER/XI/2010 yang mengatur prosedur sunat perempuan oleh tenaga medis.

Kebijakan kontroversial ini akhirnya menuai protes dari berbagai kalangan, karena dianggap tidak konsisten dengan komitmen Indonesia untuk menghapus praktik sunat perempuan. Pada 2014, pemerintah kembali mengeluarkan kebijakan baru dengan mencabut Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 13636/MENKES/PER/XI/2010 Tentang Sunat Perempuan.

Kebijakan-kebijakan tersebut tampaknya sedikit banyak menunjukkan komitmen pemerintah Indonesia untuk menghapus praktik sunat perempuan. Namun, untuk mencapai tujuan tersebut, diperlukan upaya yang kuat dan masif dari berbagai pihak, termasuk pemerintah, masyarakat, dan lembaga-lembaga terkait.

Berikut adalah beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menghapus praktik sunat perempuan di Indonesia:

  1. Pemerintah wajib memperkuat regulasi dan penegakan hukum untuk mencegah dan menghapus praktik sunat perempuan.
  2. Pemerintah juga wajib mencabut regulasi atau kebijakan-kebijakan yang bertentangan dengan prinsip Hak Asasi Manusia.
  3. Masyarakat diedukasi tentang bahaya dan dampak negatif praktik sunat perempuan mulai dari ranah individu hingga publik.
  4. Menjalin kolaborasi dengan lembaga-lembaga terkait untuk memberikan dukungan dan pendampingan kepada perempuan dan anak perempuan yang menjadi korban sunat perempuan.

Hemat penulis, dengan kerja sama yang kuat dari berbagai pihak, kebijakan yang jelas dan implementatif serta ketersediaan sumber daya yang komprehensif, praktik sunat perempuan di Indonesia bisa dihapuskan. Akhirnya, perempuan dan anak perempuan terlindungi dari segala bentuk kekerasan.

 

Referensi

Komnas Perempuan (2022). Sunat Perempuan

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia (2020). Hapuskan Praktek Berbahaya Sunat bagi Perempuan dan Anak Perempuan Karena Pelanggaran Hak

UNICEF (2022). Female Genital Mutilation/Cutting

WHO (2022) Female Genital Mutilation

Continue Reading
Advertisement
Advertisement

Twitter

Trending