web analytics
Connect with us


Discussion Series: Gender and Women’s Empowerment



Poster diakusi hari Kartini, 28 April

Discussion Series: Gender and Women’s Empowerment
“Women, Family and Equality”
LSPPA Yogyakarta, MitraWacana, PKBI, SCN CREST, PSKK UGM

Examining Kartini’s thoughts about
“Emancipation, Equality and Gender Justice”

Commemorating Kartini Day is an annual event in April, which is celebrated by almost all social institutions in Indonesia. Commemorations that have been held since the New Order have tended to emphasize the role of women in the domestic sphere, either through the use of visual symbols such as traditional Javanese women’s dress, thekebaya, a long cloth and hair styled in a bun, as well as the organization of women in the domestic sphere with competitions for cooking and other skills. Although it has been widely criticized, in fact, this model of the celebration continued in the era of reform without any significant change. Why does this happen? Does such a celebration representKartini’s thinking? Or are Kartini’sthoughts deliberately being used to perpetuate the role of women in the domestic sphere alone? What are Kartini’s thoughts about gender relations?

Discussion series “Women Family and Equality”

In order to re-examine Kartini’s ideas, LSPPA Yogyakarta, MitraWacana, PKBI, SCN CREST and PSKK UGM will hold a discussion series with the overarching theme of “Women, Family and Equality”. This theme is based on the argument it is difficult to remove women from their domestic role because it is important for the continuity of the family institution. The idea of women that is always attached to the institution of the family was actually supported by the New Order government through “State-Ibuism” – a state ideology that puts women in the role of mother in the biological and socialsense: caring for children and accompanying her husband (Robinson, 2009; Suryakusuma, 1996; Suryochondro, 2000). In fact, this ideology represents only the lives of women in one particular social class, namely the upper class (Hadiz&Eddyono, 2005). Inspired by the atmosphere of democracy and women’s rights discourse in the public sphere, the ideology of state-ibuism subsided at the beginning of the reform era 1999-2004 (Eddyono, Fanani, and Maurice, 2015), but recently it has strengthened again and been re-campaigned through government and civil society programs (Wieringa, 2015).

The “Women, Family and Equality” discussion series is an attempt to revive the discussion undertaken in 2012-2014, which aims to: 1) provide a platform to exchange ideas among observers of women across professions and sciences; 2) identify the development of women’s thoughts andformulate contextual reflective thinking; and 3) strengthen discourse as the basis of advocacy for women’s empowerment.

This year, the discussion series begins withKartini Day commemorations in April and ends with Mother’s Day commemorations in December 2016. Four of Kartini’sprincipal thoughts about equality, education, religion and the family will be promoted as the themes of the discussion series, which will be held as follows:

⎫ Discussion Series 1: Emancipation, Equality and Gender Justice, April 28, 2016.
⎫ Discussion Series 2: Women and Education, July 2016.
⎫ Discussion Series 3: Women and Religion, September 2016.
⎫ Discussion Series 4: Women and Families, December 2016.

Discussion series 1 “Emancipation, Equality and Gender Justice”

The idea of female emancipation is often misunderstood as an attempt to seize their share of men’s power. Similarly, the idea of equality is sometimes confused with the notion of equity. Moreover, these ideas are rooted in modernism, so it is not easy to implement both in the multicultural Indonesian context. Therefore, the first discussion in the series aims to: 1) identify biased understanding of emancipation, equality and gender equity; 2) dismantle these ideas through reading Kartini’stexts; and 3) redefine the ideas in the context of Indonesian society that has equality and gender fairness.

Time, place and participants

Date: Thursday, April 28, 2016
Time: 9:00 to 12:00 pm
Venue: Hall level 2 PKBI DIY building, Jl. Tentara Rakyat Mataram, Gg Kapas JT I/705, Badran, Yogyakarta
Participants: PKK activists, governments, NGO activists, academics,general public

 Preamble – representative committee
 Introduction to discussion by moderator
 Presentation I – media Study: How isKartini Day celebrated? (EnikMaslahah, women’s activist, MitraWacana staff member)
 Presentation II – Reading Kartini’sthoughts about emancipation, gender equality (ItaVissia, academic, Master of Religion and Culturefaculty, University of Sanata Dharma)
 Presentation III – Redefining Kartini Day (Sri Marpinjun, women’s activists, founder LSPPA Yogyakarta)
 Discussion and questions guided by moderators
 Closing – representative committee

Participants and contributions of participants
 Discussion open to the public, participants expressed willingness to become involved in discussions through their presence and active participation in discussions.
 Discussions held voluntarily, transportationnot provided.
 Voluntary consumption by and for the parties by participants bringing food to share.
 Note outcome of the discussion will be provided via email by the committee.

Blackburn, S. (2004). Women and the state in modern Indonesia. Cambridge: Cambridge University Press.
Eddyono, S., Fanani, E., & Maurice, Y. (2015). The dynamic of mobilisation of gender equality policy in Indonesia, Learning from the mobilisation of anti-domestic violence act and anti-pornography act. Paper presented at the International Conference: Gender Relations and Rising Inequalities
School of International Development, University of East Anglia
6th to 8th July 2015, School of International Development, University of East Anglia.
Hadiz, L., & Eddyono, S. W. (2005). Pembakuan peran gender dalam kebijakan-kebijakan di Indonesia. Indonesia: LBH APIK Jakarta.
Robinson, K. (2009). Gender, Islam and democracy in Indonesia. London and New York: Routledge.
Suryakusuma, J. (1996). The state and sexuality in New Order Indonesia. In L. J. Sear (Ed.), Fantasizing the Feminine in Indonesia. Durham: Duke University Press.
Suryochondro, S. (2000). The development of women’s movements in Indonesia. In M. O. Gardiner & C. Bianpoen (Eds.), Indonesian women, the journey continues. Canberra: The Australian National University Research School of Pacific and Asian Studies.
Wieringa, S. (2015). Gender, harmony and the happy family: Islam, gender and sexuality in post-reformasi Indonesia. South East Asia Research, 23(1), 27-44.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Apakah Perempuan Amerika dan Indonesia Sangat Berbeda?



oleh Jacqueline Lydon – Volunteer di Mitra Wacana

Saya tumbuh dan besar di Amerika, saat ini tinggal di Indonesia sudah lima bulan, dan sudah tiga bulan ini magang di Mitra Wacana, saya terkejut ternyata adanya kesamaan kondisi antara perempuan di Indonesia dan Amerika.

Kalau dilihat sekilas, perempuan Amerika dan Indonesia mungkin memiliki perbedaan yang sepenuhnya berlawanan. 

Saat membandingkan keduanya, biasanya orang-orang fokus pada perilaku dan penampilan perempuan. Perempuan dihakimi tentang cara mereka berpakaian, cara mereka bertindak, dan betapa independennya mereka, misalnya. 

Orang Amerika mungkin menilai perempuan Indonesia berpakaian konservatif, tinggal di lingkungan rumah tangga, dan tampaknya tunduk pada suami mereka. Sementara itu, orang Indonesia mungkin menilai perempuan Amerika tidak menutupi tubuh mereka, merangsang secara seksual, tidak fokus pada peran domestik, atau terlalu keras dan menuntut.

Apa yang saya catat sejak berada di sini adalah yang pertama, bahwa perbedaan-perbedaan ini kurang terlihat daripada yang saya pikirkan, dan kedua, bahwa mereka tampaknya berasal dari budaya dan norma sosial yang berbeda. Ada berbagai cara untuk memahami gender dan peran gender, namun perempuan di Amerika dan Indonesia menginginkan keamanan, rasa hormat, dan memiliki suara.

Ada banyak kesamaan antara perilaku dan masalah perempuan di kedua negara.

  • 51,9% perempuan Indonesia adalah pekerja, dibandingkan dengan 57,1% perempuan Amerika.
  • 17,4% dari parlemen Indonesia adalah perempuan, dibandingkan dengan 23,9% dari legislatif Amerika.
  • Perempuan Indonesia terpilih pertama kali sebagai presiden pada tahun 2001, sementara belum ada seorang perempuan yang pernah menjadi presiden di Amerika.
  • Perempuan pertama yang bergabung dengan mahkamah agung Indonesia, Sri Widoyati Wiratmo Soekito, dilantik pada tahun 1968, sedangkan perempuan pertama yang bergabung dengan mahkamah agung Amerika adalah Sandra Day O’Connor pada tahun 1981, sekitar 15 tahun kemudian.

Ada banyak masalah — dari pelecehan seksual hingga pemerkosaan — yang memiliki dampak luas pada perempuan di kedua negara, tetapi sulit untuk memiliki statistik yang akurat karena banyak perempuan tidak (atau tidak bisa) melaporkan insiden ini.  Tetapi berdasarkan apa yang dilaporkan, jelas bahwa ini adalah masalah utama di kedua negara. 

  • 3 dari 5 perempuan Indonesia dan 81% perempuan Amerika telah mengalami pelecehan seksual
  • 15% perempuan Indonesia dan lebih dari 1 dari 3 perempuan Amerika melaporkan menjadi korban kekerasan seksual atau pemerkosaan 
  • 16% perempuan Indonesia dan sekitar 25% perempuan A.S. telah melaporkan menjadi korban kekerasan pasangan intim (kekerasan fisik, seksual, atau psikologis dari pacar atau pasangan)


Dua negara dengan sikap dan perilaku perempuan dilihat sangat berbeda, mengejutkan bahwa ada persamaan keberhasilan dan perjuangan perempuan. 

 Baru tahun lalu, sebuah jajak pendapat di Amerika menemukan bahwa hanya 29% perempuan Amerika yang mengidentifikasi sebagai feminis. (Feminis: seorang yang percaya laki-laki dan perempuan harus punya hak sama). Di kedua negara, ada gerakan feminis dan anti-feminis (di Amerika, “meninism”; di Indonesia, “Indonesia tanpa feminisme”). Dalam kedua gerakan tersebut, suara perempuan ditekan; perempuan yang mengadvokasi diri mereka sendiri sering dianggap terlalu menuntut, dan masalah mereka diabaikan.

Mengapa ada begitu banyak penilaian untuk pilihan perempuan di kedua negara?

Sebagian dari hal tersebut didasarkan pada stereotip, yang terus dibangun tentang perempuan yang bertindak berbeda. Perempuan di setiap negara diajarkan bahwa peran budaya, perilaku, dan nilai-nilai mereka adalah pilihan yang lebih baik, dan jika mereka berpegang teguh pada itu, mereka akan menghindari masalah yang dihadapi oleh perempuan dalam budaya yang berbeda. Misalnya, untuk perempuan di Amerika, diajarkan bahwa menjadi lebih asertif akan membantu mereka mencapai lebih banyak perwakilan politik, dan perempuan di Indonesia diajarkan bahwa berperilaku sopan akan membantu mereka menghindari kekerasan atau pelecehan seksual. Namun kesamaan dalam statistik membuktikan bahwa bukan perilaku perempuan yang menyebabkan masalah ini, dan nasihat budaya untuk perempuan tidak akan menyelesaikan masalah.

Tentu saja, tidak ada jawaban sederhana untuk masalah sistemik ini.  Tapi, penyebab utama seksisme di seluruh dunia adalah patriarki — sistem yang telah dibangun untuk memperkuat laki-laki dan memperlemah perempuan. Sistem patriarki inilah yang telah menciptakan gagasan menyalahkan korban — untuk menghakimi dan menyalahkan perempuan atas penindasan yang mereka alami alih-alih sistem yang menyeluruh.  

Daripada melihat pilihan perempuan atau menilai mereka, kita harus melihat sistem patriarki yang lazim di kedua negara. 

Menurut saya, kita perlu berhenti fokus pada perilaku perempuan dan sebaliknya fokus pada cara masyarakat menilai dan menindas semua perempuan, dan kemudian kita harus membangun solidaritas untuk memecah sistem itu. Cita-cita bagaimana seorang perempuan seharusnya dan harus bertindak mungkin berbeda di kedua budaya, tetapi hal yang universal bahwa perempuan harus bebas dari kekerasan dan diperlakukan dengan bermartabat dan hormat.

Editor: Arif Sugeng W




Continue Reading