Opini
Hak Pendidikan Bagi Perempuan
Published
7 years agoon
By
Mitra Wacana
Oleh Eviliana*
Pendidikan adalah hal yang sangat penting untuk menunjang banyak hal, salah satunya adalah untuk menunjang karir, baik bagi laki-laki maupun perempuan. Namun, ada pula seseorang yang memiliki kesuksesan meskipun tidak memiliki pendidikan formal yang “rumit”. Memiliki karir yang mantap artinya memiki ekonomi yang juga mantap. Baik dari hasil berbisnis ataupun bekerja.
Saat ini masih ada sebagian kecil masyarakat yang berpikir bahwa pendidikan “tidaklah begitu penting” bagi perempuan, karena bila pada saatnya nanti seorang perempuan akan menikah dan menjadi seorang istri, maka perempuan yang diberi nafkah oleh suami, bukan malah perempuan yang memberi nafkah kepada suami seperti kebanyakan orang sekarang ini. Tidak diragukan lagi mengenai istilah “ujung-ujungnya perempuan pasti kembali ke dapur juga”, karena semua itu adalah realita yang memang sulit untuk dibantahkan.
Selain untuk menunjang karir, pendidikan juga berfungsi untuk memperbaiki pola pikir, memperbanyak relasi, dan menambah wawasan yang mungkin akan berguna bagi diri sendiri, keluraga, sahabat, orang lain, dan khususnya bagi suami apabila suatu saat nanti perempuan menjadi seorang istri.
Setelah menjadi seorang istri, perempuan akan memiliki anak yang tentunya akan lebih dekat dengan ibunya dibandingkan dengan ayahnya sendiri, karena sebagian besar waktu seorang perempuan yang telah menikah biasanya dihabiskan di rumah, sehingga waktu bersama anakpun menjadi lebih banyak.
Seiring dengan perkembangan dunia, jika memiliki anak, maka akan banyak bertanya mengenai hal-hal baru yang ingin ia mengerti dan ia ketahui, dan disitulah saat yang tepat bagi seorang perempuan untuk menggunakan ilmu dan pengetahuan yang telah di dapat semasa ia menempuh pendidikan.
Salah satu hal penting saat ini adalah tentang peran seorang perempuan yang terkadang dilupakan setelah ia menjadi seorang istri yang tidak hanya sekedar menjadi teman tidur bagi suami maupun menyelesaikan segala pekerjaan rumah, baik itu yang berhubungan dengan kepentingan suami maupun anak.
Hal penting itu ialah peran seorang istri sebagai “partner hidup” suami, dimana seorang istri harus sanggup mendengarkan, memahami dan memberi masukan mengenai permasalah pekerjaan yang dihadapi suami. Karena tidak dipungkiri sebagian besar waktu laki-laki dipergunakan untuk mencari nafkah bagi keluraga, baik itu dengan berbisnis maupun bekerja. Pada saat itulah, bagi seorang istri pendidikan sangat bermanfaat, dan menurut saya itulah salah satu contoh kehidupan berkeluarga yang saling melengkapi. Sebaliknya, bagi suami juga harus memiliki pengetahuan yang komprehensif karena sebagai partner hidup istri bukanlah “suruhan” suami melainkan berbagi peran dalam urusan rumah tangga.
Pendidikan yang saya maksud, tidak harus selalu pendidikan formal yang diperoleh di bangku sekolah melainkan bisa datang dari lingkungan, kelompok-kelompok, organisasi perempuan, pertemuan kader dan warga atau dalam bentuk lainnya. Karena setiap lingkungan bisa dijadikan sarana pendidikan sebelum menempuh pernikahan.
Tidak menutup kemungkinan seorang perempuan juga bisa aktif di luar rumah seperti berorganisasi untuk melakukan hah-hal yang bermanfaat bagi keluarga dan orang-orang disekitarnya. Dengan catatan tanpa melupakan dan selalu melaksanakan kewajibannya sebagai seorang istri dan ibu, sebaliknya hal ini juga berlaku juga terhadap laki-laki atau suami yang memiliki kegiatan di luar rumah tetap melaksanakan kewajibannya sebagai suami dan berbagi peran.
*Penulis merupakan Mahasiswi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang pernah magang di Mitra Wacana pada Tahun 2016
Opini
Personal Branding dan Standar Harga Diri di Era Digital
Published
7 days agoon
29 July 2026By
Mitra Wacana

Abilla Shofi Khairunnisa
Prodi Psikologi
Universitas Pendidikan Indonesia
Personal branding kini menjadi salah satu topik yang sering dibincangkan di media sosial, terutama pada kalangan anak muda. Di era digital, membangun personal branding bukan lagi sekadar pilihan, namun merupakan bagian penting dalam perkembangan karier. Personal branding yang kuat dapat membuat seseorang lebih mudah dikenali baik secara personal maupun profesional.
Kini, kita dapat dengan mudah melihat potret kehidupan orang lain yang dipenuhi dengan pencapaian, produktivitas, dan kebahagiaan. Namun, tanpa disadari, kita mulai membandingkan kehidupan kita dengan apa yang ditampilkan di media sosial. Perbandingan memang dapat menjadi motivasi untuk terus berkembang. Akan tetapi, ketika perbandingan dilakukan secara berulang, hal itu justru dapat mengikis kepercayaan diri.
Secara psikologis, fenomena ini juga didukung oleh penelitian Salsabila (2024) terhadap 184 pengguna media sosial berusia 18-25 tahun yang menunjukkan bahwa semakin tinffi kecenderungan seseorang melakukan perbandingan sosial, semakin rendah pula harga dirinya. Temuan ini menunjukkan bahwa perbandingan diri yang dilakukan secara terus-menerus dapat mempengaruhi cara seseorang menilai dirinya sendiri.
Dua Konsep Cinta Diri
Persoalan ini mengingatkan saya pada konsep amour de soi dan amour propre dari Jean-Jacques Rousseau. Menurut Rousseau, manusia memiliki dua cara dalam mencintai dan memandang diri sendiri. Pertama, amour de soi, yaitu cinta diri yang lahir dari kebutuhan alami untuk hidup, berkembang, dan merasa cukup dengan diri sendiri. Dalam keadaan ini, seseorang mengembangkan diri karena hal tersebut memang bermanfaat bagi dirinya. Ia belajar untuk memahami sesuatu, bekerja demi kehidupan yang lebih baik, dan merasakan kepuasan yang berasal dari proses bertumbuh, bukan dari pujian atau pengakuan orang lain.
Sebaliknya, amour propre muncul ketika kita mulai menilai diri sendiri melalui pandangan orang lain. Rousseau tidak menganggap kebutuhan akan pengakuan sosial sebagai sesuatu yang sepenuhnya bersifat buruk. Sebagai makhluk sosial, wajar bagi manusia untuk memiliki keinginan akan penghargaan dari sesamanya. Namun, kebahagiaan dan citra diri menjadi rapuh apabila keduanya senantiasa bergantung pada pengakuan orang lain.
Cara pandang inilah yang membuat kita percaya bahwa hidup yang baik adalah hidup yang mengesankan bagi orang lain. Akibatnya, kini media sosial yang semula diciptakan sebagai ruang untuk membangun koneksi perlahan berubah menjadi ajang kompetisi untuk saling menampilkan versi terbaik kehidupan masing-masing.
Pengakuan Sosial Era Modern
Pada abad ke-18, Rousseau menemukan kecenderungan manusia untuk mencari pengakuan sosial dengan memperhatikan kehidupan masyarakat. Namun, pada abad ke-21, media sosial memperkuat kecenderungan amour propre melalui algoritmanya. Beranda media sosial cenderung lebih sering dipenuhi oleh konten yang menampilkan pencapaian, kesuksesan, dan produktivitas, sementara proses, kegagalan, dan keseharian tidak begitu terlihat.
Kondisi tersebut dapat dipahami melalui gagasan Jean Baudrillard mengenai simulakra. Menurut Baudrillard, masyarakat modern hidup di tengah representasi yang sering kali terasa lebih nyata daripada realitas itu sendiri. Media sosial memang tidak selalu menampilkan kebohongan, tetapi kehidupan yang muncul di beranda telah melalui proses pemilihan, penyuntingan, dan kurasi. Sehingga, yang terlihat hanya potongan-potongan terbaik dari kehidupan seseorang. Perlahan, representasi tersebut dipersepsikan sebagai gambaran kehidupan yang normal.
Akibatnya, kita tidak lagi membandingkan kehidupan nyata dengan hal yang nyata, melainkan dengan citra kehidupan orang lain yang telah dikemas sedemikian rupa. Kita perlahan menganggap bahwa kehidupan penuh pencapaian konstan merupakan standar yang harus dicapai, padahal apa yang kita lihat hanyalah sebagian kecil dari kenyataan yang dipilih untuk diperlihatkan kepada publik.
Tidak ada yang salah dengan membangun personal branding. Menunjukkan karya, pengalaman, dan kemampuan. Karena hal tersebut merupakan bagian penting dari pengembangan diri maupun karier. Personal branding juga dapat membuka kesempatan dan memperluas relasi. Namun, personal branding seharusnya menjadi sarana untuk memperkenalkan diri, bukan alat untuk menentukan nilai diri.
Ketika harga diri sepenuhnya bergantung pada jumlah apresiasi, validasi, atau pengakuan dari orang lain, kita justru kehilangan makna dari proses bertumbuh itu sendiri.
Barangkali, yang perlu kita bangun bukan hanya citra diri yang menarik di mata publik, tetapi juga kemampuan untuk tetap merasa cukup ketika tidak ada yang melihat. Sebab, personal branding yang sehat lahir dari seseorang yang mengenal, menerima, dan menghargai dirinya sendiri, bukan semata-mata berasal dari hasrat untuk memperoleh pengakuan orang lain.
Fisyahrah, M. M. (2024). Hubungan Sosial Comparison Dengan Harga Diri Pada Pengguna Sosial Media (Doctoral dissertation, Universitas Islam Indonesia).

Bersatu Melawan Perdagangan Orang: JBPO Gelar Kegiatan Memperingati Bulan Anti Perdagangan Manusia Sedunia

SIARAN PERS Hari Anti Perdagangan Orang Sedunia & Peluncuran Kertas Posisi Urgensi Revisi UU PTPPO “Menuju Dua Dekade Tanpa Pembaruan, Korban Terus Berjatuhan” Tier Two Coalition









