web analytics
Connect with us

Opini

Hak Pendidikan Bagi Perempuan

Mitra Wacana WRC

Published

on

Mitra Wacana

This post is also available in: English Indonesia

Waktu dibaca: 2 menit
Mitra wacana

Eviliana

Oleh Eviliana*

Pendidikan adalah hal yang sangat penting untuk menunjang banyak hal, salah satunya adalah untuk menunjang karir, baik bagi laki-laki maupun perempuan. Namun, ada pula seseorang yang memiliki kesuksesan meskipun tidak memiliki pendidikan formal yang “rumit”. Memiliki karir yang mantap artinya memiki ekonomi yang juga mantap. Baik dari hasil berbisnis ataupun bekerja.

Saat ini masih ada sebagian kecil masyarakat yang berpikir bahwa pendidikan “tidaklah begitu penting” bagi perempuan, karena bila pada saatnya nanti seorang perempuan akan menikah dan menjadi seorang istri, maka perempuan yang diberi nafkah oleh suami, bukan malah perempuan yang memberi nafkah kepada suami seperti kebanyakan orang sekarang ini. Tidak diragukan lagi mengenai istilah “ujung-ujungnya perempuan pasti kembali ke dapur juga”, karena semua itu adalah realita yang memang sulit untuk dibantahkan.

Selain untuk menunjang karir, pendidikan juga berfungsi untuk memperbaiki pola pikir, memperbanyak relasi, dan menambah wawasan yang mungkin akan berguna bagi diri sendiri, keluraga, sahabat, orang lain, dan khususnya bagi suami apabila suatu saat nanti perempuan menjadi seorang istri.

Setelah menjadi seorang istri, perempuan akan memiliki anak yang tentunya akan lebih dekat dengan ibunya dibandingkan dengan ayahnya sendiri, karena sebagian besar waktu seorang perempuan yang telah menikah biasanya dihabiskan di rumah, sehingga waktu bersama anakpun menjadi lebih banyak.

Seiring dengan perkembangan dunia, jika memiliki anak, maka akan banyak bertanya mengenai hal-hal baru yang ingin ia mengerti dan ia ketahui, dan disitulah saat yang tepat bagi seorang perempuan untuk menggunakan ilmu dan pengetahuan yang telah di dapat semasa ia menempuh pendidikan.

Salah satu hal penting saat ini adalah tentang peran seorang perempuan yang terkadang dilupakan setelah ia menjadi seorang istri yang tidak hanya sekedar menjadi teman tidur bagi suami maupun menyelesaikan segala pekerjaan rumah, baik itu yang berhubungan dengan kepentingan suami maupun anak.

Hal penting itu ialah peran seorang istri sebagai “partner hidup” suami, dimana seorang istri harus sanggup mendengarkan, memahami dan memberi masukan mengenai permasalah pekerjaan yang dihadapi suami. Karena tidak dipungkiri sebagian besar waktu laki-laki dipergunakan untuk mencari nafkah bagi keluraga, baik itu dengan berbisnis maupun bekerja. Pada saat itulah, bagi seorang istri pendidikan sangat bermanfaat, dan menurut saya itulah salah satu contoh kehidupan berkeluarga yang saling melengkapi. Sebaliknya, bagi suami juga harus memiliki pengetahuan yang komprehensif karena sebagai partner hidup istri bukanlah “suruhan” suami melainkan berbagi peran dalam urusan rumah tangga.

Pendidikan yang saya maksud, tidak harus selalu pendidikan formal yang diperoleh di bangku sekolah melainkan bisa datang dari lingkungan, kelompok-kelompok, organisasi perempuan, pertemuan kader dan warga atau dalam bentuk lainnya. Karena setiap lingkungan bisa dijadikan sarana pendidikan sebelum menempuh pernikahan.

Tidak menutup kemungkinan seorang perempuan juga bisa aktif di luar rumah seperti berorganisasi untuk melakukan hah-hal yang bermanfaat bagi keluarga dan orang-orang disekitarnya. Dengan catatan tanpa melupakan dan selalu melaksanakan kewajibannya sebagai seorang istri dan ibu, sebaliknya hal ini juga berlaku juga terhadap laki-laki atau suami yang memiliki kegiatan di luar rumah tetap melaksanakan kewajibannya sebagai suami dan berbagi peran.

*Penulis merupakan Mahasiswi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang pernah magang di Mitra Wacana pada Tahun 2016

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Opini

Mari Bicara Seks pada Anak

Mitra Wacana WRC

Published

on

Sumber: Youthkiawaaz

This post is also available in: English Indonesia

Waktu dibaca: 3 menit
Aminah Sri Prabasari

Aminah Sri Prabasari

Saat seorang anak mulai akil balig, pendidikan seks dari orang tua hanyalah tentang kehamilan yang bisa membuat malu keluarga.

Jangankan seks, menstruasi yang jika tidak ditangani dengan baik bisa mengganggu kesehatan reproduksi saja tidak jelaskan, anak perempuan dibiarkan mencari tahu sendiri.

“Kalau pacaran kebablasan lalu hamil mau jadi apa kamu? Muka keluarga mau ditaruh mana?”

Kadang ada memang tipe orang tua yang merasa ia pusat dunia anaknya, selalu khawatir dibuat malu, padahal orang tua juga bisa membuat anak malu karena perilaku yang memalukan tidak selalu disebabkan umur. Segala macam disebut untuk membuat anak jadi penurut. Waktu si anak masih kecil ditakut-takuti ada setan, ada anjing, dibawa ke dokter buat disuntik, dan sebagainya. Setelah akil balig ditakut-takuti hamil.

Pola asuh yang penuh ancaman dan kebanjiran ego orang tua malah akan membuat anak gagal memahami persoalan. Konteksnya yang disebut persoalan ini adalah risiko dari perilaku seks bebas.

Apa pun tipe kepribadian si anak, argumen “jangan pacaran nanti hamil” ini merusak cara berpikir!

Pacarannya di teras, pergi pun ramai-ramai bersama teman sekolah, lalu orang tuanya wanti-wanti jangan sampai hamil, anaknya malah jadi tekanan batin merasa tidak dipercaya orang tua sendiri, apa tidak kasihan?

Misal si anak pacarannya liar, aktif secara seksual dengan panduan film bokep atau lainnya, ditakut-takuti hamil-menghamili juga ramashok lha wong bisa pakai pengaman yang mudah dicari dan harganya pun terjangkau.

Kalau risiko yang dibahas itu hanya sebatas hamil yang kemudian membuat orang tua malu solusinya menjadi sangat mudah, jika ingin melakukan seks bebas pakailah pengaman dan jika terlanjur hamil bisa digugurkan, bukan begitu?

Sudahlah jangan dibahas melulu tentang keperawanan/keperjakaan, ajaran agama, norma sosial, apalagi diminta memikirkan muka orang tua mau ditaruh mana kalau sampai kebobolan hamil. Memang baik dan benar untuk dibicarakan, tapi apakah efektif?

Bicara tentang seks, mari bicarakan risiko, pada anak-anak sekalipun. Risiko paling nyata dari seks bebas adalah PMS, penyakit menular seksual. Kalau benar-benar memikirkan masa depan anak tentu ini yang dibahas, untuk menstimulasi anak supaya belajar berpikir tentang kesehatan khususnya organ reproduksi, dengan begitu setelah dewasa pun tetap dingat. Ini beberapa contoh penyakit menular seksual:

Satu, HIV/AIDS

Virus HIV (Human Immunodeficiency Virus) (atau disingkat HIV) membuat kekebalan pada tubuh manusia menjadi lemah bahkan rusak. Orang yang terkena virus ini akan menjadi rentan terhadap infeksi atau mudah terkena tumor.

Penularan terjadi melalui hubungan intim (vaginal, anal, ataupun oral), transfusi darah, jarum suntik yang terkontaminasi, antara ibu dan bayi (saat hamil, bersalin, atau menyusui), dan kontak lainnya dengan cairan-cairan tubuh tersebut. Belum ada obat untuk penyakit ini.

Dua, Gonorea (kencing nanah)

Disebabkan oleh Neisseria gonorrhoeae yang menginfeksi lapisan dalam uretra, leher rahim, rektum, tenggorokan, dan bagian putih mata (konjungtiva). Penyakit ini menyebabkan kemandulan.

Pada pria, gejala gonorea adalah nanah pada saluran kemih dengan rasa panas saat berkemih. Gonorea yang tidak ditangani dengan baik menimbulkan rasa menyakitkan pada buah pelir. Sedangkan pada perempuan, gonorea merupakan penyebab utama radang panggul. Gonorea membuat kemungkinan seseorang terkena virus HIV menjadi 3-5 kali lebih besar.

Tiga, Klamidia

Gejalanya seperti gonorea, tapi ada juga yang tidak menunjukkan gejala. Meski tidak menunjukkan gejala, klamidia dapat menimbulkan peradangan pada: testikel, prostat, maupun uretra.

Pada perempuan infeksi klamidia yang tidak ditangani menjadi penyebab utama radang panggul, kehamilan ektopik, dan kemandulan. Penelitian menunjukkan, 1 dari 8 perempuan yang ditangani untuk masalah klamidia mengalami infeksi kembali dalam waktu setahun.

Empat, HPV

95 persen kanker serviks disebabkan oleh Human Papiloma Virus (HPV), dan 33 persen wanita dilaporkan punya virus tersebut, menyebabkan sakit di leher rahim. Menular lewat hubungan seksual dan laki-laki pun bisa tertular oleh virus ini. Virus itu diketahui sebagai penyebab kanker leher rahim (serviks).

Pada pria HPV juga menyebabkan kutil genital dan meningkatkan risiko kanker penis dan anus. Pria yang membawa virus HPV berisiko menularkan kepada pasangan seksualnya.

Lima, Sifilis (raja singa)

Sifilis sering dimulai dengan lecet yang tidak terasa sakit pada penis atau bagian kemaluan lain dan berkembang dalam tiga tahap yang dapat berlangsung lebih dari 30 tahun. Dapat mengundang penyakit jantung, kerusakan otak, dan kebutaan. Apabila tidak diobati, penyakit ini juga dapat menyebabkan kematian. Sifilis juga meningkatkan bahaya terinfeksi HIV/AIDS setidaknya 2-5 kali lipat.

Meski sudah memakai kondom pun belum tentu terbebas dari resiko terbebas dari penyakit menular seksual.

Bicara seks ada anak sejak dini itu masuk akal. Terutama tentang kesehatan organ reproduksi demi kesehatan dan masa depan mereka nanti. Bicara seks bukan dari sudut pandang dosa dan bokep melulu.

(Tulisan ini juga dimuat di https://www.qureta.com/next/post/mari-bicara-seks-pada-anak)

Continue Reading

Who is Online

No one is online right now

Advertisement

Twitter

Trending

Mari bergabung bersama Mitra Wacana

Silahkan bergabung dan menjadi bagian dari Mitra Wacana.
Akan ada penghargaan untuk tulisan yang terpilih.
Terima Kasih

Gabung