web analytics
Connect with us

Uncategorized @id

Kepala Desa Nomporejo Kulon Progo Apresiasi Putri Pertiwi

Mitra Wacana WRC

Published

on

Pertemuan Rutin Putri Pertiwi ft Umi
Waktu dibaca: < 1 menit

Pusat pembelajaran perempuan dan anak (P3A) Putri Pertiwi Nomporejo, Galur, Kulonprogo melakukan pertemuan rutin di balai desa pada Sabtu (19/3). Pertemuan dihadiri oleh kepala desa, Suyono. Dalam sambutannya Yono mengatakan bahwa keberadaan orgnaisasi perempuan Putri Pertiwi menjadi tambahan energi bagi pemerintah desa. Perempuan memang harus berorganisasi, supaya memiliki pengalaman dan tambahan wawasan, karena dengan berorganisasi perempuan akan memberikan sumbangan ide bagi desanya, Yono menuturkan.

Dianah Karmilah, manajer program Mitra Wacana WRC untuk Kulonprogo mengungkapkan bahwa pertemuan rutin ini juga dimanfaatkan untuk melakukan monitoring perkembangan organisasi Putri Pertiwi dalam melakukan pencegahan trafficking. Kita tahu bahwa perdagangan manusia adalah musuh bersama, oleh karena itu kita perlu berjuan bersama untuk memeranginya, ungkap Dianah. Dianah menambahkan bahwa saat ini organisasi Putri Pertiwi sudah menjadi anggota Forum Perlindungan Korban Kekerasan (FPKK) Kulonprogo.

Kordinator lapangan Kulonprogo, Septy Wulandari menuturkan bahwa keberadaan organisasi ini sudah mulai dikenal oleh pemerintah desa, karenanya saya mengapresiasi langkah pemerintah desa yang akan menerbitkan Surat Keputusan (SK) serta memberikan kemudahan bagi organisasi dalam mendapatkan anggaran untuk program penguatan perempuan dan pencegahan perdagangan manusia. Saya juga mengusulkan kepada pemerintah desa agar mulai memikirkan membangun Badan usaha Milik Desa yang dapat dikelola oleh kelompok perempuan untuk menciptakan pusat ekonomi desa, Septi menambahkan.

Para peserta pertemuan yang merupakan ibu-ibu rumah tangga menuturkan merasa senang dengan kehadiran organisasi Putri pertiwi karena menambah pengetahuan tentang bahaya perdagangan manusia. Mereka berharap Mitra Wacana WRC, organisasi P3A Putri Pertiwi selalu dilibatkan dalam rapat dan musyawarah pengambilan keputusan di desa.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Opini

KONSTRUKSI MEDIA MASSA TERHADAP CITRA PEREMPUAN

Mitra Wacana WRC

Published

on

Sumber: Freepik
Waktu dibaca: 3 menit
TANTANGAN GERAKAN PEREMPUAN DI ERA DIGITAL

Lilyk Aprilia Volunteer Mitra Wacana

Di era globalisasi, media massa menjadi salah satu hal yang penting dalam kehidupan masyarakat baik digunakan sebagai alat untuk komunikasi, mencari informasi, atau hiburan. Media massa terus mengalami perkembangan dari yang mulanya konvensional hingga sekarang menjadi modern . Berbicara mengenai media massa tentu ada hal yang menjadikan media massa memiliki nilai tarik tersendiri terlebih jika dihubungkan dengan keberadaan perempuan.

      (Suharko, 1998)  bahwa tubuh perempuan digunakan sebagai simbol untuk menciptakan citra produk tertentu atau paling tidak berfungsi sebagai latar dekoratif suatu produk.  Media massa dan perempuan merupakan dua hal yang sulit dipisahkan. Terutama dalam bisnis media televisi. Banyaknya stasiun televisi yang berlomba-lomba dalam menyajikan sebuah program agar diminati oleh masyarakat membuat mereka mengemas program tersebut semenarik mungkin salah satunya dengan melibatkan perempuan. Perempuan menjadi kekuatan  media untuk menarik perhatian masyarakat. Bagi media massa tubuh perempuan seolah aset terpenting yang harus dimiliki oleh media untuk memperindah suatu tayangan yang akan disajikan kepada masyarakat sehingga memiliki nilai jual yang tinggi.

     Media massa memiliki beberapa fungsi diantaranya sebagai wadah untuk memberikan informasi kepada masyarakat. Informasi yang diberikan kepada masyarakat salah satunya dalam bentuk iklan sebuah produk atau layanan jasa . Iklan merupakan sebuah informasi yang diberikan kepada masyarakat mengenai hal yang berhubungan dengan suatu produk atau jasa yang dikemas dengan semenarik mungkin.  Memiliki tujuan untuk menarik minat konsumen membuat salah satu pihak menjadi dirugikan . Pasalnya pemasang iklan dalam mengenalkan produknya kepada masyarakat sering kali memanfaatkan perempuan sebagai objek  utama untuk memikat para konsumen. Memanfaatkan wajah dan bentuk tubuh sebagai cara untuk menarik perhatian masyarakat membuat citra perempuan yang dimuat pada iklan terus menjadi sumber perdebatan karena dinilai menjadikan tubuh perempuan sebagai nilai jual atas produk yang ditawarkan . Ironisnya hal ini terus menerus dilakukan. 

         Memanfaatkan fisik sebagai objek untuk diekploitasi sudah bukan menjadi rahasia umum lagi. Terlihat dari citra perempuan yang digambarkan oleh tayangan iklan ataupun acara program televisi. Kecantikan perempuan dijadikan sebagai penghias tampilan dari suatu program acara. Dipoles sedemikian rupa untuk mendapatkan tampilan yang cantik kemudian dikonsumsi oleh publik. Demi untuk mengedepankan kepentingan media bahkan hak hak perempuan yang seharusnya dimiliki mereka dikesampingkan oleh media .  

     Selain sebagai wadah informasi untuk masyarakat media massa juga berfungsi sebagai hiburan.. Tayangan televisi yang sampai saat ini menempati rating tertinggi yaitu dalam kategori sinetron. Gambaran dalam tayangan tersebut banyak yang melibatkan perempuan dengan menggambarkan posisi perempuan selalu dibawah laki-laki. Tidak terlalu memperhatikan  pesan tersirat apa yang terkandung dalam tayangan tersebut, masyarakat terus-menerus mengkonsumsinya seolah tayangan tersebut tidak memiliki pesan yang bermasalah. Jika diperhatikan lebih lanjut banyak sekali peran perempuan yang digambarkan dari sisi lemahnya atau hanya melakukan pekerjaan domestik saja. Dengan begitu apa yang disajikan oleh media akan tertanam difikiran mereka sehingga menganggap pesan media massa sebagai realitas yang benar dan menjadi nilai yang kemudian diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

 

 Kekuatan Media Massa Dalam Membentuk Citra Perempuan

      Media massa memiliki kemampuan dalam membentuk citra . Bermula dari gambaran atas kenyataan yang ada dimasyarakat kemudian dikembangkan dengan menggunakan bahasa yang mengandung makna baru  namun masih memiliki acuan terhadap fakta yang ada kemudian disajikan kepada masyarakat secara terus menerus.  Dengan begitu citra yang dibentuk oleh media massa akan mempengaruhi realitas kehidupan dimasyarakat. Mengingat minat masyarakat terhadap objektifikasi perempuan cukup tinggi, media massa berlomba-lomba membentuk citra perempuan yang sempurna untuk mencapai target pasar dengan menggiring opini publik dalam menetapkan standar ‘cantik’ menurut media. Perempuan kerap kali dijadikan alat oleh media massa sebagai ladang untuk mendapatkan keuntungan dengan menampilkan kemolekan dan kecantikan fisiknya. Konstruksi sosial pada citra perempuan yang terjadi pada media massa bukan lagi hal baru dan tabu, fenomena ini terus berulang seolah menjadi kebenaran dalam mengkotakkan citra perempuan. 

     Selain itu pembenaran yang terus dilanggengkan oleh media massa terkait citra perempuan menjadikan sudut pandang masyarakat berkiblat pada standar yang digaungkan media massa tersebut sehingga menjadi salah satu agen budaya yang berpengaruh terhadap realita di kehidupan masyarakat.  Penggambaran terhadap perempuan oleh media massa semakin memperjelas bahwa posisi perempuan diranah publik masih lemah.

Continue Reading

Who is Online

No one is online right now

Advertisement
Advertisement

Twitter

Trending