web analytics
Connect with us

Rilis

Komentar Juri Lomba Foto Mozaik Perempuan Masa Kini

Published

on

komentar

Oleh Ferganata Indra Riatmoko (Wartawan Kompas)

Foto-foto yang diikutsertakan pada lomba ini menarik dari segi keragaman aktivitas serta profesi yang ditampilkan. Pihak juri akhirnya menetapkan pilihan juara pertama pada foto hitam putih yang menggambarkan seorang perempuan berbaju toga yang sedang menyampaikan rasa sayang kepada seorang perempuan lanjut usia yang terbaring di rumah sakit. Sejak awal foto ini berhasil menarik perhatian juri karena rasa kasih sayang terpancar jelas di situ. Meskipun tidak menampilkan aktivitas pekerjaan tertentu, namun sertifikat kelulusan yang dibawa sang wisudawati sudah berhasil menjadi simbol yang kuat bahwa kelak dia akan memiliki profesi yang dapat membantu sesama.

Pemilihan tone hitam putih juga menambah kesan teduh dan memancarkan aura kasih sayang dalam foto ini. Foto pemenang kedua kami pilih karena sang fotografer perempuan yang menjadi obyek dalam foto ini tampil menonjol di tengah keramaian pengunjuk rasa yang mayoritas laki-laki di latar belakangnya. ekspresi keseriusan fotografer ini juga mendorong foto ini tampil menjadi salah satu juara. Foto juara ketiga tampil menarik karena menyimbolkan ketekunan pekerja perempuan yang terus bekerja hingga usia senja. Ketajaman dan tone hitam putih membuat foto ini semakin menarik. Untuk foto juara harapan, kami memilih ketiga foto itu karena dapat mewakili keragaman cerminan perempuan masa kini yang masih menjunjung tinggi kebudayaan lokal sekaligus disajikan dengan sudut yang variatif dan menarik.

Continue Reading
1 Comment

1 Comment

  1. Mitra Wacana WRC

    17 June 2021 at 2:52 pm

    Boleh kak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita

Kunjungan Volunteer Mitra Wacana ke Desa Hargorejo

Published

on

Oleh India Lewis & Charli Kay

Volunteer Mitra Wacana

Pada Rabu, 5/6/2024, kami, volunteer Mitra Wacana India dan Charli dari Australia, berkunjung ke desa Hargoreja untuk melaksanakan presentasi relasi gender. Kunjungannya merupakan kesempatan khusus untuk membagi pengetahuan lintas-budaya, hingga ada banyak pembelajaran yang terjadi bagi kedua sisi.

Presentasinya mencakup tiga aspek relasi gender, yaitu peran gender di sekolah, peran gender dalam pacaran, dan peran perempuan dalam tenaga kerja. Sebagai pemandu diskusi, kami membahas keadaan isu ini di Australia, sambil bertanya kepada ibu-ibu di sana tentang pengalaman mereka. Kami mencari beberapa kemiripan dan perbedaan antara kedua budaya kita. Ternyata ada cukup banyak kemiripan terkait dengan sekolah. Kami membahas stereotip seperti perempuan yang lebih suka pelajaran humaniora, dan laki-laki yang lebih suka sains dan matematika.

Ibu-ibu dari Hargorejo setuju bahwa ini merupakan masalah di Indonesia yang mencegah perempuan dari bekerja dalam bidang sains dan matematika. Namun, ada cukup banyak perbedaan antara Australia dan Indonesia dalam dunia pacaran dan pernikahan. Rata-rata, perempuan Australia menikah pada usia 27, dan laki-laki pada usia 33. Usia rata-rata ini lebih rendah di Indonesia; 21 untuk perempuan dan 25 untuk laki-laki. Akhirnya, kami membahas beberapa alasan untuk kekurangan jumlah Perempuan yang masuk ke tenaga kerja di kedua negara kita. Salah satunya adalah ketidaktersediaan alat kontrasepsi, dan ibu-ibunya penasaran bertanya tentang metode kontrasepsi di Australia.

Kunjungannya diakhiri dengan percakapan yang lebih kasual, dan tentu saja foto bersama. Untuk saling berbagi budaya masing-masing merupakan aktivitas yang sangat penting dan bermanfaat. Dari sesi ini, kami mendapat perspektif baru terhadap budaya kami berdasarkan pertanyaan yang diajukan oleh ibu-ibu Indonesia. Semoga, ibu-ibunya juga bermanfaat dari perspektif kami, dan bisa belajar tentang budaya Australia dan budayanya sendiri.

Continue Reading
Advertisement
Advertisement

Twitter

Trending