web analytics
Connect with us

Rilis

Komentar Juri Lomba Foto Mozaik Perempuan Masa Kini

Published

on

komentar

Oleh Ferganata Indra Riatmoko (Wartawan Kompas)

Foto-foto yang diikutsertakan pada lomba ini menarik dari segi keragaman aktivitas serta profesi yang ditampilkan. Pihak juri akhirnya menetapkan pilihan juara pertama pada foto hitam putih yang menggambarkan seorang perempuan berbaju toga yang sedang menyampaikan rasa sayang kepada seorang perempuan lanjut usia yang terbaring di rumah sakit. Sejak awal foto ini berhasil menarik perhatian juri karena rasa kasih sayang terpancar jelas di situ. Meskipun tidak menampilkan aktivitas pekerjaan tertentu, namun sertifikat kelulusan yang dibawa sang wisudawati sudah berhasil menjadi simbol yang kuat bahwa kelak dia akan memiliki profesi yang dapat membantu sesama.

Pemilihan tone hitam putih juga menambah kesan teduh dan memancarkan aura kasih sayang dalam foto ini. Foto pemenang kedua kami pilih karena sang fotografer perempuan yang menjadi obyek dalam foto ini tampil menonjol di tengah keramaian pengunjuk rasa yang mayoritas laki-laki di latar belakangnya. ekspresi keseriusan fotografer ini juga mendorong foto ini tampil menjadi salah satu juara. Foto juara ketiga tampil menarik karena menyimbolkan ketekunan pekerja perempuan yang terus bekerja hingga usia senja. Ketajaman dan tone hitam putih membuat foto ini semakin menarik. Untuk foto juara harapan, kami memilih ketiga foto itu karena dapat mewakili keragaman cerminan perempuan masa kini yang masih menjunjung tinggi kebudayaan lokal sekaligus disajikan dengan sudut yang variatif dan menarik.

Continue Reading
1 Comment

1 Comment

  1. Mitra Wacana WRC

    17 June 2021 at 2:52 pm

    Boleh kak

Leave a Reply

Berita

Wabup Bantul Singgung Pembubaran Ibadah dan Tekanan Fiskal Daerah di Hadapan Puluhan Ormas

Published

on

BANTUL, Mitra Wacana — Dua isu besar sekaligus mengemuka dalam Rapat Koordinasi Organisasi Kemasyarakatan di Kabupaten Bantul, Rabu (3/6/2026). Di hadapan puluhan perwakilan ormas, Wakil Bupati Bantul Aris Suharyanto berbicara terus terang — mulai dari kondisi keuangan daerah yang sedang tertekan, hingga insiden pembubaran ibadah yang tengah menjadi sorotan publik.

“Kondisi keuangan di Bantul sangat menurun karena berkurangnya dana transfer ke daerah. Meski begitu, Pemkab tetap berkomitmen untuk berusaha menyejahterakan masyarakat di Kabupaten Bantul,” ujar Aris di Aula Bakesbangpol Lantai 2, Jalan Raya Bantul KM 7,5, Sewon, Bantul.

Tak hanya soal fiskal, Aris juga menyinggung langsung insiden yang belakangan viral di media sosial — pembubaran kegiatan ibadah oleh sekelompok ormas di wilayah Bantul. Ia menegaskan bahwa tindakan semacam itu tidak dapat dibenarkan.

“Bantul sedang viral karena ada pembubaran ibadah oleh sekelompok ormas. Kita mesti memahami bahwa beribadah dilindungi oleh undang-undang,” tegasnya.

Lebih jauh, Aris mengungkapkan bahwa warga sekitar lokasi ibadah justru tidak merasa terganggu. Sebaliknya, kegiatan tersebut memberi manfaat ekonomi bagi mereka.

“Menurut masyarakat setempat, mereka merasa tidak terganggu dengan acara ibadah tersebut, justru diuntungkan karena bisa berjualan dan menjaga parkiran,” katanya.

Pernyataan ini menjadi sinyal tegas dari pemerintah daerah bahwa kebebasan beribadah adalah hak konstitusional yang wajib dijaga — dan ormas tidak seharusnya menjadi aktor yang mengancamnya.

Di tengah dua isu sensitif itu, Aris mengajak seluruh ormas yang hadir untuk kembali pada peran utamanya: menjaga kondusivitas dan mendukung program pembangunan. Ia secara khusus menyebut program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang telah berjalan hampir setahun, serta visi besar Indonesia Emas 2045 yang membutuhkan kesiapan dari semua pihak.

“Kami ingin mengingatkan kembali bahwa ormas mempunyai tujuan. Salah satunya terlibat dalam menjaga kondusivitas dan menyukseskan program pemerintah,” ujarnya.
Plt. Kepala Bakesbangpol Bantul, Yulius Suharta, menyebut forum ini sebagai momentum penting membangun komunikasi antara pemerintah dan masyarakat sipil.

“Perlu kebersamaan dan keterlibatan masyarakat untuk menyukseskan visi-misi bupati dan wakil bupati,” kata Yulius.

Rapat koordinasi ini dihadiri sekitar 45 organisasi kemasyarakatan dari berbagai latar belakang — mulai dari Mitra Wacana, IWAPI, LDII, Paksi Katon, hingga puluhan ormas lainnya.

Keragaman peserta memperkuat bobot pesan yang disampaikan bahwa harmoni sosial di Bantul adalah tanggung jawab bersama, bukan milik satu kelompok semata.

Di tengah tekanan anggaran dan gesekan sosial yang mulai terasa, pemerintah Kabupaten Bantul tampaknya memilih jalan dialog — mengajak ormas duduk bersama, bukan sekadar menerima instruksi.

Yang kini dinantikan publik bukan hanya kata-kata, melainkan langkah nyata. Bagaimana Pemkab menindaklanjuti insiden pembubaran ibadah tersebut, dan bagaimana transparansi anggaran daerah benar-benar memberi ruang bagi masyarakat untuk ikut mengawasi. (Tnt).

Continue Reading
Advertisement NYL2026
Advertisement
Advertisement

Twitter

Trending