Opini
MENDUKUNG KEMANDIRIAN MAHASISWA DALAM ERA AI
Published
2 years agoon
By
Mitra Wacana

Kharisma Miftha
Mahasiswa Manajemen Administrasi Universitas Sebelas Maret
Artificial Intelligence atau AI merupakan teknologi yang dirancang untuk membuat sistem komputer mampu meniru kemampuan intelektual manusia. Kehadiran AI atau telah mengubah banyak hal, terutama di dunia pendidikan. Sebagai mahasiswa di era modern ini, kita sangat terpengaruh oleh kemajuan teknologi, khususnya dalam bidang AI. AI bukan lagi hal yang asing bagi kita; sebaliknya, itu telah menjadi bagian tak terpisahkan dalam kegiatan belajar, interaksi sosial, dan bahkan dalam proses berpikir kita sehari-hari.
Dampak Positif AI dalam Pendidikan
Salah satu dampak Posistif AI bagi mahasiswa adalah kemudahan dalam mengakses informasi. Berkat AI, akses terhadap pengetahuan tidak lagi terbatas pada buku dan dosen saja, tetapi juga meliputi berbagai platform e-learning, basis data digital, dan sistem tutor virtual. Ini memungkinkan mahasiswa untuk mendapatkan sumber daya pendidikan secara lebih efisien dan tepat waktu.
Selain itu, dampak positif AI lainya yaitu kemampuannya dalam memfasilitasi pembelajaran dan inovasi. AI memudahkan kita mendapatkan jawaban dan solusi dengan cepat. Ketika kita merasa bingung atau memerlukan informasi, kita bisa mencari apapun di AI seperti ChatGPT, GeminiAI, Flexibility, dan AI lainnya. Dengan bantuan AI juga bisa memberikan sudut pandang baru dan ide-ide yang mungkin tidak terpikirkan sebelumnya. Dengan berbagai algoritma canggih dan basis data yang luas, AI mampu menghubungkan informasi dari berbagai sumber dan menghasilkan ide-ide inovatif yang dapat kita kembangkan lebih lanjut. Ini sangat membantu dalam tugas-tugas akademik yang memerlukan kreativitas dan pemikiran kritis.
Dengan demikian, AI berperan penting dalam mendukung pembelajaran dan inovasi bagi mahasiswa. Dengan memanfaatkan teknologi ini secara bijak, kita dapat mengoptimalkan proses belajar, memperkaya ide-ide, dan menjadi lebih kreatif dalam berpikir.
Dampak Negatif penggunaan AI dalam Pendidikan
Namun, penggunaan AI dalam pendidikan juga menimbulkan beberapa kekhawatiran. Salah satunya adalah ketergantungan yang berlebihan terhadap teknologi. Mahasiswa dapat menjadi terlalu bergantung pada AI untuk menyelesaikan tugas-tugas mereka tanpa melakukan pemikiran kritis yang diperlukan. Ini bisa mengurangi kemampuan mahasiswa untuk mengembangkan keterampilan analitis dan penalaran yang mandiri.
Selain itu, ada kekhawatiran tentang pengurangan interaksi tatap muka. Penggunaan AI untuk mendapatkan informasi dan menyelesaikan tugas dapat mengurangi frekuensi interaksi langsung antara mahasiswa dan dosen, serta antara sesama mahasiswa. Akibatnya, mahasiswa mungkin kehilangan kesempatan untuk mengembangkan keterampilan interpersonal yang penting, seperti komunikasi verbal, empati, dan kerja sama tim. Interaksi tatap muka sangat penting untuk membangun hubungan sosial yang kuat dan untuk belajar bagaimana bekerja sama dengan orang lain, memahami perspektif yang berbeda, dan menyelesaikan konflik secara efektif.
Apa saja Solusi yang dapat kita ambil ??
Setelah kita mengetahui dampak negatif dari penggunaan AI, Kita Sebagai Mahasiswa dapat mengambil langkah langkah Untuk menghindari kecanduan atau ketergantungan pada AI tersebut, berikut beberapa langkah yang dapat kita lakukan :
- Batasi Waktu Penggunaan
Tetapkan batasan waktu yang jelas untuk menggunakan AI. Misalnya, kita bisa menetapkan aturan hanya menggunakan AI untuk mencari informasi atau membantu dalam tugas-tugas tertentu selama periode waktu tertentu setiap hari.
- Berlatih Kemandirian
Teruslah melatih diri untuk menyelesaikan masalah atau tugas secara mandiri sebelum mengandalkan bantuan AI. Cobalah untuk selalu mencari jawaban atau menyelesaikan masalah sendiri terlebih dahulu. Ini akan meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan analitis. Misalnya, sebelum bertanya kepada AI tentang topik tertentu, tuliskan dulu apa yang sudah Anda ketahui dan apa yang ingin Anda pelajari lebih lanjut. Ini tidak hanya membantu dalam memahami topik lebih baik tetapi juga mengurangi ketergantungan pada AI.
- Gunakan AI dengan Bijak
Gunakan AI sebagai alat bantu, bukan pengganti dari usaha dan proses berpikir kritis kita. AI harus dilihat sebagai salah satu dari banyak alat yang dapat mendukung pembelajaran, bukan satu-satunya. Selalu lakukan evaluasi terhadap jawaban atau solusi yang diberikan oleh AI untuk memastikan kebenaran dan relevansinya. Bandingkan informasi yang diberikan AI dengan sumber lain untuk memastikan keakuratan dan validitasnya. Ini membantu dalam mengembangkan keterampilan verifikasi informasi yang kritis.
- Diversifikasi Sumber Informasi
Selain menggunakan AI, luangkan waktu untuk memeriksa sumber informasi lain seperti buku teks, artikel ilmiah, atau berdiskusi dengan teman atau dosen. Diversifikasi sumber informasi membantu memperluas perspektif dan meningkatkan kemampuan berpikir kritis.
- Berinteraksi dengan Manusia
Jaga keseimbangan antara interaksi dengan AI dan interaksi dengan orang lain. Diskusi dengan teman, berpartisipasi dalam kelompok studi, atau berkonsultasi dengan dosen dapat membantu menambah pemahaman kita dan mengurangi ketergantungan pada AI. Interaksi sosial ini juga penting untuk mengembangkan keterampilan komunikasi dan kolaborasi. Membangun jaringan belajar dengan teman sekelas atau kelompok studi bisa memberikan wawasan baru dan solusi yang mungkin tidak kita dapatkan hanya dari AI.
AI menghadirkan peluang besar untuk meningkatkan kualitas pendidikan, namun penggunaannya perlu dilakukan secara bijak dan bertanggung jawab. Mahasiswa harus memanfaatkan AI sebagai alat bantu untuk memperkaya pembelajaran, bukan sebagai pengganti proses belajar dan interaksi sosial. Dengan menyeimbangkan penggunaan AI dan metode pembelajaran tatap muka, kita sebagai mahasiswa dapat memaksimalkan potensi dan menjadi pembelajar yang mandiri, kritis, dan kreatif di era digital ini
Gunakan AI untuk membuka potensimu, bukan untuk menggantikanmu!!!
Opini
Ilusi Kebebasan: Ketika Struktur Mengekang Identitas Diri
Published
7 days agoon
18 August 2026By
Mitra Wacana

Hafizh Achmad Fauzan seorang mahasiswa dari Universitas Pendidikan Indonesia
Sulitnya menjadi diri sendiri di tengah masyarakat yang sedikit-sedikit mengatakan, “kamu aneh”
Pernah nggak sih kamu merasa harus selalu memakai “topeng” setiap kali kamu beranjak keluar rumah? Dihadapan teman, keluarga, atau bahkan tetangga, kita selalu mencoba berakting menjadi sosok yang manut-manut saja sama standar yang sudah mereka terapkan. Tetapi begitu sampai di kamar, mengunci pintu, lalu merebahkan diri, disanalah kita baru bisa bernafas lega dan bertanya-tanya kepada diri sendiri: “sebenernya, yang tadi aku tunjukkan itu aku atau siapa, sih?”
Pertanyaan mengenenai, “siapa sih aku sebenarnya” itu bukan cuma lamunan impulsif sebelum tidur, ia adalah sebuah pertanda bahwa ada kekosongan di dalam diri yang minta diisi.
Secara alami, kita pun mulai mencari jawaban ke luar. Kita menjelajahi internet, mengobrol sama teman, sampai menyerap berbagai informasi demi menemukan identitas yang terasa, “ini aku banget”. Begitu merasa sudah ketemu dan siap membagikannya ke dunia nyata, plak! Realita menampar keras. Lingkungan sosial kita bukannya menyambut dengan tangan terbuka, tapi malah mengecap identitas itu sebagai sebuah “anomali”—sesuatu yang aneh, salah, atau wajib diluruskan.
Psikolog ternama, Erik Erikson pernah bilang kalau pencarian identitas itu memang fase yang krusial banget. Kalau lingkungan kita suportif, kita bakal tumbuh jadi pribadi yang percaya diri. Faktor pembentukan identitas diri ini seringkali dipengaruhi oleh faktor internal yang berada dalam diri kita sendiri. Dapat berupa motivasi atau regulasi diri. Seringkali kita membutuhkan dukungan moral dari luar seperti dari keluarga, teman-teman, atau tokoh idola yang sekarang lagi happening di dunia maya, idolaku menyelamatkanku ketika aku tak yakin pada diri sendiri, namun mereka melihatku seperti sosok yang berharga.
Bagaimana kalau yang kita dapatkan bukan sebuah dukungan, melainkan berupa cemoohan dan kecaman yang menusuk seperti duri?
Dari sinilah krisis identitas itu lahir. Karena takut dibilang aneh atau dikucilkan, banyak dari kita yang pada akhirnya memilih jalan aman dengan bikin identitas semu. Kita berpura-pura menyukai apa yang mayoritas sukai.
Tapi ya kali mau terus-terusan menyamar sepanjang hidup? Pura-pura jadi orang lain itu lelahnya luar bisa, membuat diri kita hilang terkubur redup. Efek jangka panjangnya bisa membuat kita cemas, depresi, sampai merasa hampa karena tak pernah benar-benar merasa hidup. Makanya, nggak heran kalau banyak orang yang akhirnya memilih lari ke dunia maya— sebagian dari kita pada akhirnya memilih untuk memuat identity fluidity virtual atau pada zaman sekarang, hal ini disebut dengan pembuatan akun alter. Karena menurutnya, di dalam dunia ini mereka merasa aman, dan nyaman tanpa memiliki perasaan takut dijudging karena telah menjadi diri sendiri. Semuanya dilakukan secara anonim.
Mendapat dukungan moral dengan mudah, tanpa harus memaksakan diri agar dapat diterima, mengapa hal ini terasa sulit? Seperti mustahil untuk didapatkan di dunia nyata? Mengapa terasa mudah apabila dilakukan sebagai anonim di dalam dunia maya? Pertanyaan-pertanyaan itu kerap kali muncul hingga identify difussion mengincar kita yang gagal dalam pembentukan identitas diri.
Secara filosofis, filsus eksistensialis Jean-Paul Sartre punya jargon terkenal: “Condemned to be free”—manusia itu dikutuk dan diciptakan untuk bebas. Maksudnya, kita terlahir tanpa cetakan makna bawaan. Kamulah pencipta atas hidup dan makna dirimu sendiri. Kamulah pengendali atas apa yang kamu inginkan.
Sayangnya, dalam praktik sehari-hari, teori Sartre ini sering kali mental saat berhadapan dengan struktur sosial. Masyarakat kita rajin banget menetapkan “nilai tunggal”. Kalau kamu sedikit berbeda dari kebiasaan mayoritas, kamu langsung dilabeli buruk. Kebebasan berekspresi yang digadang-gadang itu seolah cuma mitos, karena struktur di sekitar kita lebih suka menyeragamkan ketimbang menghargai keberagaman.
Lantas, harus bagaimana kita menghadapi dunia yang sering kali tidak ramah ini?
Filsuf Albert Camus punya sudut pandang yang menarik soal ini. Menurut Camus, dunia ini memang penuh absurditas—dunia nggak selalu adil dan usaha kita buat diterima nggak selalu berbuah manis. Cara melawannya bukan dengan menyerah atau terus-menerus sedih, melainkan dengan menjadi “The Stranger”: berdamai dengan kenyataan bahwa dunia ini memang absurd, lalu fokus pada nilai diri sendiri tanpa peduli diktasi luar.
Nietzsche juga menambahkan konsep keren bernama will to power. Jangan biarkan kehampaan atau penolakan sosial menghancurkanmu. Jadilah ubermensch yang artinya menjadi manusia yang berani menciptakan nilainya sendiri di tengah masyarakat yang mengekang. Dan berani untuk tetap tumbuh, tetap pada pendirian teguh akan identitas diri, jangan takut akan runtuh. Karena dunia akan ikut meluruh apabila kita tetap utuh.
Dunia ini bukan cuma milik satu kelompok atau satu standar nilai. Seperti kata Jean-Francois Lyotard; kita harus bisa menghargai bahwa tiap manusia punya konteks dan perspektif yang berbeda-beda.
Parahnya lagi, situasi ini makin keruh belakangan ini. Peraturan pemerintah yang harusnya melindungi semua warga malah kerap dipakai sebagai alat legitimasi buat mendiskriminasi, mengkriminalisasi, atau memojokkan kelompok yang dianggap “anomali” dari standar mayoritas. Dalihnya ya macam-macam, dari soal nilai sosial sampai ideologi. Efeknya? Banyak orang yang akhirnya makin takut buat jadi diri sendiri di ruang publik karena merasa keselamatan mereka terancam.
Capek nggak sih melihat masyarakat kita terus-terusan dibenturkan oleh konflik horizontal yang mengorbankan kelompok minoritas, sementara masalah-masalah besar yang jauh lebih krusial malah kelelep gitu aja? Sudah saatnya kita belajar dari sejarah dengan mengetahui bahwa persatuan itu lahir dari rasa saling menghargai perbedaan, bukan dari memaksa semua orang untuk seragam.
Pada akhirnya, identitas diri itu adalah tentang kesadaran penuh akan siapa diri kita dan bagaimana hasil dari proses panjang mengeksplorasi nilai, memilih apa yang kita yakini, lalu berani menampilkannya ke dunia.
Menerima diri sendiri itu krusial banget biar kita bisa melangkah dengan percaya diri dan nggak gampang tumbang oleh krisis batin. Ketika dunia luar mulai bising dengan penolakan dan cemoohan, ajaran Albert Camus bisa kita jadikan sebagai benteng pertahanan diri, karena beliau bilang, berdamai saja dengan kenyataan bahwa dunia ini memang absurd, lalu fokus merawat nilai-nilai yang kita yakini.
Kita tidak boleh melupakan fakta bahwa pada akhirnya, setiap manusia memiliki keinginan yang sama dan sederhana; kita menginginkan hak untuk hidup dengan aman tanpa takut terdiskriminasi atau bahkan tereleminasi sosial. Sudah saatnya kita merayakan pluralitas dan menghargai perbedaan bagaimana cara seseorang memaknai dan menghargai hidupnya. Toh, pada dasarnya, nggak ada satu pun manusia di dunia ini yang ingin diperlakukan tidak adil hanya karena ia memilih untuk jujur pada dirinya sendiri.
REFERENSI
Nietzsche, F. (2005). Thus spoke Zarathustra (G. Parkes, Trans.). Oxford University Press.
Camus, A. (1955). The myth of Sisyphus (J. O’Brien, Trans.).
Sa’diyah, H., & Jannah, S. N. F. (2025). Ontologi attachment dalam dinamika keluarga: Peran orang tua dalam pembentukan identitas anak. Educazione, 13(1), 42-54.
Hidayah, N., & Huriati. (2016). Krisis identitas diri pada remaja “identity crisis of adolescences”. Sulesana, 10(1), 49-62.

Bioskop Rakyat Fest #03 Sukses Digelar di Demangrejo: Padukan Seni Budaya, Kampanye Anti-Perdagangan Orang, dan Pemberdayaan Desa

Beri Jalan Ulama Perempuan dalam Keanggotaan AHWA di Muktamar 3







