web analytics
Connect with us

Opini

Panggilan Jiwa

Published

on

Dokumentasi pertemuan rutin P3A SEJOLI Punggelan Banjarnegara. Foto: FB P3A SEJOLI

Oleh Sulimah (P3A SEJOLI, Punggelan, Banjarnegara)

Sebelum saya bergabung dan ikut aktif di SEJOLI saya sudah mendengar tentang Mitra Wacana WRC dan SEJOLI tetapi belum mengetahui secara pasti apa saja kegiatannya. Hanya mengetahui kalau sering ada pelatihan dan sekolah tentang stop kekerasan terhadap perempuan dan anak. Dan tahunya saya hanya ibu-ibu diberi pelajaran tingkat tinggi jadi saya merasa minder untuk bergabung dengan ibu-ibu SEJOLI karena pendidikan saya tingkat rendah. Dan juga saat itu saya belum ikut kegiatan Mitra Wacana WRC karena tidak ada yang mengajak saya. Baru pada saat bulan September saya ikut kegiatannya SEJOLI dan Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga pada waktu pelatihan merajut, itu-lah pertama kali saya ikut kegiatannnya SEJOLI. Tapi belum tau apa-apa tentang apa itu kekerasan terhadap perempuan dan anak dan juga Mitra Wacana WRC. 

Setelah itu saya diajak lagi oleh Bu Emi yang kebetulan adalah tetangga saya untuk ikut pelatihan Paralegal di Gumiwang.Awalnya suami agak keberatan karena pulangnya pasti sore, nanti bagaimana dengan anak-anak? Siapa yang akan mengurus mereka? Tapi saat mengikuti pelatihan Paralegal, saya merasa mendapatkan sesuatu hal yang baru dan ilmu yang pas dengan masa lalu saya. Saat itu saya menjadi terbuka pikirannya dan perasaan saya tentang apa itu kekerasan dan perlindungan terhadap kaum perempuan dananak-anak.

Untuk menyakinkan suami saya, bahwa dari pelatihan tersebut sangat banyak manfaatnya terutama untuk saya dan banyak perempuan di lingkungan saya, maka setiap sehabis pulang dari pelatihan saya menjelaskan kepada suami apa saja yang saya peroleh dan manfaat saya ikut pelatihan tersebut. Dari penjelasan saya tersebut, suamia khirnya malah mendukung dan mengatakan “Siki jarang ono wong sing duwe jiwa sosial, langka wong sing berjiwa sosial mak. Nek koe meh terjun neng SEJOLI aku malah dukung tapi kudu serius.” Mendapat dukungan dari suami saya merasa semakin mantab dan yakin untuk ikut bergabung dengan SEJOLI ditambah lagi dengan masalah yang sama dengan masa lalu saya.

Saya bercita-cita agar jangan ada lagi perempuan ataupun anak-anak yang mengalami kekerasan baik secara fisik, psikis, ekonomi, dan seksual dan jangan sampai nasib saya menimpa perempuan yang lain.

Sejak bergabung dengan SEJOLI, saya selalu ikut dalam semua kegiatan SEJOLI dan MitraWacana, saya merasa senang sekali karena dengan aktif berorganisasi saya bertambah ilmu, wawasan, teman dan pergaulan saya. Saya tidak menyangka bisa bergaul dengan ibu-ibu anggota Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga, istri perangkat desa, Bu Lurah, bertemu dengan Pak Camat, Pak Lurah, anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD) dan pembicara-pembicara yang hebat-hebat.

Satu hal yang berubah dalam diri saya adalah saya menjadi pede dengan diri saya, saya tidak lagi minder dengan Bu Lurah dan orang-orang yang terpandang karena kita ternya tasama, sama-sama belajar dan sama-sama sedang mencoba membantu orang lain. Dan satu hal yang membuat saya merasa SEJOLI harus terus ada di Bondolharjo, karena masih belum banyak orang peduli dengan sesamanya. Jika SEJOLI tidak lagi ada bagaimana nasib perempuan dan anak di Bondolharjo?

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opini

BERJILBAB DAN BERCADAR NAMUN TIDAK BERHIJAB

Published

on

Sumber gambar: Freepik

Akbar Pelayati
Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar.

Indonesia merupakan negara yang tingkat kereligiusitasnya cukup tinggi. Menurut survei yang dilakukan oleh Majalah CEOWORLD pada tahun 2024, Indonesia menempati peringkat ketujuh di dunia dalam hal tingkat religiusitas, dengan 98,7% responden di Indonesia mengaku bahwa mereka religius. Angka ini menunjukkan bahwa mayoritas penduduk Indonesia sangat mengutamakan agama dalam kehidupan mereka sehari-hari, menempatkan Indonesia di antara negara-negara paling religius di dunia. Survei ini menegaskan bahwa religiusitas di Indonesia sangat tinggi, sejalan dengan berbagai survei lain yang juga menunjukkan tingginya kepercayaan dan praktik beragama di negara ini.

Karena itu, dalam masyarakat Indonesia, berbagai simbol keagamaan sangat umum ditemui, seperti penggunaan hijab yang kerap dilakukan oleh perempuan Muslim. Karena Islam merupakan mayoritas agama di Indonesia, melihat perempuan yang mengenakan hijab atau cadar sudah lazim di kalangan kita.

Namun, yang seringkali menjadi perdebatan di tengah-tengah masyarakat adalah perihal wanita bercadar. Cadar adalah penutup wajah yang digunakan oleh beberapa wanita Muslim sebagai bagian dari pakaian mereka. Cadar biasanya menutupi seluruh wajah kecuali mata, dan sering dipadukan dengan jilbab atau hijab yang menutupi kepala dan leher. Dalam beberapa budaya, cadar bisa berarti penutup wajah penuh, seperti niqab, yang hanya memperlihatkan mata, atau burqa, yang menutupi seluruh tubuh termasuk wajah dengan jaring di bagian mata untuk melihat.

Cadar digunakan oleh beberapa wanita Muslim sebagai bentuk ketaatan terhadap ajaran agama Islam, di mana menutupi wajah dianggap sebagai cara untuk menjaga kesopanan dan mentaati perintah Tuhan. Selain itu, cadar membantu menjaga privasi dan melindungi wanita dari pandangan yang tidak diinginkan, serta dianggap sebagai cara untuk menghormati diri sendiri dan orang lain. Dalam beberapa budaya, penggunaan cadar juga merupakan bagian dari identitas budaya dan tradisi yang mencerminkan nilai-nilai kesopanan dan kerahasiaan pribadi. Di wilayah tertentu, terutama yang berdebu atau memiliki iklim ekstrem, cadar berfungsi sebagai perlindungan fisik dari debu, angin, dan sinar matahari.

Dewasa ini, yang menjadi perdebatan besar adalah apakah penggunaan cadar memang bertujuan untuk mematuhi ajaran Islam, menjaga kesopanan sesuai perintah Tuhan, atau bahkan melindungi wanita dari situasi yang tidak diinginkan, seperti menghindari perbuatan zina?

Memang benar bahwa fungsi cadar sebenarnya adalah sebagai bentuk ketaatan terhadap ajaran agama Islam, menjaga privasi, dan mencerminkan nilai-nilai budaya yang menghargai kesopanan. Namun, sangat disayangkan bahwa di zaman sekarang, wanita yang menggunakan cadar sering kali tidak mencerminkan nilai-nilai tersebut sebagaimana mestinya.

Saat ini, banyak bukti yang menunjukkan bahwa ada wanita bercadar yang tidak selalu mencerminkan nilai-nilai yang diharapkan. Banyak dari mereka yang terlibat dalam perilaku yang tidak sesuai, seperti berpacaran, dan fenomena ini sering ditemukan di kampus-kampus Islam, fakta lain juga memperkuat bahwa terdapat sangat banyak wanita becadar yang “odong-odong”. Media sosial kembali ramai dengan sebuah video yang menunjukkan aksi tidak pantas dari sepasang kekasih (wanitanya bercadar) yang diduga melakukan perbuatan mesum di tempat yang tidak semestinya. Video tersebut, yang dibagikan oleh akun gosip Instagram @lambeturah, memperlihatkan sepasang kekasih digerebek warga saat sedang berduaan (mesum) di dalam toilet masjid.

Fenomena yang tidak layak tersebut sangat menyimpang dari tujuan asli penggunaan cadar dan dapat merusak citra positif cadar yang sebelumnya dihargai sebagai simbol kebaikan dan kesalehan.

Namun yang menjadi pertanyaan besar adalah “kok bisa gitu ya?” Apakah para oknum tersebut tidak memahami perbedaan antara Kerudung dan Hijab ?

Kerudung dan hijab sering digunakan dalam konteks yang sama, namun memiliki perbedaan dalam arti dan penggunaannya. Kerudung adalah selembar kain yang digunakan untuk menutupi kepala, leher, dan kadang-kadang bagian atas tubuh, yang umumnya digunakan oleh wanita Muslim di Indonesia sebagai bagian dari praktik agama atau untuk alasan budaya dan estetika. Sementara itu, hijab adalah istilah yang lebih luas yang mencakup tidak hanya penutup kepala tetapi juga konsep berpakaian dan perilaku yang sesuai dengan ajaran Islam, mencakup pakaian yang menutupi seluruh tubuh kecuali wajah dan tangan, serta berkaitan dengan kesopanan dalam berpakaian dan perilaku. Dengan demikian, kerudung dapat menjadi bagian dari hijab, tetapi hijab memiliki makna yang lebih mendalam dalam konteks agama Islam.

Secara keseluruhan, Indonesia sebagai negara dengan tingkat kereligiusitas tinggi menunjukkan bahwa simbol-simbol keagamaan seperti hijab dan cadar memiliki tempat yang penting dalam kehidupan sehari-hari masyarakatnya. Namun, penggunaan cadar sering kali menjadi perdebatan karena adanya fenomena yang tidak sesuai dengan nilai-nilai yang seharusnya diwakili. Meskipun fungsi asli cadar adalah sebagai bentuk ketaatan agama Islam, menjaga privasi, dan menghormati kesopanan, fenomena negatif seperti kasus-kasus tidak pantas yang melibatkan wanita bercadar dapat merusak citra positif cadar sebagai simbol kesalehan. Oleh karena itu, penting untuk memahami bahwa penggunaan cadar seharusnya mencerminkan nilai-nilai yang dijunjung tinggi dan bukan sebagai alasan untuk perilaku yang tidak pantas.

Continue Reading
Advertisement
Advertisement

Twitter

Trending