Opini
Panggilan Jiwa
Published
8 years agoon
By
Mitra Wacana
Oleh Sulimah (P3A SEJOLI, Punggelan, Banjarnegara)
Sebelum saya bergabung dan ikut aktif di SEJOLI saya sudah mendengar tentang Mitra Wacana WRC dan SEJOLI tetapi belum mengetahui secara pasti apa saja kegiatannya. Hanya mengetahui kalau sering ada pelatihan dan sekolah tentang stop kekerasan terhadap perempuan dan anak. Dan tahunya saya hanya ibu-ibu diberi pelajaran tingkat tinggi jadi saya merasa minder untuk bergabung dengan ibu-ibu SEJOLI karena pendidikan saya tingkat rendah. Dan juga saat itu saya belum ikut kegiatan Mitra Wacana WRC karena tidak ada yang mengajak saya. Baru pada saat bulan September saya ikut kegiatannya SEJOLI dan Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga pada waktu pelatihan merajut, itu-lah pertama kali saya ikut kegiatannnya SEJOLI. Tapi belum tau apa-apa tentang apa itu kekerasan terhadap perempuan dan anak dan juga Mitra Wacana WRC.
Setelah itu saya diajak lagi oleh Bu Emi yang kebetulan adalah tetangga saya untuk ikut pelatihan Paralegal di Gumiwang.Awalnya suami agak keberatan karena pulangnya pasti sore, nanti bagaimana dengan anak-anak? Siapa yang akan mengurus mereka? Tapi saat mengikuti pelatihan Paralegal, saya merasa mendapatkan sesuatu hal yang baru dan ilmu yang pas dengan masa lalu saya. Saat itu saya menjadi terbuka pikirannya dan perasaan saya tentang apa itu kekerasan dan perlindungan terhadap kaum perempuan dananak-anak.
Untuk menyakinkan suami saya, bahwa dari pelatihan tersebut sangat banyak manfaatnya terutama untuk saya dan banyak perempuan di lingkungan saya, maka setiap sehabis pulang dari pelatihan saya menjelaskan kepada suami apa saja yang saya peroleh dan manfaat saya ikut pelatihan tersebut. Dari penjelasan saya tersebut, suamia khirnya malah mendukung dan mengatakan “Siki jarang ono wong sing duwe jiwa sosial, langka wong sing berjiwa sosial mak. Nek koe meh terjun neng SEJOLI aku malah dukung tapi kudu serius.” Mendapat dukungan dari suami saya merasa semakin mantab dan yakin untuk ikut bergabung dengan SEJOLI ditambah lagi dengan masalah yang sama dengan masa lalu saya.
Saya bercita-cita agar jangan ada lagi perempuan ataupun anak-anak yang mengalami kekerasan baik secara fisik, psikis, ekonomi, dan seksual dan jangan sampai nasib saya menimpa perempuan yang lain.
Sejak bergabung dengan SEJOLI, saya selalu ikut dalam semua kegiatan SEJOLI dan MitraWacana, saya merasa senang sekali karena dengan aktif berorganisasi saya bertambah ilmu, wawasan, teman dan pergaulan saya. Saya tidak menyangka bisa bergaul dengan ibu-ibu anggota Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga, istri perangkat desa, Bu Lurah, bertemu dengan Pak Camat, Pak Lurah, anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD) dan pembicara-pembicara yang hebat-hebat.
Satu hal yang berubah dalam diri saya adalah saya menjadi pede dengan diri saya, saya tidak lagi minder dengan Bu Lurah dan orang-orang yang terpandang karena kita ternya tasama, sama-sama belajar dan sama-sama sedang mencoba membantu orang lain. Dan satu hal yang membuat saya merasa SEJOLI harus terus ada di Bondolharjo, karena masih belum banyak orang peduli dengan sesamanya. Jika SEJOLI tidak lagi ada bagaimana nasib perempuan dan anak di Bondolharjo?
You may like
Opini
Ilusi Kebebasan: Ketika Struktur Mengekang Identitas Diri
Published
7 days agoon
18 August 2026By
Mitra Wacana

Hafizh Achmad Fauzan seorang mahasiswa dari Universitas Pendidikan Indonesia
Sulitnya menjadi diri sendiri di tengah masyarakat yang sedikit-sedikit mengatakan, “kamu aneh”
Pernah nggak sih kamu merasa harus selalu memakai “topeng” setiap kali kamu beranjak keluar rumah? Dihadapan teman, keluarga, atau bahkan tetangga, kita selalu mencoba berakting menjadi sosok yang manut-manut saja sama standar yang sudah mereka terapkan. Tetapi begitu sampai di kamar, mengunci pintu, lalu merebahkan diri, disanalah kita baru bisa bernafas lega dan bertanya-tanya kepada diri sendiri: “sebenernya, yang tadi aku tunjukkan itu aku atau siapa, sih?”
Pertanyaan mengenenai, “siapa sih aku sebenarnya” itu bukan cuma lamunan impulsif sebelum tidur, ia adalah sebuah pertanda bahwa ada kekosongan di dalam diri yang minta diisi.
Secara alami, kita pun mulai mencari jawaban ke luar. Kita menjelajahi internet, mengobrol sama teman, sampai menyerap berbagai informasi demi menemukan identitas yang terasa, “ini aku banget”. Begitu merasa sudah ketemu dan siap membagikannya ke dunia nyata, plak! Realita menampar keras. Lingkungan sosial kita bukannya menyambut dengan tangan terbuka, tapi malah mengecap identitas itu sebagai sebuah “anomali”—sesuatu yang aneh, salah, atau wajib diluruskan.
Psikolog ternama, Erik Erikson pernah bilang kalau pencarian identitas itu memang fase yang krusial banget. Kalau lingkungan kita suportif, kita bakal tumbuh jadi pribadi yang percaya diri. Faktor pembentukan identitas diri ini seringkali dipengaruhi oleh faktor internal yang berada dalam diri kita sendiri. Dapat berupa motivasi atau regulasi diri. Seringkali kita membutuhkan dukungan moral dari luar seperti dari keluarga, teman-teman, atau tokoh idola yang sekarang lagi happening di dunia maya, idolaku menyelamatkanku ketika aku tak yakin pada diri sendiri, namun mereka melihatku seperti sosok yang berharga.
Bagaimana kalau yang kita dapatkan bukan sebuah dukungan, melainkan berupa cemoohan dan kecaman yang menusuk seperti duri?
Dari sinilah krisis identitas itu lahir. Karena takut dibilang aneh atau dikucilkan, banyak dari kita yang pada akhirnya memilih jalan aman dengan bikin identitas semu. Kita berpura-pura menyukai apa yang mayoritas sukai.
Tapi ya kali mau terus-terusan menyamar sepanjang hidup? Pura-pura jadi orang lain itu lelahnya luar bisa, membuat diri kita hilang terkubur redup. Efek jangka panjangnya bisa membuat kita cemas, depresi, sampai merasa hampa karena tak pernah benar-benar merasa hidup. Makanya, nggak heran kalau banyak orang yang akhirnya memilih lari ke dunia maya— sebagian dari kita pada akhirnya memilih untuk memuat identity fluidity virtual atau pada zaman sekarang, hal ini disebut dengan pembuatan akun alter. Karena menurutnya, di dalam dunia ini mereka merasa aman, dan nyaman tanpa memiliki perasaan takut dijudging karena telah menjadi diri sendiri. Semuanya dilakukan secara anonim.
Mendapat dukungan moral dengan mudah, tanpa harus memaksakan diri agar dapat diterima, mengapa hal ini terasa sulit? Seperti mustahil untuk didapatkan di dunia nyata? Mengapa terasa mudah apabila dilakukan sebagai anonim di dalam dunia maya? Pertanyaan-pertanyaan itu kerap kali muncul hingga identify difussion mengincar kita yang gagal dalam pembentukan identitas diri.
Secara filosofis, filsus eksistensialis Jean-Paul Sartre punya jargon terkenal: “Condemned to be free”—manusia itu dikutuk dan diciptakan untuk bebas. Maksudnya, kita terlahir tanpa cetakan makna bawaan. Kamulah pencipta atas hidup dan makna dirimu sendiri. Kamulah pengendali atas apa yang kamu inginkan.
Sayangnya, dalam praktik sehari-hari, teori Sartre ini sering kali mental saat berhadapan dengan struktur sosial. Masyarakat kita rajin banget menetapkan “nilai tunggal”. Kalau kamu sedikit berbeda dari kebiasaan mayoritas, kamu langsung dilabeli buruk. Kebebasan berekspresi yang digadang-gadang itu seolah cuma mitos, karena struktur di sekitar kita lebih suka menyeragamkan ketimbang menghargai keberagaman.
Lantas, harus bagaimana kita menghadapi dunia yang sering kali tidak ramah ini?
Filsuf Albert Camus punya sudut pandang yang menarik soal ini. Menurut Camus, dunia ini memang penuh absurditas—dunia nggak selalu adil dan usaha kita buat diterima nggak selalu berbuah manis. Cara melawannya bukan dengan menyerah atau terus-menerus sedih, melainkan dengan menjadi “The Stranger”: berdamai dengan kenyataan bahwa dunia ini memang absurd, lalu fokus pada nilai diri sendiri tanpa peduli diktasi luar.
Nietzsche juga menambahkan konsep keren bernama will to power. Jangan biarkan kehampaan atau penolakan sosial menghancurkanmu. Jadilah ubermensch yang artinya menjadi manusia yang berani menciptakan nilainya sendiri di tengah masyarakat yang mengekang. Dan berani untuk tetap tumbuh, tetap pada pendirian teguh akan identitas diri, jangan takut akan runtuh. Karena dunia akan ikut meluruh apabila kita tetap utuh.
Dunia ini bukan cuma milik satu kelompok atau satu standar nilai. Seperti kata Jean-Francois Lyotard; kita harus bisa menghargai bahwa tiap manusia punya konteks dan perspektif yang berbeda-beda.
Parahnya lagi, situasi ini makin keruh belakangan ini. Peraturan pemerintah yang harusnya melindungi semua warga malah kerap dipakai sebagai alat legitimasi buat mendiskriminasi, mengkriminalisasi, atau memojokkan kelompok yang dianggap “anomali” dari standar mayoritas. Dalihnya ya macam-macam, dari soal nilai sosial sampai ideologi. Efeknya? Banyak orang yang akhirnya makin takut buat jadi diri sendiri di ruang publik karena merasa keselamatan mereka terancam.
Capek nggak sih melihat masyarakat kita terus-terusan dibenturkan oleh konflik horizontal yang mengorbankan kelompok minoritas, sementara masalah-masalah besar yang jauh lebih krusial malah kelelep gitu aja? Sudah saatnya kita belajar dari sejarah dengan mengetahui bahwa persatuan itu lahir dari rasa saling menghargai perbedaan, bukan dari memaksa semua orang untuk seragam.
Pada akhirnya, identitas diri itu adalah tentang kesadaran penuh akan siapa diri kita dan bagaimana hasil dari proses panjang mengeksplorasi nilai, memilih apa yang kita yakini, lalu berani menampilkannya ke dunia.
Menerima diri sendiri itu krusial banget biar kita bisa melangkah dengan percaya diri dan nggak gampang tumbang oleh krisis batin. Ketika dunia luar mulai bising dengan penolakan dan cemoohan, ajaran Albert Camus bisa kita jadikan sebagai benteng pertahanan diri, karena beliau bilang, berdamai saja dengan kenyataan bahwa dunia ini memang absurd, lalu fokus merawat nilai-nilai yang kita yakini.
Kita tidak boleh melupakan fakta bahwa pada akhirnya, setiap manusia memiliki keinginan yang sama dan sederhana; kita menginginkan hak untuk hidup dengan aman tanpa takut terdiskriminasi atau bahkan tereleminasi sosial. Sudah saatnya kita merayakan pluralitas dan menghargai perbedaan bagaimana cara seseorang memaknai dan menghargai hidupnya. Toh, pada dasarnya, nggak ada satu pun manusia di dunia ini yang ingin diperlakukan tidak adil hanya karena ia memilih untuk jujur pada dirinya sendiri.
REFERENSI
Nietzsche, F. (2005). Thus spoke Zarathustra (G. Parkes, Trans.). Oxford University Press.
Camus, A. (1955). The myth of Sisyphus (J. O’Brien, Trans.).
Sa’diyah, H., & Jannah, S. N. F. (2025). Ontologi attachment dalam dinamika keluarga: Peran orang tua dalam pembentukan identitas anak. Educazione, 13(1), 42-54.
Hidayah, N., & Huriati. (2016). Krisis identitas diri pada remaja “identity crisis of adolescences”. Sulesana, 10(1), 49-62.







