Opini
Permainan Anak-Anak Jaman Now
Published
8 years agoon
By
Mitra Wacana
Oleh Arridha Arjuliana (Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)
Masa kanak-kanak merupakan masa yang dipenuhi dengan bermain dan canda tawa bagi anak-anak, walau tak semua anak-anak di Indonesia dapat mencicipi masa kanak-kanak yang indah sebagaimana mestinya. Peran orangtua sangat berpengaruh pada perkembangan anak sejak dini, dengan menanamkan nilai sosial akan membantu sang anak kelak dalam perubahan emosi yang dimilikinya jika berinteraksi langsung dalam masyarakat.
Pendididkan Anak Usia Dini (PAUD) adalah taman belajar dan bermain bagi anak-anak dari rentang umur 0-6 tahun, yang mengajarkan anak-anak berbagai ilmu pendidikan umum, sosial/interaksi dan bermain yang baik pada anak. Pendidikan dari orangtua lebih banyak diterima anak karena waku luang anak lebih banyak dihabiskan dengan orangtua, dan umumnya anak-anak ingin tahu lebih banyak tentang lingkungan sekitar. Dalam menanggapi pertanyaan sang anak orangtua juga memiliki cara yang berbeda dalam memberi jawaban pada anak.
Pendididkan sejak dini yang diberikan orangtua pada anak tidak harus dalam bentuk ilmu pengetahuan, secara emosional juga akan mempengaruhi sang anak dalam pengenalian emosinya. Bermain merupakan kegiatan inti yang dilakukan oleh anak-anak,seperti bermain bersama orangtua dan teman-temannyahingga bermain dengan aplikasi pada gadget. Aplikasi pada gadget merangkup banyak macam permainan pada anak, seperti belajar sambil bermain, permainan asah otak bagi anak-anak hingga hiburan. Kemudahan akses internet tidak menjadi alasan bagi para orangtua untuk menunjukkannya pada anak, sehingga sang anak dapat mengakses internet dengan sendirinya.
Perubahan teknologi yang terjadi dari waktu ke waktu sangat berkembang pesat, masa kecil yang dimiliki setiap generasi juga berbeda-beda, jika dahulu permainan petak umpet dapat dimainkan oleh anak-anak hingga remaja baik perempuan maupun laki-laki, sama halnya dengan saat ini permainan mobile legend yang juga bisa dimainkan oleh anak-anak hingga remaja bahkan orang dewasa juga banyak yang menikmati permainan ini.
Permainan yang mengandalkan internet lebih dipilih oleh anak-anak saat ini untuk kepuasan kebutuhan yang diinginkan oleh mereka dibandingkan dengan bermain diluar rumah dengan mengandalkan interaksi sosial yang terjadi dalam permainan. Tak dapat dipungkiri jika bermain dengan aplikasi pada gadget memang lebih mudah didapat, hanya mengandlakan akses internet yang lancar karena setiap rumah saat ini pasti memiliki gadget yang dapat mengunduh permainan.
Peubahan teknologi komunikasi memang sangat diminati oleh para pengguna saat ini untuk memudahkan kegiatan sehari-hari dan untuk memenuhi kebutuhan yang diinginkan setiap pengguna. Tidak hanya media sosial yang diandalkan pengguna dalam proses komunikasi, tapi permainan online juga diminati pengguna untuk menghabiskan waktu luang dalam kegiatan sehari-hari. Penggunaan internet yang berlebihan mengakibatkan banyak dampak negatif pada anak, mulai dari kesehatan fisik dan mental. Posisi duduk yang sama dalam jangka waktu yang cukup lama juga berakibat pada kesehatan otak pada anak, radiasi yang diterima mata dan nilai sosial yang kurang dalam menanggapi emosi yang diterima dalam bermain online.
Kemudahan yang didapat dalam penggunaan internet juga banyak, dalam komunikasi, kebutuhan sehari-hari hingga dapat membantu anak dalam belajar. Namun banyak pula anak-anak yang mengandalkan internet untuk mencari jawaban dari pertanyaan yang mereka anggap susah, padahal dalam buku panduan pelajaran telah menyajikan materi yang cukup, karena penggunaan yang kurang baik telah terjadi jadi anak-anak lebih memilih untuk mencari jawaban di google. Belajar mengandalkan google lebih mudah bagi anak-anak daripada membaca buku yang tebal dan harus mencari jawaban berdasarkan soal yang dimiliki.
Panduan penggunaan internet bagi anak-anak harus dijelaskan oleh orangtua agar anak tidak salah dalam memanfaatkan intenet dan tidak ketagihan dalam dunia maya (virtual). Dunia virtual menjadikan anak-anak kurang bersosialisasi terhadap lingkungan, padahal nilai sosial pada anak harus ditanam sejak dini, salah satunya dengan bermain bersama teman-temannya dan bersosialisasi terhadap lingkungan sekolah dan rumah. Hubungan komunikasi antara anak dan orangtua juga sangat penting untuk menumbuhkan nilai sosial pada anak, krena orangtua adalah guru pertama dan berpengaruh bagi anak-anaknya.
Biografi Penulis
Nama : Arridha Arjuliana
Pendidikan saat ini : Mahasiwa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Fak.Dakwah
You may like
Opini
Krisis Kesantunan Berbahasa dalam Hate Comment pada Kolom Komentar Instagram @ahmaddhaniofficial
Published
2 days agoon
23 June 2026By
Mitra Wacana

Adela Damanik mahasiswi Sastra Indonesia di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas
Pada tanggal 20 Mei lalu, akun Instagram @ahmaddhaniofficial mendapatkan 700 lebih komentar buruk. Sebuah unggahan yang menampilkan Ahmad Dhani bersama istrinya saat menghadiri sebuah rapat dengan keterangan, “Barusan dengar pidato Presiden yang revolusioner soal menentukan sendiri harga sawit, batu bara, nikel, dan lain-lain. Slide 2 video colongan Raffi Ahmad,” dihujani komentar-komentar berupa opini, kritik pedas, hujatan, hingga kata-kata kasar yang ditujukan kepada Ahmad Dhani dan istrinya. Fenomena hate comment seperti ini sepertinya sudah dinormalisasikan di ruang digital kita.
Berdasarkan data Napoleon Cat pada Januari 2026, jumlah pengguna Instagram di Indonesia mencapai 121, 54 juta pengguna, atau setara dengan 42,4% dari total populasi penduduk Indonesia. Tingginya angka tersebut, menunjukkan bahwa masyarakat lebih memilih berkomunikasi di dunia maya. Platform ini memang media yang mudah untuk berkomunikasi, berinteraksi, berekspresi, dan berkolaborasi, berbagi, menyampaikan pendapat atau kririk secara virtual (Aji, 2023). Kita dapat melontarkan apapun dengan siapapun, kapanpun, dan dimanapun. Namun, kemudahan ini justru membuat interaksi di dunia maya menjadi pisau bermata dua. Alih-alih membuat obrolan makin seru, komentar yang dilontarkan kerap memicu konflik.
Berlindung dibalik “kebebasan berpendapat” membuat membuat kita sebagai netizen sering sekali asal dalam berbicara. Netizen cenderung melontarkan komentar buruk kepada penerima tuturan tanpa memikirkan perasaan si penerima tuturan. Etika berbicara yang biasanya dijaga ketika berkomunikasi secara langsung, mendadak hilang saat jari mulai menari di atas layar gawai. Apabila hal terus dinormalisasikan, media sosial yang awalnya menjadi ruang interaksi yang sehat justru berbalik menjadi lingkungan toxic yang memudarkan kesantunan berbahasa.
Untungnya, persoalan ini dapat diatasi dengan sebuah ilmu bahasa, khususnya dalam kajian pragmatik. Ada satu teori yang menerapkan enam aturan dalam menjaga kesantunan berbahasa. Keenam aturan ini dirumuskan dalam teori prinsip kesantunan berbahasa Geoffrey Leech yang terdiri dari: maksim kearifan, kedermawanan, penghargaan, kesederhanaan, kemufakatan, dan kesimpatian.
Namun, teori tetaplah teori jika tidak dipraktikkan. Ratusan hate comment pada akun Instagram Ahmad Dhani tersebut bukan lagi sekadar kebebasan berekspresi, melainkan wujud nyata pelanggaran prinsip kesantunan berbahasa. Lantas, seperti apa persisnya bentuk-bentuk pelanggaran yang dilakukan netizen saat sedang memuaskan ego untuk mengkritik orang lain?
- Maksim Kearifan
Maksim kearifan dalam hal yang bersifat imposisi dan komisi, yang umumnya diterapkan dalam tindak tutur ilokusi direktif dan komisif. Prinsip ini meminimalkan beban atau kerugian bagi orang lain, serta memaksimalkan keuntungan atau manfaat bagi mitra tutur. Dalam kegiatan bertutur, maksim ini menuntut penutur untuk selalu mengurangi keuntungan diri sendiri demi memprioritaskan kenyamanan pihak lain. Pelanggaran maksim kearifan, yaitu peserta tutur memaksimalkan kerugian orang lain, atau meminimalkan keuntungan orang lain. Bentuk pelanggaran maksim penghargaan terdapat pada tuturan berikut:
Aithoshoutai: “@secondrecht.catalogue dodol barang gak jelas gak usah nyocot cok 😂” (Jual barang gak jelas gak usah nyocot cok 😂)
Tuturan @aithoshoutai termasuk pelanggaran maksim kebijaksanaan karena memaksimalkan kerugian orang lain. Maksud dari akun instagram @aithoshoutai adalah menyampaikan ketidaksetujuan dengan pendapat akun instagram @secondrecht.catalogue, tetapi tidak menggunakan bahasa yang tidak santun dan merugikan orang lain dengan menjelek-jelekkan jualan orang lain.
- Maksim Kedermawanan
Penutur meminimalkan keuntungan bagi diri sendiri dan memaksimalkan keuntungan bagi orang lain. Pelanggaran maksim kedermawanan, yaitu peserta pertuturan memaksimalkan atau memperbanyak keuntungan bagi diri sendiri dan meminimalkan keuntungan bagi pihak lain. Namun, maksim kedermawanan tidak terdapat pada kolom komentar @ahmaddhaniofficial.
- Maksim Penghargaan
Penutur meminimalkan kritik/celaan terhadap orang lain dan memaksimalkan pujian kepada orang lain. Pelanggaran maksim penghargaan ini, yaitu tidak memberikan penghargaan pada pihak lain. Bentuk pelanggaran maksim penghargaan terdapat pada tuturan berikut:
Zahra_store_pekalongan: “NGGAK PANTAS JADI ANGGOTA DPR. YG MILIH SOPO TO.” (Nggak pantas jadi anggota DPR. Yg milih siapa sih.)
Tuturan akun instagram @zahra_store_pekalongan termasuk pelanggaran maksim kebijaksanaan karena memaksimalkan penghinaan terhadap pihak lain, yaitu Ahmad Dhani dan Mulan Jamela. Pengguna instagram tersebut secara tidak langsung ingin menyampaikan maksud bahwa Ahmad Dhani dan Mulan Jamela tidak bekerja dengan baik dengan menyampaikan penghinaan secara langsung melalui ungkapan “Nggak pantas jadi anggota DPR.”
- Maksim Kesederhanaan
Penutur yang santun meminimalkan pujian terhadap dirinya sendiri dan memaksimalkan celaan/kerendahan terhadap dirinya sendiri. Menyombongkan diri atau menyetujui pujian tentang diri sendiri dianggap tidak santun. Pelanggaran maksim ini yaitu peserta tutur tidak dapat bersikap rendah hati dengan cara menambah pujian terhadap dirinya sendiri. Namun, maksim kesederhanaan tidak terdapat pada kolom komentar @ahmaddhaniofficial.
- Maksim Kemufakatan
Penutur harus mengurangi ketidak sesuaian antara diri sendiri dengan orang lain, dan tingkatkan persesuaian antara diri sendiri dengan orang lain. Pelanggaran maksim ini yaitu penutur dan lawan tutur meminimalkan kesetujuan di antara mereka, dan memaksimalkan ketidaksetujuan di antara mereka.
Secondrecht.catalogue: “Revolusioner ndasmu 😂.” (Revolusioner mulutmu 😂.)
Tuturan akun instagram @secondrecht.catalogue termasuk pelanggaran maksim kemufakatan karena memaksimalkan perbedaan pendapat dan meminimalkan kesetujuan yang sesuai dengan konteks postingan. Pengguna instagram tesebut secara tidak langsung menyampaikan ketidaksetujuan terhadap pidato presiden mengenai revolusioner melalui ungkapan “Ndasmu,” di mana kata ndasmu merupakan bahasa kasar dari Bahasa Jawa yang memiliki artimu mulutmu.
- Maksim kesimpatian
Maksim kesimpatian mengharuskan semua peserta pertuturan untuk memaksimalkan rasa simpati, dan meminimalkan rasa antipati kepada lawan tuturnya. Pelanggaran maksim ini, yaitu peserta pertuturan tidak memaksimalkan rasa simpati, dan tidak meminimalkan rasa antipasti kepada lawan tuturnya.
Muh.philow2020: “Jin kampret emang jodoh sama jin dasim 😂😂.” (Jin kampret emang jodoh sama jin dasim 😂😂.)
Tuturan akun instagram @muh.philow2020 termasuk pelanggaran maksim kesimpatian karena meminimalkan simpati dan memaksimalkan antipati. Pengguna instagram menggunaakan bahasa yang tidak santun dengan menyebutkan Jin Kampret dan Jin Dasim sebagai Ahmad Dhani dan Mulan Jameela. Penutur menyampaikan ketidaksukaannya terhadap orang lain dengan menamai manusia sebagai jin. Padahal unggahan akun @ahmaddhaniofficial tidak ada yang salah, hanya mengunggah foto ia bersama sang istri pada slide pertama dan keadaan ruang sidang pada slide kedua.
Pada akhirnya, ratusan komentar negatif di akun @ahmaddhaniofficial membuktikan bahwa netizen Indoensia memang sedang mengalami krisis kesantunan yang cukup parah. Melalui teori Geoffrey Leech, terbukti bahwa banyak netizen secara sadar maupun tidak sadar telah melanggar maksim kearifan, penghargaan, kemufakatan, hingga kesimpatian. Alih-alih meredam ego, pengguna media sosial justru sering kali memaksimalkan celaan dan antipati terhadap orang lain dengan berlindung di balik “kebebasan berpendapat“. Oleh karena itu, masyarakat harus kembali menerapkan etika berbahasa dunia nyata ke dalam interaksi dunia maya, agar kebebasan berpendapat tidak terus-menerus disalahartikan sebagai kebebasan untuk saling menghujat.

Krisis Kesantunan Berbahasa dalam Hate Comment pada Kolom Komentar Instagram @ahmaddhaniofficial

Mandi Untuk Menjaga Atau Merusak Skin Barrier? Evaluasi Dan Jaga Skin Barrier






