Opini
Permainan Anak-Anak Jaman Now
Published
9 years agoon
By
Mitra Wacana
Oleh Arridha Arjuliana (Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)
Masa kanak-kanak merupakan masa yang dipenuhi dengan bermain dan canda tawa bagi anak-anak, walau tak semua anak-anak di Indonesia dapat mencicipi masa kanak-kanak yang indah sebagaimana mestinya. Peran orangtua sangat berpengaruh pada perkembangan anak sejak dini, dengan menanamkan nilai sosial akan membantu sang anak kelak dalam perubahan emosi yang dimilikinya jika berinteraksi langsung dalam masyarakat.
Pendididkan Anak Usia Dini (PAUD) adalah taman belajar dan bermain bagi anak-anak dari rentang umur 0-6 tahun, yang mengajarkan anak-anak berbagai ilmu pendidikan umum, sosial/interaksi dan bermain yang baik pada anak. Pendidikan dari orangtua lebih banyak diterima anak karena waku luang anak lebih banyak dihabiskan dengan orangtua, dan umumnya anak-anak ingin tahu lebih banyak tentang lingkungan sekitar. Dalam menanggapi pertanyaan sang anak orangtua juga memiliki cara yang berbeda dalam memberi jawaban pada anak.
Pendididkan sejak dini yang diberikan orangtua pada anak tidak harus dalam bentuk ilmu pengetahuan, secara emosional juga akan mempengaruhi sang anak dalam pengenalian emosinya. Bermain merupakan kegiatan inti yang dilakukan oleh anak-anak,seperti bermain bersama orangtua dan teman-temannyahingga bermain dengan aplikasi pada gadget. Aplikasi pada gadget merangkup banyak macam permainan pada anak, seperti belajar sambil bermain, permainan asah otak bagi anak-anak hingga hiburan. Kemudahan akses internet tidak menjadi alasan bagi para orangtua untuk menunjukkannya pada anak, sehingga sang anak dapat mengakses internet dengan sendirinya.
Perubahan teknologi yang terjadi dari waktu ke waktu sangat berkembang pesat, masa kecil yang dimiliki setiap generasi juga berbeda-beda, jika dahulu permainan petak umpet dapat dimainkan oleh anak-anak hingga remaja baik perempuan maupun laki-laki, sama halnya dengan saat ini permainan mobile legend yang juga bisa dimainkan oleh anak-anak hingga remaja bahkan orang dewasa juga banyak yang menikmati permainan ini.
Permainan yang mengandalkan internet lebih dipilih oleh anak-anak saat ini untuk kepuasan kebutuhan yang diinginkan oleh mereka dibandingkan dengan bermain diluar rumah dengan mengandalkan interaksi sosial yang terjadi dalam permainan. Tak dapat dipungkiri jika bermain dengan aplikasi pada gadget memang lebih mudah didapat, hanya mengandlakan akses internet yang lancar karena setiap rumah saat ini pasti memiliki gadget yang dapat mengunduh permainan.
Peubahan teknologi komunikasi memang sangat diminati oleh para pengguna saat ini untuk memudahkan kegiatan sehari-hari dan untuk memenuhi kebutuhan yang diinginkan setiap pengguna. Tidak hanya media sosial yang diandalkan pengguna dalam proses komunikasi, tapi permainan online juga diminati pengguna untuk menghabiskan waktu luang dalam kegiatan sehari-hari. Penggunaan internet yang berlebihan mengakibatkan banyak dampak negatif pada anak, mulai dari kesehatan fisik dan mental. Posisi duduk yang sama dalam jangka waktu yang cukup lama juga berakibat pada kesehatan otak pada anak, radiasi yang diterima mata dan nilai sosial yang kurang dalam menanggapi emosi yang diterima dalam bermain online.
Kemudahan yang didapat dalam penggunaan internet juga banyak, dalam komunikasi, kebutuhan sehari-hari hingga dapat membantu anak dalam belajar. Namun banyak pula anak-anak yang mengandalkan internet untuk mencari jawaban dari pertanyaan yang mereka anggap susah, padahal dalam buku panduan pelajaran telah menyajikan materi yang cukup, karena penggunaan yang kurang baik telah terjadi jadi anak-anak lebih memilih untuk mencari jawaban di google. Belajar mengandalkan google lebih mudah bagi anak-anak daripada membaca buku yang tebal dan harus mencari jawaban berdasarkan soal yang dimiliki.
Panduan penggunaan internet bagi anak-anak harus dijelaskan oleh orangtua agar anak tidak salah dalam memanfaatkan intenet dan tidak ketagihan dalam dunia maya (virtual). Dunia virtual menjadikan anak-anak kurang bersosialisasi terhadap lingkungan, padahal nilai sosial pada anak harus ditanam sejak dini, salah satunya dengan bermain bersama teman-temannya dan bersosialisasi terhadap lingkungan sekolah dan rumah. Hubungan komunikasi antara anak dan orangtua juga sangat penting untuk menumbuhkan nilai sosial pada anak, krena orangtua adalah guru pertama dan berpengaruh bagi anak-anaknya.
Biografi Penulis
Nama : Arridha Arjuliana
Pendidikan saat ini : Mahasiwa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Fak.Dakwah
You may like
Opini
Ilusi Kebebasan: Ketika Struktur Mengekang Identitas Diri
Published
7 days agoon
18 August 2026By
Mitra Wacana

Hafizh Achmad Fauzan seorang mahasiswa dari Universitas Pendidikan Indonesia
Sulitnya menjadi diri sendiri di tengah masyarakat yang sedikit-sedikit mengatakan, “kamu aneh”
Pernah nggak sih kamu merasa harus selalu memakai “topeng” setiap kali kamu beranjak keluar rumah? Dihadapan teman, keluarga, atau bahkan tetangga, kita selalu mencoba berakting menjadi sosok yang manut-manut saja sama standar yang sudah mereka terapkan. Tetapi begitu sampai di kamar, mengunci pintu, lalu merebahkan diri, disanalah kita baru bisa bernafas lega dan bertanya-tanya kepada diri sendiri: “sebenernya, yang tadi aku tunjukkan itu aku atau siapa, sih?”
Pertanyaan mengenenai, “siapa sih aku sebenarnya” itu bukan cuma lamunan impulsif sebelum tidur, ia adalah sebuah pertanda bahwa ada kekosongan di dalam diri yang minta diisi.
Secara alami, kita pun mulai mencari jawaban ke luar. Kita menjelajahi internet, mengobrol sama teman, sampai menyerap berbagai informasi demi menemukan identitas yang terasa, “ini aku banget”. Begitu merasa sudah ketemu dan siap membagikannya ke dunia nyata, plak! Realita menampar keras. Lingkungan sosial kita bukannya menyambut dengan tangan terbuka, tapi malah mengecap identitas itu sebagai sebuah “anomali”—sesuatu yang aneh, salah, atau wajib diluruskan.
Psikolog ternama, Erik Erikson pernah bilang kalau pencarian identitas itu memang fase yang krusial banget. Kalau lingkungan kita suportif, kita bakal tumbuh jadi pribadi yang percaya diri. Faktor pembentukan identitas diri ini seringkali dipengaruhi oleh faktor internal yang berada dalam diri kita sendiri. Dapat berupa motivasi atau regulasi diri. Seringkali kita membutuhkan dukungan moral dari luar seperti dari keluarga, teman-teman, atau tokoh idola yang sekarang lagi happening di dunia maya, idolaku menyelamatkanku ketika aku tak yakin pada diri sendiri, namun mereka melihatku seperti sosok yang berharga.
Bagaimana kalau yang kita dapatkan bukan sebuah dukungan, melainkan berupa cemoohan dan kecaman yang menusuk seperti duri?
Dari sinilah krisis identitas itu lahir. Karena takut dibilang aneh atau dikucilkan, banyak dari kita yang pada akhirnya memilih jalan aman dengan bikin identitas semu. Kita berpura-pura menyukai apa yang mayoritas sukai.
Tapi ya kali mau terus-terusan menyamar sepanjang hidup? Pura-pura jadi orang lain itu lelahnya luar bisa, membuat diri kita hilang terkubur redup. Efek jangka panjangnya bisa membuat kita cemas, depresi, sampai merasa hampa karena tak pernah benar-benar merasa hidup. Makanya, nggak heran kalau banyak orang yang akhirnya memilih lari ke dunia maya— sebagian dari kita pada akhirnya memilih untuk memuat identity fluidity virtual atau pada zaman sekarang, hal ini disebut dengan pembuatan akun alter. Karena menurutnya, di dalam dunia ini mereka merasa aman, dan nyaman tanpa memiliki perasaan takut dijudging karena telah menjadi diri sendiri. Semuanya dilakukan secara anonim.
Mendapat dukungan moral dengan mudah, tanpa harus memaksakan diri agar dapat diterima, mengapa hal ini terasa sulit? Seperti mustahil untuk didapatkan di dunia nyata? Mengapa terasa mudah apabila dilakukan sebagai anonim di dalam dunia maya? Pertanyaan-pertanyaan itu kerap kali muncul hingga identify difussion mengincar kita yang gagal dalam pembentukan identitas diri.
Secara filosofis, filsus eksistensialis Jean-Paul Sartre punya jargon terkenal: “Condemned to be free”—manusia itu dikutuk dan diciptakan untuk bebas. Maksudnya, kita terlahir tanpa cetakan makna bawaan. Kamulah pencipta atas hidup dan makna dirimu sendiri. Kamulah pengendali atas apa yang kamu inginkan.
Sayangnya, dalam praktik sehari-hari, teori Sartre ini sering kali mental saat berhadapan dengan struktur sosial. Masyarakat kita rajin banget menetapkan “nilai tunggal”. Kalau kamu sedikit berbeda dari kebiasaan mayoritas, kamu langsung dilabeli buruk. Kebebasan berekspresi yang digadang-gadang itu seolah cuma mitos, karena struktur di sekitar kita lebih suka menyeragamkan ketimbang menghargai keberagaman.
Lantas, harus bagaimana kita menghadapi dunia yang sering kali tidak ramah ini?
Filsuf Albert Camus punya sudut pandang yang menarik soal ini. Menurut Camus, dunia ini memang penuh absurditas—dunia nggak selalu adil dan usaha kita buat diterima nggak selalu berbuah manis. Cara melawannya bukan dengan menyerah atau terus-menerus sedih, melainkan dengan menjadi “The Stranger”: berdamai dengan kenyataan bahwa dunia ini memang absurd, lalu fokus pada nilai diri sendiri tanpa peduli diktasi luar.
Nietzsche juga menambahkan konsep keren bernama will to power. Jangan biarkan kehampaan atau penolakan sosial menghancurkanmu. Jadilah ubermensch yang artinya menjadi manusia yang berani menciptakan nilainya sendiri di tengah masyarakat yang mengekang. Dan berani untuk tetap tumbuh, tetap pada pendirian teguh akan identitas diri, jangan takut akan runtuh. Karena dunia akan ikut meluruh apabila kita tetap utuh.
Dunia ini bukan cuma milik satu kelompok atau satu standar nilai. Seperti kata Jean-Francois Lyotard; kita harus bisa menghargai bahwa tiap manusia punya konteks dan perspektif yang berbeda-beda.
Parahnya lagi, situasi ini makin keruh belakangan ini. Peraturan pemerintah yang harusnya melindungi semua warga malah kerap dipakai sebagai alat legitimasi buat mendiskriminasi, mengkriminalisasi, atau memojokkan kelompok yang dianggap “anomali” dari standar mayoritas. Dalihnya ya macam-macam, dari soal nilai sosial sampai ideologi. Efeknya? Banyak orang yang akhirnya makin takut buat jadi diri sendiri di ruang publik karena merasa keselamatan mereka terancam.
Capek nggak sih melihat masyarakat kita terus-terusan dibenturkan oleh konflik horizontal yang mengorbankan kelompok minoritas, sementara masalah-masalah besar yang jauh lebih krusial malah kelelep gitu aja? Sudah saatnya kita belajar dari sejarah dengan mengetahui bahwa persatuan itu lahir dari rasa saling menghargai perbedaan, bukan dari memaksa semua orang untuk seragam.
Pada akhirnya, identitas diri itu adalah tentang kesadaran penuh akan siapa diri kita dan bagaimana hasil dari proses panjang mengeksplorasi nilai, memilih apa yang kita yakini, lalu berani menampilkannya ke dunia.
Menerima diri sendiri itu krusial banget biar kita bisa melangkah dengan percaya diri dan nggak gampang tumbang oleh krisis batin. Ketika dunia luar mulai bising dengan penolakan dan cemoohan, ajaran Albert Camus bisa kita jadikan sebagai benteng pertahanan diri, karena beliau bilang, berdamai saja dengan kenyataan bahwa dunia ini memang absurd, lalu fokus merawat nilai-nilai yang kita yakini.
Kita tidak boleh melupakan fakta bahwa pada akhirnya, setiap manusia memiliki keinginan yang sama dan sederhana; kita menginginkan hak untuk hidup dengan aman tanpa takut terdiskriminasi atau bahkan tereleminasi sosial. Sudah saatnya kita merayakan pluralitas dan menghargai perbedaan bagaimana cara seseorang memaknai dan menghargai hidupnya. Toh, pada dasarnya, nggak ada satu pun manusia di dunia ini yang ingin diperlakukan tidak adil hanya karena ia memilih untuk jujur pada dirinya sendiri.
REFERENSI
Nietzsche, F. (2005). Thus spoke Zarathustra (G. Parkes, Trans.). Oxford University Press.
Camus, A. (1955). The myth of Sisyphus (J. O’Brien, Trans.).
Sa’diyah, H., & Jannah, S. N. F. (2025). Ontologi attachment dalam dinamika keluarga: Peran orang tua dalam pembentukan identitas anak. Educazione, 13(1), 42-54.
Hidayah, N., & Huriati. (2016). Krisis identitas diri pada remaja “identity crisis of adolescences”. Sulesana, 10(1), 49-62.

Bioskop Rakyat Fest #03 Sukses Digelar di Demangrejo: Padukan Seni Budaya, Kampanye Anti-Perdagangan Orang, dan Pemberdayaan Desa

Beri Jalan Ulama Perempuan dalam Keanggotaan AHWA di Muktamar 3







