web analytics
Connect with us

Opini

Pierre Bourdieu dan Maskulinitas

Mitra Wacana WRC

Published

on

Gambaran Pilihan Bentuk
Waktu dibaca: 8 menit
arif sugeng widodo

Arif Sugeng Widodo

Oleh Arif Sugeng Widodo

Persoalan kesetaraan dan keadilan gender merupakan persoalan lama yang sampai saat ini masih menjadi diskursus menarik dalam berbagai kajian. Persoalan-persoalan ketidakadilan gender masih terjadi di banyak belahan dunia bahkan di lingkungan kita. Banyak yang berkeyakinan bahwa laki-laki diciptakan lebih dominan, lebih super daripada perempuan. Hal tersebut dikuatkan dengan budaya patriakhi yang berkembang hampir diseluruh wilayah dunia. Selain budaya patriarkhi yang terbentuk, beberapa tafsir keagamaan juga ikut memperkuat pandangan laki-laki memang diciptakan lebih tinggi derajatnya dari pada perempuan. Sampai saat ini kajian tentang relasi gender belumlah benar-benar selesai masih banyak pertentangan-pertentangan dan perdebatan dalam isu tersebut.

Kajian tentang relasi laki-laki dan perempuan menjadi kajian yang menarik saat dikaitkan dengan perubahan sosial. Ada pertanyaan mendasar yang sering muncul, kenapa peran-peran perempuan sepertinya hanyalah subordinat dari peran laki-laki. Peran perempuan dianggap pelengkap dari sekian peran yang ada. Laki-lakilah pemegang otoritas penentu peran apa yang mestinya dilakukan oleh laki-laki maupun perempuan. Bahwa laki-laki dipandang pemegang otoritas dan memang harus mendominasi menjadi anggapan umum, jika ada lelaki yang tidak punya otoritas atau dominasinya kurang terhadap perempuan maka akan dipertanyakan “kelaki-lakiannya”. Laki-laki harus lebih kuat dan berkuasa dipandang sebagai keharusan jika tidak maka akan dianggap menghina kaum laki-laki.

Isu relasi antara laki-laki dan perempuan ini sepertinya membuat tertarik seorang ahli ilmu sosial yang juga juga seorang filsuf Pierre Bourdieu untuk mengkajinya lewat bukunya yang berjudul Dominasi maskulin. Relasi antara laki-laki dan perempuan terhubung melalui simbol-simbol yang dipakai. Melalui simbol-simbol inilah kualitas relasi dapat dilihat dan diukur. Simbol telah memainkan peranan penting terhadap sejauh mana relasi dapat dikatakan adil dan setara. Lewat simbol inilah Bourdieu melihat ada kekerasa simbolik, kekerasan yang terkonstruksi lewat simbol-simbol yang terbangun lewat budaya dan kebiasaan-kebiasan. Kekerasan simbolik begitu halus hingga kadang tidak terlihat bahwa sedang terjadi kekerasan struktural dan kultural dalam masyarakat.

Pierre Bourdieu, filsuf yang sangat paham sosiologi dan antropologi, lahir pada tahun 1930 di Prancis di desa Denguin (distrik pyreenes-antlatiques) di bagian perancis selatan. Bourdieu sempat belajar filsafat bersama Louis Althusser di Ecole normale Superieure di Prancis. Bourdieu pernah bergabung dalam ketentaraan Prancis dan sempat dikirim ke Aljazair. Bahkan pada tahun 1958 sempat mengajar di universitas Aljazair. Setelah kembali ke Prancis ,Bourdieu menjadi pengajar di Universitas di Prancis. Sosiologi menjadi bidang yang digelutinya di Universitas. Bourdieu meninggal pada usia 71 pada di tahun 2002 karena penyakit kanker, menikah dengan Marie-Claire Brizard dan mempunyai tiga anak dari pernikahnya tersebut.

Buku Dominasi Maskulin yang ditulis oleh Bourdieu ditulis berdasarkan penelitian etnografi di masyarakat Qubail, Aljazair di daerah Mediterania. Tradisi Qubail memiliki tradisi yang tidak jauh dengan tradisi wilayah mediterania lainnya (Yunani, Italia, Spanyol, mesir, Turki, dll). Walaupun awalnya dengan pendekatan etnografi yang antropologis kajian yang dihasilkannya sangat filosofis. Sebenarnya banyak tradisi yang kalau dilihat dari sudut pandang dominasi maskulin hampir seluruh tradisi yang ada didunia ini didominasi tradisi yang patriarkis. Walaupun di beberapa tradisi tertentu pendekatan Matrilineal juga ada dan cukup kental pengaruhnya, tapi disatu sisi itu tidak menghapus dominasi laki-laki dalam bidang-bidang tertentu.

Pembagian peran berdasarkan jenis kelamin merupakan sejarah kultural yang bisa dikatakan sebagai tradisi yang paling tua. Struktur tubuh jadi penentu manusia mendapatkan peran yang seperti apa. Secara umum peran-peran awal dibedakan berdasarkan jenis kelamin. Peran peran yang disepakati sebagai peran publik akan lebih didominasi oleh laki-laki dan peran-peran yang disepakati sebagai peran domestik akan lebih banyak dilakukan oleh perempuan. Hal tersebut sudah menjadi “kesepakatan” umum yang “disepakati”. Konstruksi sosial itu melegitimasi peran-peran yang sudah menempel erat pada laki-laki dan perempuan serta merupakan bentuk ratifikasi terhadap dominasi maskulin (Bourdieu, 2010:13). Ruang-ruang publik di beberapa kasus tidaklah domain laki-laki saja, pasar adalah salah satu contohnya. Tapi kalau diperhatikan barang-barang yang dijual oleh perempuan kebanyakan adalah barang-barang yang mendukung kebutuhan domestik yang “erat” dengan perempuan.

Pembahasan mengenai peran antara laki-laki dan perempuan ini memang tidak lepas dari periodisasi apa dan dimana perbandingan itu dilakukan. Kalau di Indonesia sendiri saat masih jaman feodal akan berbeda saat jaman kolonial dan akan berbeda saat jaman kemerdekaan dan setelahnya. Masing masing jaman punya bentuk relasi yang berbeda antara laki-laki dan perempuan, namun bukan berarti bentuk-bentuk dominasi yang diyakini “memang seharusnya” itu hilang. Tetap terjadi disparitas relasi yang kuat yang berdasarkan bangunan kultural yang sangat kuat yang tidak bisa berubah cepat.

Perbedaan tubuh khususnya perbedaan seksual antara laki-laki dan perempuan menjadi salah satu bagian tidak terpisahkan bagaimana posisi yang satu dianggap lebih tinggi daripada yang lain. Di banyak tradisi menjadi laki-laki adalah suatu kehormatan tersendiri. Laki-laki memperoleh posisi prestise di masyarakat bahkan sejak bayi laki-laki ini lahir di dunia. Kejantanan adalah sebutan kebanggaan, suatu gambaran keperkasaan laki-laki sejati. Kejantanan kadang tidak sekedar digambarkan secara seksual tapi juga secara sosial. Orang dianggap jantan saat orang tersebut mengikuti tradisi-tradisi yang dianggap sangat laki-laki/maskulin. Laki-laki tidak boleh menangis karena itu diluar tradisi laki-laki yang tegar dan tegas. Laki-laki tidak boleh lemah dihadapan perempuan karena itu diluar tradisi laki-laki yang secara tradisi derajatnya lebih tinggi. Laki-laki dianggap jantan kalau merokok dan pandangan tersebut selalu terus direproduksi untuk menegaskan pada anak-anak lelaki.

Bukan hanya tubuh yang dikonstruksi secara sosial tapi juga kebiasaan-kebiasaan, tradisi, serta budaya dikonstruksi untuk menguatkan posisi laki-laki yang superior. Organ seksual sebagai bagian dari tubuh mendapatkan konstruksi secara sosial mewakili tubuh itu sendiri. Jenis kelamin menjadi sangat penting secara sosial, sejauh mana jenis kelamin tersebut akan mendapatkan perlakuan sosial yang berbeda. “Demikianlah, definisi sosial organ-organ seksual adalah produk dari suatu konstruksi. Konstruksi itu dibangun berdasarkan suatu rangkaian pilihan yang telah diarahkan. Atau dengan kata lain, definisi sosial organ-organ itu merupakan produk dari suatu konstruksi yang dibentuk dengan penekanan terhadap beberapa perbedaan tertentu atau lewat skotomisasi terhadap beberapa persamaan tertentu. Definisi sosial itu bukan hanya merupakan pernyataan sederhana atribut-atribut natural yang langsung ditujukan bagi persepsi.” (Bourdieu, 2010:19-20).

Tubuh manusia baik itu laki-laki maupun perempuan mestinya mempunyai otoritasnya sendiri. Tubuh perempuan mestinya juga mempunyai kemerdekaannya sendiri namun sering secara sosialnya akhirnya harus melepaskan otoritasnya tersebut dan tunduk pada tradisi-tradisi yang berlaku. Di masyarakat Qubail digambarkan oleh Bourdieu perempuan harus menghindari tempat-tempat publik, pandangnya tidak boleh melihat area publik sehingga kalau berjalan harus menundukkan pandangannya dan melihat kakinya sendiri. Menunjukkan wajah, dahi, memandang wajah dan mata serta berbicara secara publik adalah domain laki-laki yang dimonopoli oleh laki-laki (Bourdieu,2010:24).

Pernyataan-peryataan yang menunjukkan relasi seksual antara laki-laki dan perempuan sering menunjukkan dominasi laki-laki dan perempuan. Posisi laki-laki yang diatas dan perempuan dibawah dianggap keberhasilan laki-laki mewujudkan dominasinya terhadap perempuan secara seksual. Bahwa perempuan adalah pihak yang pasif dan laki-laki adalah pihak yang aktif secara seksual adalah bahasa simbol dominasi laki-laki terhadap perempuan. Perempuan digambarkan pihak yang menerima saja, pihak yang tidak bisa berinisiatif dan tunduk apa yang laki-laki lakukan. Laki-laki menerapkan kekuasannya dalam relasi seksualnya, relasi seksual menjadi ajang dominasi laki-laki terhadap perempuan (Bourdieu, 2010: 27).

Laki-laki menjadi pelaku atas sebuah tindakan kekerasan yang mereka anggap suatu yang “wajar” dilakukan kepada perempuan. Pada saat terjadi kasus KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga) misalnya dahulu orang menganggap wajar bahwa suami memberi “pelajaran” kepada istrinya dengan menampar, memukul atau sekedar mendiamkan saja. Masyarakat menganggap apa yang dilakukan oleh suami adalah untuk mendidik istri agar menjadi istri yang patuh dan sholehah. Tindakan kekerasan adalah cara yang ampuh untuk mendidik istri agar menurut pada suami. Suami adalah pemegang otoritas penuh rumah tangga sehingga sebagai pemilik kuasa suami bisa melakukan apapun agar keluarga menjadi “baik”.

Tindakan kekerasan yang dilakukan diranah domestik dalam rumah tangga dianggap oleh masyarakat sebagai urusan privat keluarga tersebut. Kekerasanpun dibiarkan menjadi urusan privat dari rumah tangga yang bersangkutan. Secara langsung maupun tidak langsung masyarakat mengamini kultur yang terbangun bahwa istri (perempuan) adalah manusia subordinat dari laki-laki. Masyarakat membangun nilai-nilai yang melegitimasi laki-laki bisa berbuat apa saja terhadap perempuan. Hal tersebut senada dengan yang diungkapkan oleh Simone De Beauvoir:  “Melalui perkawinan, perempuan tidak lagi dipinjamkan dari satu klan ke klan yang lainnya: ia betul-betul tercerabut dari kelompok tempat ia lahir,lalu dikuasai oleh kelompok suaminya. Sang suami membeli perempuan layaknya membeli hewan ternak atau budak;ia memaksakan kepada para dewa domestiknya terhadapnya; dan anak-anak yang lahir kemudian menjadi milik keluarga sang suami.

Seumpama perempuan menjadi pewaris,hingga tingkatan yang eksesif ia akan meneruskan kekayaan keluarga ayahnya kepada suaminya;dengan hati-hati perempuan tidak dilibatkan dalam proses suksesi. Namun sebaliknya, karena karena tidak memiliki apa-apa, perempuan tidak merasakan martabat menjadi seseorang. Ia sendiri menjadi bagian dari patrimony laki-laki: pertama sang ayah, kemudian suaminya. Dibawah garis patrialkal yang keras, sang ayah, sejak kelahiran anak-anaknya, dapat memutuskan kematian baik anak laki-laki atau anak perempuan; namun dalam kasus sebelumnya, masyarakat biasanya membatasi kekuasaan itu. Setiap anak laki-laki yang lahir normal dibiarkan hidup, sedangkan kebiasaan mengacuhkan kelahiran anak perempuan meluas ( De Beauvoir,2003: 121)

Banyak kasus kekerasan seksual pelakunya adalah laki-laki. Korban bisa sangat beragam dari perempuan yang masih anak-anak, remaja, dewasa bahkan orangtua. Bahkan kasus kekerasan seksual jamak dilakukan bersama-sama oleh sekelompok laki-laki. Kasus perkosaan yang dilakukan bersama sama oleh laki-laki menjadi suatu obrolan “kebanggan” telah membuktikan diri sebagai laki-laki. Perempuan dijadikan semacam objek buruan, pada saat telah mendapatkannya maka seorang laki-laki diakui sebagai laki-laki oleh komunitasnya. Seperti yang diungkapkan Bourdieu: Beberapa bentuk “keberanian”secara paradoksal mendapatkan prinsipnya dalam ketakutan kehilangan kehilangan penghargaan dan kekaguman kelompoknya, ketakutan “kehilangan muka” di depan “teman-teman”, dan ketakutan kalau-kalau ditaruh dalam kategori feminin sebagai kaum “lemah”atau “mauviettes (perempuan yang buruk)”, “femmelettes (betina kecil), “gay”, dan lain-lain (Bourdieu, 2010: 75).

Laki-laki kadang takut tidak dianggap “laki-laki” oleh komunitasnya karena tidak berani melakukan sesuatu yang dianggap sebagai kebiasaan laki-laki. Laki-laki dipersepsikan sebagai penakluk perempuan, kalau tidak bisa menaklukkan perempuan maka diragukan kelaki-lakiannya. Persepsi seperti inilah yang kadang menimbulkan kekerasan pada saat berinteraksi dengan perempuan. Konsep dominasi sudah sejak awal ditanamkan pada saat membangun ralasi pada perempuan. Laki-laki harus dominan tidak saja sebagai sebuah pandangan tapi telah menjadi doktrin yang terus-menerus direproduksi.

Pada saat laki-laki sejak kecil sampai dewasa di doktrin bahwa laki-laki adalah makhluk unggul, super dan dominan di satu sisi perempuan di doktrin sebagai makhluk lemah, subordinat, dan harus menempatkan laki-laki sebagai pimpinan yang berhak atas kehidupan mereka. Doktrin terhadap perempuan tersebut juga dilakukan sejak kecil dan direproduksi secara terus menerus, sampai-sampai perempuan tidak sadar bahwa telah didominasi. Pada saat perempuan sadar telah didominasi mereka menganggap hal itu sebagai sesuatu yang wajar dan benar.

Menarik apa yang dibahas oleh Bourdieu adalah adanya peran-peran yang dianggap feminin pada saat dikerjakan oleh laki-laki mendapatkan penilaian yang jauh lebih dihargai daripada jika dilakukan oleh perempuan. Tapi sebaliknya pada saat peran-peran yang dianggap maskulin dikerjakan oleh perempuan maka tidaklah mendapatkan penghargaan yang berlebih. Pekerjaan memasak pada saat itu dilakukan perempuan hal itu dianggap biasa tapi kalau memasak itu dilakukan oleh laki-laki dan menjadi profesi yang bersifat public maka peran yang awalnya dianggap rendah tersebut menjadi pekerjaan yang prestis. Pekerjaan menjahit lekat dengan pekerjaan perempuan pada saat laki-laki melakukan pekerjaan tersebut pekerjaan menjahit tidak lagi dianggap pekerjaan domestic tapi lebih dihargai karena dilakukan oleh laki-laki. Saat pekerjaan-pekerjaan yang dianggap “hina” itu dilakukan oleh laki-laki maka pkerjaan tersebut bisa menjadi pekerjaan yang terhormat (Bourdieu, 2007: 85).

Laki-laki dan perempuan mempunyai pandangan berbeda pada saat melihat tubuh mereka masing masing. Sudut pandang ini berkaitan dengan pandangan kaum penguasa (laki-laki) dan kaum yang didominasi (perempuan). Laki-laki tidak suka dengan bagian tubuhnya yang terlalu kecil dan perempuan tidak terlalu suka dengan bagian tubuhnya yang terlalu besar. Pandangan ini menggunakan oposisi yang sama namun dengan memberikan nilai-nilai yang terbalik terhadap istilah lawan (Bourdieu,2007: 93). Pandangan ini sering dijumpai dimasyarakat, laki-laki menganggap bermasalah saat lengan,kaki, atau tubuhnya dianggap kecil. Perempuan sebaliknya melihat bagian tubuhnya yang besar menjadi masalah khsusnya bagian perut atau juga mungkin pipi. Walaupun pandangan terhadap tubuh tersebut tidak bisa digenalisir semua wilayah seperti itu tapi pandang tersebut ada disebagian wilayah di dunia.

Ada ungkapan yang menarik mengenai sosok perempuan yang dikemukakan oleh Bourdieu; Efek dominasi maskulin adalah menempatkan perempuan dalam suatu keadaan ketidak pastian jasmaniah, atau membuat perempuan berada dalam situasi kebergantungan simbolik. Dominasi maskulin ini menjadikan perempuan sebagai barang-barang simbolik. Keberadaan (esse) dari perempuan adalah suatu keberadaan yang dilihat (percipi). Pertama-tama, perempuan itu ada karena pandangan orang lain dan untuk pandangan orang lain, yaitu sebagai benda-benda yang menerima, menarik, dan yang tersedia. Orang mengharap bahwa kalu bisa perempuan itu bersifat “feminin”, yaitu murah senyum, simpatik, penuh perhatian, tunduk, tidak banyak bicara, bisa mengendalikan diri, bahkan kalau bisa tidak pernah terlihat. Pretensi dari “feminitas” seringkali semata-mata hanyalah bentuk kesenangan yang ditujukan untuk memenuhi harapan-harapan maskulin, baik yang nyata maupun yang diandalkan,terutama dalam hal penyanjungan ego laki-laki. Karenanya, hubungan dependensi terhadap orang lain (bukan hanya terhadap laki-laki) cenderung menjadi hakikat bagi keberadaan perempuan (Bourdieu,2007: 94).

Kesejarahan yang panjang antara yang mendominasi dan yang terdominasi membuat hal tersebut dianggap sebagai sesuatu yang bukan masalah. Sehingga tidak saja kaum dominan yang melestarikan dominasi terhadap kaum terdominasi tapi juga kaum terdominasi akhirnya ikut melestarikan adanya dominasi terhadap mereka dengan menerima perlakuan sebagai terdominasi.seperti diungkapkan oleh Haryatmoko “Dominasi tidak selalu dalam bentuk penjajahan atau kasat mata seperti penindasan fisik,ekonomi atau sosial,tetapi bisa dalam bnetuk dominasi simbolik yang sering secara sadar atau tidak disetujui oleh korbannya” (Haryatmoko, 2010: 5). Pada akhirnya adanya gerakan feminis ingin merombak konsep relasi yang menguasai menjadi relasi yang setara. Membangun relasi yang setara tersebut tentulah tidak mudah dan masih berlangsung sampai sekarang ini.

Daftar Pustaka

Bourdieu,Pierre. 2010, Dominasi Maskulin, Jalasutra, Yogyakarta.
De Beauvoir,simone. 2003, Second Sex, Pustaka Promethea, Surabaya.
Haryatmoko. 2010, Dominasi Penuh Muslihat (Akar Kekerasan dan diskriminasi), Gramedia, Jakarta.
Wikipedia.wordpress

Continue Reading
2 Comments

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Opini

PERAN ORANG TUA DALAM MENINGKATKAN KARAKTER PERCAYA DIRI PADA ANAK USIA DINI

Mitra Wacana WRC

Published

on

Sumber: Halodoc
Waktu dibaca: 8 menit
Nofi Tri Susanti S.Pd Aud

Nofi Tri Susanti S.Pd Aud

Pendidikan diambil dari kata dasar didik, yang ditambah imbuhan menjadi mendidik. Mendidik berarti memelihara atau memberi latihan mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran. Pengertian karakter menurut Pusat Bahasa Depdiknas adalah “bawaan, hati, jiwa, kepribadian, budi pekerti, perilaku, personalitas, sifat, tabiat, tempramen, watak”. Karakter berasal dari bahasa Yunani yang berarti “to mark” atau menandai dan memfokuskan bagaimana memfokuskan nilai kebaikan dalam bentuk tindakan atau tingkah laku, sehingga orang yang tidak jujur, kejam, rakus, dan berperilaku jelek lainnya dikatakan orang yang berperilaku jelek. Dan sebaliknya, orang yang berperilaku sesuai dengan kaidah moral disebut dengan berkarakter mulia. Jadi, pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter pada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran, atau kemauan dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut.

Pendidikan karakter di sekolah dimaknai sebagai suatu perilaku warga sekolah yang dalam menyelenggarakan pendidikan harus berkarakter. Lebih lanjut lagi pendidikan karakter adalah segala sesuatu yang dilakukan guru yang mampu mempengaruhi karakter peserta didik. Hal itu mencakup keteladanan bagaimana perilaku guru, cara guru berbicara atau menyampaikan materi, bagaiman guru bertoleransi, dan berbagai hal yang berkait lainnya.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekitar 50% variabilitas kecerdasan orang dewasa sudah terjadi ketika anak berusia 4 tahun. Peningkatan 30% berikutnya terjadi pada usia 8 tahun, dan 20% sisanya pada pertengahan atau akhir dasawarsa kedua. Dari sini, sudah sepatutnya pendidikan karakter dimulai dari dalam keluarga, yang merupakan lingkungan pertama bagi pertumbuhan karakter anak. Pendidikan merupakan usaha sadar yang di lakukan oleh pemerintah,
melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan atau latihan, yang berlangsung di
sekolah dan di luar sekolah sepanjang hayat untuk mempersiapkan peserta
didik tepat di masa yang akan datang. Upaya pendidikan sejak dini atau sejak
awal mempunyai arti yang sangat penting dalam menumbuh kembangkan
anak, baik fisik maupun psikisnya.

Di samping pendidikan sekolah yang berkewajiban dalam membangun
karakter yang baik pada diri anak didik, orang tua juga sama sekali tidak boleh
melepaskan begitu saja pendidikan kepada sekolah. Orang tua justru
mempunyai kewajiban yang utama dalam hal ini. Betapa penting masa kanak-kanak tersebut untuk membangun pilar karakter yang baik bagi anak. Setelah
pada masa golden age sebagaimana di atas, peningkatan 30% berikutnya
terjadi pada usia delapan tahun, sedangkan yang 20 % sisanya pada masa
pertengahan atau akhir dasawarsa kedua. Oleh karena itu, keluarga dan
sekolah mempunyai tanggung jawab yang besar untuk memperhatikan masa
kanak-kanak sebagai usia yang sangat penting dalam menanamkan nilai-nilai,
membangun kesadaran, dan mengembangkan kecerdasannya. Dengan
demikian, pendidikan karakter adalah suatu system penanaman nilai-nilai
karakter yang baik kepada semua yang terlibat dan sebagai warga sekolah
sehingga mempunyai pengetahuan, kesadaran, dan tindakan dalam
melaksanakan nilai-nilai tersebut. Semua warga sekolah yang terlibat dalam
pengembangan karakter yang baik ini sesungguhnya dalam rangka membangun karakter anak didik. Hal ini penting agar anak didik menemukan
contoh dan lingkungan yang kondusif dengan karakter baik yang sedang
dibangun dalam kepribadiannya. Peran orang tua, masyarakat dan guru dalam pendidikan karakter adalah yang paling ditekankan.

Menurut Menteri Pendidikan Nasional Prof. Dr. Ir. H. Mohammad Nuh, DEA, dalam pidatonya yang bertema “Karakter untuk Membangun Keberadaban Bangsa”.  sangat relevan dengan kondisi kekinian yang terjadi di tengah-tegah masyarakat Indonesia. “Seringkali kita jumpai fenomena sirkus, yaitu tercerabutnya karakter asli dari masyarakat, sehingga fenomena anomali yang sifatnya ironis paradoksal menjadi fenomena keseharian,” kata Mohammad Nuh. “Betapa tidak? Penegak hukum yang mestinya harus menegakkan hukum, ternyata harus dihukum; para pendidik yang seharusnya mendidik, malah harus dididik; para pejabat yang seharusnya melayani masyarakat, malah minta dilayani; ini sebagain dari fenomena sirkus, dan ini semua bersumber dari karakter,” lanjut Mohammad Nuh. Maka kita yakin dan menyadari tentang mendesaknya pendidikan karakter sebagai bagian dari upaya membangun karakter bangsa; karakter yang dijiwai nilai-nilai luhur bangsa, dan nilai-nilai kemulyaan universal.

Masalah karakter terutama karakter percaya diri seringkali menjadi masalah pada anak-anak terutama ketika mereka memasuki lingkungan sosial. Sumber masalah yang biasanya mempengaruhi rasa percaya diri pada anak usia dini antara lain.

  1. Kurangnya dukungan dari orang tua:

Dalam membentuk kepribadian anak, keluarga merupakan pendidikan pertama dan utama (Aziz:2015), dalam hal ini orang tualah yang pertama dan utama dalam menerapkan pola asuh dalam keluarga untuk membentuk karakter percaya diri pada anak usia dini (Koentjaraningrat: Djamarah 2014), Pendidikan Anak usia Dini merupakan bagian penting dalam kehidupan anak dalam masa pertumbuhan, dalam masa ini adalah saat yang tepat untuk memberikan berbagai dukungan dan pengalaman pada anak, hal itu akan tertanam kuat pada pikiran anak. Kurangnya dukungan dari orang tua tentunya akan sangat berpengaruh terhadap perkembangan karakter anak, karena orang tua dan keluarga adalah pendidikan pertama bagi tahap perkembangan anak.

  1. Tidak ada dukungan dari lingkungan:

Perkembangan emosi yang baik akan menjadi bekal yang sangat berharga bagi anak, kehidupan sosial banyak memberikan pengaruh dan perbedaa-perbedaan yang terjadi pada anak, dan anak harus siap dalam menghadapi perbedaan yang ada. Kemampuan mengelola emosi, kemampuan memotivasi diri sendiri, kemampuan mengenali emosi orang lain dan kemampuan membina hubungan dengan orang lain akan mengembangkan rasa percaya diri pada anak. Tidak ada dukungan dari lingkungan yang memadai terhadap perkembangan anak maka akan berpengaruh terhadap anak dalam berinteraksi dengan orang lain, menyesuiakan diri dengan lingkungannya.

  1. Kurangnya koordinasi antara guru, orang tua dan lembaga sekolahan:

Kurangnya kerjasama sehingga menimbulkan miss comunikasi yang terjadi antara guru, orang tua dan lembaga sekolahan, sehingga kegiatan pembelajaran yang dilakukan tidak sesuai dengan harapan, kegiatan pembelajaran untuk pendidikan anak usia dini seharusnya tidak hanya berfokus pada kemampuan akademik anak, tetapi lebih pada pengembangan diri dan pribadi anak, sehingga anak akan siap menerima pendidikan yang lebih tinggi dan akan lebih percaya diri terhadap lingkungan sosial yang baru.

Masa usia dini merupakan masa yang paling brilian yang dilalui oleh manusia. Hal tersebut dikarenakan pada masa ini manusia dapat belajar segalanya dalam waktu yang relatif singkat. Untuk itu, tidak salah jika pada jenjang pendidikan anak usia dini disebut sebagai periode keemasan (golden age), dimana stimulasi seluruh aspek perkembangan penting untuk tugas perkembangan selanjutnya (Trianto, 2011).

Dalam perspektif perkembangan psikososial yang dikemukakan oleh Erikson masa usia dini berada pada empat tahap pertama dari delapan tahapan sepanjang hidup manusia. Empat tahap pertama tersebut terjadi pada masa bayi dan masa kanak-kanak. Adapun, empat tahapan tersebut adalah sebagai berikut fase bayi (0-1 tahun), “kepercayaan versus kecurigaan”, fase anak-anak (1-3 tahun) berada “otonomi versus malu dan ragu”, usia bermain (3-6 tahun), “inisiatif versus perasaan bersalah” dan usia sekolah (6-12 tahun) “ketekunan versus rendah diri” (Alwisol, 2006).

Karakter merupakan kualitas mental atau moral, kekuatan moral, nama atau reputasi (Hornby & Pornwell dalam Barnawi & M.Arifin, 2011). Dalam kamus psikologi, karakter adalah kepribadian yang ditinjau dari titik tolak etis atau moral, misalnya kejujuran seseorang yang biasanya mempunyai kaitan dengan sifat-sifat yang relatif tetap ( Dali Gulon, 1982 dalam Barnawi & M.Arifin, 2011). Pendapat Zubaidi (2011) menyebutkan bahwa karakter berarti to mark (menandai ) dan memfokuskan, bagaimana mengaplikasikan nilai kebaikan dalam bentuk tindakan atau tingkah laku. Dalam konteks ini, karakter erat kaitannya dengan personality atau kepribadian seseorang. Ada pula yang mengartikannya sebagai identitas diri seseorang. Karakter tersusun dari tiga bagian yang saling berhubungan ,yaitu moral knowing (pengetahuan moral), moral feeling (perasaan moral), dan moral behavior (perilaku moral). Fatimah (2006) kepercayaan diri ialah suatu tingkah laku yang positif yang dimiliki seseorang dalam mengembangkan kemampuan dirinya, baik untuk dirinya sendiri ataupun untuk lingkungannya, kepercayaan diri akan memengaruhi perkembangan mental dan karakter mereka. Menurut Gardner (1998) sebagaimana dikutip Mulyasa (2012) menyebutkan bahwa anak usia dini memegang peranan yang sangat penting karena perkembangan otak manusia mengalami lompatan dan berkembangan sangat pesat yaitu mencapai 80%. Ketika dilahirkan ke dunia anak manusia telah mencapai perkembangan otak 25% sampai usia 4 tahun perkembanganmencapai 50% dan sampai 8 tahun mencapai 80%, selebihnya berkembang sampai usia 18 tahun. Tidak dipungkiri lagi bahwa kepercayaan diri diperlukan dalam hidup manusia untuk mencapai suatu tujuan, namun permasalahannya banyak orang yang pandai secara akademik namun tidak memiliki rasa percaya diri. Hal ini disebabkan kepercayaan diri merupakan sesuatu yang tidak bisa tumbuh dan ada dalam diri seseorang dengan sendirinya (Rohmah, 2019: Wahyuni & Nasution 2017).

  1. Ciri-ciri/Aspek-aspek percaya diri.
  2. Ciri-ciri percaya diri.

Ciri-ciri  percaya diri menurut Lendenfield (dalam Rahayu, 2013) ialah:

  1. Yakin dengan diri sendiri
  2. Tidak ragu-ragu
  3. Tidak menggantungkan dirinya pada orang lain
  4. Tidak menyombongkan diri
  5. Merasa bahwa diri berarti
  6. Mempunyai keberanian dalam bertindak
  7. Aspek-aspek percaya diri.

Menurut Ghufron (2011) aspek-aspek percaya diri antara lain:

  1. Keyakinan akan kemampuan diri, yaitu sikappositif seseorang tentang dirinya bahwa individu mengerti sungguh-sungguh akan apa yang dilakukannya.
  2. Optimis, yaitu sikap positif individu yang selalu berpandangan baik dalam menghadapi segala hal tentang diri, harapan dan kemampuannya.
  3. Obyektif, yaitu inidvidu yang percaya diri memandang permasalahan atau sesuatu sesuai dengan kebenaran yang semestinya
  4. Bertanggung jawab, yaitu kesediaan inidvidu untuk menanggung segala sesuatu yang telah menjadi konsekuensinya.
  5. Rasional, yaitu analisa terhadap sesuatu masalah, hal dan kejadian dengan menggunakan pemikiran yang dapat diterima oleh akal dan sesuai dengan kenyataan

Pada saat anak selesai bermain anak tidak membereskan mainnannya sendiri, anak juga kurang berani mencoba hal baru, hal ini dapat dilihat pada saat pendidik menyuruh anak untuk memperkenalkan diri, anak masih malu. Rendahnya kepercayaan diri disebabkan oleh beraneka hal yaitu: kurangnya dukungan dari orang tua ataupun lingkungan dan kurang komunikasi yang baik antara pendidik dan orang tua. 

 

  1. Faktor-faktor yang mempengaruhi percaya diri.

Faktor yang mempengaruhi percaya diri menurut Ghufron (2011) diantaranya yaitu:

  1. konsep diri

     terbentuknya kepercayaan diri pada diri seseorang diawali dengan perkembangan konsep diri yang diperoleh dalam pergaulannya dalam suatu kelompok. Hasil interaksi yang terjadi akan menghasilkan konsep diri.

  1. harga diri

 konsep diri yang positif akan membentuk harga diri yang positif juga, harga diri adalah penilaian yang dilakukan terhadap diri sendiri, tingkat harga diri seseorang akan mempengaruhi tingkat kepercayaan diri seseorang.

  1. pengalaman

pengalaman dapat menjadi faktor munculnya rasa percaya diri, sebaliknya pengalaman juga dapat menjadi faktor menurunkan rasa percaya diri seseorang.

  1. Pendidikan

Tingkat pendidikan seseorang akan berpengaruh terhadap tingkat kepercayaan diri seseorang. Tingkat pendidikan yang rendah akan menjadi orang tergantung dan berada dibawah kekuasaan orang lain yang lebih pandai darinya, dan sebaliknya orang yang memiliki pendidikan tinggi akan memiliki tingkat kepercayaan diri lebih dibandingkan yang berpendidikan rendah.

Menurut Nirwana (2019) ada beberapa hal yang mempengaruhi terbentuknya rasa percaya diri pada anak yaitu:

  1. Orang tua

    pola asuh orang tua sebagai salah satu faktor memiliki ruang yang sangat luas untuk membentuk rasa percaya diri ini, diantaranya dengan memberikan motivasi dan memberikan penghargaan pada anak.

  1. lingkungan

    Lingkungan masyarakat juga memberikan pengaruh yang besar terhadap terbentuknya percaya diri pada anak.

  1. Pendidik di sekolahan

    Acuan atau pedoman yang digunakan oleh pendidik dalam membuat rencana pembelajaran sangat mempengaruhi terhadap terbentuknya percaya diri pada anak usia dini.

Pendidikan pertama anak adalah (orang tua) berperan sebagai pendidik, pembimbing dan pelindung. Orang tua memegang peranan yang sangat penting dalam membentuk karakter seorang anak. Peran orang tua dalam membangun kepercayaan diri anak diantaranya adalah menjadi pendengar yang baik, menunjukan sikap menghargai, memberikan kesempatan untuk membantu. Kepercayaan diri menurut Hakim (dalam Rahayu 2013:63) adalah keyakinan seseorang terhadap segala aspek kelebihan yang dimilikinya dan membuat kemampuannya untuk mencapai berbagai tujuan hidup.

Orang Tua dalam sebuah keluarga, baik yang memiliki pengetahuan pendidikan maupun tidak, tetap harus menyelenggarakan pendidikan bagi anak-anaknya agar menjadi manusia seutuhnya.

Peranan orang tua bagi pendidikan anak adalah memberikan dasar pendidikan, sikap, dan ketrampilan dasar, seperti pendidikan agama, budi pekerti, sopan santun, estetika, kasih sayang, rasa aman, dasar-dasar untuk mematuhi peraturan dan menanamkan kebiasaan-kebiasaan. Yang dimaksud orang tua adalah orangtua memberikan pendidikan yang pertama dan utama dalam pendidikan sikap dan keterampilan yang mendasar, karena pendidikan orang tua adalah pendidikan yang paling pertama bagi anak dan waktu pembiasaanpun akan lebih lama anak bersama orang tua di banding bersama guru.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Referensi:

IHF Indonesia Heritage Foundation Pilar Karakter https://ihf.or.id/id/pilar-karakter/

Nirwana (2013) dalam Konsep diri, pola asuh orang tua demokratis dan kepercayaan diri siswa, jurnal psikologi Indonesia Vol. 2 No. 2 hal 153-161 mei 2013

Jazilatur Rohma (2018) Pembentukan Kepercayaan Diri Anak Melalui Pujian. Martabat: Jurnal Perempuan dan Anak Vol. 02 No. 01 Juli 2018.

            The Asianparent Indoensia dalam tanamkan rasa percaya diri pada anak pada anak usia dini dengan 5 hal ini yuk, parent? https://id.theasianparent.com/penyebab-anak-tidak-percaya-diri

            Asih Rena Novita, Syuraini (2019) Hubungan antara pola asuh orang tua dengan kepercayaan diri pada anak menurut orang tua di TK. Journal of Family, Adult, and Early Childhood Education Vol. 1 no. 2. DOI: 10.5281/zenodo.2837510

            Sandy Ramdhani dkk (2019). Penanaman Nilai-Nilai Karakter Melalui Kegiatan Storytelling dengan Menggunakan Cerita Rakyat sasak Pada Anak Usia Dini. Jurnal obesesi: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini Vol. 3 Issue 1 (2019). DOI: 10.31004/obsesi.v3i1.108

Jurnal Paudi Vol 7 No 2 (2018) Ariyanti, ISSN 2089-1431 ISSN 2598-4047

  1. Nadzir (2013) Perencanaan Pembelajaran Berbasis Karakter. Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol 02 No. 02 Hal 339-352. DOI: https://doi.org/10.15642/jpai.2013.1.2.338-352
  2. Madjid, Perencanaan Pembelajaran (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2006), 15

The Asianparent Indoensia dalam tanamkan rasa percaya diri pada anak pada anak usia dini dengan 5 hal ini yuk, parent? https://id.theasianparent.com/penyebab-anak-tidak-percaya-diri

            Nirwana (2013), Konsep Diri, Pola Asuh Orang Tua Demokratis Dan Kepercayaan Diri Siswa. Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 2 no. 2

            Sandy Ramdhani dkk (2019). Penanaman Nilai-Nilai Karakter Melalui Kegiatan Storytelling dengan Menggunakan Cerita Rakyat sasak Pada Anak Usia Dini. Jurnal obesesi: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini Vol. 3 Issue 1 (2019). DOI: 10.31004/obsesi.v3i1.108

            Ghufron, M (2011). Teori-teori Psikologi. Jogjakarta: ArRuzz Media.

 

Continue Reading

Who is Online

No one is online right now

Advertisement
Advertisement

Twitter

Trending

EnglishGermanIndonesian
Mari bergabung bersama Mitra Wacana

Silahkan bergabung dan menjadi bagian dari Mitra Wacana.
Akan ada penghargaan untuk tulisan yang terpilih.
Terima Kasih

Gabung