Opini
Press conference
Published
9 years agoon
By
Mitra Wacana
Preventing radicalism, extremism and terrorism for village communities, as well as optimising the role of women.
Radicalism, extremism and terrorism (RET) has become a discourse that is sucking up the energy of Indonesia. Discussions about radicalism, extremism and terrorism are not new in Indonesia. Since the beginning of independence, until reformasi, terrorist actions have appeared in various forms, movements as well as counter-terrorism policies. During the period of the old order, the government approached security in a way that subverted the law. The new order period wasn’t much different, with the government just to emphasise security and strengthening intelligence operations. Meanwhile in the reformasi period, there are significant differences, people are able to freely express their opinion, the government has become a democracy, and a human rights perspective is used in influencing policy, and law enforcement. This was symbolised with the creation of Law 15, 2003, about Eradicating Terrorists Acts, after the 2002 Bali Bomb tragedy.
The National Agency of Counter Terrorism notes that having a radical attitude and understanding alone does not necessarily make a person fall into the ideology and acts of terrorism. There are other factors that cause a person to join in with terrorism networks. First, domestic, that is situation and conditions in the country, such as poverty, injustice or feeling dissatisfied with the government. Second, international influence, namely the influence of the foreign environment that provides the impetus for the growth of religious sentiments such as global injustices, arrogant foreign policy, and modern imperialism in other countries. Third, cultural factors that are linked with not having a comprehensive understanding of religion, and textual scripture interpretation. Radical attitudes are often motivated by the above factors, and are often the reasons people will choose to join in a terrorism network as well as commit terrorist actions.
Sharing knowledge to audiences about the dangers of RET, its roots, impacts and the scope of it is one of the methods to prevent the spread of networks, and the dangers of RET. Besides this thing, preventing RET through various methods is done through including all of the elements, either instituational or village communities, as well as optimising womens groups, especially those that are in the village. Remember, at this moment the village is suspected to become a new recruiting groud for groups or people that want to spread radical ideas.
Mitra Wacana WRC notes that there are two important issues that need to be addressed in the prevention of radicalism, extremism and terrorism, starting from the village, as well as encouraging the optimisation of the role of womens groups in the village. First, Mitra Wacana WRC encourages village governments to start including RET prevention programs to be discussed in village development planning meetings, so that the community is increasingly alert and aware of the importance of preventing the spread of radicalism. Second, to encourage all elements of society to not ignore the role of women’s groups. Women have shown that they have the ability to strongly consolidate either in organisations, groups or activities that include their communities. For example, at this moment there are 9 villages that have an organisation known as Children and Women’s Learning Center (P3A) that is supported by Mitra Wacana WRC. Through these P3A we have seen that there is the potential to include them as conveyors of the message about preventing RET.
There are several goals from carrying out this seminar, such as; First, describing the results of Mitra Wacana WRC’s research, which was carrried out in 3 District of Kulonprogo Regency about the potential for village resilience to tackle RET and discuss a prevention model through community organizing. Second, to share information about the importance of preventing RET. Third, describe the RET prevetion strategy in Kulonprogo regency. Fourth, optimise the role of women in preventing RET.
In this, Mitra Wacana WRC feels we need a role in carrying out RET prevention measures, through activities that are aimed to create awareness, caring and increase the capacity of society in the village through seminars, public campaigns, cadre training as well as distributing RET prevention material. Mitra Wacana WRC views it as necessary that there are cadres in the village, especially women’s groups that have been supported so that they consider, and understand the message, and we also aim to build their resilience so that they are not impacted by unfriendly religious discourse, and the presence of violent actions.
Opini
Personal Branding dan Standar Harga Diri di Era Digital
Published
6 days agoon
29 July 2026By
Mitra Wacana

Abilla Shofi Khairunnisa
Prodi Psikologi
Universitas Pendidikan Indonesia
Personal branding kini menjadi salah satu topik yang sering dibincangkan di media sosial, terutama pada kalangan anak muda. Di era digital, membangun personal branding bukan lagi sekadar pilihan, namun merupakan bagian penting dalam perkembangan karier. Personal branding yang kuat dapat membuat seseorang lebih mudah dikenali baik secara personal maupun profesional.
Kini, kita dapat dengan mudah melihat potret kehidupan orang lain yang dipenuhi dengan pencapaian, produktivitas, dan kebahagiaan. Namun, tanpa disadari, kita mulai membandingkan kehidupan kita dengan apa yang ditampilkan di media sosial. Perbandingan memang dapat menjadi motivasi untuk terus berkembang. Akan tetapi, ketika perbandingan dilakukan secara berulang, hal itu justru dapat mengikis kepercayaan diri.
Secara psikologis, fenomena ini juga didukung oleh penelitian Salsabila (2024) terhadap 184 pengguna media sosial berusia 18-25 tahun yang menunjukkan bahwa semakin tinffi kecenderungan seseorang melakukan perbandingan sosial, semakin rendah pula harga dirinya. Temuan ini menunjukkan bahwa perbandingan diri yang dilakukan secara terus-menerus dapat mempengaruhi cara seseorang menilai dirinya sendiri.
Dua Konsep Cinta Diri
Persoalan ini mengingatkan saya pada konsep amour de soi dan amour propre dari Jean-Jacques Rousseau. Menurut Rousseau, manusia memiliki dua cara dalam mencintai dan memandang diri sendiri. Pertama, amour de soi, yaitu cinta diri yang lahir dari kebutuhan alami untuk hidup, berkembang, dan merasa cukup dengan diri sendiri. Dalam keadaan ini, seseorang mengembangkan diri karena hal tersebut memang bermanfaat bagi dirinya. Ia belajar untuk memahami sesuatu, bekerja demi kehidupan yang lebih baik, dan merasakan kepuasan yang berasal dari proses bertumbuh, bukan dari pujian atau pengakuan orang lain.
Sebaliknya, amour propre muncul ketika kita mulai menilai diri sendiri melalui pandangan orang lain. Rousseau tidak menganggap kebutuhan akan pengakuan sosial sebagai sesuatu yang sepenuhnya bersifat buruk. Sebagai makhluk sosial, wajar bagi manusia untuk memiliki keinginan akan penghargaan dari sesamanya. Namun, kebahagiaan dan citra diri menjadi rapuh apabila keduanya senantiasa bergantung pada pengakuan orang lain.
Cara pandang inilah yang membuat kita percaya bahwa hidup yang baik adalah hidup yang mengesankan bagi orang lain. Akibatnya, kini media sosial yang semula diciptakan sebagai ruang untuk membangun koneksi perlahan berubah menjadi ajang kompetisi untuk saling menampilkan versi terbaik kehidupan masing-masing.
Pengakuan Sosial Era Modern
Pada abad ke-18, Rousseau menemukan kecenderungan manusia untuk mencari pengakuan sosial dengan memperhatikan kehidupan masyarakat. Namun, pada abad ke-21, media sosial memperkuat kecenderungan amour propre melalui algoritmanya. Beranda media sosial cenderung lebih sering dipenuhi oleh konten yang menampilkan pencapaian, kesuksesan, dan produktivitas, sementara proses, kegagalan, dan keseharian tidak begitu terlihat.
Kondisi tersebut dapat dipahami melalui gagasan Jean Baudrillard mengenai simulakra. Menurut Baudrillard, masyarakat modern hidup di tengah representasi yang sering kali terasa lebih nyata daripada realitas itu sendiri. Media sosial memang tidak selalu menampilkan kebohongan, tetapi kehidupan yang muncul di beranda telah melalui proses pemilihan, penyuntingan, dan kurasi. Sehingga, yang terlihat hanya potongan-potongan terbaik dari kehidupan seseorang. Perlahan, representasi tersebut dipersepsikan sebagai gambaran kehidupan yang normal.
Akibatnya, kita tidak lagi membandingkan kehidupan nyata dengan hal yang nyata, melainkan dengan citra kehidupan orang lain yang telah dikemas sedemikian rupa. Kita perlahan menganggap bahwa kehidupan penuh pencapaian konstan merupakan standar yang harus dicapai, padahal apa yang kita lihat hanyalah sebagian kecil dari kenyataan yang dipilih untuk diperlihatkan kepada publik.
Tidak ada yang salah dengan membangun personal branding. Menunjukkan karya, pengalaman, dan kemampuan. Karena hal tersebut merupakan bagian penting dari pengembangan diri maupun karier. Personal branding juga dapat membuka kesempatan dan memperluas relasi. Namun, personal branding seharusnya menjadi sarana untuk memperkenalkan diri, bukan alat untuk menentukan nilai diri.
Ketika harga diri sepenuhnya bergantung pada jumlah apresiasi, validasi, atau pengakuan dari orang lain, kita justru kehilangan makna dari proses bertumbuh itu sendiri.
Barangkali, yang perlu kita bangun bukan hanya citra diri yang menarik di mata publik, tetapi juga kemampuan untuk tetap merasa cukup ketika tidak ada yang melihat. Sebab, personal branding yang sehat lahir dari seseorang yang mengenal, menerima, dan menghargai dirinya sendiri, bukan semata-mata berasal dari hasrat untuk memperoleh pengakuan orang lain.
Fisyahrah, M. M. (2024). Hubungan Sosial Comparison Dengan Harga Diri Pada Pengguna Sosial Media (Doctoral dissertation, Universitas Islam Indonesia).

Bersatu Melawan Perdagangan Orang: JBPO Gelar Kegiatan Memperingati Bulan Anti Perdagangan Manusia Sedunia

SIARAN PERS Hari Anti Perdagangan Orang Sedunia & Peluncuran Kertas Posisi Urgensi Revisi UU PTPPO “Menuju Dua Dekade Tanpa Pembaruan, Korban Terus Berjatuhan” Tier Two Coalition








