Connect with us

Opini

Sebuah Impian

Published

on

Suasana pelatihan legal drafting di Balaidesa Karangjati Banjarnegara

This post is also available in: idIndonesia

Oleh Daryati (Anggota P3A WOMEN CARE Karangjati Banjarnegara)

Seorang ibu yang masih kurang mengerti tentang hukum kekerasan terhadap perempuan dan anak. Pada suatu hari pada tanggal 14 Mei 2014 ada pertemuaan kelompok Mitra Wacana di Desa Berta. Pada waktu itu saya mengikuti pelatihan di Desa Berta yang dihadiri oleh rekan-rekan dari Mitra Wacana WRC yaitu Pak Mansur, Pak Noto, dan Mba Kholiyah. Setelah saya menghadiri dan mengikuti pertemuan rutin Mitra Wacana yang membuat saya mengerti apa itu kekerasan terhadap anak dan perempuan.

Apa itu kekerasan Psikis?

Jadi kalau berbicara dengan teman kita harus tau sopan santun dan tidak menyakiti hati orang lain terutama anak kecil. Saya jadi mengerti tentang gender dan sekarang saya tahu bahwa laki-laki dan perempuan itu sama, contohnya tidak harus laki-laki yang mencari uang karna perempuan pun bisa mencari uang. Sekarang ada perempuan yang menjadi kuli bangunan (proyek).

Pada intinya saya jadi mengerti bahwa dengan mengikuti pelatihan dari teman-teman Woca yang banyak sekali gunanaya yang tadinya tidak tahu sekarang jadi tahu contohnya dulu kalau ada KDRT takut sekarang tidak takut lagi karena ada P2TP2A yaitu Pusat Pelayanan Terpadu Perempuan dan anak yang bisa memberi tahu pasal-pasal tentang kesalahan (kekerasan-kekerasan) dan sanksinya.

Dan pada intinya saya sangat berterimakasih kepada rekan-rekan dari Mitra Wacana WRC semuanya yang sudah memberikan banyak sekali pengetahuan dan ilmu untuk saya dan teman-teman semua semoga kita semua bisa meneruskan Ilmu dari semua pelajaran dan pengetahuan yang telah diberikan kedepannya Insha Alloh kami bersama-sama akan meneruskan apa apa yang telah diberikan, dari rekan-rekan Mitra Wacana WRC. Semoga kedepannya bisa berjalan lancar amin.

Continue Reading
Click to comment

Tinggalkan Balasan

Opini

Marah Bolehkah?

Published

on

mitra wacana

This post is also available in: idIndonesia

Mitra wacana

Mei Sofia

Oleh Mei Sofia (Penggiat Rifka Annisa)

Ada seorang anak yang tidak pernah kena marah orang tuanya, kebetulan ayah ibunya semuanya penyabar. Jadilah anak tersebut tumbuh dalam keluarga yang seharusnya sangat nyaman dan mampu memupuk karakter anak secara baik. Namun terjadi masalah ketika awal masuk kuliah, ada ritual orientasi studi dan pengenalan kampus (ospek) dimana semua yang tidak pernah ada dalam hidupnya terjadi. Kata – kata caci maki dengan suara membentak dan perintah dengan suara kasar.

Setelah kejadian itu anak ini menjadi mogok kuliah, dan menghabiskan sebagian besar waktunya dengan duduk di teras rumah sambil melamun. Kata ibunya, anak perempuannya itu terganggu kesehatan jiwanya sejak ospek. Anaknya sering terlihat senyum sendiri saat duduk. Si ibu menganalisa bahwa anaknya syok berat menjalani masa orientasi kampus yang betul – betul di luar perkiraan.

Sayangnya bagaimana perasaan dan pikiran anak dari ibu itu tidak pernah tergali lebih dalam. Sedih ternyata si anak perempuan ini meninggal dunia dalam usia relatif muda (45th) dalam kondisi psikis yang masih sama. Penulis menjadi saksi bagaimana anak tersebut melamun setiap harinya, akan tetapi penulis tidak paham apa yang sebenarnya terjadi karena masih berusia (7) tahun.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh orang tua dalam mengasuh anak sebagai berikut; Pertama, kadang pola asuh di dalam keluarga tidak selaras dengan dunia luar sana yang kejam dan tak kenal pilih kasih maka persiapkanlah anak-anak kita untuk menghadapinya. Berikan pengetahuan yang lengkap betapa diluar sana anak kita harus kuat karena menjadi anak manis saja tidak cukup.

Kedua, perkenalkan anak dengan berbagai emosi, salah satunya ekspresi marah orang tuanya. Kenalkan apa itu marah, kecewa, sedih, bahkan apa itu pura pura karena dunia tidak selugu pikiran anak-anak. Tujuannya agar anak terbiasa melihat dan menghadapi berbagai jenis emosi tanpa dia harus merasa syok (tertekan) dengan berbagai perlakuan yang berbeda dengan pola asuh yang diterima selama ini.

Ketiga, biasakan membantu anak mengekspresikan emosi dengan baik dan mendiskusikan perasaan anak ketika terluka, kecewa sedih agar apa yang dirasakan tidak dipendam dan menjadikan gangguan dalam pikirannya.

Ke-empat, menurut penulis menjadi orang tua yang tidak pernah marah (seperti dalam kasus ini) punya pe-er bagaimana mengenalkan dunia luar, sementara orang tua yang sering marah-marah tinggal nunggu hasil anaknya akan lebih galak dari ortunya (pengalaman penulis)

Menurut hemat penulis, orang tua perlu mengubah pola asuh anak dengan menyelaraskan dengan dunia luar, membantu anak untuk mengekspresikan emosi dirinya. Memperkenalkan anak dengan berbagai ekspresi emosi, salah salah satunya marah. Saat orang tua marah hendaknya katakan anda sedang marah tanpa mengucapkan kata – kata kasar, tanpa membanting sesuatu dan lain sebagainya.

Apabila terjadi permasalahan antara orang tua dan anak hendaknya diakhiri dengan meminta maaf dan dilanjutkan untuk mendiskusikannya. Kita tidak pernah tau alasan orang tua / anak marah kalau tidak paham situasinya. Untuk itu diskusi tersebut wajib dilakukan agar tidak terjadi permasalahan dikemudian hari.

Continue Reading

Trending