web analytics
Connect with us

Talkshow

TALKSHOW QUARTER LIFE CRISIS “ SANTAPAN PROBLEMATIKA KAUM MUDA ”

Published

on

Melihat fenomena sekarang yang cenderung mengandalkan gadget ternyata bisa berpotensi bagi anak muda mengalami quarter life crisis. Penggunaan gadget yang seolah-olah dunia ada ditangan kita bisa menjadi hal yang baik jika digunakan dengan benar dan sebaliknya akan menjadi buruk jika salah dalam penggunaannya. Ketika seseorang sering menghabiskan waktu dengan bermain sosial media kemudian suka membandingkan diri sendiri dengan orang lain akan menimbulkan rasa insecure dalam diri sendiri. Terlalu sering bermain sosial media tanpa melakukan hal yang produktif juga menjadi salah satu dampak buruk dari penggunaan gadget. Namun sebaliknya, jika ketika menggunakan sosial media lalu merasa termotivasi atas pencapaian orang lain  dan terdorong untuk bisa memiliki prestasi juga hal itu merupakan bentuk penggunaan sosial media yang benar. 

 Disituasi pandemi seperti sekarang ini yang membuat segala sesuatu dilakukan secara online termasuk sekolah membuat beberapa anak mengalami perubahan perilaku. Disini orang tua tidak boleh serta merta menghakimi perubahan perilaku anak tersebut apalagi jika perubahan perilaku tersebut mengarah ke hal buruk. Kedekatan emosional perlu dibentuk dalam proses pertumbuhan seperti memulai obrolan santai dengan mereka agar keterbukaan seorang anak kepada orang tua lebih tercipta. Jika kedekatan antara anak dan orang tua belum bisa terbentuk secara maksimal maka orang tua bisa menggali informasi lebih dalam terkait anaknya kepada teman atau guru disekolahnya. 

Anak-anak diusia peralihan dari SMP ke SMA dalam tahap perkembangannya memiliki rasa ingin menunjukkan bahwa mereka itu sudah dewasa dan memiliki otoritas atas diri mereka sendiri sehingga diharapkan orang tua tidak terlalu menggali lebih dalam terkait persoalan mereka namun orang tua bisa menempatkan diri sebagai sahabat atau teman untuk anak. Jika perubahan perilaku pada anak mengarah ke hal yang buruk dan terjadi perubahan yang cukup signifikan maka alangkah lebih baik jika orangtua melakukan konsultasi kepada psikolog profesional untuk mendapatkan penanganan yang benar.  Terkait dengan fase peralihan dari remaja ke dewasa terdapat fase isolasi dan keterikatan. Komunikasi anak dan orang tua dalam fase ini sangat penting . Jika pola komunikasi dapat berjalan dengan baik maka orang tua juga bisa mengontrol atau memberikan pemahaman terkait crisis identitas yang sedang dialami anak. Sebaliknya, jika pola komunikasi kurang baik maka dibutuhkan pihak ketiga untuk memberikan pemahaman crisis identitas kepada anak tersebut.

Intensitas yang tinggi dalam menggunakan gadget bisa menjadi pemicu adanya quarter life crisis yang merupakan salah satu ciri atau indikator dari gangguan mental. Gejala yang dirasakan antara lain cemas, panik, dan lain sebagainya. Namun quarter life crisis tidak bisa dikatakan sebagai gangguan psikologis. Quarter life crisis merupakan fenomena dalam sebuah perkembangan dan semua orang mengalami. Setiap individu pasti berbeda dalam menyikapi quarter life crisis tergantung dengan bagaimana latar belakang yang dimiliki. Ketika seseorang apatis atau tidak sadar terhadap crisis yang sedang dialami maka akan bisa berpotensi menjadi depresi yang tidak disadari. Maka penting sekali bagi orang-orang yang mulai menginjak dewasa dan rentang terhadap quarter life crisis ada baiknya mencari support system disekitar mereka. Pada tahap perkembangan usia dewasa awal ini lebih terkait dengan bagaimana hubungan interpersonal mereka baik dari keluarga, teman, dan kolega.  

Yang perlu ditekankan kepada orang-orang yang memasuki usia dewasa awal yaitu mengenali diri sendiri. Ketika kita paham diri kita seperti apa, kita sedang ditahap mana dalam fase perkembangan maka kita akan lebih sadar terhadap kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi kedepannya. Ketika seseorang tahu apa yang dia mau atau nilai-nilai yang dia pegang terhadap masa depannya kemudian dibersamai dengan tuntutan sosial yang harus dia lewati maka seseorang yang memiliki nilai-nilai ini akan lebih adaptif dan lebih mudah menghadapi crisis ini karena sudah mengenali dirinya dengan baik. Mengetahui kelebihan dan kekurangan diri juga perlu dilakukan agar bisa menyusun rencana ke depannya jadi hidup yang dijalani tidak hanya mengalir namun disertai perencanaan. Mulai melakukan sesuatu dan menyelesaikan sesuatu serta belajar mengenai tanggung jawab. Hal yang harus diketahui adalah bahwa dalam setiap fase kita memiliki tanggung jawab tersendiri yang harus dihadapi bukan dihindari . Berhenti untuk membandingkan diri sendiri dengan orang lain karena setiap orang memiliki warnanya sendiri.    

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Radio SONORA FM

Quarter Life Crisis?

Published

on

Quarter Life Crisis?
Tsani Najiah Volunteer Mitra Wacana

Tsani Najiah Volunteer Mitra Wacana

Quarter Life Crisis, istilah yang akhir akhir ini marak diperbincangkan kaum muda, atau channel channel Youtube pengembangan diri. Mengapa marak diperbincangkan? Karena ‘Katanya’ saat ini, kebanyakan kaum muda berusia 20 sampai 30 tahun sedang berjuang untuk melalui fase ini. jadi, apa sih quarter life crisis itu? 

Quarter Life Crisis adalah krisis yang dialami seseorang berusia 20-30 tahun, quarter life crisis merupakan sebuah periode ketika seseorang cemas, ragu, gelisah, dan bingung terhadap tujuan hidupnya. Tidak hanya tujuan, kondisi ini terjadi pula pada orang yang ragu pada masa depan dan kualitas hidup, seperti pekerjaan, asmara, hubungan dengan orang lain, hingga keuangan. 

Lalu, apa efek samping yang kita rasakan pada fase ini? ketika berada di fase ini, kita sering merasa ‘insecure’ melihat pencapaian orang lain, merasa diri selalu kurang dalam apapun, serta bingung apa lagi yang akan ia lakukan untuk tujuannya, karena terkungkung dalam fase ini, akhirnya kita lupa terhadap komitmen kita pada diri kita sendiri.

Maka yang menjadi tuntutan untuk melewati fase ini adalah bagaimana memilih dan menghidupkan komitmen atas pilihan itu. Disinilah kita perlu mengadakan suatu pembatasan diri terhadap kebebasan kita. kita mengambil dan meletakkan pilihan kita pada suatu prioritas hidup yang pada akhirnya menghantar kita untuk mencapai pembentukan jati diri. Karena proses akan menjadi cara terbaik menikmati hidup yang penuh warna.

Berhentilah membandingkan kita dengan orang lain, karena setiap orang mempunyai kesempatan masing masing untuk bersinar pada masanya. 

Namun, sekarang coba kita refleksikan fase ini dari sudut pandang yang sedikit berbeda.

Terkadang terbesit dalam diri pantaskah kita melalui fase quarter life crisis ini?

Pernahkah ada pernyataan itu dalam benak diri kita? 

Pantaskah kita terkungkung, terjatuh, overthingking, insecure dengan alasan sedang berjuang di fase sulit QLC ini?

Dari hasil diskusi santai di Mitra Wacana, dan kebetulan tema nya ini quarter life krisis, makna yang ditawarkan pada saat itu sangat berbeda dengan yang biasa kita dapatkan dari motivator atau channel youtube pengembangan diri lainnya.

Quarter life crisis merupakan fase naik kelas, menuju kehidupan selanjutnya. Namun terkadang, orang-orang menjadikan alasan fase ini untuk overthingking, insecure, galau, cemas pada masa depan kita nanti. Dan akhirnya, apa yang terjadi? Hari-hari kita jadi lebih kurang produktif, karena berkutat dalam masalah ini.

Jangan pernah terjebak dalam fase QLC ini, jangan menyerah, justru lawan dan perjuangkanlah rasa itu. Jadikan fase ini sebagai tantangan agar kita maju ke fase selanjutnya yang tentunya lebih sulit untuk kita taklukan.

Karena pada usia 20 sampai 30 tahun merupakan usia produktif, kita bisa melakukan dan mencoba segala hal, apa jadinya hidup ini jika pada usia ini diisi dengan hari-hari yang galau, gelisah bahkan tidak memberikan perubahan apapun.

Coba kita beranjak ke belakang sejenak. Beberapa tokoh berpengaruh di dunia, apakah pada usia 20 mereka terkungkung dalam kegelisahan dan keputusasaan? Tidak, justru lebih muda dari usia itu mereka berjuang mati matian untuk Negara, bangsa dan agamanya. Melatih kemampuan diri, mengasah keilmuan apapun dan selalu mengisi hari hari nya dengan hal yang bermanfaat.

Sebelumnya, tentu sudah kita ketahui, bahwa masa depan merupakan hak preoregatif illahi, maka kita pun tidak bisa mencampuri, atau memikirkannya terlalu jauh. Kita hari ini, merupakan kita di masa depan. 

Lalu, apa yang sebenarnya harus kita lakukan menghadapi fase ini?

  • Back to self

Tanyakan kembali dalam diri, apa yang sebenarnya menjadi tujuan hidup ini? Untuk apa kita dicipta ke dunia ini. Sehingga ketika kita sudah paham dan tahu, dimana pun kita berada kita bisa mengambil peran dan memberikan manfaat.

  • Back to Mindset

Ubahlah cara pandang kita, jangan pernah membandingkan kemampuan diri dengan pencapaian orang lain. Karena semua orang mempunyai waktu paling baiknya sendiri dengan cara terbaiknya masing-masing, yang terpenting hari ini adalah melakukan yang terbaik untuk masa depan kita di dunia maupun di kehidupan kelak nanti.

  1. Puasa Media Sosial

Salah satu cara ampuh menghadapi ini adalah, puasa media social. Berikan waktu untuk diri sendiri melakukan hal yang disukai, namun tidak bermain di media social, seperti mengikuti seminar, berbaur dengan keluarga, sahabat dan tetangga, serta kegiatan positif lainnya yang menjauhkan kita dari dunia media social yang merupakan realitas semu. Rencanakan kembali tujuan awal hidup kita, sesekali ceritakan pada orang terdekat kita, agar selalu ada orang yang mengingatkan ketika kita lupa, dan menguatkan ketika kita terjatuh.

Jadi, sudah siapkah kita berjuang melawan fase ini?

Continue Reading
Advertisement
Advertisement

Twitter

Trending