web analytics
Connect with us

Uncategorized @id

Warga Demangrejo Pernah Dijual Majikan

Mitra Wacana WRC

Published

on

Pelatihan Organisasi bagi perempuan di Kulon progo ft waton

This post is also available in: Indonesia

Waktu dibaca: 2 menit

Persoalan buruh migran yang kerap dirudung masalah ketika bekerja diluar negeri menjadi salah satu alasan Mitra Wacana Woman Resource Center (WRC) mengadakan pertemuan dengan sejumlah perempuan yang sebagian besar merupakan para mantan tenaga kerja Indonesia yang pernah bekerja di luar negeri untuk belajar tentang pengelolaan organisasi dan kesetaraan gender di gedung posyandu desa Demangrejo, Sentolo, Kulon Progo pada Rabu (27/4).

Dalam kesempatan tersebut, kepala desa Demangrejo menyatakan bahwa memiliki harapan terhadap para perempuan yang tergabung dalam Pusat Pembelajaran Perempuan dan Anak (P3A) Putri Pertiwi agar semakin hebat dan bermanfaat bagi masyarakat. Saya sebagai kepala desa menyambut baik keberadaan P3A, karena menurut saya perempuan penting mengikuti organisasi agar bisa bergaul dengan orang lain, Gunawan menuturkan.

“Saya pernah dijual oleh majikan saya ketika bekerja di Kuwait. Saya dipaksa untuk bekerja untuk orang lain oleh majikan, namun gajinya yang seharusnya diberikan kepada saya diambil majikan”, kata Kariyem salah satu peserta yang hadir dalam pertemuan tersebut. Menurut Siti, yang pernah menjadi tenaga kerja Indonesia di Malaysia mengungkapkan bahwa ketika bekerja di sebuah pabrik di Malaysia, pasport ditahan oleh perusahaan dengan alasan supaya tidak kabur.

Pertemuan yang berlangsung selama sehari penuh tersebut diawali dengan perkenalan peserta, dilanjutkan dengan menonton film Imposible Dream. Ada beberapa peserta setelah menyaksikan film tersebut merasa bahwa kehidupan perempuan selalu di nomer duakan. Seolah seorang suami bebas melakukan apa saja terhadap istri, meskipun istri ikut bekerja membiayai keluarga, kata Suminen. Istri seperti di eksploitasi oleh suami, kata Sri Muryati, perangkat desa perempuan yang turut hadir.

Menurut fasilitator pertemuan tersebut, Dian Karmilah menuturkan bahwa permasalahan perempuan yang bekerja di luar negeri tidak bisa menjadi tanggung jawab para pekerja. Negara, dimulai dari desa harus terlibat aktif dalam melindungi warganya supaya perempuan tidak menjadi korban trafficking (perdagangan manusia). Meskipun sudah ada UU Pemberantasan Tindak Pidanan Perdagangan Orang, belum mampu menyelesaikan persoalan buruh migrant di luar negeri. Diana menambahkan. Ika Septy Wulandari, narasumber untuk tema trafficking menyatakan bahwa sebagaian besar korban perdangan manusia adalah perempuan. (tnt)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita

Pola Asuh Anak di Masa Pandemi Covid-19

Mitra Wacana WRC

Published

on

This post is also available in: Indonesia

Waktu dibaca: 2 menit

   

Ada apa dengan KPK ?

Agus Rahmad Hidayat
Mahasiswa Magang

Selasa (29/06/2021), Pada Sinau Sareng#34 Mitra Wacana kali ini menghadirkan Yusmashfiyah, S.Ag., MPd. (CO-Founder Karima Center For Parenting Literacy) di Podcast Mitra Wacana membahas tema “Pola Asuh Anak di masa Pandemi Covid-19 selama satu jam lebih. 

Tema ini diambil seiring dengan penyebaran wabah Covid-19 yang belum usai selama satu tahun lebih yang merubah kebiasaan kita sehari-hari. Ada begitu banyak dampak yang dirasakan  selama  wabah covid-19 mulai dari kegiatan berkumpul dibatasi, pembelajaran jarak jauh dan himbauan untuk bekerja di rumah. Sementara itu imbauan untuk menjaga jarak fisik yang aman dari orang lain terus diserukan. Situasi ini tidak mudah bagi siapapun, khususnya orang tua dalam mengasuh anaknya. 

Dalam Sinau Sareng tersebut, Yusmashifyah mengungkapkan bahwa pademi ini saat ini berdampak pada beberapa hal dalam kehidupan kita.  Dampak kesehatan mental yang terganggu akibat banyaknya pemberitaan media terkait covid-19 yang belum tentu benar dan terkadang membuat kita takut. Selain itu Covid-19 berdampak pada sektor ekonomi yang mengakibatkan terbatasnya akses untuk bekerja, keluar rumah maupun fluktuasi secara keuangan sangat berbeda pada kondisi sebelumnya. Orang tua juga harus memberikan edukasi kepada anak tentang bahayanya Covid-19 agar terhindar dari penularan virus tersebut.

Dampak-dampak tersebut sangat berpengaruh pada siklus kehidupan kita terutama di keluarga yang berdampak pada meningkatnya tekanan atau beban dalam keluarga yang mempengaruhi psikologi orang tua. Dampak psikologi ini terkadang membuat kedua orang tua mudah tersulut emosinya ketika anak melakukan kesalahan, dampak-dampak tersebut sedikit banyak berubah pada pola asuh anak oleh kedua orang tua. 

Dimasa pademi ini orang tua harus lebih sensitif terhadap kondisi mental anak karena sebelum ada wabah ini mereka biasa bermain dengan teman-temannya setiap saat tetapi saat ini hampir dua tahun mereka tidak bisa melakukannya.

Disini asa asi asuh sangat penting bagi anak, memberikan stimulasi untuk perkembangan anak, memberikan kasih sayang walaupun beban semakin meningkat, mengajak anak bermain dengan memanfaatkan fasilitas di rumah orang tua harus responsif dan kreatif. 

Disini ada peran ayah dan ibu yang harus dilakukan, pengasuhan bukan peran ibu saja tetapi kehadiran dan kasih sayang ayah dalam mengasuh anak sangat dibutuhkan.  

Ada banyak hal yang bisa dipelajari dari peran kedua orang tua di saat pandemi ini, anak bisa melihat iklim yang harmonis tercipta dalam keluarga sehingga membuat nyaman berada di rumah. Pola asuh anak ini sangat menentukan terhadap tumbuh kembang anak sehingga  orang tua harus berhati-hati dalam menjaga pola asuh tanpa kekerasan. 

Continue Reading

Who is Online

No one is online right now

Advertisement
Advertisement

Twitter

Trending

Mari bergabung bersama Mitra Wacana

Silahkan bergabung dan menjadi bagian dari Mitra Wacana.
Akan ada penghargaan untuk tulisan yang terpilih.
Terima Kasih

Gabung