Opini
Hubungan FOMO dan Krisis Eksistensial Søren Kierkegaard
Published
50 minutes agoon
By
Mitra Wacana

Nendira Rahmatillah, mahasiswa Program Studi Psikologi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)
Bayangkan skenario yang familier ini: jam menunjukkan pukul satu malam, tubuh sudah menghempas di kasur, tetapi jempol masih lincah menggeser linimasa. Layar ponsel menampilkan kawan lama yang sedang menonton festival musik, teman seangkatan yang memajang unggahan memenangkan suatu lomba, hingga kerabat yang tengah menikmati debur ombak di pantai. Di balik pendar piksel itu, dada terasa agak sesak. Ada kegelisahan tak kasatmata yang berbisik halus: “Mengapa hidupku terasa begitu biasa dan membosankan?”
Fenomena ini populer dengan sebutan Fear of Missing Out (FOMO). Selama ini, kita kerap menyederhanakannya sebagai ketakutan konsumtif karena tertinggal tren pop—entah itu berburu tiket konser, menjajal kafe kekinian, atau membeli versi ponsel terbaru. Namun, jika dibedah lebih dalam, FOMO sejatinya bukan sekadar urusan gimmick digital. FOMO adalah bentuk modern dari kecemasan eksistensial: rasa takut mendalam bahwa kita telah salah memilih jalan hidup di tengah samudera pilihan yang membingungkan.
Yuk, bedah alasan kenapa FOMO jauh lebih dalam dari sekadar ‘takut ketinggalan tren’!
- Layar HP jadi cermin ketakutan kita akan eksklusi sosial
Layar smartphone kini telah menjadi cermin diri masyarakat modern. Berdasarkan laporan dari DataReportal, rata-rata orang Indonesia menghabiskan waktu menatap layar (screen time) lebih dari 7 jam sehari, di mana lebih dari 3 jam di antaranya dihabiskan khusus untuk media sosial.
Mengapa linimasa begitu sakti mengaduk-aduk emosi kita?
Studi ilmiah oleh Alabri (2022) berjudul “Fear of Missing Out (FOMO): The Effects of the Need to Belong, Perceived Centrality, and Fear of Social Exclusion” menguraikan bahwa FOMO dipicu oleh tiga konstruksi psikologis mendasar:
- Need to Belong: Keinginan kodrati manusia sebagai makhluk sosial untuk merasa diterima dan menjadi bagian dari suatu kelompok.
- Perceived Centrality: Hasrat untuk merasa berada di “pusat lingkaran” aktivitas sosial, bukan sekadar penonton di pinggiran.
- Fear of Social Exclusion: Ketakutan mendalam jika keberadaan diri diabaikan, dilupakan, atau diasingkan dari komunitasnya.
Ketika media sosial terus-menerus menyajikan fragmen kehidupan orang lain yang telah dikurasi dengan sempurna (highlight reel), kita tidak hanya merasa tertinggal secara informasi, tetapi secara tidak sadar merasa keberadaan sosial kita terancam terhapus.
- Pening karena kebebasan: Memahami FOMO lewat filsuf Søren Kierkegaard
Jauh sebelum algoritma Instagram, TikTok, atau X meretas perhatian manusia, filsuf eksistensialis asal Denmark, Søren Kierkegaard, sudah mengidentifikasi akar dari kegelisahan semacam ini. Dalam karya klasiknya The Concept of Anxiety (1844/1980), Kierkegaard memperkenalkan konsep Angst atau kecemasan eksistensial, yang ia gambarkan sebagai “pening akibat kebebasan” (the dizziness of freedom).
Kierkegaard menganalogikan manusia seperti seseorang yang berdiri di tepi jurang yang sangat dalam. Pusing yang dirasakan orang tersebut bukan sekadar karena takut jatuh, melainkan karena ia menyadari bahwa ia memiliki kebebasan penuh untuk melompat atau tetap berdiri.
Kebebasan untuk memilih membawa beban tanggung jawab yang mengerikan: setiap kali kita memilih satu jalan hidup, kita secara otomatis membunuh ribuan kemungkinan jalan hidup lainnya.
Media sosial memperparah “pusing eksistensial” ala Kierkegaard ini ke tingkat yang ekstrem. Dalam satu kali scroll, kita disuguhkan 50 alternatif jalan hidup orang lain. Muncul keraguan mendasar: jangan-jangan jalur yang sedang kita jalani saat ini adalah sebuah kekeliruan fatal, sementara kehidupan yang “sebenarnya” sedang dinikmati oleh orang lain di balik layar?
- Dampak nyata di Indonesia: Dari FOMO berujung pinjaman online
Di Indonesia, persilangan antara kecemasan eksistensial Kierkegaard dan ketakutan eksklusi sosial Alabri (2022) mewujud dalam fenomena sosial yang cukup memprihatinkan.
Studi oleh Kanda & Yanti (2024) serta Amos & Papalangi (2024) menemukan bahwa tingkat FOMO yang tinggi berkorelasi lurus dengan peningkatan konsumerisme impulsif dan penggunaan layanan pinjaman online (pinjol) di kalangan anak muda.
Banyak anak muda rela menguras tabungan atau berutang demi membeli tiket konser mahal, pakaian bermerek, atau sekadar nongkrong di tempat populer. Perilaku ini sejatinya adalah tindakan kompensatoris. Mereka tidak hanya membeli barang atau tiket, melainkan membeli bukti eksistensi (proof of presence). Mereka berusaha mengobati pusing eksistensial dan rasa takut diasingkan dengan cara menunjukkan kepada dunia digital bahwa: “Aku ada, aku terlibat, dan aku tidak salah memilih jalan.”
- Mulai peluk JOMO: Beralih dari cemas menjadi berdamai dengan pilihan
Menghadapi FOMO tidak cukup hanya dengan imbauan dangkal seperti “kurangi main HP” atau melakukan digital detox sewaktu-waktu. Selama kita tidak menyelesaikan masalah mendasar dengan kebebasan diri, kecemasan itu akan terus mengejar.
Kierkegaard mengingatkan bahwa cara menyembuhkan kecemasan eksistensial bukanlah dengan melarikan diri dari kebebasan, melainkan dengan keberanian untuk berkomitmen pada pilihan sendiri. Menerima kebebasan berarti siap menerima keterbatasan: bahwa kita tidak bisa berada di semua tempat, meraih semua hal, dan menjadi semua orang dalam waktu bersamaan.
Sudah saatnya kita menggeser paradigma dari FOMO menuju JOMO (Joy of Missing Out)—sebuah keberanian eksistensial untuk berkata pada diri sendiri:
“Saya secara sadar memilih untuk melewatkan tren itu, karena saya sedang sibuk menghidupi dan mempertanggungjawabkan pilihan hidup yang saya jalani hari ini.”
Di tengah riuk linimasa yang terus memproyeksikan kehidupan orang lain, keputusan paling radikal yang bisa diambil oleh seorang manusia modern adalah mematikan layar, menatap ke dalam, dan berdamai sepenuhnya dengan realitasnya sendiri. Menurutmu, apakah kamu sudah siap memeluk JOMO hari ini?
Referensi:
Alabri, A. (2022). Fear of missing out (FOMO): The effects of the need to belong, perceived
centrality, and fear of social exclusion. Human behavior and emerging technologies, 2022(1), 4824256. https://doi.org/10.1155/2022/4824256
Amos, V., & Papalangi, N. (2024). Pinjaman online: Perilaku masyarakat dalam menghadapi fear
of missing out (FOMO). Jurnal Manajemen & Bisnis Jayakarta, 6(1), 1–10. https://doi.org/10.53825/jmbjayakarta.v6i01.254
https://datareportal.com/reports/digital-2026-indonesia
Kanda, A. S., & Yanti, A. D. (2024). PENGARUH FOMO TERHADAP PENGGUNAAN
PINJAMAN ONLINE STUDI KASUS : MAHASISWA UNIVERSITAS TEKNOLOGI DIGITAL. Scientica: Jurnal Ilmiah Sains Dan Teknologi, 2(1), 221–232. https://doi.org/10.572349/scientica.v2i1.763
Psychological Medicine. (1981). The concept of anxiety: By Søren Kierkegaard. pp. 274, £11.20
hb, £3.05 pb. Princeton University Press: Princeton, New Jersey. 1980. Psychological Medicine, 11(4), 868–868. doi:10.1017/S0033291700043567
You may like
Opini
Nugas di Kafe, Kopi Harga Selangit, dan Ilusi Hiperrealitas Jean Baudrillard
Published
37 minutes agoon
13 August 2026By
Mitra Wacana

Leony Gabriella, mahasiswa jurusan Psikologi dari Universitas Pendidikan Indonesia
Pernahkah kamu bangun pagi dengan niat untuk menyelesaikan tugas makalah, laporan praktikum, atau skripsi yang deadline-nya sudah di depan mata hingga membuat kamu kepikiran setiap hari?
Tapi bukannya membuka laptop di meja belajar kamar kos, kamu malah berganti baju dan bersiap-siap, memanaskan kendaraan atau memesan ojek online, lalu menerjang kemacetan demi menuju sebuah coffee shop estetik dengan AC-nya yang dingin.
Sesampainya di sana, kamu memesan butterscotch sea salt latte seharga Rp 40.000 beserta camilannya, yaitu butter croissant dengan harga Rp 30.000. Jika dihitung-hitung, total harga makanan dan minuman tersebut sebanding dengan porsi makan siang empat kali di warteg.
Laptop dibuka, sebuah buku atau kertas-kertas ditata presisi di sebelah cangkir kopi, lalu difoto dan diunggah ke Instagram Story dengan caption bahasa Inggris atau dengan lagu yang mendukung vibes-nya.
Masalahnya, setelah ritual foto itu selesai, berapa persen tugas yang benar-benar terketik? Akankah tugas tersebut benar-benar selesai?
Kebanyakan dari kita justru menghabiskan satu jam pertama untuk berburu tempat atau posisi yang nyaman dengan colokan listrik, satu jam memilih playlist Spotify agar vibes-nya mendukung dan membangkitkan semangat, dan dua jam berikutnya sibuk scroll TikTok, Instagram, dan X karena koneksi Wi-Fi cafe ternyata tidak sekencang ekspektasi.
Kopi sudah habis, es batu juga sudah meleleh, dan tugas di layar laptop atau di kertas baru bertambah dua kalimat. Tapi anehnya, saat merapikan barang bawaan untuk pulang ke kosan, kita merasa sangat puas dan merasa telah menjadi manusia yang sangat produktif.
Kalau dipikir-pikir berulang kali, ini adalah sebuah keanehan yang masih dianut oleh banyak orang, khususnya mahasiswa. Mengapa perpustakaan kampus yang dingin, tenang, dan menyediakan ribuan referensi gratis justru tidak dipilih? Mengapa kafe dengan musik keras, ramai orang, dan harga konsumsi yang terbilang mahal malah menjadi pilihan oleh mahasiswa?
Melihat hal ini, tentunya ada semacam pergeseran kultur di kalangan anak muda hari ini. Aktivitas nugas tidak lagi digambarkan sebagai proses berpikir atau pencarian ilmu, melainkan telah bergeser menjadi kegiatan untuk mencari suatu keindahan dan meningkatkan status sosial.
Ada perasaan gengsi yang tidak dapat dijelaskan ketika kita mengerjakan tugas di kamar kos yang berantakan. Sebaliknya, ada sebuah kepuasan tersendiri jika kita bisa mengetik di atas meja kafe dengan interior indah diikuti dengan alunan musik yang menenangkan dan membuat siapa pun betah berjam-jam di kafe tersebut.
Mengapa kita begitu rela merogoh dompet demi penderitaan berkedok produktivitas ini?
Seorang sosiolog dan filsuf asal Prancis, Jean Baudrillard, punya jawaban yang sangat pas untuk fenomena ini lewat teorinya tentang Hiperrealitas, Simulakra, dan Konsumsi Simbol.
Menurut Baudrillard, manusia modern dalam masyarakat konsumen tidak lagi membeli barang atau jasa berdasarkan nilai guna (fungsi asli) atau nilai tukar (harga ekonomis) semata. Kita mengonsumsi sesuatu karena nilai tanda atau nilai simbol yang melekat pada aktivitas tersebut.
Kita pergi ke kafe sebenarnya bukan karena butuh tempat belajar. Kalau tujuannya murni mencari ketenangan untuk berpikir, meja di kamar kosan atau perpustakaan jelas jauh lebih mendukung dan tidak merogoh kocek, alias gratis. Namun, kita memilih untuk membayar puluhan hingga ratusan ribu rupiah di meja kafe demi membeli simbol sebagai “anak muda yang sibuk, produktif, dan memiliki kualitas”.
Di titik inilah konsep simulakra dan hiperrealitas dari Baudrillard bekerja dan menjelaskan semuanya. Simulakra adalah kondisi ketika salinan atau gambar buatan menggantikan kenyataan aslinya.
Realitas belajar yang sebenarnya, yang ditandai dengan membaca banyak referensi dan jurnal internasional, pusing memikirkan metodologi penelitian, berpikir keras, dan memutar otak untuk mengetik kalimat demi kalimat. Namun, pada akhirnya digantikan oleh hiperrealitas atau gambar buatan.
Gambar buatan itu diwujudkan dalam bentuk interior kafe yang estetik, cangkir kopi latte art, tatanan laptop yang indah, serta unggahan Instagram Story dengan tagar penanda lokasi.
Secara psikologis, manipulasi citra ini memberikan jebakan dopamin instan atau hormon kebahagiaan yang memberikan kepuasaan dengan cepat. Ketika kita berhasil mengunggah foto yang menggambarkan kondisi sedang mengerjakan tugas di media sosial dan mendapat beberapa balasan atau likes dari teman-teman, otak kita menangkap sinyal bahwa kita telah melakukan pekerjaan besar. Kita merasa telah menjadi mahasiswa yang ambisius dan rajin.
Padahal, itu semua bukanlah realitas yang sebenarnya dan hal itu telah dimanipulasi. Otak kita sudah terlanjur merasa puas terlebih dahulu dari validasi-validasi tersebut, meskipun kenyataannya memperlihatkan dokumen di layar laptop atau kertas yang masih bersih melompong tanpa adanya sebuah kemajuan.
Kita terjebak dalam ilusi bahwa semakin mahal harga kopi yang kita seruput, semakin tinggi tingkat produktivitas yang kita hasilkan. Padahal yang terjadi justru sebaliknya: dompet semakin menipis, sementara beban akademis dan skripsi tetap menumpuk tak kunjung usai.
Tentu saja, tidak ada salahnya sesekali mencari suasana baru di coffee shop kalau dinding kamar kos sudah membuat kita jenuh. Tapi jika setiap kali mau nugas kamu harus membayar puluhan hingga ratusan ribu demi secangkir kopi mahal beserta camilan dan selembar foto Instagram, mungkin yang sedang kamu kejar sebenarnya bukan kelulusan, melainkan validasi sosial.
Jadi, buat kamu yang sekarang sedang membaca artikel ini di meja cafe disertai dengan dokumen tugas yang masih bersih melompong, ayo tutup dahulu media sosialmu, seruput kopinya, dan tulis paragraf pertama kamu sekarang juga. Sebelum tugas kamu benar-benar tuntas, jangan biarkan kopimu habis terlebih dahulu dan hanya meninggalkan sisa es yang sudah leleh.

Nugas di Kafe, Kopi Harga Selangit, dan Ilusi Hiperrealitas Jean Baudrillard

Hubungan FOMO dan Krisis Eksistensial Søren Kierkegaard

Patriarki dalam Bingkai Spiritual: Menguak Kekerasan Seksual di Lembaga Pendidikan Islam

Patriarki dalam Bingkai Spiritual: Menguak Kekerasan Seksual di Lembaga Pendidikan Islam

Tubuh yang Lelah dan Jiwa yang Haus Makna: Membaca Fenomena Burnout dari Lensa Filsafat Stoikisme





