web analytics
Connect with us

Opini

Memeluk Kebingungan Hidup Bersama Julie dari Film The Worst Person In The World: Perspektif Jean-Paul Sartre

Published

on

Asyila Nasywadhiya Febriyani
Mahasiswa Psikologi UPI

Pernahkah kamu berdiri di depan kulkas minimarket yang penuh dengan puluhan merek minuman, tetapi justru merasa bingung harus pilih yang mana? Jika sekadar memilih minuman saja bisa membuat kepala pusing, bayangkan ketika kamu harus menentukan arah hidup, karier, dan cinta.

Inilah gambaran nyata quarter-life crisis yang umumnya dialami generasi milenial dan generasi Z hari ini. Kita tumbuh di era yang meyakinkan bahwa kita bisa menjadi apa saja, seperti berdiri di hadapan pilihan toping seblak prasmanan yang berlimpah. Di satu sisi kita bebas mengambil apa pun yang kita mau, tetapi di sisi lain, wadah yang kita miliki terbatas.

Akhirnya, muncul ketakutan akan salah memilih, membuat kita berdiri mematung, kelaparan, dan kebingungan di tengah kelimpahan pilihan. Melimpahnya pilihan yang seharusnya membawa perasaan bahagia dan puas, justru sering kali berubah menjadi keresahan yang mencekik. Keresahan inilah yang dituangkan oleh sutradara Joachim Trier melalui karakter Julie dalam film The Worst Person in the World (2021).

Julie adalah representasi anak muda menjelang usia 30 tahun yang cerdas, memiliki potensi, tapi terus-menerus merasa cemas dan terombang-ambing di kota Oslo. Yang membuat menarik, penulis akan membedah pergumulan batin yang dirasakan Julie menggunakan pemikiran filsuf Jean-Paul Sartre, dalam bukunya Existentialism is a Humanism (1946).

Eksistensi Mendahului Esensi

Film The Worst Person in the World dibuka dengan memperlihatkan betapa dinamisnya penentuan karier Julie. Ia memulai kuliah di jurusan kedokteran karena nilainya yang tinggi, lalu beralih ke jurusan psikologi karena merasa lebih tertarik pada jiwa manusia, hingga akhirnya beralih ke dunia fotografi dan bekerja paruh waktu di toko buku.

Bagi masyarakat umum, tindakan Julie mungkin dianggap ‘labil’, ‘plin-plan’, atau bahkan tidak bisa menentukan masa depan. Namun, melalui pandangan Sartre, apa yang dilakukan Julie merupakan perwujudan dari prinsip “existence precedes essence” atau bisa disebut juga eksistensi mendahului esensi.

Sartre menjelaskan bahwa manusia tidak dilahirkan seperti benda yang memiliki tujuan dan fungsi mutlak. Manusia terlahir ke dunia tanpa template takdir yang menghantui. Kita ada terlebih dahulu, lalu melalui tindakan dan keputusan lah kita membentuk identitas atau makna diri kita.

Keputusan Julie untuk berganti-ganti jurusan adalah bentuk penolakannya terhadap esensi buatan yang diberikan oleh lingkungan.

Selain Julie, fenomena semacam ini juga relevan dengan kenyataan yang kita hadapi. Kita sering dituntut oleh sistem pendidikan, orang tua, dan media sosial untuk memiliki rencana hidup yang tersusun rapi. Instruksi seperti “buatlah rencana 5 tahun ke depan”, atau “buatlah tahapan karier kalian setelah lulus kuliah” sangat sering terdengar di telinga.

Kita dipaksa memilih satu jalur karier dan mematuhinya. Padahal, memaksakan diri pada suatu pekerjaan secara tergesa-gesa justru beresiko membuat kita mengalami keterasingan dengan diri sendiri. Tapi, apakah dengan menolak kekakuan hidup dan menjemput kebebasan, merupakan hal yang sempurna?

Lingkungan menyodorkan begitu banyak pilihan dan tuntutan, hingga terkadang kita selalu berharap diberikan pertolongan dalam memilih pilihan yang paling ‘benar’. Namun, pada titik ini pula kebingungan membentur realitas, seberapa banyak pun saran, masukan, tuntutan, makian, atau pilihan dari lingkungan, pada akhirnya arah langkah tetap bersandar pada keputusan kita.

Ketika menyadari bahwa tidak ada orang lain yang bisa menanggung jalan hidup kita, momen kebebasan perlahan berubah menjadi sesuatu yang ditakutkan. Dari sinilah kita memahami mengapa kebebasan memilih justru melahirkan kecemasan.

(Cuplikan Trailer Film The Worst Person in the World )

Sampailah pada inti dari prinsip Sartre selanjutnya, yaitu “Man is condemned to be free” atau dapat diartikan manusia dihukum untuk bebas. Loh, kita menggenggam kebebasan, mengapa disebut hukuman? Bukankah jiwa yang tak pernah terpuaskan ini memang merindukan ladang rumput luas untuk berlari bebas?

Sartre menggunakan kata ‘dihukum’ karena pada dasarnya manusia tidak meminta untuk dilahirkan, akan tetapi ketika ia dilemparkan ke dunia, ia harus bertanggung jawab sepenuhnya atas segala tindakan dan keputusan yang ia ambil. Ketika tidak ada acuan takdir yang mengatur dan tidak ada orang lain yang bisa disalahkan, seluruh konsekuensi atas pilihan hidup jatuh tepat di atas pundak kita sendiri.

Krisis inilah yang menghantui Julie dalam hubungannya dengan Aksel, seorang komikus sukses. Julie merasa seperti hanya menjadi pemeran pembantu dalam hidupnya sendiri. Aksel mempersembahkan stabilitas, tapi itu adalah jalan hidup milik Aksel, bukan Julie. Julie ingin hidup sebagai diri seutuhnya, bukan tersembunyi dalam rasa aman dari bayangan Aksel.

Pada akhirnya, Julie mengambil keputusan, meninggalkan Aksel dan menggugurkan rencana berkeluarganya. Ia sadar tidak ada suatu alasan, aturan, atau norma yang bisa dijadikan pembelaan atau rasionalisasi atas keputusannya. Secara norma, memiliki pasangan yang stabil, baik, dan mapan seperti Aksel di usia 30-an merupakan hal yang ideal dan sudah seharusnya mereka melanjutkan ke jenjang pernikahan.

Ketika seseorang menyadari ia bebas memilih (bahkan menabrak norma yang ideal) dan harus menanggung akibatnya sendirian tanpa bisa menyalahkan siapa pun, timbul lah kecemasan mutlak (angst), yang kadang membuatnya merasa menjadi “orang terburuk di dunia” (the worst person in the world). 

Dalam istilah populer, alasan seperti “Aku mau fokus belajar dulu” atau “Kamu terlalu baik buat aku” sering kali dipakai sebagai tameng aman saat memberi alasan putus dengan pasangan. Padahal, jika memilih jujur, terkadang mengakhiri hubungan adalah keputusan murni dari kehendak bebas kita yang tidak ingin bertahan. Kita sering memakai ‘keadaan’ sebagai tameng hanya karena takut menanggung sendiri beban rasa bersalah dan konsekuensi dari pilihan yang kita buat secara sadar.

Lalu, bagaimana perjalanan Julie berakhir?

Setelah pada akhirnya melewati tragedi meninggalnya Aksel karena kanker dan mengalami keguguran kandungan yang mengakhiri hubungannya dengan Eivind (kekasih Julie setelah Aksel), Julie melanjutkan hidupnya dengan bekerja sebagai fotografer profesional di sebuah set film. Dari jendela tempat kerjanya, ia melihat Eivind berjalan bersama wanita lain dan anaknya. Julie tidak menangis atau menyesali keputusan lampaunya, ia hanya tersenyum tipis, lalu dengan tenang melanjutkan pekerjaannya.

Secara filosofis, akhir film ini merupakan bentuk keberhasilan Julie dalam meraih kebebasan otentik. Ia berhasil mendefinisikan dirinya sendiri melalui profesi fotografer yang ia jalani, tanpa bergantung pada pasangan atau norma masyarakat.

Perjalanan Julie yang dikaji melalui pemikiran Jean-Paul Sartre mengajarkan kita bahwa menjadi bebas memang menakutkan, ada rasa cemas yang harus kita bayar untuk kebebasan itu. Namun, daripada terus mengejar rasa aman, lebih baik berani memilih, bertindak, dan bertanggung jawab atas jalan yang kita tempuh.

Sumber:

Cleary, S. C. (2026). Re-reading Sartre’s lecture Existentialism Is a Humanism. Aeon. https://aeon.co/essays/re-reading-sartres-lecture-existentialism-is-a-humanism

Trier, J. (2021). The Worst Person in the World [Film]. Oslo Pictures, MK2 Productions, Snowglobe Films, Film i Väst, B-Reel Films.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Opini

Ilusi Kebebasan: Ketika Struktur Mengekang Identitas Diri

Published

on

Sumber foto: Freepik

Hafizh Achmad Fauzan seorang mahasiswa dari Universitas Pendidikan Indonesia

Sulitnya menjadi diri sendiri di tengah masyarakat yang sedikit-sedikit mengatakan, “kamu aneh”

Pernah nggak sih kamu merasa harus selalu memakai “topeng” setiap kali kamu beranjak keluar rumah? Dihadapan teman, keluarga, atau bahkan tetangga, kita selalu mencoba berakting menjadi sosok yang manut-manut saja sama standar yang sudah mereka terapkan. Tetapi begitu sampai di kamar, mengunci pintu, lalu merebahkan diri, disanalah kita baru bisa bernafas lega dan bertanya-tanya kepada diri sendiri: “sebenernya, yang tadi aku tunjukkan itu aku atau siapa, sih?”

Pertanyaan mengenenai, “siapa sih aku sebenarnya” itu bukan cuma lamunan impulsif sebelum tidur, ia adalah sebuah pertanda bahwa ada kekosongan di dalam diri yang minta diisi.

Secara alami, kita pun mulai mencari jawaban ke luar. Kita menjelajahi internet, mengobrol sama teman, sampai menyerap berbagai informasi demi menemukan identitas yang terasa, “ini aku banget”. Begitu merasa sudah ketemu dan siap membagikannya ke dunia nyata, plak! Realita menampar keras. Lingkungan sosial kita bukannya menyambut dengan tangan terbuka, tapi malah mengecap identitas itu sebagai sebuah “anomali”—sesuatu yang aneh, salah, atau wajib diluruskan.

Psikolog ternama, Erik Erikson pernah bilang kalau pencarian identitas itu memang fase yang krusial banget. Kalau lingkungan kita suportif, kita bakal tumbuh jadi pribadi yang percaya diri. Faktor pembentukan identitas diri ini seringkali dipengaruhi oleh faktor internal yang berada dalam diri kita sendiri. Dapat berupa motivasi atau regulasi diri. Seringkali kita membutuhkan dukungan moral dari luar seperti dari keluarga, teman-teman, atau tokoh idola yang sekarang lagi happening di dunia maya, idolaku menyelamatkanku ketika aku tak yakin pada diri sendiri, namun mereka melihatku seperti sosok yang berharga.

Bagaimana kalau yang kita dapatkan bukan sebuah dukungan, melainkan berupa cemoohan dan kecaman yang menusuk seperti duri?

Dari sinilah krisis identitas itu lahir. Karena takut dibilang aneh atau dikucilkan, banyak dari kita yang pada akhirnya memilih jalan aman dengan bikin identitas semu. Kita berpura-pura menyukai apa yang mayoritas sukai.

Tapi ya kali mau terus-terusan menyamar sepanjang hidup? Pura-pura jadi orang lain itu lelahnya luar bisa, membuat diri kita hilang terkubur redup. Efek jangka panjangnya bisa membuat kita cemas, depresi, sampai merasa hampa karena tak pernah benar-benar merasa hidup. Makanya, nggak heran kalau banyak orang  yang akhirnya memilih lari ke dunia maya—  sebagian dari kita pada akhirnya memilih untuk memuat identity fluidity virtual atau pada zaman sekarang, hal ini disebut dengan pembuatan akun alter. Karena menurutnya, di dalam dunia ini mereka merasa aman, dan nyaman tanpa memiliki perasaan takut dijudging karena telah menjadi diri sendiri. Semuanya dilakukan secara anonim.

Mendapat dukungan moral dengan mudah, tanpa harus memaksakan diri agar dapat diterima, mengapa hal ini terasa sulit? Seperti mustahil untuk didapatkan di dunia nyata? Mengapa terasa mudah apabila dilakukan sebagai anonim di dalam dunia maya? Pertanyaan-pertanyaan itu kerap kali muncul hingga identify difussion mengincar kita yang gagal dalam pembentukan identitas diri.

Secara filosofis, filsus eksistensialis Jean-Paul Sartre punya jargon terkenal: “Condemned to be free”—manusia itu dikutuk dan diciptakan untuk bebas. Maksudnya, kita terlahir tanpa cetakan makna bawaan. Kamulah pencipta atas hidup dan makna dirimu sendiri. Kamulah pengendali atas apa yang kamu inginkan.

Sayangnya, dalam praktik sehari-hari, teori Sartre ini sering kali mental saat berhadapan dengan struktur sosial. Masyarakat kita rajin banget menetapkan “nilai tunggal”. Kalau kamu sedikit berbeda dari kebiasaan mayoritas, kamu langsung dilabeli buruk. Kebebasan berekspresi yang digadang-gadang itu seolah cuma mitos, karena struktur di sekitar kita lebih suka menyeragamkan ketimbang menghargai keberagaman.

Lantas, harus bagaimana kita menghadapi dunia yang sering kali tidak ramah ini?

Filsuf Albert Camus punya sudut pandang yang menarik soal ini. Menurut Camus, dunia ini memang penuh absurditas—dunia nggak selalu adil dan usaha kita buat diterima nggak selalu berbuah manis. Cara melawannya bukan dengan menyerah atau terus-menerus sedih, melainkan dengan menjadi “The Stranger”: berdamai dengan kenyataan bahwa dunia ini memang absurd, lalu fokus pada nilai diri sendiri tanpa peduli diktasi luar.

Nietzsche juga menambahkan konsep keren bernama will to power. Jangan biarkan kehampaan atau penolakan sosial menghancurkanmu. Jadilah ubermensch yang artinya menjadi manusia yang berani menciptakan nilainya sendiri di tengah masyarakat yang mengekang. Dan berani untuk tetap tumbuh, tetap pada pendirian teguh akan identitas diri, jangan takut akan runtuh. Karena dunia akan ikut meluruh apabila kita tetap utuh. 

Dunia ini bukan cuma milik satu kelompok atau satu standar nilai. Seperti kata Jean-Francois Lyotard; kita harus bisa menghargai bahwa tiap manusia punya konteks dan perspektif yang berbeda-beda. 

Parahnya lagi, situasi ini makin keruh belakangan ini. Peraturan pemerintah yang harusnya melindungi semua warga malah kerap dipakai sebagai alat legitimasi buat mendiskriminasi, mengkriminalisasi, atau memojokkan kelompok yang dianggap “anomali” dari standar mayoritas. Dalihnya ya macam-macam, dari soal nilai sosial sampai ideologi. Efeknya? Banyak orang yang akhirnya makin takut buat jadi diri sendiri di ruang publik karena merasa keselamatan mereka terancam.

​Capek nggak sih melihat masyarakat kita terus-terusan dibenturkan oleh konflik horizontal yang mengorbankan kelompok minoritas, sementara masalah-masalah besar yang jauh lebih krusial malah kelelep gitu aja? Sudah saatnya kita belajar dari sejarah dengan mengetahui bahwa persatuan itu lahir dari rasa saling menghargai perbedaan, bukan dari memaksa semua orang untuk seragam.

Pada akhirnya, identitas diri itu adalah tentang kesadaran penuh akan siapa diri kita dan bagaimana hasil dari proses panjang mengeksplorasi nilai, memilih apa yang kita yakini, lalu berani menampilkannya ke dunia.

Menerima diri sendiri itu krusial banget biar kita bisa melangkah dengan percaya diri dan nggak gampang tumbang oleh krisis batin. Ketika dunia luar mulai bising dengan penolakan dan cemoohan, ajaran Albert Camus bisa kita jadikan sebagai benteng pertahanan diri, karena beliau bilang, berdamai saja dengan kenyataan bahwa dunia ini memang absurd, lalu fokus merawat nilai-nilai yang kita yakini.

Kita tidak boleh melupakan fakta bahwa pada akhirnya, setiap manusia memiliki keinginan yang sama dan sederhana; kita menginginkan hak untuk hidup dengan aman tanpa takut terdiskriminasi atau bahkan tereleminasi sosial. Sudah saatnya kita merayakan pluralitas dan menghargai perbedaan bagaimana cara seseorang memaknai dan menghargai hidupnya. Toh, pada dasarnya, nggak ada satu pun manusia di dunia ini yang ingin diperlakukan tidak adil hanya karena ia memilih untuk jujur pada dirinya sendiri.

 

REFERENSI

Nietzsche, F. (2005). Thus spoke Zarathustra (G. Parkes, Trans.). Oxford University Press.

Camus, A. (1955). The myth of Sisyphus (J. O’Brien, Trans.).

Sa’diyah, H., & Jannah, S. N. F. (2025). Ontologi attachment dalam dinamika keluarga: Peran orang tua dalam pembentukan identitas anak. Educazione, 13(1), 42-54.

Hidayah, N., & Huriati. (2016). Krisis identitas diri pada remaja “identity crisis of adolescences”. Sulesana, 10(1), 49-62.

Continue Reading
Advertisement NYL2026
Advertisement
Advertisement

Twitter

Trending