Berita
Human Trafficking Month – 30th of July 2026
Published
3 weeks agoon
By
Mitra Wacana

Anna de Muinck Keizer university of Amsterdam
The month July is recognized as Anti-Human Trafficking Month (Bulan Anti Perdagangan Manusia) in Indonesia, a nationwide campaign dedicated to raise awareness about human trafficking and promoting coordinated action against exploitation. Human trafficking remains a significant human rights issue in Indonesia. Women, children and migrant workers are vulnerable to exploitation, including forced labour, sexual exploitation, forced marriage and online recruitment scams. Factors such as poverty, limited employment opportunities, unequal access to education and misinformation increase’s people’s vulnerability.
On the 30th of July 2026, organizations, academics, government representatives and community members gathered at the Faculty of Law of Universitas Gadjah Mada (UGM) for an event dedicated to this Anti-Human Trafficking Month. Mitra Wacana collaborated with various organizations to aim to raise awareness about human trafficking while promoting collaboration in prevention, protection and victim support.

The event opened with participant registration, followed by an opening ceremony featuring welcoming remarkss and a cultural performance. Throughout the day, visitors could also explore a small Bazar, filled with products from local entrepreneurs and creating space for community engagement alongside the educational program.
The day consisted of several panel discussions featuring experts from universities, migrant worker organizations, government members, and legal institutions. The event started with a panel discussion that discussed the theme ‘Facing the New Face of Human Traffiking: Collaboration for Protection and Law Enforcement’. The speakers discussed the increasing vulnerability of migrant workers, online recruitment methods, and the need for stronger legal protection and law enforcement.
The second panel discussion talked about the ‘Collaboration on Prevention and Handling of Human Trafficking: Organizing, Advocacy, Campaigns, Legal and Psychological Assistance’. The presentations from the different organizations emphasized the importance of collaboration between professionals from different sectors, including lawyers, psychologist, educators and local communities.
The last discussion discussed the theme ‘Various Modes of Human Trafficking: from student trafficking, arranged marriages and the role of interfaith networks in preventing and handling human trafficking’. The panel explored the diverse and evolving forms of human trafficking, emphasizing that exploitation can occur in a variety of social and cultural contexts.
Overall, the event provided an opportunity to increase awareness and to strengthen the collaboration between organizations committed to addressing and preventing the human trafficking issue in Indonesia. Through knowledge sharing, practical discussions and community engagement the event reinforced the message that preventing exploitation requires collective responsibility. This message is reflected in the slogan ‘Humans are not for sale, united against exploitation’.
You may like
Berita
Manfaatkan Potensi Alam, Warga Hargorejo Belajar Membuat Batik Ecoprint di Tote Bag
Published
19 hours agoon
27 August 2026By
Mitra Wacana
Hargorejo, 15 Agustus 2026 — Sebanyak 36 warga mengikuti pertemuan rutin Grahamedia Hargorejo yang digelar di Padukuhan Anjir, Hargorejo, pada Sabtu (15/8/2026). Pertemuan yang berlangsung pukul 13.00–16.00 WIB tersebut diisi dengan workshop pembuatan batik ecoprint sebagai upaya mendorong pemanfaatan potensi lokal menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi.
Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara Mitra Wacana, Karang Taruna Padukuhan Anjir Hargorejo, dan mahasiswa KKN UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Workshop dirancang tidak hanya sebagai kegiatan keterampilan, tetapi juga sebagai ruang belajar bagi masyarakat untuk mengenali dan mengembangkan sumber daya yang tersedia di lingkungan sekitar.

Ecoprint dipilih karena proses pembuatannya dapat memanfaatkan berbagai jenis daun dan tanaman yang mudah ditemukan di sekitar masyarakat. Dengan kreativitas dan pengolahan yang tepat, bahan-bahan tersebut dapat menghasilkan motif alami pada kain dan kemudian dikembangkan menjadi berbagai produk bernilai jual. Kegiatan diawali dengan pembukaan yang dipandu oleh Atta selaku pembawa acara. Selanjutnya, Kepala Padukuhan Anjir memberikan sambutan sekaligus mengajak peserta mengikuti seluruh rangkaian workshop dengan serius dan mempraktikkan pengetahuan yang diperoleh setelah kegiatan selesai.
Sambutan berikutnya disampaikan oleh Ruliyanto dari Mitra Wacana. Ia menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya membekali masyarakat dengan keterampilan praktis atau lifeskill yang dapat dikembangkan menjadi peluang ekonomi. “Melalui kegiatan seperti ini, masyarakat diharapkan tidak hanya memperoleh keterampilan baru, tetapi juga mampu melihat potensi yang ada di lingkungan sekitar sebagai sesuatu yang bisa dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi,” ujar Ruliyanto dalam sambutannya.
Menurutnya, penguatan keterampilan dan kemandirian ekonomi juga memiliki kaitan dengan upaya pencegahan tindak pidana perdagangan orang (TPPO). Masyarakat yang memiliki keterampilan dan peluang ekonomi di daerah asal diharapkan memiliki lebih banyak pilihan dalam menentukan sumber penghidupan sehingga tidak mudah tergiur tawaran pekerjaan yang tidak jelas atau berisiko.

Setelah sesi pembukaan, peserta mendapatkan pemaparan mengenai ecoprint dari narasumber. Materi mencakup pengenalan ecoprint, teknik pembuatan, jenis daun yang dapat digunakan, alat dan bahan yang diperlukan, hingga tahapan persiapan dan pengolahan kain setelah proses pencetakan motif selesai. Peserta kemudian diajak mempraktikkan teknik pounding atau teknik memukul bahan tumbuhan di atas kain untuk memindahkan warna dan bentuk alami daun ke permukaan kain.
Untuk memudahkan proses praktik, peserta dibagi menjadi lima kelompok. Panitia membagikan alat dan bahan yang dibutuhkan sebelum peserta mulai memilih serta menyusun daun yang akan digunakan sebagai motif. Suasana workshop berlangsung interaktif. Peserta tidak hanya mendengarkan penjelasan, tetapi langsung mencoba setiap tahapan pembuatan ecoprint. Dari proses tersebut, muncul berbagai motif dan komposisi warna yang berbeda pada setiap kain.
Hasil karya peserta kemudian dipamerkan sebagai bagian dari keluaran kegiatan. Karya tersebut menjadi bukti bahwa bahan-bahan sederhana yang tersedia di sekitar dapat diolah melalui kreativitas menjadi produk yang lebih bernilai. Bagi masyarakat, pengalaman tersebut sekaligus membuka kemungkinan untuk mengembangkan ecoprint sebagai salah satu keterampilan produktif. Ke depan, keterampilan tersebut dapat dikembangkan lebih lanjut, baik melalui peningkatan kualitas produk, pengembangan desain, pengemasan, maupun pemasaran.
Workshop ditutup dengan sesi evaluasi. Peserta dan panitia bersama-sama merefleksikan proses kegiatan, mulai dari materi yang diberikan, praktik pembuatan ecoprint, hingga pengalaman peserta selama mengikuti workshop.
Kegiatan ini menunjukkan bahwa pemberdayaan masyarakat dapat dimulai dari hal-hal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Pemanfaatan sumber daya lokal, ketika dipadukan dengan pengetahuan dan keterampilan, dapat menjadi salah satu pintu masuk untuk membangun kemandirian ekonomi masyarakat. Lebih dari sekadar menghasilkan kain bermotif alami, workshop ecoprint di Padukuhan Anjir menjadi ruang untuk belajar, berkreasi, dan mengenali potensi yang dimiliki masyarakat sendiri. Keterampilan semacam ini diharapkan dapat terus dikembangkan sehingga masyarakat memiliki semakin banyak pilihan untuk membangun penghidupan yang aman, produktif, dan berkelanjutan di wilayahnya sendiri.
Ruliyanto

Manfaatkan Potensi Alam, Warga Hargorejo Belajar Membuat Batik Ecoprint di Tote Bag

Bioskop Rakyat Fest #03 Sukses Digelar di Demangrejo: Padukan Seni Budaya, Kampanye Anti-Perdagangan Orang, dan Pemberdayaan Desa





