Opini
Desain yang Berpusat pada Manusia: Satu Lagi Pendekatan dalam Kerja Kemanusiaan (Catatan Mentoring YSI 29-30 Juni 2026)
Published
1 month agoon
By
Mitra Wacana
Perjalanan kehidupan menuntut segala hal untuk terus berkembang, berubah dan melakukan inovasi. Inovasi tak melulu soal teknologi, temuan baru dan produk. Dalam ranah sosial, seperti dalam kerja kemanusiaan, juga menuntut untuk terus berinovasi. Mengapa demikian? Karena dengan inovasi, proses kerja kemanusiaan bisa menjadi lebih efisien, cara kerja lebih efektif. Selain itu, inovasi bisa menawarkan nilai yang lebih baik bagi masyarakat yang diintervensi, menjadikan sektor kemanusiaan dinamis dan turut berevolusi seiring perkembangan dunia. Inovasi memungkinkan penggunaan sumber daya yang terbatas dengan cara paling efektif. Tidak kalah penting, inovasi baru dapat menjawab berbagai tantangan dalam kerja kemanusiaan.
Salah satu inovasi yang bisa digunakan dalam kerja kemanusiaan adalah pendekatan human-centered design (HCD). Awalnya konsep ini berkembang dalam konteks bisnis yang bertujuan untuk menempatkan manusia sebagai pusat proses pengembangan sehingga produk atau layanan yang dibuat sesuai dengan kebutuhan pengguna. Konsep ini menjadi relevan ketika dibawa dalam konteks kerja kemanusiaan, karena sering kali program-program kemanusiaan dirancang sedemikian rupa, namun melupakan apa sebenarnya yang dibutuhkan manusia yang disasar. Dengan kata lain, penyusunan program tidak melibatkan partisipasi masyarakat dan hanya mengacu pada data sekunder.
Jika kerja kemanusiaan kurang memahami ini, maka hal yang dilakukan hanya akan terpaku pada program (program-centered) alih-alih berpusat pada manusia yang membutuhkan intervensi (human-centered). Menjadi persoalan lain lagi ketika pegiat kemanusiaan semata-mata bergerak berdasarkan persepsi, pengalaman dan pengetahuannya tanpa terlebih dahulu memahami dengan baik tantangan dan harapan masyarakat. Tidak jarang, kerja kemanusiaan juga segera memikirkan solusi ketika melihat permasalahan masyarakat. Padahal jika merenungkannya melalui pendekatan HCD, cara semacam itu justru mengabaikan langkah-langkah penting dalam intervensi yang menjadikannya kurang efektif dan tidak menjawab persoalan.
Nah, ketika kerja kemanusiaan mengadaptasi konsep HCD, setidaknya ada lima tahapan yang harus dilalui, yakni empathy, define, ideate, prototype, dan test. Dalam melalui setiap tahapan tadi juga ada proses berpikir divergen dan konvergen yang terus berkesinambungan.
Pertama, empathy. Empati adalah proses untuk memahami manusia sekaligus memahami konteks kehidupannya. Metode yang dapat dilakukan dalam tahap ini bisa melalui observasi, keterlibatan, maupun melebur dalam masyarakat yang akan diintervensi. Pada proses ini, kita perlu mengembangkan pikiran dan membuka kemungkinan seluas-luasnya (divergent) sehingga bisa memahami konteks masyarakat dengan utuh.
Kedua, define. Tahap ini menjadi proses mengubah cerita dan pengalaman yang diperoleh pada tahap empati menjadi pemahaman terhadap akar persoalan dan kebutuhan masyarakat. Pada tahap ini, cara berpikir yang perlu diterapkan adalah mengerucutkan atau memfokuskan (convergent) sehingga kita memahami akar permasalahan yang paling utama dan bisa menentukan kebutuhan apa yang paling mendesak bagi masyarakat.
Ketiga, ideate. Setelah tahu akar masalah dan kebutuhan masyarakat, saatnya mencari ide rancangan solusi yang mampu menjawab persoalan dan memenuhi kebutuhan tersebut. Tentu saja untuk menemukan ide, kita perlu menggunakan pikiran terbuka, menampung sebanyak mungkin ide dan menemukan berbagai kemungkinan solusi.
Keempat, prototype. Ide solusi yang telah ditemukan menjadi dasar untuk membuat contoh atau model layanan/kebijakan inovasi yang menjawab kebutuhan. Prototype tidak harus berupa benda. Dalam situasi bencana, prototipe bisa berupa storyboard atau role play untuk sistem distribusi bantuan. Contoh lainnya bisa berupa alur layanan dalam mekanisme aduan.
Kelima, test. Prototype yang sudah dibuat perlu melalui proses pengujian model bersama masyarakat/kelompok yang akan memanfaatkan prototipe tersebut.
Secara singkat, itulah lima tahapan yang perlu dilalui agar kerja masyarakat secara efektif dan efisien menjawab kebutuhan masyarakat. Namun, ada beberapa poin yang perlu dipahami: pendekatan HCD tidak menjamin semua kelompok terwakili. Dalam penerapannya juga diperlukan kesadaran relasi kuasa, keberagaman pengalaman dan umpan balik kepada masyarakat. Human-centered design juga menjadi arena proses belajar bersama, bukan proses desainer mengambil informasi dari masyarakat. Proses belajar ini sifatnya berulang-ulang dan tidak cukup hanya dilakukan sekali.
Inovasi dalam kerja kemanusiaan harus menghindari dampak negatif dan tidak menempatkan orang pada risiko yang lebih besar. Kerja kemanusiaan juga sering kali berhadapan dengan masyarakat yang berada dalam posisi yang lebih rentan, maka pegiat kemanusiaan harus lebih peka dan menghormati orang dalam kondisi rentan tersebut. Hal lain yang tidak boleh terlupakan adalah prinsip keadilan yang menjamin perlakuan setara, adil, dan penghormatan terhadap hak-hak kelompok masyarakat yang diintervensi.
Wiji Nurasih Divisi Riset dan Advokasi Mitra Wacana
Opini
Ilusi Kebebasan: Ketika Struktur Mengekang Identitas Diri
Published
5 days agoon
18 August 2026By
Mitra Wacana

Hafizh Achmad Fauzan seorang mahasiswa dari Universitas Pendidikan Indonesia
Sulitnya menjadi diri sendiri di tengah masyarakat yang sedikit-sedikit mengatakan, “kamu aneh”
Pernah nggak sih kamu merasa harus selalu memakai “topeng” setiap kali kamu beranjak keluar rumah? Dihadapan teman, keluarga, atau bahkan tetangga, kita selalu mencoba berakting menjadi sosok yang manut-manut saja sama standar yang sudah mereka terapkan. Tetapi begitu sampai di kamar, mengunci pintu, lalu merebahkan diri, disanalah kita baru bisa bernafas lega dan bertanya-tanya kepada diri sendiri: “sebenernya, yang tadi aku tunjukkan itu aku atau siapa, sih?”
Pertanyaan mengenenai, “siapa sih aku sebenarnya” itu bukan cuma lamunan impulsif sebelum tidur, ia adalah sebuah pertanda bahwa ada kekosongan di dalam diri yang minta diisi.
Secara alami, kita pun mulai mencari jawaban ke luar. Kita menjelajahi internet, mengobrol sama teman, sampai menyerap berbagai informasi demi menemukan identitas yang terasa, “ini aku banget”. Begitu merasa sudah ketemu dan siap membagikannya ke dunia nyata, plak! Realita menampar keras. Lingkungan sosial kita bukannya menyambut dengan tangan terbuka, tapi malah mengecap identitas itu sebagai sebuah “anomali”—sesuatu yang aneh, salah, atau wajib diluruskan.
Psikolog ternama, Erik Erikson pernah bilang kalau pencarian identitas itu memang fase yang krusial banget. Kalau lingkungan kita suportif, kita bakal tumbuh jadi pribadi yang percaya diri. Faktor pembentukan identitas diri ini seringkali dipengaruhi oleh faktor internal yang berada dalam diri kita sendiri. Dapat berupa motivasi atau regulasi diri. Seringkali kita membutuhkan dukungan moral dari luar seperti dari keluarga, teman-teman, atau tokoh idola yang sekarang lagi happening di dunia maya, idolaku menyelamatkanku ketika aku tak yakin pada diri sendiri, namun mereka melihatku seperti sosok yang berharga.
Bagaimana kalau yang kita dapatkan bukan sebuah dukungan, melainkan berupa cemoohan dan kecaman yang menusuk seperti duri?
Dari sinilah krisis identitas itu lahir. Karena takut dibilang aneh atau dikucilkan, banyak dari kita yang pada akhirnya memilih jalan aman dengan bikin identitas semu. Kita berpura-pura menyukai apa yang mayoritas sukai.
Tapi ya kali mau terus-terusan menyamar sepanjang hidup? Pura-pura jadi orang lain itu lelahnya luar bisa, membuat diri kita hilang terkubur redup. Efek jangka panjangnya bisa membuat kita cemas, depresi, sampai merasa hampa karena tak pernah benar-benar merasa hidup. Makanya, nggak heran kalau banyak orang yang akhirnya memilih lari ke dunia maya— sebagian dari kita pada akhirnya memilih untuk memuat identity fluidity virtual atau pada zaman sekarang, hal ini disebut dengan pembuatan akun alter. Karena menurutnya, di dalam dunia ini mereka merasa aman, dan nyaman tanpa memiliki perasaan takut dijudging karena telah menjadi diri sendiri. Semuanya dilakukan secara anonim.
Mendapat dukungan moral dengan mudah, tanpa harus memaksakan diri agar dapat diterima, mengapa hal ini terasa sulit? Seperti mustahil untuk didapatkan di dunia nyata? Mengapa terasa mudah apabila dilakukan sebagai anonim di dalam dunia maya? Pertanyaan-pertanyaan itu kerap kali muncul hingga identify difussion mengincar kita yang gagal dalam pembentukan identitas diri.
Secara filosofis, filsus eksistensialis Jean-Paul Sartre punya jargon terkenal: “Condemned to be free”—manusia itu dikutuk dan diciptakan untuk bebas. Maksudnya, kita terlahir tanpa cetakan makna bawaan. Kamulah pencipta atas hidup dan makna dirimu sendiri. Kamulah pengendali atas apa yang kamu inginkan.
Sayangnya, dalam praktik sehari-hari, teori Sartre ini sering kali mental saat berhadapan dengan struktur sosial. Masyarakat kita rajin banget menetapkan “nilai tunggal”. Kalau kamu sedikit berbeda dari kebiasaan mayoritas, kamu langsung dilabeli buruk. Kebebasan berekspresi yang digadang-gadang itu seolah cuma mitos, karena struktur di sekitar kita lebih suka menyeragamkan ketimbang menghargai keberagaman.
Lantas, harus bagaimana kita menghadapi dunia yang sering kali tidak ramah ini?
Filsuf Albert Camus punya sudut pandang yang menarik soal ini. Menurut Camus, dunia ini memang penuh absurditas—dunia nggak selalu adil dan usaha kita buat diterima nggak selalu berbuah manis. Cara melawannya bukan dengan menyerah atau terus-menerus sedih, melainkan dengan menjadi “The Stranger”: berdamai dengan kenyataan bahwa dunia ini memang absurd, lalu fokus pada nilai diri sendiri tanpa peduli diktasi luar.
Nietzsche juga menambahkan konsep keren bernama will to power. Jangan biarkan kehampaan atau penolakan sosial menghancurkanmu. Jadilah ubermensch yang artinya menjadi manusia yang berani menciptakan nilainya sendiri di tengah masyarakat yang mengekang. Dan berani untuk tetap tumbuh, tetap pada pendirian teguh akan identitas diri, jangan takut akan runtuh. Karena dunia akan ikut meluruh apabila kita tetap utuh.
Dunia ini bukan cuma milik satu kelompok atau satu standar nilai. Seperti kata Jean-Francois Lyotard; kita harus bisa menghargai bahwa tiap manusia punya konteks dan perspektif yang berbeda-beda.
Parahnya lagi, situasi ini makin keruh belakangan ini. Peraturan pemerintah yang harusnya melindungi semua warga malah kerap dipakai sebagai alat legitimasi buat mendiskriminasi, mengkriminalisasi, atau memojokkan kelompok yang dianggap “anomali” dari standar mayoritas. Dalihnya ya macam-macam, dari soal nilai sosial sampai ideologi. Efeknya? Banyak orang yang akhirnya makin takut buat jadi diri sendiri di ruang publik karena merasa keselamatan mereka terancam.
Capek nggak sih melihat masyarakat kita terus-terusan dibenturkan oleh konflik horizontal yang mengorbankan kelompok minoritas, sementara masalah-masalah besar yang jauh lebih krusial malah kelelep gitu aja? Sudah saatnya kita belajar dari sejarah dengan mengetahui bahwa persatuan itu lahir dari rasa saling menghargai perbedaan, bukan dari memaksa semua orang untuk seragam.
Pada akhirnya, identitas diri itu adalah tentang kesadaran penuh akan siapa diri kita dan bagaimana hasil dari proses panjang mengeksplorasi nilai, memilih apa yang kita yakini, lalu berani menampilkannya ke dunia.
Menerima diri sendiri itu krusial banget biar kita bisa melangkah dengan percaya diri dan nggak gampang tumbang oleh krisis batin. Ketika dunia luar mulai bising dengan penolakan dan cemoohan, ajaran Albert Camus bisa kita jadikan sebagai benteng pertahanan diri, karena beliau bilang, berdamai saja dengan kenyataan bahwa dunia ini memang absurd, lalu fokus merawat nilai-nilai yang kita yakini.
Kita tidak boleh melupakan fakta bahwa pada akhirnya, setiap manusia memiliki keinginan yang sama dan sederhana; kita menginginkan hak untuk hidup dengan aman tanpa takut terdiskriminasi atau bahkan tereleminasi sosial. Sudah saatnya kita merayakan pluralitas dan menghargai perbedaan bagaimana cara seseorang memaknai dan menghargai hidupnya. Toh, pada dasarnya, nggak ada satu pun manusia di dunia ini yang ingin diperlakukan tidak adil hanya karena ia memilih untuk jujur pada dirinya sendiri.
REFERENSI
Nietzsche, F. (2005). Thus spoke Zarathustra (G. Parkes, Trans.). Oxford University Press.
Camus, A. (1955). The myth of Sisyphus (J. O’Brien, Trans.).
Sa’diyah, H., & Jannah, S. N. F. (2025). Ontologi attachment dalam dinamika keluarga: Peran orang tua dalam pembentukan identitas anak. Educazione, 13(1), 42-54.
Hidayah, N., & Huriati. (2016). Krisis identitas diri pada remaja “identity crisis of adolescences”. Sulesana, 10(1), 49-62.








