Opini
Saat Masalah Mengemuka dan Wahabi Diam Saja(?)
Published
1 hour agoon
By
Mitra Wacana

Nazwar, S. Fil. I., M. Phil. (Penarasi Jogja Sumatera)
Diam saja di sini bukan tidak ada kata-kata (selain dalil), seperti penjelasan, contoh, ijtihad dan pengkiasan suatu bahasan materi kajian, namun tidak memberikan solusi; diingatkan/diberitahu dengan kondisi negasinya sama saja, rakyat susah dan mengalami ekonomi miskin lagi fakir. Ingat pidato Prabowo, tentang mengedepankan para buruh dan pekerja kasar daripada mahasiswa kala itu dalam rangka memberi manfaat dalam kehidupan meski selang berapa bulan pejabat bahkan menterinya (MENKEU Sri Mulyani) rumahnya dijarah!
Setiap manusia yang membaca artikel ini tentu pernah mendengar perinahasa yang diajarkan saat kita masih kecil, bisa di sekolah TK, SD atau oleh ayah/ibu di yaitu rumah rajin pangkal pandai. Artinya ketelatenan akan mendatangkan hasil, termasuk dalam pengelolaan negara dan ketangkasan dan kebijaksanaan dalam menghadapi masalah-masalah seperti krisis.
Mengapa Wahabi? Adalah gerakan keagamaan yang masif mendakwahkan semangat pemurnian, secara esensi tidak ada menyangsikan, namun secara konsep tentu perlu dikaji ulang, terlebih dakwah dengan fasilitas ala modernitas berupa ideologi, sebab khususnya Wahabi meski telah berperan baik termasuk dalam menjaga kestabilan sosial dan keharmonisan masyarakat dalam naungan agama sesungguhnya pada sisi tertentu mengalami kebingungan sendiri. Kenapa? Berikut ulasan filosofisnya.
Paradoksal Islam Tradisional
Sadarkah kita, mereka yang mendakwahkan agama dengan semangat revivalis itu adalah mereka yang terdidik, meski “based on” TIMTENG, nyatanya mereka pendidikan mereka berjenjang, ada yang S1, S2 artinya mereka “well educated enough” sayangnya, ada “mis” di sana. Kalau mau jujur-jujuran, mereka kurang bersahabat dengan akar pendidikan sekaligus ibu keilmuan (“The Mother of Science”) yaitu Filsafat bahkan seringkali menyerang dan terhadapnya yang dinilai bukan produk luar agama cenderung tidak berakhlak.
Secara proaktif, Wahabi menutup (“cover“) rapat-rapat pintu ke sana seolah tidak ada kebaikan darinya sehingga dianggap tidak manfaat dan berbahaya. Padahal, secara semangat keduanya relaitif sama, sebab Filsafat, istilahnya saja dari “Philo“: cinta dan “Shofia” artinya ilmu pengetahuan atau kebijaksanaan, bahkan Shofia atau “Shofiyy” dalam bahasa Arab sendiri berarti murni. “Bukankah Wahabi juga punya semangat menuju agama atau Islam yang murni?”
Belajar dari Filsafat, menjembatani tradisional dengan medernitas, tantangannya adalah pada ranah ideologi. Contohnya bisa berupa kepentingan, pemahaman serta jalan (“sabiil“). Maka sekali lagi bukan ensensi baik Filsafat terlebih agama. Jika pada Filsafat dalam spesifikasi keilmuan dan Antrologi dan/ Ilmu Budaya bisa dilihat pada perhelatan budaya dalam berbagai festival. Bedanya, usaha produksi tradisi masa lalu ke zaman sekarang ala Wahabi menghadirkan ketenangan dan pengalaman spiritual yang dalam lagi penuh kemuliaan.
“Emang Masalah Apa?”
Pertanyaan ini bukan maksud menyindir atau nyinyir kepada mereka yang berniat baik dengan berkontribusi positif bagi negeri dengan kapasitasnya meski dalam relasi namun berada di luar lingkar kekuasaan. Wahabi adalah sebagai yang diakui bersama: penganut dan pemerhati adalah bersifat ideologis nampaknya penting memperhatikan esensi agama yang didakwahkan, seperti kemuliaan akhlak, kebijaksanaan dan keadilan yang tentu tidak untuk dinafikan atau apatis dan berlepas diri sepenuhnya.
Beranjak dari sana dan berbagai asumsi lain yang relatif sama, selain berdo’a, celah yang dapat dimanfaatkan adalah ruang usaha (“Wus’a“). Harapannya realitas sebagaimana dalam pandangan Filsafat atau keilmuan umum berupa holistik dapat terakomodir setelah terdistorsi sedemikian rupa tentunya sebagaimana dalam konsekuensi rasional ideologi.
Dengan demikian, langkah dakwah para Wahabi dan para penerusnya bukan sekedar dakwah sebagai tanggung jawab keilmuan, namun juga kontribusi terhadap keilmuan yang telah memberi ruang bagi mereka dan menjadikan produknya yang berkesesuaian dengan ideologi bangsa Indonesia itu sendiri. Termasuk menghadapi kondisi ekonomi miskin seperti sekarang, sikap berupa usaha juga penting, termasuk perbaikan terhadap pengelola pemerintah dan pemangku kekuasaan negeri ini yang sedang mengalami ekonomi yang sulit ini.
Opini
Desain yang Berpusat pada Manusia: Satu Lagi Pendekatan dalam Kerja Kemanusiaan (Catatan Mentoring YSI 29-30 Juni 2026)
Published
2 hours agoon
13 July 2026By
Mitra Wacana
Perjalanan kehidupan menuntut segala hal untuk terus berkembang, berubah dan melakukan inovasi. Inovasi tak melulu soal teknologi, temuan baru dan produk. Dalam ranah sosial, seperti dalam kerja kemanusiaan, juga menuntut untuk terus berinovasi. Mengapa demikian? Karena dengan inovasi, proses kerja kemanusiaan bisa menjadi lebih efisien, cara kerja lebih efektif. Selain itu, inovasi bisa menawarkan nilai yang lebih baik bagi masyarakat yang diintervensi, menjadikan sektor kemanusiaan dinamis dan turut berevolusi seiring perkembangan dunia. Inovasi memungkinkan penggunaan sumber daya yang terbatas dengan cara paling efektif. Tidak kalah penting, inovasi baru dapat menjawab berbagai tantangan dalam kerja kemanusiaan.
Salah satu inovasi yang bisa digunakan dalam kerja kemanusiaan adalah pendekatan human-centered design (HCD). Awalnya konsep ini berkembang dalam konteks bisnis yang bertujuan untuk menempatkan manusia sebagai pusat proses pengembangan sehingga produk atau layanan yang dibuat sesuai dengan kebutuhan pengguna. Konsep ini menjadi relevan ketika dibawa dalam konteks kerja kemanusiaan, karena sering kali program-program kemanusiaan dirancang sedemikian rupa, namun melupakan apa sebenarnya yang dibutuhkan manusia yang disasar. Dengan kata lain, penyusunan program tidak melibatkan partisipasi masyarakat dan hanya mengacu pada data sekunder.
Jika kerja kemanusiaan kurang memahami ini, maka hal yang dilakukan hanya akan terpaku pada program (program-centered) alih-alih berpusat pada manusia yang membutuhkan intervensi (human-centered). Menjadi persoalan lain lagi ketika pegiat kemanusiaan semata-mata bergerak berdasarkan persepsi, pengalaman dan pengetahuannya tanpa terlebih dahulu memahami dengan baik tantangan dan harapan masyarakat. Tidak jarang, kerja kemanusiaan juga segera memikirkan solusi ketika melihat permasalahan masyarakat. Padahal jika merenungkannya melalui pendekatan HCD, cara semacam itu justru mengabaikan langkah-langkah penting dalam intervensi yang menjadikannya kurang efektif dan tidak menjawab persoalan.
Nah, ketika kerja kemanusiaan mengadaptasi konsep HCD, setidaknya ada lima tahapan yang harus dilalui, yakni empathy, define, ideate, prototype, dan test. Dalam melalui setiap tahapan tadi juga ada proses berpikir divergen dan konvergen yang terus berkesinambungan.
Pertama, empathy. Empati adalah proses untuk memahami manusia sekaligus memahami konteks kehidupannya. Metode yang dapat dilakukan dalam tahap ini bisa melalui observasi, keterlibatan, maupun melebur dalam masyarakat yang akan diintervensi. Pada proses ini, kita perlu mengembangkan pikiran dan membuka kemungkinan seluas-luasnya (divergent) sehingga bisa memahami konteks masyarakat dengan utuh.
Kedua, define. Tahap ini menjadi proses mengubah cerita dan pengalaman yang diperoleh pada tahap empati menjadi pemahaman terhadap akar persoalan dan kebutuhan masyarakat. Pada tahap ini, cara berpikir yang perlu diterapkan adalah mengerucutkan atau memfokuskan (convergent) sehingga kita memahami akar permasalahan yang paling utama dan bisa menentukan kebutuhan apa yang paling mendesak bagi masyarakat.
Ketiga, ideate. Setelah tahu akar masalah dan kebutuhan masyarakat, saatnya mencari ide rancangan solusi yang mampu menjawab persoalan dan memenuhi kebutuhan tersebut. Tentu saja untuk menemukan ide, kita perlu menggunakan pikiran terbuka, menampung sebanyak mungkin ide dan menemukan berbagai kemungkinan solusi.
Keempat, prototype. Ide solusi yang telah ditemukan menjadi dasar untuk membuat contoh atau model layanan/kebijakan inovasi yang menjawab kebutuhan. Prototype tidak harus berupa benda. Dalam situasi bencana, prototipe bisa berupa storyboard atau role play untuk sistem distribusi bantuan. Contoh lainnya bisa berupa alur layanan dalam mekanisme aduan.
Kelima, test. Prototype yang sudah dibuat perlu melalui proses pengujian model bersama masyarakat/kelompok yang akan memanfaatkan prototipe tersebut.
Secara singkat, itulah lima tahapan yang perlu dilalui agar kerja masyarakat secara efektif dan efisien menjawab kebutuhan masyarakat. Namun, ada beberapa poin yang perlu dipahami: pendekatan HCD tidak menjamin semua kelompok terwakili. Dalam penerapannya juga diperlukan kesadaran relasi kuasa, keberagaman pengalaman dan umpan balik kepada masyarakat. Human-centered design juga menjadi arena proses belajar bersama, bukan proses desainer mengambil informasi dari masyarakat. Proses belajar ini sifatnya berulang-ulang dan tidak cukup hanya dilakukan sekali.
Inovasi dalam kerja kemanusiaan harus menghindari dampak negatif dan tidak menempatkan orang pada risiko yang lebih besar. Kerja kemanusiaan juga sering kali berhadapan dengan masyarakat yang berada dalam posisi yang lebih rentan, maka pegiat kemanusiaan harus lebih peka dan menghormati orang dalam kondisi rentan tersebut. Hal lain yang tidak boleh terlupakan adalah prinsip keadilan yang menjamin perlakuan setara, adil, dan penghormatan terhadap hak-hak kelompok masyarakat yang diintervensi.
Wiji Nurasih Divisi Riset dan Advokasi Mitra Wacana

Saat Masalah Mengemuka dan Wahabi Diam Saja(?)

Desain yang Berpusat pada Manusia: Satu Lagi Pendekatan dalam Kerja Kemanusiaan (Catatan Mentoring YSI 29-30 Juni 2026)

Webinar Series 1: Masa Depan Pemberantasan Perdagangan Orang di Indonesia: Antara Perubahan Norma Hukum dan Tantangan Implementasinya

Webinar Series 1: Masa Depan Pemberantasan Perdagangan Orang di Indonesia: Antara Perubahan Norma Hukum dan Tantangan Implementasinya

Desain yang Berpusat pada Manusia: Satu Lagi Pendekatan dalam Kerja Kemanusiaan (Catatan Mentoring YSI 29-30 Juni 2026)







