Berita
Cegah TPPO, Mitra Wacana dan Disnaker Kulon Progo Adakan Sosialisasi di Pertemuan Rutin PKK Kalurahan Temon Kulon
Published
3 weeks agoon
By
Mitra Wacana
Mitra Wacana bersama dengan Disnaker Kulon Progo dan PKK Kalurahan Temon Kulon mengadakan pertemuan rutin PKK beserta sosialisasi yang dilaksanakan pada Senin (20/07/2026) dan bertempat di Aula Kalurahan Temon Kulon, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kegiatan sosialisasi difasilitasi oleh pihak Mitra Wacana dan Disnaker Kulon Progo dengan materi terkait pencegahan tindak pidana perdagangan orang. Sosialisasi ini dilakukan dengan mempertimbangkan lokasi Temon Kulon yang berada di dekat Bandara YIA, sehingga harapannya para peserta dapat memiliki kesadaran terkait tindak pidana perdagangan orang yang sering kali terjadi di sekitar Bandara YIA.
Acara dimulai dengan sambutan dari Ari Sasongko Putro selaku Lurah Kalurahan Temon Kulon. Dalam sambutannya, ia menghimbau para peserta supaya dapat melapor ke Kalurahan jika menemukan indikasi TPPO di sekitar mereka. Ia juga berharap supaya para peserta dapat menerima informasi selama sosialisasi dengan sebaik-baiknya dan mampu menyebarluaskannya kepada masyarakat di Temon Kulon.
Sesi pemaparan materi dilanjutkan oleh Tri Wahyudi, Kepala Dinas Ketenagakerjaan Kabupaten Kulon Progo. Mengingat bahwa para peserta masih belum terlalu memahami TPPO, materi yang dibawakan oleh Tri Wahyudi berfokus pada pengenalan dan penjelasan terkait TPPO kepada para peserta.
Dalam pemaparannya, Tri Wahyudi menekankan bagaimana TPPO sangat erat kaitannya dengan ketenagakerjaan. Hal ini karena para pelaku sering kali membalut tindak kejahatannya dengan memberikan iming-iming lowongan pekerjaan kepada korban. Ciri-ciri penawaran kerja yang terindikasi TPPO pun dijabarkan, salah satunya seperti tidak ada perjanjian kerja, proses yang sangat terburu-buru, dan juga penggunaan visa yang tidak sesuai. Lebih lanjut, ia menekankan bahwa pencegahan terhadap TPPO adalah tanggung jawab bersama. Para peserta diimbau untuk selalu memastikan kebenaran suatu tawaran serta segera melapor jika melihat adanya indikasi perekrutan pekerja migran ilegal. Sementara itu, Kalurahan juga bertanggung jawab untuk selalu menjaga dan mengawasi para warganya, terutama yang sedang atau berencana menjadi pekerja migran.
Yunia sebagai perwakilan dari Mitra Wacana mengawali sesi pemaparan materi kedua dengan menampilkan dua video yang berbeda. Pada video pertama menampilkan Suster Laurencia atau “Suster Kargo” yang mengurus kargo-kargo jenazah para warga NTT yang meninggal di luar negeri. Sementara video kedua menampilkan trailer film dokumenter Before You Eat yang memberikan gambaran singkat terkait anak buah kapal (ABK) Indonesia yang dieksploitasi di kapal ikan asing.
Dengan memaparkan jumlah korban TPPO di Indonesia pada Januari-September 2025, Yunia kemudian menekankan bahwa TPPO merupakan kejahatan yang berkembang di atas celah kegagalan sistem perlindungan negara. Dalam kondisi ekonomi yang semakin sulit, para pelaku TPPO justru memanfaatkan kondisi ini dengan menjaring lebih banyak korban yang kesulitan mencari pekerjaan. Hal ini sesuai dengan modus TPPO yang tengah marak saat ini, yakni memanfaatkan media sosial untuk menjaring korban dari kelompok usia produktif yang notabene aktif di media sosial dan tengah kesulitan mencari pekerjaan. Yunia juga menyoroti tentang gaji para pekerja migran yang begitu kecil di negara tempat mereka bekerja. Dengan perspektif kondisi ekonomi di Indonesia, gaji tersebut terasa begitu besar karena nilai tukar rupiah yang kian melemah. Hal inilah yang kemudian dimanfaatkan para pelaku TPPO dalam mengelabui korbannya. Yunia kemudian menutup sesi pemaparan materi dengan mengingatkan tanggung jawab pemerintah dan masyarakat dalam mencegah tindak kejahatan ini.
Kegiatan dilanjutkan dengan sesi diskusi atau tanya jawab yang berlangsung interaktif. Sebagai closing statement, Tri Wahyudi mengimbau kembali kepada para peserta supaya lebih berhati-hati dalam mencari lowongan pekerjaan. Yunia kemudian menekankan bahwa upaya pencegahan TPPO merupakan tugas bersama. Setiap elemen masyarakat diharapkan mampu turut serta dalam upaya pencegahan dengan melaksanakan tanggung jawabnya masing-masing. Dengan demikian, kegiatan ini dapat menjadi komitmen bersama antara masyarakat dan pemerintah dalam mencegah tindak pidana perdagangan orang, terutama di wilayah Temon Kulon, Kabupaten Kulon Progo.
Luthfi Fatimah
Meilina Salsabila
(Mahasiswa Magang Universitas Sebelas Maret)
You may like
Berita
Human Trafficking Month – 30th of July 2026
Published
5 days agoon
6 August 2026By
Mitra Wacana

Anna de Muinck Keizer university of Amsterdam
The month July is recognized as Anti-Human Trafficking Month (Bulan Anti Perdagangan Manusia) in Indonesia, a nationwide campaign dedicated to raise awareness about human trafficking and promoting coordinated action against exploitation. Human trafficking remains a significant human rights issue in Indonesia. Women, children and migrant workers are vulnerable to exploitation, including forced labour, sexual exploitation, forced marriage and online recruitment scams. Factors such as poverty, limited employment opportunities, unequal access to education and misinformation increase’s people’s vulnerability.
On the 30th of July 2026, organizations, academics, government representatives and community members gathered at the Faculty of Law of Universitas Gadjah Mada (UGM) for an event dedicated to this Anti-Human Trafficking Month. Mitra Wacana collaborated with various organizations to aim to raise awareness about human trafficking while promoting collaboration in prevention, protection and victim support.

The event opened with participant registration, followed by an opening ceremony featuring welcoming remarkss and a cultural performance. Throughout the day, visitors could also explore a small Bazar, filled with products from local entrepreneurs and creating space for community engagement alongside the educational program.
The day consisted of several panel discussions featuring experts from universities, migrant worker organizations, government members, and legal institutions. The event started with a panel discussion that discussed the theme ‘Facing the New Face of Human Traffiking: Collaboration for Protection and Law Enforcement’. The speakers discussed the increasing vulnerability of migrant workers, online recruitment methods, and the need for stronger legal protection and law enforcement.
The second panel discussion talked about the ‘Collaboration on Prevention and Handling of Human Trafficking: Organizing, Advocacy, Campaigns, Legal and Psychological Assistance’. The presentations from the different organizations emphasized the importance of collaboration between professionals from different sectors, including lawyers, psychologist, educators and local communities.
The last discussion discussed the theme ‘Various Modes of Human Trafficking: from student trafficking, arranged marriages and the role of interfaith networks in preventing and handling human trafficking’. The panel explored the diverse and evolving forms of human trafficking, emphasizing that exploitation can occur in a variety of social and cultural contexts.
Overall, the event provided an opportunity to increase awareness and to strengthen the collaboration between organizations committed to addressing and preventing the human trafficking issue in Indonesia. Through knowledge sharing, practical discussions and community engagement the event reinforced the message that preventing exploitation requires collective responsibility. This message is reflected in the slogan ‘Humans are not for sale, united against exploitation’.

Patriarki dalam Bingkai Spiritual: Menguak Kekerasan Seksual di Lembaga Pendidikan Islam

Memeluk Kebingungan Hidup Bersama Julie dari Film The Worst Person In The World: Perspektif Jean-Paul Sartre

Tubuh yang Lelah dan Jiwa yang Haus Makna: Membaca Fenomena Burnout dari Lensa Filsafat Stoikisme

Apakah Kita Masih Bisa Menjadi “Diri Sendiri” di Era Media Sosial?

Tubuh yang Lelah dan Jiwa yang Haus Makna: Membaca Fenomena Burnout dari Lensa Filsafat Stoikisme








