Berita
Cegah TPPO, Mitra Wacana dan Disnaker Kulon Progo Adakan Sosialisasi di Pertemuan Rutin PKK Kalurahan Temon Kulon
Published
2 hours agoon
By
Mitra Wacana
Mitra Wacana bersama dengan Disnaker Kulon Progo dan PKK Kalurahan Temon Kulon mengadakan pertemuan rutin PKK beserta sosialisasi yang dilaksanakan pada Senin (20/07/2026) dan bertempat di Aula Kalurahan Temon Kulon, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kegiatan sosialisasi difasilitasi oleh pihak Mitra Wacana dan Disnaker Kulon Progo dengan materi terkait pencegahan tindak pidana perdagangan orang. Sosialisasi ini dilakukan dengan mempertimbangkan lokasi Temon Kulon yang berada di dekat Bandara YIA, sehingga harapannya para peserta dapat memiliki kesadaran terkait tindak pidana perdagangan orang yang sering kali terjadi di sekitar Bandara YIA.
Acara dimulai dengan sambutan dari Ari Sasongko Putro selaku Lurah Kalurahan Temon Kulon. Dalam sambutannya, ia menghimbau para peserta supaya dapat melapor ke Kalurahan jika menemukan indikasi TPPO di sekitar mereka. Ia juga berharap supaya para peserta dapat menerima informasi selama sosialisasi dengan sebaik-baiknya dan mampu menyebarluaskannya kepada masyarakat di Temon Kulon.
Sesi pemaparan materi dilanjutkan oleh Tri Wahyudi, Kepala Dinas Ketenagakerjaan Kabupaten Kulon Progo. Mengingat bahwa para peserta masih belum terlalu memahami TPPO, materi yang dibawakan oleh Tri Wahyudi berfokus pada pengenalan dan penjelasan terkait TPPO kepada para peserta.
Dalam pemaparannya, Tri Wahyudi menekankan bagaimana TPPO sangat erat kaitannya dengan ketenagakerjaan. Hal ini karena para pelaku sering kali membalut tindak kejahatannya dengan memberikan iming-iming lowongan pekerjaan kepada korban. Ciri-ciri penawaran kerja yang terindikasi TPPO pun dijabarkan, salah satunya seperti tidak ada perjanjian kerja, proses yang sangat terburu-buru, dan juga penggunaan visa yang tidak sesuai. Lebih lanjut, ia menekankan bahwa pencegahan terhadap TPPO adalah tanggung jawab bersama. Para peserta diimbau untuk selalu memastikan kebenaran suatu tawaran serta segera melapor jika melihat adanya indikasi perekrutan pekerja migran ilegal. Sementara itu, Kalurahan juga bertanggung jawab untuk selalu menjaga dan mengawasi para warganya, terutama yang sedang atau berencana menjadi pekerja migran.
Yunia sebagai perwakilan dari Mitra Wacana mengawali sesi pemaparan materi kedua dengan menampilkan dua video yang berbeda. Pada video pertama menampilkan Suster Laurencia atau “Suster Kargo” yang mengurus kargo-kargo jenazah para warga NTT yang meninggal di luar negeri. Sementara video kedua menampilkan trailer film dokumenter Before You Eat yang memberikan gambaran singkat terkait anak buah kapal (ABK) Indonesia yang dieksploitasi di kapal ikan asing.
Dengan memaparkan jumlah korban TPPO di Indonesia pada Januari-September 2025, Yunia kemudian menekankan bahwa TPPO merupakan kejahatan yang berkembang di atas celah kegagalan sistem perlindungan negara. Dalam kondisi ekonomi yang semakin sulit, para pelaku TPPO justru memanfaatkan kondisi ini dengan menjaring lebih banyak korban yang kesulitan mencari pekerjaan. Hal ini sesuai dengan modus TPPO yang tengah marak saat ini, yakni memanfaatkan media sosial untuk menjaring korban dari kelompok usia produktif yang notabene aktif di media sosial dan tengah kesulitan mencari pekerjaan. Yunia juga menyoroti tentang gaji para pekerja migran yang begitu kecil di negara tempat mereka bekerja. Dengan perspektif kondisi ekonomi di Indonesia, gaji tersebut terasa begitu besar karena nilai tukar rupiah yang kian melemah. Hal inilah yang kemudian dimanfaatkan para pelaku TPPO dalam mengelabui korbannya. Yunia kemudian menutup sesi pemaparan materi dengan mengingatkan tanggung jawab pemerintah dan masyarakat dalam mencegah tindak kejahatan ini.
Kegiatan dilanjutkan dengan sesi diskusi atau tanya jawab yang berlangsung interaktif. Sebagai closing statement, Tri Wahyudi mengimbau kembali kepada para peserta supaya lebih berhati-hati dalam mencari lowongan pekerjaan. Yunia kemudian menekankan bahwa upaya pencegahan TPPO merupakan tugas bersama. Setiap elemen masyarakat diharapkan mampu turut serta dalam upaya pencegahan dengan melaksanakan tanggung jawabnya masing-masing. Dengan demikian, kegiatan ini dapat menjadi komitmen bersama antara masyarakat dan pemerintah dalam mencegah tindak pidana perdagangan orang, terutama di wilayah Temon Kulon, Kabupaten Kulon Progo.
Luthfi Fatimah
Meilina Salsabila
(Mahasiswa Magang Universitas Sebelas Maret)
You may like
Berita
KOPPMI Perkuat Kapasitas Purna Pekerja Migran melalui Pelatihan Manajemen Organisasi dan Pembuatan Pupuk Organik Cair
Published
1 hour agoon
22 July 2026By
Mitra Wacana
Oleh Iman Amirullah
Cilacap — Koordinasi Purna Pekerja Migran Indonesia (KOPPMI) menyelenggarakan pelatihan capacity building bertema “Persoalan-Persoalan Manajemen pada Komunitas Perempuan Purna Pekerja Migran Petani” yang dipadukan dengan pelatihan pembuatan pupuk organik cair.
Kegiatan ini berlangsung di rumah salah satu anggota, Bu Mus, di Desa Karangjengkol, Kecamatan Kesugihan, Kabupaten Cilacap, pada Selasa (21/7).
Pelatihan diikuti anggota KOPPMI yang merupakan perempuan purna pekerja migran dan kini menekuni sektor pertanian. Kegiatan ini bertujuan memperkuat kapasitas organisasi sekaligus meningkatkan keterampilan anggota dalam mengembangkan pertanian yang sehat, mandiri, dan berkelanjutan.
Pelatihan menghadirkan tiga narasumber dari STIE Muhammadiyah Cilacap, yaitu Tri Nurindahyanti, S.E., Rustina Dewi, S.E., M.M., dan Wignyo, S.Kom., S.E. Ketiganya memberikan materi mengenai penguatan manajemen organisasi komunitas serta praktik pembuatan pupuk organik cair yang dapat diterapkan langsung oleh para peserta.
Dalam sesi capacity building, peserta mendapatkan pembekalan mengenai pengelolaan organisasi, kepemimpinan komunitas, pembagian peran, serta strategi memperkuat solidaritas antaranggota agar mampu mengembangkan organisasi yang lebih mandiri dan berdaya.
Sementara itu, pelatihan pembuatan pupuk organik cair bertujuan mendorong terciptanya ketahanan pangan keluarga yang sehat sekaligus mengurangi ketergantungan petani terhadap pupuk berbahan kimia.

Peserta mengikuti pelatihan membuat pupuk organisasi. Dok. KOPPMI
KOPPMI menilai penggunaan pupuk kimia secara terus-menerus dapat berdampak buruk terhadap kesehatan dan menurunkan tingkat kesuburan tanah. Selain itu, kelangkaan dan tingginya harga pupuk kimia membuat petani sering kali menjadi pihak yang paling terdampak oleh dinamika dan permainan pasar global.
Melalui pelatihan ini, peserta diajarkan memanfaatkan limbah organik yang mudah ditemukan di sekitar, seperti kotoran ternak, dedaunan, dan sisa-sisa hasil pertanian, untuk diolah menjadi pupuk organik cair yang berkualitas, murah, dan ramah lingkungan.
KOPPMI berharap para purna pekerja migran dapat menerapkan pengetahuan tersebut secara mandiri sehingga mampu mengurangi biaya produksi pertanian, meningkatkan produktivitas lahan, sekaligus memperkuat ketahanan pangan keluarga.
Selain meningkatkan keterampilan teknis, kegiatan ini juga menjadi ruang konsolidasi bagi para anggota untuk saling berbagi pengalaman, memperkuat jejaring, dan membangun kemandirian ekonomi perempuan purna pekerja migran melalui sektor pertanian berkelanjutan.

KOPPMI Perkuat Kapasitas Purna Pekerja Migran melalui Pelatihan Manajemen Organisasi dan Pembuatan Pupuk Organik Cair

Cegah TPPO, Mitra Wacana dan Disnaker Kulon Progo Adakan Sosialisasi di Pertemuan Rutin PKK Kalurahan Temon Kulon








