Opini
Mencari Warna Langit Bersama Sartre, Nietzsche, dan Kierkegaard: Refleksi Eksistensial di Bawah Kanvas Blue Period
Published
13 hours agoon
By
Mitra Wacana

Kanya Rahma Tresnabudi, mahasiswa Program Studi Psikologi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)
Pernahkah rasa hampa hadir justru di saat seluruh dinamika hidup tampak berjalan baik-baik saja? Ketika pencapaian akademik aman, jejaring sosial terjalin luas, dan alur masa depan terbentang mulus tanpa kendala apapun, sering kali muncul kejenuhan yang sulit bagi kita untuk dijelaskan. Di balik keriuhan tawa dan pemenuhan ekspektasi publik, ada momen dimana seseorang merasa asing dengan dirinya sendiri. Keadaan ini sangat menggambarkan krisis eksistensial (existential dread), sebuah kondisi ketika rutinitas dan standar keberhasilan masyarakat tidak lagi mampu menjawab pertanyaan mendasar, “untuk apa semua ini dilakukan?”
Fenomena alienasi diri ini tergambar secara presisi dalam kisah Yatora Yaguchi dari seri Blue Period. Mengamati langit pagi berwarna biru sunyi seusai menghabiskan malam dalam keriuhan sosial, ia mendadak menyadari bahwa seluruh pencapaian hidupnya hanyalah respons otomatis terhadap tuntutan lingkungan. Momen ketika seseorang memutuskan keluar dari jalur nyaman demi mengejar sesuatu yang benar-benar personal, seperti keputusan Yatora terjun ke dunia seni, bukan sekadar dorongan impulsif, melainkan upaya mendasar manusia untuk merebut kembali kendali atas eksistensinya.
Dalam realitas sosial hari ini, masyarakat cenderung mendewakan konsep “bakat dari lahir”. Ketika dihadapkan pada individu yang mampu menguasai suatu bidang dengan sangat natural, kecenderungan umum adalah menyimpulkan bahwa mereka dibekali keistimewaan sejak lahir. Sebaliknya, proses panjang yang penuh trial-and-error, rasa lelah, serta kegagalan berulang kerap dilabeli sebagai tanda “ketidakmampuan” atau “ketidakbakatan”.
Membedah fenomena ini melalui kacamata Jean-Paul Sartre, kecenderungan melabeli diri “tidak berbakat” sering kali merupakan bentuk Bad Faith (Itikad Buruk). Bad Faith terjadi ketika manusia melarikan diri dari kebebasan dan tanggung jawab dirinya dengan cara berlindung di balik anggapan deterministik seperti takdir, keturunan, atau bawaan lahir. Menganggap orang lain jenius dan menilai diri sendiri biasa saja menciptakan ruang aman yang semu, kita membentengi diri agar tidak perlu tertekan oleh ekspektasi tinggi atau rasa takut akan kegagalan setelah berusaha maksimal.
Filsuf Friedrich Nietzsche menggarisbawahi kecenderungan serupa dalam psikologi masyarakat melalui konsep ressentiment. Kekaguman yang berlebihan terhadap “bakat alami” pihak lain sering kali berfungsi sebagai mekanisme pertahanan diri pasif. Dengan meletakkan jarak yang jauh antara “sang jenius” dan “diri yang biasa”, batin merasa terjustifikasi untuk berhenti berjuang. Padahal, kekaguman tersebut hanyalah cara terselubung untuk merasionalisasi ketakutan kita dalam menghadapi keterbatasan diri sendiri.
Jalan keluar dari krisis eksistensial dan rasa minder tidak terletak pada tuntutan untuk mencapai kesempurnaan secara instan, melainkan pada keberanian merangkul keterbatasan secara lapang. Di sinilah relevansi gagasan Nietzsche mengenai Amor Fati, sikap tidak hanya menerima, tetapi mencintai alur perjalanan hidup beserta seluruh kecacatannya yang ada.
Menerapkan Amor Fati bukan berarti bersikap apatis atau menyerah pada keadaan. Sikap ini merupakan pergeseran paradigma dari meratapi apa yang tidak dimiliki menjadi mengonsolidasikan apa yang ada di tangan. Seseorang yang memulai perjalanan dari titik nol tanpa keistimewaan bawaan justru memiliki keunggulan tersendiri, ia memahami setiap jengkal proses, mampu membedah mekanisme keberhasilannya secara rasional, dan memiliki fondasi yang kokoh karena setiap langkahnya dibangun atas kesadaran penuh, bukan sekadar insting mentah.
Dunia modern seringkali menilai kualitas hidup maupun karya secara seragam melalui indikator-indikator kuantitatif dan standar objektif. Namun, sebagaimana ditegaskan oleh Søren Kierkegaard, kebenaran tertinggi dalam kehidupan manusia bersifat subjektif. Nilai otentik dari keberadaan seseorang tidak diukur dari seberapa sempurna ia memenuhi blue print yang ditetapkan orang lain, melainkan dari keberaniannya untuk hadir secara jujur dan utuh.
Ketika seseorang berhenti meniru standar eksternal dan mulai menuangkan seluruh keraguan, proses belajar, serta perjuangan pribadinya ke dalam karya maupun pilihan hidupnya, keberadaannya menjadi berbobot. Keindahan hidup tidak terletak pada ketiadaan cela, melainkan pada kejujuran untuk terus melangkah di tengah keterbatasan.
Pada akhirnya, tidak memiliki keunggulan alami sejak awal bukanlah sebuah hukuman dari sebuah kekalahan, melainkan ruang terbuka yang memberi kebebasan bagi setiap individu untuk bertumbuh sesuai ritmenya sendiri. Di tengah riuhnya tuntutan zaman yang menuntut hasil instan, tugas terpenting manusia bukanlah tampil tanpa cela di mata publik, melainkan berani menerima ketidaksempurnaan diri, merawat prosesnya, dan terus menggoreskan warna baru di atas kanvas kehidupannya sendiri.
You may like
Opini
Patriarki dalam Bingkai Spiritual: Menguak Kekerasan Seksual di Lembaga Pendidikan Islam
Published
11 hours agoon
10 August 2026By
Mitra Wacana

Luthfi Fatimah
Universitas Sebelas Maret
Lembaga pendidikan Islam, terutama pondok pesantren, seringkali diyakini sebagai ruang paling aman untuk menimba ilmu. Namun, terkuaknya kasus-kasus kekerasan seksual yang dilakukan oleh figur otoritas pesantren terhadap murid atau santrinya telah menunjukkan adanya celah besar antara nilai-nilai keagamaan yang diajarkan dengan realita pahit yang dihadapi para korban. Hal ini kemudian menimbulkan pertanyaan besar: mengapa kebiadaban ini terus berulang di lingkungan yang sama?
Berdasarkan data dari Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) pada tahun 2025, 27% kasus kekerasan yang terlaporkan berasal dari pesantren dan madrasah. Data ini menjadikan lembaga pendidikan Islam masuk ke dalam 3 titik rawan. Namun data tersebut belum sepenuhnya memberikan gambaran atas realita yang terjadi. Sebagaimana puncak dari gunung es, masih sangat banyak kasus kekerasan seksual yang tidak terlaporkan karena adanya tekanan dari pihak pelaku serta ketakutan terhadap stigma buruk masyarakat.
Langgengnya kebiadaban ini tidak terlepas dari berbagai faktor. Salah satunya adalah budaya patriarki yang terus dipupuk dengan penafsiran subjektif atas dalil-dalil keagamaan sebagai justifikasi atas hierarki gender. Semua teks Al-Quran dan Hadits pada dasarnya bersifat terbuka untuk diinterpretasikan. Namun dengan budaya patriarki yang mendominasi di berbagai negara, penafsiran yang mendukung narasi patriarki mengalami normalisasi sehingga dianggap suatu kebenaran yang bersifat mutlak.
Selain itu, konsep-konsep yang diyakini sebagai jalan menuju keberkahan ilmu seperti ta’dzim (menghormati dan memuliakan) serta konsep sami’na wa atho’na (kami mendengar dan kami mematuhi) seringkali disalah artikan sebagai kepatuhan total. Para santri dibiarkan tunduk tanpa diberi ruang untuk mempertanyakan untuk apa mereka harus tunduk. Meskipun tidak bisa digeneralisir pula bahwa hal ini terjadi di seluruh lembaga pendidikan Islam, namun pada dasarnya pola mengajar seperti ini mampu menimbulkan relasi kuasa yang timpang.
Lebih lanjut, di dalam lingkungan keagamaan, kekerasan seksual masih sering dianggap tabu. Budaya tabu ini kemudian diperkuat juga dengan pandangan bahwa tokoh agama adalah sosok suci tanpa cela yang tidak boleh diragukan segala tindak-tanduknya. Sehingga ketika korban berusaha melapor, banyak yang tidak memercayai kesaksiannya dan justru memberikan stigma negatif pada korban. Dengan dasar rasa takut, pada akhirnya banyak dari kasus tersebut berakhir dengan proses kekeluargaan yang memperkecil kesempatan korban untuk mendapatkan keadilan dan memperlebar ruang aman bagi pelaku untuk mengulangi tindakannya.
Menurut Michel Foucault dalam teori relasi kuasa, faktor-faktor tersebut mampu memberikan peluang terjadinya penyalahgunaan kekuasaan, salah satunya kekerasan seksual. Berdasarkan kerangka teorinya, kekuasaan bukanlah suatu kekuatan tunggal yang dimiliki individu. Kekuasaan hadir melalui berbagai jaringan atau relasi yang mendukung kekuasaan itu tetap ada, seperti nilai dan norma yang membentuk wacana dominan dan menjadi dasar dari praktik sosial di masyarakat. Pada lembaga pendidikan Islam, relasi kuasa dapat dilihat pada ketimpangan kekuasaan antara otoritas keagamaan dengan para murid atau santrinya. Dengan adanya dominasi wacana patriarki dan diiringi dengan anggapan yang meninggikan kedudukan tokoh agama, kekuasaan tersebut akhirnya dapat disalahgunakan untuk menekan korban. Dan akibatnya, korban menjadi kesulitan untuk bersuara karena perlawanan terhadap otoritas keagamaan dianggap sebagai kedurhakaan terhadap ajaran agama.
Meskipun kasus kekerasan seksual sangat rentan terjadi di lembaga pendidikan Islam, namun sejatinya tindakan tersebut sama sekali tidak sesuai dengan prinsip teologi Islam. Islam sendiri memiliki prinsip dasar rahmatan lil ‘alamin yang menegaskan bahwa Islam hadir untuk membawa rahmat bagi seluruh alam, artinya Islam menuntut pengutamaan rasa aman bagi setiap makhluk hidup. Selain melanggar hak asasi manusia, segala bentuk kekerasan dan kezaliman juga melanggar ajaran agama. Terlebih lagi, Islam juga tidak membenarkan penyalahgunaan otoritas agama untuk melakukan kekerasan dan menyalahgunakannya kembali sebagai tameng untuk berlindung dari hukum. Sehingga dalam konteks kasus kekerasan seksual, prinsip-prinsip Islam sejatinya selalu berpihak pada penegakan keadilan untuk korban.
Dengan demikian, menguak kasus kekerasan seksual di lembaga pendidikan Islam merupakan manifestasi dari ajaran Islam itu sendiri. Melindungi korban dan menghentikan segala bentuk penindasan akan mengembalikan fungsi lembaga pendidikan Islam sebagai pilar keteladanan agama bagi para pemeluknya.
Referensi:
Aminaturrahma, A., Inayah, A., Anggraini, T. C., & Nurchotimah, A. S. I. (2022). Pemicu Kekerasan Seksual dari Perspektif Islam. Jurnal Kewarganegaraan, 6(2), 2696-2701.
Dewi, M., & Hakim, F. N. R. (2025). Kekerasan seksual di pesantren: Analisis power and control dengan pendekatan relasi gender. Innovative: Journal Of Social Science Research, 5(4), 7374-7387.
Husin, L. S. (2020). Kekerasan seksual pada perempuan dalam perspektif Al-Quran dan Hadis. Al Maqashidi: Jurnal Hukum Islam Nusantara, 3(1), 16-23.
Larasati, R. D., & Noviani, R. (2021). Melintas perbedaan: suara perempuan, agensi, dan politik solidaritas. Kepustakaan Populer Gramedia.
Rusli, A. B., & Fauzi, A. F. (2026). Kiai, Seks Dan Relasi Kuasa Pesantren Indonesia (Studi Kasus Jawa Timur). Empirisma: Jurnal Pemikiran dan Kebudayaan Islam, 35(1), 64-86.
Sekretariat Nasional Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (2026). Hasil Pemantauan JPPI 2025 Kekerasan di Satuan Pendidikan: Temuan dan Tantangan Perlindungan Anak.
Winarno, E. P., Islah, I., Giyoto, G., Suharto, T., & Muharom, F. (2025). Investigasi pendidikan Islam terhadap kuasa otoritas kekerasan seksual di pesantren. Al Qalam: Jurnal Ilmiah Keagamaan Dan Kemasyarakatan, 19(2), 958-972.

Patriarki dalam Bingkai Spiritual: Menguak Kekerasan Seksual di Lembaga Pendidikan Islam

Memeluk Kebingungan Hidup Bersama Julie dari Film The Worst Person In The World: Perspektif Jean-Paul Sartre

Tubuh yang Lelah dan Jiwa yang Haus Makna: Membaca Fenomena Burnout dari Lensa Filsafat Stoikisme

Apakah Kita Masih Bisa Menjadi “Diri Sendiri” di Era Media Sosial?

Tubuh yang Lelah dan Jiwa yang Haus Makna: Membaca Fenomena Burnout dari Lensa Filsafat Stoikisme

Mencari Warna Langit Bersama Sartre, Nietzsche, dan Kierkegaard: Refleksi Eksistensial di Bawah Kanvas Blue Period
Trending
Opini13 hours agoApakah Kita Masih Bisa Menjadi “Diri Sendiri” di Era Media Sosial?
Opini12 hours agoTubuh yang Lelah dan Jiwa yang Haus Makna: Membaca Fenomena Burnout dari Lensa Filsafat Stoikisme
Opini12 hours agoMemeluk Kebingungan Hidup Bersama Julie dari Film The Worst Person In The World: Perspektif Jean-Paul Sartre
Opini13 hours agoNongkrong di Kafe: Antara Kebutuhan Kafein dan Pelarian Eksistensial
Opini11 hours agoPatriarki dalam Bingkai Spiritual: Menguak Kekerasan Seksual di Lembaga Pendidikan Islam
Opini13 hours agoMahasiswa KKN Kelompok 4 Universitas Serasan Pelajari Pemanfaatan Limbah Kotoran Burung Puyuh sebagai Pupuk Organik untuk Budidaya Pepaya, Semangka, dan Pisang di Desa Darmo
Opini16 hours agoPembungkaman Eksistensial pada Tokoh Aurelie dalam Novel Broken Strings







