web analytics
Connect with us

Opini

Ketika Cita-Cita Menjadi Sebuah Rutinitas: Membaca Pengakuan Kevin De Bruyne Melalui Filsafat Albert Camus

Published

on

Sumber gambar: Freepik

Sulaiman Umar Qush
Prodi Psikologi Universitas Pendidikan Indonesia

“Saya rasa saya tidak lagi mencintai sepak bola sebesar saat saya memulainya dahulu. Namun saya rasa itu hal yang wajar setelah 30 tahun menjalaninya. Kadang-kadang ada momen di mana Anda kehilangan sedikit ketertarikan, sama seperti pekerjaan lainnya, saya kira.” (Kevin De Bruyne, 2026)

Sebuah kalimat singkat, tetapi menyisakan banyak pertanyaan.

Bagaimana mungkin seorang atlet profesional yang telah memenangkan berbagai gelar, berkarier di level tertinggi, serta mewujudkan impian dari jutaan anak justru mengaku bahwa ia tidak lagi mencintai sepak bola seperti dulu?

Namun, semakin saya memikirkan kalimat itu, semakin saya merasa bahwa Kevin De Bruyne sebenarnya tidak hanya berbicara mengenai sepak bola. Ia juga berbicara mengenai sesuatu yang jauh lebih dekat dengan kehidupan manusia.

Barangkali kita pernah mengalaminya dalam bentuk yang berbeda. Mahasiswa yang dahulu begitu bersemangat memasuki jurusan impiannya, kini mulai kehilangan gairah belajar. Musisi yang dulu memainkan lagu karena kegembiraan kini lebih sering memikirkan tenggat dan tuntutan industri. Dokter, guru, penulis, bahkan atlet yang pernah begitu mencintai profesinya suatu hari bisa bertanya, “Mengapa saya tidak lagi menikmati hal yang dulu sangat saya impikan?”

Ironisnya, semua itu sering kali terjadi bukan karena mereka gagal.

Justru karena mereka berhasil.

Selama ini kita sering percaya bahwa tantangan terbesar adalah meraih cita-cita. Kita membayangkan bahwa jika suatu hari berhasil menjadi apa yang selama ini kita impikan, kebahagiaan dan semangat akan bertahan selamanya. Padahal, yang jarang kita sadari adalah bahwa setiap cita-cita yang berhasil diwujudkan perlahan akan berubah menjadi kehidupan sehari-hari. Yang dulu terasa istimewa menjadi rutinitas, yang dulu terasa menyenangkan, dan yang dulu selalu membuat kita berdebar, kini berubah menjadi tanggung jawab.

Di titik inilah saya teringat pada Albert Camus. Melalui The Myth of Sisyphus, ia menggambarkan manusia yang terus menjalani pengulangan sambil tetap mencari makna dalam hidupnya. Bagi Camus, persoalannya bukan bahwa hidup dipenuhi rutinitas, melainkan bagaimana manusia memaknai rutinitas tersebut.

Jika memakai lensa itu, pengalaman De Bruyne tidak lagi terdengar aneh. Kehidupan seorang atlet profesional memang dipenuhi pengulangan. Bangun pagi, berlatih, menjaga pola makan, menjalani pemulihan, bertanding, lalu mengulang semuanya lagi keesokan hari. Rutinitas yang dahulu terasa seperti permainan perlahan berubah menjadi pekerjaan.

Namun, bukankah hal yang sama juga terjadi pada kita?

Mahasiswa mengerjakan tugas demi tugas hingga lupa alasan mengapa dulu memilih jurusannya. Seorang dokter lebih sibuk menyelesaikan administrasi daripada mengingat alasan ia ingin menolong orang lain. Seorang penulis mengejar tenggat hingga lupa rasanya menulis tanpa tekanan. Bahkan seorang atlet yang sejak kecil tidak pernah ingin meninggalkan lapangan bisa suatu hari merasa datang ke latihan hanya karena memang harus datang.

Mungkin yang berubah bukan cita-citanya.

Yang berubah adalah hubungan kita dengan cita-cita itu.

Kita terlalu sering menganggap passion sebagai perasaan yang harus selalu menyala. Ketika semangat mulai memudar, kita buru-buru menganggap ada yang salah dengan diri kita atau dengan jalan yang kita pilih. Padahal, bisa jadi yang kita alami hanyalah bagian yang paling manusiawi dari perjalanan, yaitu ketika mimpi berhenti menjadi angan-angan dan mulai menjadi kenyataan yang harus dijalani setiap hari.

Karena itu, mungkin pertanyaan yang lebih penting bukanlah, “Mengapa saya tidak lagi mencintai cita-cita saya seperti dulu?” Melainkan, “Bagaimana saya tetap menemukan makna ketika perasaan itu telah berubah?”

Camus menutup kisah Sisyphus dengan sebuah kalimat yang terkenal: “One must imagine Sisyphus happy.” Bukan karena bebannya menjadi lebih ringan, melainkan karena manusia masih memiliki kebebasan untuk memberi makna pada apa yang ia jalani.

Barangkali menjadi dewasa memang bukan tentang mempertahankan rasa jatuh cinta yang sama sepanjang hidup. Perasaan dapat berubah. Antusiasme dapat memudar. Bahkan passion pun tidak selalu hadir dengan intensitas yang sama.

Namun, perubahan itu tidak selalu berarti kita telah memilih jalan yang salah.

Mungkin masalahnya bukan karena kita kehilangan cinta terhadap cita-cita kita. Mungkin masalahnya adalah kita terlalu lama percaya bahwa rasa cinta itu seharusnya tidak pernah berubah.

Pada akhirnya, cita-cita bukanlah sesuatu yang selalu membuat kita berdebar seperti hari pertama. Ada saatnya ia berubah menjadi pekerjaan, tanggung jawab, bahkan rutinitas. Dan mungkin, justru di titik itulah makna sebenarnya diuji. Bukan ketika kita masih jatuh cinta pada apa yang kita lakukan, tetapi ketika rasa itu perlahan memudar, namun kita tetap memilih untuk melangkah.

Karena mungkin, menjadi dewasa bukan berarti terus jatuh cinta pada cita-cita yang sama. Mungkin menjadi dewasa adalah belajar mencintainya dengan cara yang berbeda.

 

Referensi

Camus, A. (1991). The Myth of Sisyphus and Other Essays (J. O’Brien, Trans.). New York: Vintage International. https://dhspriory.org/kenny/PhilTexts/Camus/Myth%20of%20Sisyphus-.pdf

D’Angelo, V. (2026, April 4). Kevin De Bruyne: intervista sul Napoli, il calcio italiano e il futuro. La Gazzetta dello Sport. https://www.gazzetta.it/Calcio/Serie-A/Napoli/04-04-2026/kevin-de-bruyne-intervista-napoli-lo-scudetto-la-sfida-con-il-milan-e-il-futuro.shtm

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Opini

Personal Branding dan Standar Harga Diri di Era Digital

Published

on

Sumber gambar: Freepik

Abilla Shofi Khairunnisa
Prodi Psikologi
Universitas Pendidikan Indonesia

Personal branding kini menjadi salah satu topik yang sering dibincangkan di media sosial, terutama pada kalangan anak muda. Di era digital, membangun personal branding bukan lagi sekadar pilihan, namun merupakan bagian penting dalam perkembangan karier. Personal branding yang kuat dapat membuat seseorang lebih mudah dikenali baik secara personal maupun profesional.

Kini, kita dapat dengan mudah melihat potret kehidupan orang lain yang dipenuhi dengan pencapaian, produktivitas, dan kebahagiaan. Namun, tanpa disadari, kita mulai membandingkan kehidupan kita dengan apa yang ditampilkan di media sosial. Perbandingan memang dapat menjadi motivasi untuk terus berkembang. Akan tetapi, ketika perbandingan dilakukan secara berulang, hal itu justru dapat mengikis kepercayaan diri.

Secara psikologis, fenomena ini juga didukung oleh penelitian Salsabila (2024) terhadap 184 pengguna media sosial berusia 18-25 tahun yang menunjukkan bahwa semakin tinffi kecenderungan seseorang melakukan perbandingan sosial, semakin rendah pula harga dirinya. Temuan ini menunjukkan bahwa perbandingan diri yang dilakukan secara terus-menerus dapat mempengaruhi cara seseorang menilai dirinya sendiri.

Dua Konsep Cinta Diri

Persoalan ini mengingatkan saya pada konsep amour de soi dan amour propre dari Jean-Jacques Rousseau. Menurut Rousseau, manusia memiliki dua cara dalam mencintai dan memandang diri sendiri. Pertama, amour de soi, yaitu cinta diri yang lahir dari kebutuhan alami untuk hidup, berkembang, dan merasa cukup dengan diri sendiri. Dalam keadaan ini, seseorang mengembangkan diri karena hal tersebut memang bermanfaat bagi dirinya. Ia belajar untuk memahami sesuatu, bekerja demi kehidupan yang lebih baik, dan merasakan kepuasan yang berasal dari proses bertumbuh, bukan dari pujian atau pengakuan orang lain.

Sebaliknya, amour propre muncul ketika kita mulai menilai diri sendiri melalui pandangan orang lain. Rousseau tidak menganggap kebutuhan akan pengakuan sosial sebagai sesuatu yang sepenuhnya bersifat buruk. Sebagai makhluk sosial, wajar bagi manusia untuk memiliki keinginan akan penghargaan dari sesamanya. Namun, kebahagiaan dan citra diri menjadi rapuh apabila keduanya senantiasa bergantung pada pengakuan orang lain.

Cara pandang inilah yang membuat kita percaya bahwa hidup yang baik adalah hidup yang mengesankan bagi orang lain. Akibatnya, kini media sosial yang semula diciptakan sebagai ruang untuk membangun koneksi perlahan berubah menjadi ajang kompetisi untuk saling menampilkan versi terbaik kehidupan masing-masing.

Pengakuan Sosial Era Modern

Pada abad ke-18, Rousseau menemukan kecenderungan manusia untuk mencari pengakuan sosial dengan memperhatikan kehidupan masyarakat. Namun, pada abad ke-21, media sosial memperkuat kecenderungan amour propre melalui algoritmanya. Beranda media sosial cenderung lebih sering dipenuhi oleh konten yang menampilkan pencapaian, kesuksesan, dan produktivitas, sementara proses, kegagalan, dan keseharian tidak begitu terlihat.

Kondisi tersebut dapat dipahami melalui gagasan Jean Baudrillard mengenai simulakra. Menurut Baudrillard, masyarakat modern hidup di tengah representasi yang sering kali terasa lebih nyata daripada realitas itu sendiri. Media sosial memang tidak selalu menampilkan kebohongan, tetapi kehidupan yang muncul di beranda telah melalui proses pemilihan, penyuntingan, dan kurasi. Sehingga, yang terlihat hanya potongan-potongan terbaik dari kehidupan seseorang. Perlahan, representasi tersebut dipersepsikan sebagai gambaran kehidupan yang normal.

Akibatnya, kita tidak lagi membandingkan kehidupan nyata dengan hal yang nyata, melainkan dengan citra kehidupan orang lain yang telah dikemas sedemikian rupa. Kita perlahan menganggap bahwa kehidupan penuh pencapaian konstan merupakan standar yang harus dicapai, padahal apa yang kita lihat hanyalah sebagian kecil dari kenyataan yang dipilih untuk diperlihatkan kepada publik.

Tidak ada yang salah dengan membangun personal branding. Menunjukkan karya, pengalaman, dan kemampuan. Karena hal tersebut merupakan bagian penting dari pengembangan diri maupun karier. Personal branding juga dapat membuka kesempatan dan memperluas relasi. Namun, personal branding seharusnya menjadi sarana untuk memperkenalkan diri, bukan alat untuk menentukan nilai diri.

Ketika harga diri sepenuhnya bergantung pada jumlah apresiasi, validasi, atau pengakuan dari orang lain, kita justru kehilangan makna dari proses bertumbuh itu sendiri.

Barangkali, yang perlu kita bangun bukan hanya citra diri yang menarik di mata publik, tetapi juga kemampuan untuk tetap merasa cukup ketika tidak ada yang melihat. Sebab, personal branding yang sehat lahir dari seseorang yang mengenal, menerima, dan menghargai dirinya sendiri, bukan semata-mata berasal dari hasrat untuk memperoleh pengakuan orang lain.

Fisyahrah, M. M. (2024). Hubungan Sosial Comparison Dengan Harga Diri Pada Pengguna Sosial Media (Doctoral dissertation, Universitas Islam Indonesia).

Continue Reading
Advertisement NYL2026
Advertisement
Advertisement

Twitter

Trending