Opini
MAHASISWA DAN AURA FARMING
Published
2 weeks agoon
By
Mitra Wacana

Desfita Engggi Tri Andini mahasiswa aktif Program Studi Tadris (Pendidikan) Bahasa Indonesia di Fakultas Adab dan Bahasa, UIN Raden Mas Said Surakarta
Di zaman digital seperti saat ini, menjadi mahasiswa tidak cukup jika hanya rajin kuliah dan mendapat nilai bagus. Dunia kerja dan masyarakat mengharapkaan lebih: keterampilan berkomunikasi, kepercayaan diri, dan penampilan diri yang positif. Semua itu menjadi hal penting untuk dikenali, dipercaya, dan dihargai. Maka dari itu, banyak anak muda mulai sadar pentingnya membangun personal branding. Salah satu tren yang sedang ramai di media sosial dan nyatanya sangat relevan dengan hal ini adalah aura farming.
Aura farming merupakan kegiatan yang bertujuan untuk merawat, mengelola, dan memperbaiki citra diri atau aura pribadi melalui tindakan yang konsisten, konten yang relevan, perilaku yang baik, dan cara berinteraksi sehingga orang lain dapat merasakan “nilai” atau “getaran” yang ingin kita sampaikan. Jika didengar sekilas, mungkin terdengar seperti tren dari gaya hidup anak TikTok atau kadang terkesan aneh, seolah kita sedang “bercocok tanam” tapi yang ditanam adalah aura. Tetapi, sebenarnya memiliki makna yang lebih dalam dari itu.
Aura farming adalah sebuah metode yang dilakukan dengan kesadaran untuk menumbuhkan dan merawat energi positif dalam diri, mulai dari cara berpakaian, sikap, hingga cara berbicara. Di era digital, personal branding tidak bisa dilepaskan dari media sosial. Penelitian Universitas Pasundan menyebutkan bahwa media sosial berperan penting dalam membangun kepercayaan publik terhadap citra diri mahasiswa jika digunakan secara bijak (Menurut Journal Wistara, 2022).
Mahasiswa bahasa dapat memanfaatkan platform seperti Instagram, TikTok, dan LinkedIn untuk berbagi wawasan kebahasaan, membuat konten edukatif, atau menulis refleksi akademik. Aktivitas tersebut menjadi cara cerdas menanam “aura positif” yang menggambarkan kepribadian profesional. Aura farming tidak hanya berfokus dengan penampilan menarik di media sosial. Lebih dari itu, hal ini tentang bagaimana seseorang memancarkan atau menumbuhkan kepercayaan diri dan energi positif lewat perilaku dan pembawaan diri sendiri. Bagi mahasiswa bahasa, konsep ini sebenarnya sangat penting. Mahasiswa bahasa dikenal dengan keterampilan dalam berkomunikasi, berbahasa, dan memahami makna. Jika semua keterampilan tersebut dipadukan dengan kepribadian yang positif, rasa percaya diri, serta citra yang baik, maka akan tercipta sosok yang tidak hanya pintar, tetapi juga karismatik. Di lingkungan kampus, ini bisa menjadi faktor pembeda antara mahasiswa yang “biasa saja” dan mereka yang benar-benar menonjol.
Menurut Arista, Sela Septi Dwi, personal branding adalah proses membentuk citra diri yang autentik agar seseorang memiliki nilai dan pembeda di lingkungan sosial atau profesionalnya (Unair.ac.id, 2023). Bagi mahasiswa bahasa, personal branding dapat diwujudkan melalui tiga aspek utama: kemampuan berbicara, menulis, dan berpikir kritis. Personal branding adalah proses membangun citra diri yang autentik agar seseorang memiliki pembeda dan nilai lebih di lingkungannya. Artinya, personal branding bukan cuma soal pencitraan, tapi tentang mengenali potensi diri dan menampilkannya secara konsisten.
Bagi mahasiswa bahasa, terdapat tiga cara utama untuk mengembangkan merek pribadi, yaitu melalui keterampilan berbicara, menulis, dan berpikir secara kritis. Pertama yaitu Berbicara: Mahasiswa bahasa yang pandai berbicara akan terlihat percaya diri saat presentasi, diskusi, atau jadi pembicara di acara kampus. Public speaking yang baik adalah cara efektif untuk memancarkan aura positif. Kemudian yang kedua Menulis: Tulisan juga bisa jadi cerminan karakter. Lewat karya sastra, opini, atau konten media sosial, mahasiswa bahasa bisa menunjukkan kepekaan dan kecerdasannya dalam menanggapi isu. Terakhir Berpikir kritis: Kemampuan menganalisis masalah kebahasaan atau sosial membuat mahasiswa punya daya tarik intelektual tersendiri.
Selain itu, berpartisipasi dalam aktivitas seperti Duta Bahasa, kompetisi debat, penulisan, atau organisasi yang bergerak di bidang literasi juga dapat menjadi wujud nyata dari aura farming. Melalui pengalaman tersebut, kita dapat belajar untuk tampil secara profesional, mengasah kemampuan kepemimpinan, dan menunjukkan versi terbaik dari diri kita. Saat ini, hampir semua mahasiswa aktif di media sosial. Dan di situlah “aura” kita sering kali terlihat oleh orang lain. Media sosial bukan cuma tempat berbagi momen, tapi juga ruang membangun reputasi atau personal branding.
Mahasiswa bahasa bisa memanfaatkan platform seperti Instagram, TikTok, atau LinkedIn untuk berbagi hal-hal bermanfaat misalnya tips berbicara, refleksi kebahasaan, atau konten literasi ringan. Dengan begitu, kita bukan hanya dikenal sebagai pengguna media sosial aktif, tapi juga sebagai pribadi yang membawa pengaruh positif.
Namun, aura farming tidak boleh berubah jadi pencitraan palsu. Citra diri yang bagus itu harus datang dari keaslian dan konsistensi. Orang yang berusaha tampil baik tapi tidak punya isi akan cepat kehilangan kepercayaan. Personal branding sejatinya dibangun dari kejujuran dan kompetensi, bukan dari kepura-puraan.
Mahasiswa bahasa juga mempunyai modal besar untuk bersinar dengan kita terbiasa melakukan pengolahan kata, memahami makna, dan membaca situasi. Kalau kemampuan itu diimbangi dengan pembawaan yang positif dan rasa percaya diri, aura kita akan terpancar dengan sendirinya. Jadi, aura farming bukan cuma tren estetik yang muncul di media sosial. Ini adalah strategi cerdas untuk menampilkan versi terbaik dari diri sendiri dan seseorang yang sopan, komunikatif, percaya diri, dan konsisten dengan nilai-nilai positif.
Karena pada akhirnya, bukan hanya IPK atau nilai akademik yang akan membawa kita ke masa depan yang lebih baik. Tapi juga bagaimana kita membangun citra diri yang kuat dan autentik. Bagaimana kita mampu “memancarkan aura” yang menunjukkan kepribadian, integritas, dan kemampuan komunikasi kita sebagai mahasiswa bahasa.
You may like
Opini
Merevolusi Cara Kita Melihat Tugas Kuliah
Published
1 week agoon
29 December 2025By
Mitra Wacana

Nurisa Cahya Artika Farah,Mahasiswi semester 3 Program Studi Tadris (Pendidikan) Bahasa Indonesia, Fakultas Adab dan Bahasa, Universitas Islam Raden Mas Said Surakarta.
Di dunia perkuliahan, mahasiswa diharapkan mampu menjadi individu yang mandiri, kritis, dan kreatif dalam menghadapi berbagai tantangan akademik. Salah satu tantangan tersebut adalah tugas kuliah yang diberikan oleh dosen sebagai proses pembelajaran. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa banyak mahasiswa justru menganggap tugas kuliah sebagai beban yang membebani pikiran. Mahasiswa lebih fokus pada nilai akhir ketimbang proses belajar yang seharusnya memperkaya pengetahuan dan keterampilan. Fenomena ini menjadi gambaran bahwa sebagian mahasiswa masih memandang tugas secara sempit, tanpa menyadari bahwa melalui tugas inilah kemampuan berpikir kritis serta tanggung jawab perkuliahan dapat terasah.
Banyak kalangan mahasiswa mengeluh akan tugas kuliah yang diberikan, mereka memandangnya sebagai beban yang menumpuk dan hanya sebatas untuk mendapatkan nilai, bukan proses pembelajaran. Hal ini membuat motivasi belajar menurun yang disebabkan oleh faktor internal dan eksternal, seperti kurangnya minat, kesulitan konsentrasi, masalah pribadi, maupun kualitas hasil tugas yang tidak mencerminkan pemahaman sebenarnya. Padahal, esensi pendidikan tinggi bukan sebatas mengerjakan tugas, namun membangun cara berpikir kritis dan kreatif mahasiswa. Karena itu, saatnya mahasiswa merevolusi cara pandang terhadap tugas yang dianggap beban menjadi proses pembelajaran yang bermakna.
Perkuliahan mahasiswa sebenarnya tidak hanya belajar dari penjelasan dosen, tetapi juga dari proses mengerjakan tugas. Hal ini sejalan dengan Teori Konstruktivisme yang menekankan bahwa pengetahuan dibangun dari individu berdasarkan pengalaman dan pemahaman. Seperti halnya dalam pemberian tugas kuliah ini mahasiswa tidak hanya menerima ilmu dari dosen, tetapi juga membentuk pemahaman sendiri melalui pengalaman belajar sebelumnya. Dalam konteks ini, tugas kuliah bukanlah tujuan akhir, tetapi sebagai sarana untuk membangun pemahaman terhadap suatu konsep. Misalnya, ketika mahasiswa diminta menulis esai, mereka tidak hanya terpaku dengan teori yang sudah ada, tetapi juga menyusun gagasan atau ide pribadi berdasarkan pemahaman konseptual dan berpikir kritis. Dengan demikian, tugas menjadi penghubung antara pengetahuan dan penerapan.
Namun, faktanya di lapangan masih banyak mahasiswa yang memandang tugas sebagai sesuatu yang dipaksakan untuk semata-mata demi nilai. Hal ini sejalan dengan rendahnya motivasi dalam diri berdasarkan teori Self-Determination. Mahasiswa akan termotivasi jika memiliki kebebasan pilihan dalam menyelesaikan tugas (autonomi), merasa mampu mengerjakan (kompetensi), dan merasa bahwa tugas memiliki hubungan dengan kehidupan mereka (keterhubungan). Dengan demikian, ketika diberi tugas yang memberikan kebebasan, kemampuan, serta keterhubungan, mahasiswa akan melihat tugas bukan sebagai beban, melainkan sebagai bentuk pengembangan diri.
Selain itu, konsep belajar bermakna dari David Ausubel juga relevan dalam konteks ini. Dalam perkuliahan, hal ini berarti tugas yang diberikan seharusnya berasal dari struktur pemikiran yang telah dimiliki mahasiswa. Misalnya, tugas proyek yang menuntut mahasiswa mengaitkan teori dengan pengalaman pribadi. Ketika mahasiswa menemukan keterkaitan tersebut, proses belajar menjadi bermakna. Mereka tidak sedang mengerjakan tugas dosen melainkan sedang menemukan diri dalam proses pembelajaran.
Pandangan teori humanistik juga memperkuat gagasan ini. Dalam pandangan ini, mahasiswa dipandang sebagai individu yang unik dengan kebutuhan yang berbeda-beda. Tugas kuliah, seharusnya menjadi sarana bagi mahasiswa untuk mengekspresikan diri, mengeksplorasi nilai-nilai pribadi, dan mengembangkan potensi secara utuh. Tugas tidak hanya mengukur hasil akhir berupa angka, tetapi juga menilai proses berpikir, kreativitas, den refleksi diri mahasiswa.
Sebagai mahasiswa, saya kerap melihat beberapa mahasiswa bahwa tugas baru benar-benar dipahami maknanya setelah dikerjakan, bukan saat materi disampaikan oleh dosen. Dari tugaslah mahasiswa belajar berpikir kritis, mampu mengelola waktu, dan bertanggung jawab. Hal ini menunjukkan bahwa tugas kuliah sejatinya memiliki peran penting dalam membentuk kualitas mahasiswa, asalkan dipahami dan dijalani dengan cara pandang yang tepat.
Masalahnya sistem pendidikan kita masih berorientasi pada hasil bukan proses. Banyak mahasiswa mengerjakan tugas hanya untuk mendapatkan nilai bukan karena ingin memahami makna apa yang mereka pelajari. Oleh karena itu, perlu adanya perubahan paradigma, baik dari pihak dosen maupun mahasiswa. Merevolusi cara pandang terhadap tugas kuliah berarti menempatkan kembali tugas sebagai bagian dari proses pembelajaran bukan sebagai beban mahasiswa. Ketika mahasiswa mulai melihat tugas sebagai ruang pengembangan diri mereka akan lebih bersemangat, produktif, dan berdaya saing. Tak hanya mahasiswa, dosen pun akan lebih mudah menilai kualitas pemahaman mahasiswa. Dengan demikian, revolusi ini tidak hanya akan meningkatkan kualitas hasil belajar, tetapi juga membentuk generasi mahasiswa yang berpikir kritis, reflektif, dan siap menghadapi tantangan di kehidupan nyata. Hal yang paling berharga dari tugas kuliah bukan hanya tentang nilai yang berupa angka melainkan proses belajar yang akan menambah pemahaman.








