Opini
Membaca Program GEMAR dan Keterlibatan Ayah dalam Pengasuhan
Published
8 months agoon
By
Mitra Wacana
Pemerintah Kabupaten Bantul melalui DP3APPKB, meluncurkan GEMAR (Gerakan Ayah Mengambil Rapor Anak ke Sekolah) sebagai upaya mendorong keterlibatan ayah dalam pendidikan anak. Kampanye ini mengajak para-ayah hadir langsung saat pengambilan rapor di sekolah, mulai dari jenjang pendidikan dasar hingga menengah. Selama ini, pengambilan rapor lebih sering dilakukan oleh ibu, sementara ayah kerap dianggap berhalangan atau tidak perlu hadir. Melalui GEMAR, pemerintah daerah berupaya menggeser persepsi publik bahwa pendidikan anak bukan semata urusan domestik yang dilekatkan pada ibu, melainkan tanggung jawab kedua orang tua.
Secara simbolik, kehadiran ayah di sekolah memuat pesan yang cukup kuat. Ayah dapat “pamer” kepada anak, guru, dan lingkungan sekitar bahwa ayah tidak hanya hadir sebagai pencari nafkah, tetapi juga sebagai figur yang peduli pada proses belajar dan perkembangan anak. Dalam konteks kebijakan daerah, GEMAR dapat dibaca sebagai bentuk intervensi kultural untuk mengubah kebiasaan lama yang selama ini diterima sebagai sesuatu yang normal.
Namun, persoalan keterlibatan ayah dalam pengasuhan tidak berdiri sendiri. Berkelindan dengan struktur sosial yang memiliki cakupan lebih luas. Pembagian peran berbasis gender masih sangat kuat dalam kehidupan keluarga di Indonesia. Ayah diposisikan sebagai pencari nafkah utama, sementara pengasuhan emosional, pendidikan, dan urusan domestik dilekatkan pada ibu. Pola ini diperkuat oleh budaya kerja yang panjang, minimnya fleksibilitas waktu, serta kebijakan ketenagakerjaan yang belum sepenuhnya ramah keluarga.
Dalam situasi seperti ini, absennya ayah dalam ruang-ruang pendidikan anak sering dianggap wajar. Banyak ayah merasa telah memenuhi tanggung jawabnya dengan bekerja keras, sementara kehadiran dalam urusan sekolah dianggap sebagai tugas tambahan, bahkan sekunder. Akibatnya, keterlibatan ayah sering bersifat insidental dan simbolik, hadir pada momen tertentu tanpa keterhubungan yang berkelanjutan dengan kehidupan emosional anak.
Jika tidak dibaca secara kritis, program GEMAR berisiko berhenti pada simbol. Memang, Ayah hadir mengambil rapor, berfoto, lalu kembali pada pola lama yang menempatkan pengasuhan sebagai urusan ibu. Anak boleh jadi melihat sosok ayah di sekolah satu hari dalam setahun, tetapi tetap merasa sendiri saat mengalami situasi kesulitan belajar, kebingungan emosional, termauk tantangan akademik.
Hemat penulis, GEMAR dapat dimaknai sebagai langkah awal yang penting, tetapi belum cukup untuk menjawab persoalan mendasar dalam intensitas pengasuhan. Kehadiran ayah di sekolah memang perlu diapresiasi, namun perubahan relasi tidak lahir begitu saja dari satu tindakan simbolik. Perubahan membutuhkan pemahaman, kesadaran, dan praktik yang dilakukan secara konsisten.
Dalam konteks ini, konsep parenting bermakna menyajikan kerangka yang relevan untuk membaca keterbatasan sekaligus potensi dari GEMAR. Adalah Jon Kabat-Zinn, mendefinisikan mindfulness sebagai kesadaran penuh pada saat ini, dilakukan secara sadar-sengaja dan tanpa penghakiman. Dalam suatu pengasuhan, kesadaran ini berarti orang tua hadir secara utuh dalam proses hubungan dengan anak, menyadari emosi diri sendiri, serta menanggapi anak dengan empati, bukan reaksi impulsif.
Selain itu ada juga Duncan, Coatsworth, dan Greenberg yang mengembangkan mindfulness parenting sebagai pendekatan yang menekankan kualitas kehadiran orang tua. Mereka menegaskan bahwa pengasuhan yang berdampak tidak ditentukan oleh seberapa sering orang tua hadir secara fisik, tetapi oleh bagaimana mereka mendengarkan, memahami, dan bereaksi pada pengalaman anak. Dengan perspektif ini, pengambilan rapor hanyalah satu momen “kecil” dalam keseluruhan proses pengasuhan.
Jika ayah hadir di sekolah tetapi tetap memandang anak semata sebagai objek capaian akademik, maka relasi yang terbangun tetap dangkal. Mindfulness parenting justru mengajak orang tua melihat anak sebagai subjek dengan pengalaman batin yang katakanlah “rumit”, termasuk kegelisahan, ketakutan, dan kebutuhan akan penerimaan.
Penulis mendukung GEMAR sebagai intervensi kultural yang patut diapresiasi, sekaligus bersikap kritis terhadap keterbatasannya. Dukungan ini bukan berarti menutup mata terhadap risiko simbolisme yang kosong. Penulis berpandangan bahwa GEMAR perlu dimaknai sebagai pintu masuk untuk perubahan yang lebih subtantif, bukan tujuan akhir dari keterlibatan ayah dalam pengasuhan.
Menurut penulis, sikap ini penting, agar GEMAR tidak sekadar menjadi agenda seremonial atau konten kampanye. Kehadiran ayah perlu dipahami sebagai komitmen jangka panjang untuk hadir secara emosional dan sadar dalam kehidupan anak. Tanpa pemaknaan ini, GEMAR berpotensi memperkuat ilusi keterlibatan, bukan perubahan relasi yang sesungguhnya.
Agar program GEMAR berdampak, tampaknya diperlukan integrasi antara kampanye kultural dan kebijakan struktural. Pertama, GEMAR perlu diperluas menjadi program edukasi pengasuhan yang menekankan praktik mindfulness parenting. Edukasi ini dapat dilakukan melalui sekolah, komunitas, posyandu, maupun forum orang tua, dengan fokus pada keterampilan mendengarkan, pengelolaan emosi, dan relasi empatik dengan anak. Kedua, sekolah dapat difungsikan sebagai ruang dialog reflektif antara ayah dan guru, bukan sekadar tempat penyampaian nilai akademik. Forum ini dapat membantu ayah memahami perkembangan anak secara utuh, termasuk aspek emosional dan sosial. Ketiga, pemerintah dan dunia kerja perlu mendorong kebijakan ramah keluarga. Fleksibilitas waktu kerja, cuti pengasuhan, dan budaya kerja yang menghargai keterlibatan ayah menjadi prasyarat agar keterlibatan ayah tidak berhenti pada niat baik.
Saya merasa, dengan langkah-langkah tersebut, program GEMAR dapat bergerak dari simbol ke substansi. Karena, mengambil rapor tidak lagi dipahami menghadiri satu momen, tetapi menjadi bagian dari proses mengambil kesadaran. Pada titik inilah, keterlibatan ayah tidak hanya terlihat, tetapi benar-benar dirasakan oleh anak dalam kehidupan sehari-hari. Semoga.
Oleh Wahyu Tanoto
Opini
Ilusi Kebebasan: Ketika Struktur Mengekang Identitas Diri
Published
7 days agoon
18 August 2026By
Mitra Wacana

Hafizh Achmad Fauzan seorang mahasiswa dari Universitas Pendidikan Indonesia
Sulitnya menjadi diri sendiri di tengah masyarakat yang sedikit-sedikit mengatakan, “kamu aneh”
Pernah nggak sih kamu merasa harus selalu memakai “topeng” setiap kali kamu beranjak keluar rumah? Dihadapan teman, keluarga, atau bahkan tetangga, kita selalu mencoba berakting menjadi sosok yang manut-manut saja sama standar yang sudah mereka terapkan. Tetapi begitu sampai di kamar, mengunci pintu, lalu merebahkan diri, disanalah kita baru bisa bernafas lega dan bertanya-tanya kepada diri sendiri: “sebenernya, yang tadi aku tunjukkan itu aku atau siapa, sih?”
Pertanyaan mengenenai, “siapa sih aku sebenarnya” itu bukan cuma lamunan impulsif sebelum tidur, ia adalah sebuah pertanda bahwa ada kekosongan di dalam diri yang minta diisi.
Secara alami, kita pun mulai mencari jawaban ke luar. Kita menjelajahi internet, mengobrol sama teman, sampai menyerap berbagai informasi demi menemukan identitas yang terasa, “ini aku banget”. Begitu merasa sudah ketemu dan siap membagikannya ke dunia nyata, plak! Realita menampar keras. Lingkungan sosial kita bukannya menyambut dengan tangan terbuka, tapi malah mengecap identitas itu sebagai sebuah “anomali”—sesuatu yang aneh, salah, atau wajib diluruskan.
Psikolog ternama, Erik Erikson pernah bilang kalau pencarian identitas itu memang fase yang krusial banget. Kalau lingkungan kita suportif, kita bakal tumbuh jadi pribadi yang percaya diri. Faktor pembentukan identitas diri ini seringkali dipengaruhi oleh faktor internal yang berada dalam diri kita sendiri. Dapat berupa motivasi atau regulasi diri. Seringkali kita membutuhkan dukungan moral dari luar seperti dari keluarga, teman-teman, atau tokoh idola yang sekarang lagi happening di dunia maya, idolaku menyelamatkanku ketika aku tak yakin pada diri sendiri, namun mereka melihatku seperti sosok yang berharga.
Bagaimana kalau yang kita dapatkan bukan sebuah dukungan, melainkan berupa cemoohan dan kecaman yang menusuk seperti duri?
Dari sinilah krisis identitas itu lahir. Karena takut dibilang aneh atau dikucilkan, banyak dari kita yang pada akhirnya memilih jalan aman dengan bikin identitas semu. Kita berpura-pura menyukai apa yang mayoritas sukai.
Tapi ya kali mau terus-terusan menyamar sepanjang hidup? Pura-pura jadi orang lain itu lelahnya luar bisa, membuat diri kita hilang terkubur redup. Efek jangka panjangnya bisa membuat kita cemas, depresi, sampai merasa hampa karena tak pernah benar-benar merasa hidup. Makanya, nggak heran kalau banyak orang yang akhirnya memilih lari ke dunia maya— sebagian dari kita pada akhirnya memilih untuk memuat identity fluidity virtual atau pada zaman sekarang, hal ini disebut dengan pembuatan akun alter. Karena menurutnya, di dalam dunia ini mereka merasa aman, dan nyaman tanpa memiliki perasaan takut dijudging karena telah menjadi diri sendiri. Semuanya dilakukan secara anonim.
Mendapat dukungan moral dengan mudah, tanpa harus memaksakan diri agar dapat diterima, mengapa hal ini terasa sulit? Seperti mustahil untuk didapatkan di dunia nyata? Mengapa terasa mudah apabila dilakukan sebagai anonim di dalam dunia maya? Pertanyaan-pertanyaan itu kerap kali muncul hingga identify difussion mengincar kita yang gagal dalam pembentukan identitas diri.
Secara filosofis, filsus eksistensialis Jean-Paul Sartre punya jargon terkenal: “Condemned to be free”—manusia itu dikutuk dan diciptakan untuk bebas. Maksudnya, kita terlahir tanpa cetakan makna bawaan. Kamulah pencipta atas hidup dan makna dirimu sendiri. Kamulah pengendali atas apa yang kamu inginkan.
Sayangnya, dalam praktik sehari-hari, teori Sartre ini sering kali mental saat berhadapan dengan struktur sosial. Masyarakat kita rajin banget menetapkan “nilai tunggal”. Kalau kamu sedikit berbeda dari kebiasaan mayoritas, kamu langsung dilabeli buruk. Kebebasan berekspresi yang digadang-gadang itu seolah cuma mitos, karena struktur di sekitar kita lebih suka menyeragamkan ketimbang menghargai keberagaman.
Lantas, harus bagaimana kita menghadapi dunia yang sering kali tidak ramah ini?
Filsuf Albert Camus punya sudut pandang yang menarik soal ini. Menurut Camus, dunia ini memang penuh absurditas—dunia nggak selalu adil dan usaha kita buat diterima nggak selalu berbuah manis. Cara melawannya bukan dengan menyerah atau terus-menerus sedih, melainkan dengan menjadi “The Stranger”: berdamai dengan kenyataan bahwa dunia ini memang absurd, lalu fokus pada nilai diri sendiri tanpa peduli diktasi luar.
Nietzsche juga menambahkan konsep keren bernama will to power. Jangan biarkan kehampaan atau penolakan sosial menghancurkanmu. Jadilah ubermensch yang artinya menjadi manusia yang berani menciptakan nilainya sendiri di tengah masyarakat yang mengekang. Dan berani untuk tetap tumbuh, tetap pada pendirian teguh akan identitas diri, jangan takut akan runtuh. Karena dunia akan ikut meluruh apabila kita tetap utuh.
Dunia ini bukan cuma milik satu kelompok atau satu standar nilai. Seperti kata Jean-Francois Lyotard; kita harus bisa menghargai bahwa tiap manusia punya konteks dan perspektif yang berbeda-beda.
Parahnya lagi, situasi ini makin keruh belakangan ini. Peraturan pemerintah yang harusnya melindungi semua warga malah kerap dipakai sebagai alat legitimasi buat mendiskriminasi, mengkriminalisasi, atau memojokkan kelompok yang dianggap “anomali” dari standar mayoritas. Dalihnya ya macam-macam, dari soal nilai sosial sampai ideologi. Efeknya? Banyak orang yang akhirnya makin takut buat jadi diri sendiri di ruang publik karena merasa keselamatan mereka terancam.
Capek nggak sih melihat masyarakat kita terus-terusan dibenturkan oleh konflik horizontal yang mengorbankan kelompok minoritas, sementara masalah-masalah besar yang jauh lebih krusial malah kelelep gitu aja? Sudah saatnya kita belajar dari sejarah dengan mengetahui bahwa persatuan itu lahir dari rasa saling menghargai perbedaan, bukan dari memaksa semua orang untuk seragam.
Pada akhirnya, identitas diri itu adalah tentang kesadaran penuh akan siapa diri kita dan bagaimana hasil dari proses panjang mengeksplorasi nilai, memilih apa yang kita yakini, lalu berani menampilkannya ke dunia.
Menerima diri sendiri itu krusial banget biar kita bisa melangkah dengan percaya diri dan nggak gampang tumbang oleh krisis batin. Ketika dunia luar mulai bising dengan penolakan dan cemoohan, ajaran Albert Camus bisa kita jadikan sebagai benteng pertahanan diri, karena beliau bilang, berdamai saja dengan kenyataan bahwa dunia ini memang absurd, lalu fokus merawat nilai-nilai yang kita yakini.
Kita tidak boleh melupakan fakta bahwa pada akhirnya, setiap manusia memiliki keinginan yang sama dan sederhana; kita menginginkan hak untuk hidup dengan aman tanpa takut terdiskriminasi atau bahkan tereleminasi sosial. Sudah saatnya kita merayakan pluralitas dan menghargai perbedaan bagaimana cara seseorang memaknai dan menghargai hidupnya. Toh, pada dasarnya, nggak ada satu pun manusia di dunia ini yang ingin diperlakukan tidak adil hanya karena ia memilih untuk jujur pada dirinya sendiri.
REFERENSI
Nietzsche, F. (2005). Thus spoke Zarathustra (G. Parkes, Trans.). Oxford University Press.
Camus, A. (1955). The myth of Sisyphus (J. O’Brien, Trans.).
Sa’diyah, H., & Jannah, S. N. F. (2025). Ontologi attachment dalam dinamika keluarga: Peran orang tua dalam pembentukan identitas anak. Educazione, 13(1), 42-54.
Hidayah, N., & Huriati. (2016). Krisis identitas diri pada remaja “identity crisis of adolescences”. Sulesana, 10(1), 49-62.

Bioskop Rakyat Fest #03 Sukses Digelar di Demangrejo: Padukan Seni Budaya, Kampanye Anti-Perdagangan Orang, dan Pemberdayaan Desa

Beri Jalan Ulama Perempuan dalam Keanggotaan AHWA di Muktamar 3







