Opini
Membaca Program GEMAR dan Keterlibatan Ayah dalam Pengasuhan
Published
4 months agoon
By
Mitra Wacana
Pemerintah Kabupaten Bantul melalui DP3APPKB, meluncurkan GEMAR (Gerakan Ayah Mengambil Rapor Anak ke Sekolah) sebagai upaya mendorong keterlibatan ayah dalam pendidikan anak. Kampanye ini mengajak para-ayah hadir langsung saat pengambilan rapor di sekolah, mulai dari jenjang pendidikan dasar hingga menengah. Selama ini, pengambilan rapor lebih sering dilakukan oleh ibu, sementara ayah kerap dianggap berhalangan atau tidak perlu hadir. Melalui GEMAR, pemerintah daerah berupaya menggeser persepsi publik bahwa pendidikan anak bukan semata urusan domestik yang dilekatkan pada ibu, melainkan tanggung jawab kedua orang tua.
Secara simbolik, kehadiran ayah di sekolah memuat pesan yang cukup kuat. Ayah dapat “pamer” kepada anak, guru, dan lingkungan sekitar bahwa ayah tidak hanya hadir sebagai pencari nafkah, tetapi juga sebagai figur yang peduli pada proses belajar dan perkembangan anak. Dalam konteks kebijakan daerah, GEMAR dapat dibaca sebagai bentuk intervensi kultural untuk mengubah kebiasaan lama yang selama ini diterima sebagai sesuatu yang normal.
Namun, persoalan keterlibatan ayah dalam pengasuhan tidak berdiri sendiri. Berkelindan dengan struktur sosial yang memiliki cakupan lebih luas. Pembagian peran berbasis gender masih sangat kuat dalam kehidupan keluarga di Indonesia. Ayah diposisikan sebagai pencari nafkah utama, sementara pengasuhan emosional, pendidikan, dan urusan domestik dilekatkan pada ibu. Pola ini diperkuat oleh budaya kerja yang panjang, minimnya fleksibilitas waktu, serta kebijakan ketenagakerjaan yang belum sepenuhnya ramah keluarga.
Dalam situasi seperti ini, absennya ayah dalam ruang-ruang pendidikan anak sering dianggap wajar. Banyak ayah merasa telah memenuhi tanggung jawabnya dengan bekerja keras, sementara kehadiran dalam urusan sekolah dianggap sebagai tugas tambahan, bahkan sekunder. Akibatnya, keterlibatan ayah sering bersifat insidental dan simbolik, hadir pada momen tertentu tanpa keterhubungan yang berkelanjutan dengan kehidupan emosional anak.
Jika tidak dibaca secara kritis, program GEMAR berisiko berhenti pada simbol. Memang, Ayah hadir mengambil rapor, berfoto, lalu kembali pada pola lama yang menempatkan pengasuhan sebagai urusan ibu. Anak boleh jadi melihat sosok ayah di sekolah satu hari dalam setahun, tetapi tetap merasa sendiri saat mengalami situasi kesulitan belajar, kebingungan emosional, termauk tantangan akademik.
Hemat penulis, GEMAR dapat dimaknai sebagai langkah awal yang penting, tetapi belum cukup untuk menjawab persoalan mendasar dalam intensitas pengasuhan. Kehadiran ayah di sekolah memang perlu diapresiasi, namun perubahan relasi tidak lahir begitu saja dari satu tindakan simbolik. Perubahan membutuhkan pemahaman, kesadaran, dan praktik yang dilakukan secara konsisten.
Dalam konteks ini, konsep parenting bermakna menyajikan kerangka yang relevan untuk membaca keterbatasan sekaligus potensi dari GEMAR. Adalah Jon Kabat-Zinn, mendefinisikan mindfulness sebagai kesadaran penuh pada saat ini, dilakukan secara sadar-sengaja dan tanpa penghakiman. Dalam suatu pengasuhan, kesadaran ini berarti orang tua hadir secara utuh dalam proses hubungan dengan anak, menyadari emosi diri sendiri, serta menanggapi anak dengan empati, bukan reaksi impulsif.
Selain itu ada juga Duncan, Coatsworth, dan Greenberg yang mengembangkan mindfulness parenting sebagai pendekatan yang menekankan kualitas kehadiran orang tua. Mereka menegaskan bahwa pengasuhan yang berdampak tidak ditentukan oleh seberapa sering orang tua hadir secara fisik, tetapi oleh bagaimana mereka mendengarkan, memahami, dan bereaksi pada pengalaman anak. Dengan perspektif ini, pengambilan rapor hanyalah satu momen “kecil” dalam keseluruhan proses pengasuhan.
Jika ayah hadir di sekolah tetapi tetap memandang anak semata sebagai objek capaian akademik, maka relasi yang terbangun tetap dangkal. Mindfulness parenting justru mengajak orang tua melihat anak sebagai subjek dengan pengalaman batin yang katakanlah “rumit”, termasuk kegelisahan, ketakutan, dan kebutuhan akan penerimaan.
Penulis mendukung GEMAR sebagai intervensi kultural yang patut diapresiasi, sekaligus bersikap kritis terhadap keterbatasannya. Dukungan ini bukan berarti menutup mata terhadap risiko simbolisme yang kosong. Penulis berpandangan bahwa GEMAR perlu dimaknai sebagai pintu masuk untuk perubahan yang lebih subtantif, bukan tujuan akhir dari keterlibatan ayah dalam pengasuhan.
Menurut penulis, sikap ini penting, agar GEMAR tidak sekadar menjadi agenda seremonial atau konten kampanye. Kehadiran ayah perlu dipahami sebagai komitmen jangka panjang untuk hadir secara emosional dan sadar dalam kehidupan anak. Tanpa pemaknaan ini, GEMAR berpotensi memperkuat ilusi keterlibatan, bukan perubahan relasi yang sesungguhnya.
Agar program GEMAR berdampak, tampaknya diperlukan integrasi antara kampanye kultural dan kebijakan struktural. Pertama, GEMAR perlu diperluas menjadi program edukasi pengasuhan yang menekankan praktik mindfulness parenting. Edukasi ini dapat dilakukan melalui sekolah, komunitas, posyandu, maupun forum orang tua, dengan fokus pada keterampilan mendengarkan, pengelolaan emosi, dan relasi empatik dengan anak. Kedua, sekolah dapat difungsikan sebagai ruang dialog reflektif antara ayah dan guru, bukan sekadar tempat penyampaian nilai akademik. Forum ini dapat membantu ayah memahami perkembangan anak secara utuh, termasuk aspek emosional dan sosial. Ketiga, pemerintah dan dunia kerja perlu mendorong kebijakan ramah keluarga. Fleksibilitas waktu kerja, cuti pengasuhan, dan budaya kerja yang menghargai keterlibatan ayah menjadi prasyarat agar keterlibatan ayah tidak berhenti pada niat baik.
Saya merasa, dengan langkah-langkah tersebut, program GEMAR dapat bergerak dari simbol ke substansi. Karena, mengambil rapor tidak lagi dipahami menghadiri satu momen, tetapi menjadi bagian dari proses mengambil kesadaran. Pada titik inilah, keterlibatan ayah tidak hanya terlihat, tetapi benar-benar dirasakan oleh anak dalam kehidupan sehari-hari. Semoga.
Oleh Wahyu Tanoto
Opini
Keterhubungan yang Dangkal: Refleksi atas Krisis Relasi di Era Media Sosial
Published
14 hours agoon
14 April 2026By
Mitra Wacana

T.H. Hari Sucahyo,
alumnus Fakultas Psikologi Soegijapranata Catholic University (SCU)
Peminat bidang Sosial Humaniora
“Saya punya 1.200 pengikut Instagram,” katanya, seolah angka itu seharusnya menjadi penawar bagi sesuatu yang tak pernah ia sebutkan secara langsung. Ia mengucapkannya dengan nada yang aneh; setengah bangga, setengah lelah. Seperti seseorang yang memamerkan piala, tetapi diam-diam tahu bahwa piala itu kosong. “Saya mendapatkan puluhan ‘like’ di setiap unggahan. Orang-orang berkomentar. Mereka berinteraksi. Tapi saya merasa benar-benar sendirian.”
Kalimat terakhir itu tidak diucapkan dengan dramatis. Tidak ada usaha untuk membuatnya terdengar tragis. Justru karena itulah ia terasa lebih berat. Seolah-olah kesepian itu bukan sesuatu yang datang tiba-tiba, melainkan sesuatu yang perlahan meresap, merayap masuk ke dalam kehidupan tanpa disadari, hingga akhirnya menetap dan menjadi bagian dari keseharian.
Dia berusia 28 tahun. Dalam ukuran dunia modern, hidupnya terlihat “berhasil”. Pekerjaan yang stabil, apartemen yang nyaman di tengah kota, rutinitas sosial yang sibuk. Ia bukan seseorang yang terisolasi secara fisik. Sebaliknya, hidupnya penuh dengan orang. Kalendernya padat, mulai dari kelas olahraga, acara santai setelah jam kerja, pertemuan networking, kencan dari aplikasi.
Jika dilihat dari luar, ia adalah contoh sempurna dari seseorang yang aktif, terhubung, dan menjalani kehidupan urban yang dinamis. Namun, seperti banyak hal lain di zaman ini, apa yang terlihat tidak selalu mencerminkan apa yang dirasakan.
“Kapan terakhir kali kamu benar-benar bercakap-cakap dengan seseorang?” tanya saya. Bukan percakapan tentang pekerjaan, bukan basa-basi ringan tentang cuaca atau tren terbaru, melainkan percakapan yang menyentuh sesuatu yang lebih dalam. “Di mana kamu membicarakan sesuatu yang benar-benar penting bagimu? Di mana kamu merasa dilihat dan dipahami?”
Pertanyaan itu sederhana. Bahkan mungkin terlalu sederhana. Tapi justru di situlah letak kekuatannya. Karena pertanyaan itu menyingkirkan semua lapisan, semua topeng sosial, semua rutinitas yang terasa otomatis dan langsung menuju inti dari apa artinya menjadi manusia. Keheningan yang panjang mengikuti.
Keheningan itu bukan sekadar jeda. Ia adalah ruang kosong yang tiba-tiba terbuka, ruang di mana seseorang dipaksa untuk melihat ke dalam dirinya sendiri tanpa distraksi. Tidak ada notifikasi, tidak ada pesan masuk, tidak ada suara latar. Hanya dirinya sendiri dan pertanyaan yang tak bisa lagi dihindari.
“Aku… aku tidak tahu,” akhirnya ia berkata pelan. “Mungkin bertahun-tahun?” Dan kemudian ia menangis. Bukan tangisan yang tertahan atau sopan. Bukan air mata yang cepat dihapus sambil meminta maaf. Ini adalah tangisan yang datang dari tempat yang lebih dalam, dari sesuatu yang telah lama ditekan, diabaikan, atau mungkin bahkan tidak disadari. Tubuhnya bergetar, seolah-olah ada beban yang selama ini dipikul akhirnya mulai retak.
“Aku tidak menyadari betapa kesepiannya aku sampai om menanyakan pertanyaan itu,” katanya di sela-sela isak. “Aku terlalu sibuk berpura-pura menjalin hubungan sehingga aku lupa bagaimana rasanya menjalin hubungan yang sebenarnya.” Kalimat itu menggantung di udara. Dan dalam banyak hal, kalimat itu bukan hanya miliknya.
Inilah paradoks besar dari zaman kita: kita hidup di era koneksi yang belum pernah terjadi sebelumnya, namun kesepian justru menjadi semakin umum. Kita dapat menjangkau siapa pun, kapan pun. Kita bisa melihat kehidupan orang lain dalam hitungan detik. Kita memiliki akses ke ratusan, bahkan ribuan “hubungan”. Namun, semakin banyak koneksi yang kita miliki, semakin sulit rasanya menemukan kedekatan yang nyata. Mungkin karena koneksi itu sendiri telah berubah makna.
Dulu, hubungan membutuhkan waktu. Ia tumbuh dari percakapan yang panjang, dari kebersamaan yang tidak tergesa-gesa, dari kehadiran yang utuh. Ada jeda, ada keheningan, ada ruang untuk saling memahami tanpa harus selalu mengisi setiap detik dengan kata-kata. Hubungan bukan sesuatu yang bisa diukur dengan angka.
Sekarang, hubungan sering kali direduksi menjadi interaksi. Sebuah “like”, komentar singkat, pesan cepat yang tidak pernah benar-benar menggali lebih dalam. Kita berbicara lebih banyak, tetapi mengatakan lebih sedikit. Kita berbagi lebih sering, tetapi menunjukkan lebih sedikit dari diri kita yang sebenarnya.
Kita menjadi ahli dalam menampilkan versi diri yang dapat diterima; versi yang menarik, menyenangkan, tidak terlalu rumit. Kita tahu bagaimana menulis caption yang tepat, memilih foto yang tepat, merespons dengan emoji yang tepat. Namun, di balik semua itu, ada bagian dari diri kita yang tetap tidak tersentuh. Dan bagian itulah yang merasa kesepian.
Kesepian yang dimaksud di sini bukan sekadar tidak memiliki orang di sekitar. Ini adalah kesepian yang lebih halus dan lebih dalam; sebuah perasaan bahwa tidak ada yang benar-benar mengenal kita. Bahwa kita hadir dalam banyak kehidupan, tetapi tidak benar-benar “ada” di dalamnya. Bahwa kita dilihat, tetapi tidak dipahami.
Kesepian semacam ini sering kali tersembunyi dengan baik. Ia tidak selalu terlihat dari luar. Seseorang bisa tertawa di pesta, aktif di media sosial, memiliki banyak teman, dan tetap merasa kosong ketika pulang ke rumah. Karena kesepian tidak selalu berkaitan dengan jumlah orang di sekitar kita, melainkan dengan kualitas hubungan yang kita miliki. Dan kualitas itu membutuhkan sesuatu yang semakin langka: kerentanan.
Untuk benar-benar terhubung dengan seseorang, kita harus berani menunjukkan diri kita apa adanya, bukan hanya bagian yang nyaman atau menyenangkan, tetapi juga bagian yang rapuh, bingung, bahkan tidak sempurna. Kita harus berani mengatakan, “Aku tidak baik-baik saja,” tanpa merasa harus segera menutupinya dengan lelucon atau pengalihan. Namun, kerentanan itu menakutkan.
Ia membuka kemungkinan untuk ditolak, disalahpahami, atau bahkan diabaikan. Dalam dunia yang bergerak cepat dan sering kali dangkal, risiko itu terasa terlalu besar. Lebih mudah untuk tetap berada di permukaan, di mana semuanya terasa aman dan terkendali. Namun, keamanan itu datang dengan harga. Harga itu adalah kedalaman.
Tanpa kerentanan, hubungan tetap berada di level yang sama; ringan, cepat, mudah diganti. Kita bisa memiliki banyak interaksi, tetapi sedikit koneksi. Kita bisa merasa sibuk secara sosial, tetapi kosong secara emosional. Dan perlahan, kita mulai lupa bagaimana rasanya memiliki hubungan yang benar-benar berarti.
Kita lupa bagaimana rasanya duduk bersama seseorang tanpa terganggu oleh layar, berbicara tentang hal-hal yang tidak memiliki jawaban sederhana. Kita lupa bagaimana rasanya didengarkan tanpa dihakimi, dipahami tanpa harus menjelaskan terlalu banyak. Kita lupa bagaimana rasanya merasa “cukup” di hadapan orang lain, tanpa perlu membuktikan apa pun.
Kesepian yang muncul dari kehilangan ini sering kali tidak disadari, karena ia tertutup oleh aktivitas. Kita mengisinya dengan jadwal yang padat, dengan hiburan tanpa henti, dengan koneksi yang terus diperbarui. Kita menjadi sibuk, bukan karena kita memiliki terlalu banyak hal penting untuk dilakukan, tetapi karena kita berusaha menghindari ruang kosong. Ruang kosong itu berbahaya, karena di sanalah kita mulai bertanya.
Apakah aku benar-benar bahagia? Apakah orang-orang ini benar-benar mengenalku?
Apakah aku pernah merasa benar-benar dekat dengan seseorang? Pertanyaan-pertanyaan ini tidak selalu memiliki jawaban yang nyaman. Dan mungkin itulah alasan mengapa kita jarang memberinya ruang. Namun, seperti yang terjadi pada perempuan itu, terkadang hanya dibutuhkan satu pertanyaan sederhana untuk membuka semuanya. Dan ketika itu terjadi, kita dihadapkan pada pilihan.
Kita bisa kembali menutup diri, kembali ke rutinitas lama, kembali ke koneksi yang dangkal tetapi aman. Atau kita bisa mulai melakukan sesuatu yang lebih sulit: membangun kembali hubungan yang nyata. Ini bukan proses yang cepat. Ia tidak bisa diselesaikan dengan satu percakapan atau satu keputusan. Ia membutuhkan keberanian untuk melambat, untuk hadir, untuk mendengarkan dan didengarkan. Ia membutuhkan kesediaan untuk merasa tidak nyaman, untuk membuka diri, untuk mengambil risiko.
Mungkin itu berarti menghubungi seseorang dan mengatakan sesuatu yang lebih jujur dari biasanya. Mungkin itu berarti mengurangi waktu di dunia digital dan memberi lebih banyak ruang untuk pertemuan yang nyata. Mungkin itu berarti belajar kembali bagaimana cara bertanya dan benar-benar mendengarkan jawabannya. Dan mungkin, yang paling penting, itu berarti mengakui bahwa kesepian bukanlah kegagalan pribadi.
Ia bukan tanda bahwa kita kurang menarik, kurang sukses, atau kurang berharga. Ia adalah sinyal, bahwa ada kebutuhan yang belum terpenuhi, bahwa ada bagian dari diri kita yang ingin terhubung dengan cara yang lebih dalam. Keponakan saya itu akhirnya berhenti menangis. Wajahnya masih basah, tetapi ada sesuatu yang berubah. Bukan karena masalahnya langsung terselesaikan, tetapi karena untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia benar-benar melihat apa yang sedang ia rasakan. “Aku tidak ingin hidup seperti ini terus,” katanya pelan.
Kalimat itu sederhana, tetapi penuh makna. Karena di dalamnya ada kesadaran dan di dalam kesadaran, selalu ada kemungkinan untuk berubah. Kesepian mungkin adalah salah satu pengalaman paling universal yang kita miliki, namun juga salah satu yang paling jarang kita bicarakan dengan jujur. Kita menyembunyikannya di balik kesibukan, di balik pencapaian, di balik senyum yang terlihat meyakinkan. Kita berharap bahwa dengan cukup waktu, ia akan hilang dengan sendirinya. Namun, kesepian tidak hilang dengan diabaikan.
Ia hanya berubah bentuk, menjadi lebih halus, lebih sulit dikenali, tetapi tetap ada. Dan mungkin, satu-satunya cara untuk benar-benar menghadapinya adalah dengan melakukan hal yang selama ini kita hindari: berhenti sejenak, melihat ke dalam, dan berani bertanya kapan terakhir kali kita benar-benar merasa terhubung? Bukan dengan banyak orang, tetapi dengan satu orang.
Bukan di permukaan, tetapi di kedalaman.
Bukan sebagai versi terbaik kita, tetapi sebagai diri kita yang sebenarnya. Karena pada akhirnya, yang kita cari bukanlah jumlah koneksi, melainkan makna di dalamnya. Dan makna itu hanya bisa ditemukan ketika kita berani hadir sepenuhnya, dengan segala ketidaksempurnaan kita di hadapan orang lain yang juga berani melakukan hal yang sama.

Film Dokumenter “Rumah Ketigaku” Ungkap Kerentanan Perempuan dan Pekerja Migran di Tanah Rantau

Keterhubungan yang Dangkal: Refleksi atas Krisis Relasi di Era Media Sosial







