web analytics
Connect with us

Opini

Membaca Program GEMAR dan Keterlibatan Ayah dalam Pengasuhan

Published

on

Sumber: DP3AP2KB Bantul

Pemerintah Kabupaten Bantul melalui DP3APPKB, meluncurkan GEMAR (Gerakan Ayah Mengambil Rapor Anak ke Sekolah) sebagai upaya mendorong keterlibatan ayah dalam pendidikan anak. Kampanye ini mengajak para-ayah hadir langsung saat pengambilan rapor di sekolah, mulai dari jenjang pendidikan dasar hingga menengah. Selama ini, pengambilan rapor lebih sering dilakukan oleh ibu, sementara ayah kerap dianggap berhalangan atau tidak perlu hadir. Melalui GEMAR, pemerintah daerah berupaya menggeser persepsi publik bahwa pendidikan anak bukan semata urusan domestik yang dilekatkan pada ibu, melainkan tanggung jawab kedua orang tua.

Secara simbolik, kehadiran ayah di sekolah memuat pesan yang cukup kuat. Ayah dapat “pamer” kepada anak, guru, dan lingkungan sekitar bahwa ayah tidak hanya hadir sebagai pencari nafkah, tetapi juga sebagai figur yang peduli pada proses belajar dan perkembangan anak. Dalam konteks kebijakan daerah, GEMAR dapat dibaca sebagai bentuk intervensi kultural untuk mengubah kebiasaan lama yang selama ini diterima sebagai sesuatu yang normal.

Namun, persoalan keterlibatan ayah dalam pengasuhan tidak berdiri sendiri. Berkelindan dengan struktur sosial yang memiliki cakupan lebih luas. Pembagian peran berbasis gender masih sangat kuat dalam kehidupan keluarga di Indonesia. Ayah diposisikan sebagai pencari nafkah utama, sementara pengasuhan emosional, pendidikan, dan urusan domestik dilekatkan pada ibu. Pola ini diperkuat oleh budaya kerja yang panjang, minimnya fleksibilitas waktu, serta kebijakan ketenagakerjaan yang belum sepenuhnya ramah keluarga.

Dalam situasi seperti ini, absennya ayah dalam ruang-ruang pendidikan anak sering dianggap wajar. Banyak ayah merasa telah memenuhi tanggung jawabnya dengan bekerja keras, sementara kehadiran dalam urusan sekolah dianggap sebagai tugas tambahan, bahkan sekunder. Akibatnya, keterlibatan ayah sering bersifat insidental dan simbolik, hadir pada momen tertentu tanpa keterhubungan yang berkelanjutan dengan kehidupan emosional anak.

Jika tidak dibaca secara kritis, program GEMAR berisiko berhenti pada simbol. Memang, Ayah hadir mengambil rapor, berfoto, lalu kembali pada pola lama yang menempatkan pengasuhan sebagai urusan ibu. Anak boleh jadi melihat sosok ayah di sekolah satu hari dalam setahun, tetapi tetap merasa sendiri saat mengalami situasi kesulitan belajar, kebingungan emosional, termauk tantangan akademik.

Hemat penulis, GEMAR dapat dimaknai sebagai langkah awal yang penting, tetapi belum cukup untuk menjawab persoalan mendasar dalam intensitas pengasuhan. Kehadiran ayah di sekolah memang perlu diapresiasi, namun perubahan relasi tidak lahir begitu saja dari satu tindakan simbolik. Perubahan membutuhkan pemahaman, kesadaran, dan praktik yang dilakukan secara konsisten.

Dalam konteks ini, konsep parenting bermakna menyajikan kerangka yang relevan untuk membaca keterbatasan sekaligus potensi dari GEMAR. Adalah Jon Kabat-Zinn, mendefinisikan mindfulness sebagai kesadaran penuh pada saat ini, dilakukan secara sadar-sengaja dan tanpa penghakiman. Dalam suatu pengasuhan, kesadaran ini berarti orang tua hadir secara utuh dalam proses hubungan dengan anak, menyadari emosi diri sendiri, serta menanggapi anak dengan empati, bukan reaksi impulsif.

Selain itu ada juga Duncan, Coatsworth, dan Greenberg yang mengembangkan mindfulness parenting sebagai pendekatan yang menekankan kualitas kehadiran orang tua. Mereka menegaskan bahwa pengasuhan yang berdampak tidak ditentukan oleh seberapa sering orang tua hadir secara fisik, tetapi oleh bagaimana mereka mendengarkan, memahami, dan bereaksi pada pengalaman anak. Dengan perspektif ini, pengambilan rapor hanyalah satu momen “kecil” dalam keseluruhan proses pengasuhan.

Jika ayah hadir di sekolah tetapi tetap memandang anak semata sebagai objek capaian akademik, maka relasi yang terbangun tetap dangkal. Mindfulness parenting justru mengajak orang tua melihat anak sebagai subjek dengan pengalaman batin yang katakanlah “rumit”, termasuk kegelisahan, ketakutan, dan kebutuhan akan penerimaan.

Penulis mendukung GEMAR sebagai intervensi kultural yang patut diapresiasi, sekaligus bersikap kritis terhadap keterbatasannya. Dukungan ini bukan berarti menutup mata terhadap risiko simbolisme yang kosong. Penulis berpandangan bahwa GEMAR perlu dimaknai sebagai pintu masuk untuk perubahan yang lebih subtantif, bukan tujuan akhir dari keterlibatan ayah dalam pengasuhan.

Menurut penulis, sikap ini penting, agar GEMAR tidak sekadar menjadi agenda seremonial atau konten kampanye. Kehadiran ayah perlu dipahami sebagai komitmen jangka panjang untuk hadir secara emosional dan sadar dalam kehidupan anak. Tanpa pemaknaan ini, GEMAR berpotensi memperkuat ilusi keterlibatan, bukan perubahan relasi yang sesungguhnya.

Agar program GEMAR berdampak, tampaknya diperlukan integrasi antara kampanye kultural dan kebijakan struktural. Pertama, GEMAR perlu diperluas menjadi program edukasi pengasuhan yang menekankan praktik mindfulness parenting. Edukasi ini dapat dilakukan melalui sekolah, komunitas, posyandu, maupun forum orang tua, dengan fokus pada keterampilan mendengarkan, pengelolaan emosi, dan relasi empatik dengan anak. Kedua, sekolah dapat difungsikan sebagai ruang dialog reflektif antara ayah dan guru, bukan sekadar tempat penyampaian nilai akademik. Forum ini dapat membantu ayah memahami perkembangan anak secara utuh, termasuk aspek emosional dan sosial. Ketiga, pemerintah dan dunia kerja perlu mendorong kebijakan ramah keluarga. Fleksibilitas waktu kerja, cuti pengasuhan, dan budaya kerja yang menghargai keterlibatan ayah menjadi prasyarat agar keterlibatan ayah tidak berhenti pada niat baik.

Saya merasa, dengan langkah-langkah tersebut, program GEMAR dapat bergerak dari simbol ke substansi. Karena, mengambil rapor tidak lagi dipahami menghadiri satu momen, tetapi menjadi bagian dari proses mengambil kesadaran. Pada titik inilah, keterlibatan ayah tidak hanya terlihat, tetapi benar-benar dirasakan oleh anak dalam kehidupan sehari-hari. Semoga.

Oleh Wahyu Tanoto

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Opini

Pecinta Pedas Yuk Merapat: Cobain Mangut Kepala Manyung Yang Lezat, Dijamin Nagih

Published

on

Oleh Eka Lestari

Penggemar ikan udah pernah nyobain kuliner yang satu ini belum? Namanya mangut kepala manyung, kuliner sedap dengan cita rasa yang khas. Mangut kepala manyung merupakan hidangan unik dari pesisir Utara Jawa Tengah. Kuliner ini bisa dibilang legendaris dan jadi andalan di Kota Semarang. Mangut kepala manyung adalah salah satu hidangan khas Semarang. Konon, makanan ini sudah ada sejak 1960-an. Berakar dari budaya kuliner Pantura Jawa Tengah, dan banyak ditemukan di Kota Atlas dan sekitarnya.

Sesuai namanya, hidangan ini berisi kepala ikan manyung, yaitu ikan laut yang termasuk dalam kelompok ikan berkumis atau famili Ariidae. Bentuknya seperti ikan lele, tapi ukurannya lebih besar. Ikan manyung punya daging yang tebal dan cenderung tidak begitu amis. 

Ciri khas dari hidangan ini menggunakan kepala ikan manyung yang sudah diasap. Rasanya pedas bercampur kuah santan yang gurih. Uniknya, mangut kepala manyung punya aroma begitu khas yang berasal dari proses pengasapan ikan yang dilakukan secara tradisional.

Teknik pengolahannya sangat menarik. Sebelum dimasak menjadi hidangan lezat, kepala ikan manyung diasap terlebih dahulu (dengan kayu atau tempurung kelapa), tujuannya untuk menciptakan aroma smoky yang meresap ke dalam daging. Selain itu, pengasapan dilakukan sebagai cara pengawetan alami. Dengan metode pengasapan tersebut, bisa mengurangi kadar air dan mengubah tekstur kulit menjadi mengkilap.

Hidangan ini juga kaya akan rempah, jadi bumbunya terasa medok. Hal itu bisa dirasakan dari kuahnya yang kental dan berbumbu, terdiri dari kunyit, cabai, kencur, jahe, ketumbar, daun salam, lada, dan santan yang menonjolkan aroma gurih, dan sedikit asam. Kombinasi rempah tersebut menciptakan kuah yang pedas dan enak di lidah. Dagingnya melimpah dan ukurannya yang besar menjadikannya sebagai kuliner pantura. Rasanya juara dan porsinya yang tidak seperti biasanya, dianggap oleh sebagian orang sebagai kuliner mewah.

Kini, mangut kepala manyung jadi salah satu kuliner Semarang yang sering diburu oleh wisatawan. Rasanya yang khas dan porsinya yang menyenangkan, membuat hidangan ini jadi primadona oleh beberapa kalangan.

Kalau kamu mampir ke Kota Semarang, ada salah satu warung makan yang menyajikan hidangan tersebut yaitu Mangut Kepala Manyung Bu Fat. Tempatnya sering didatangi wisatawan dan terkenal di kalangan pecinta kuliner.

Lokasinya sudah punya beberapa cabang yaitu di Jalan Ariloka, Krobokan, Kecamatan. Semarang Barat, Kota Semarang dan Jalan Sukun Raya No. 36, Banyumanik, Semarang.

Yuk guys kalau kamu main ke Semarang, cobain mangut kepala manyung. Dijamin bakal ketagihan deh..

Continue Reading
Advertisement NYL2026
Advertisement
Advertisement

Twitter

Trending