Opini
MAHASISWA DAN AURA FARMING
Published
7 months agoon
By
Mitra Wacana

Desfita Engggi Tri Andini mahasiswa aktif Program Studi Tadris (Pendidikan) Bahasa Indonesia di Fakultas Adab dan Bahasa, UIN Raden Mas Said Surakarta
Di zaman digital seperti saat ini, menjadi mahasiswa tidak cukup jika hanya rajin kuliah dan mendapat nilai bagus. Dunia kerja dan masyarakat mengharapkaan lebih: keterampilan berkomunikasi, kepercayaan diri, dan penampilan diri yang positif. Semua itu menjadi hal penting untuk dikenali, dipercaya, dan dihargai. Maka dari itu, banyak anak muda mulai sadar pentingnya membangun personal branding. Salah satu tren yang sedang ramai di media sosial dan nyatanya sangat relevan dengan hal ini adalah aura farming.
Aura farming merupakan kegiatan yang bertujuan untuk merawat, mengelola, dan memperbaiki citra diri atau aura pribadi melalui tindakan yang konsisten, konten yang relevan, perilaku yang baik, dan cara berinteraksi sehingga orang lain dapat merasakan “nilai” atau “getaran” yang ingin kita sampaikan. Jika didengar sekilas, mungkin terdengar seperti tren dari gaya hidup anak TikTok atau kadang terkesan aneh, seolah kita sedang “bercocok tanam” tapi yang ditanam adalah aura. Tetapi, sebenarnya memiliki makna yang lebih dalam dari itu.
Aura farming adalah sebuah metode yang dilakukan dengan kesadaran untuk menumbuhkan dan merawat energi positif dalam diri, mulai dari cara berpakaian, sikap, hingga cara berbicara. Di era digital, personal branding tidak bisa dilepaskan dari media sosial. Penelitian Universitas Pasundan menyebutkan bahwa media sosial berperan penting dalam membangun kepercayaan publik terhadap citra diri mahasiswa jika digunakan secara bijak (Menurut Journal Wistara, 2022).
Mahasiswa bahasa dapat memanfaatkan platform seperti Instagram, TikTok, dan LinkedIn untuk berbagi wawasan kebahasaan, membuat konten edukatif, atau menulis refleksi akademik. Aktivitas tersebut menjadi cara cerdas menanam “aura positif” yang menggambarkan kepribadian profesional. Aura farming tidak hanya berfokus dengan penampilan menarik di media sosial. Lebih dari itu, hal ini tentang bagaimana seseorang memancarkan atau menumbuhkan kepercayaan diri dan energi positif lewat perilaku dan pembawaan diri sendiri. Bagi mahasiswa bahasa, konsep ini sebenarnya sangat penting. Mahasiswa bahasa dikenal dengan keterampilan dalam berkomunikasi, berbahasa, dan memahami makna. Jika semua keterampilan tersebut dipadukan dengan kepribadian yang positif, rasa percaya diri, serta citra yang baik, maka akan tercipta sosok yang tidak hanya pintar, tetapi juga karismatik. Di lingkungan kampus, ini bisa menjadi faktor pembeda antara mahasiswa yang “biasa saja” dan mereka yang benar-benar menonjol.
Menurut Arista, Sela Septi Dwi, personal branding adalah proses membentuk citra diri yang autentik agar seseorang memiliki nilai dan pembeda di lingkungan sosial atau profesionalnya (Unair.ac.id, 2023). Bagi mahasiswa bahasa, personal branding dapat diwujudkan melalui tiga aspek utama: kemampuan berbicara, menulis, dan berpikir kritis. Personal branding adalah proses membangun citra diri yang autentik agar seseorang memiliki pembeda dan nilai lebih di lingkungannya. Artinya, personal branding bukan cuma soal pencitraan, tapi tentang mengenali potensi diri dan menampilkannya secara konsisten.
Bagi mahasiswa bahasa, terdapat tiga cara utama untuk mengembangkan merek pribadi, yaitu melalui keterampilan berbicara, menulis, dan berpikir secara kritis. Pertama yaitu Berbicara: Mahasiswa bahasa yang pandai berbicara akan terlihat percaya diri saat presentasi, diskusi, atau jadi pembicara di acara kampus. Public speaking yang baik adalah cara efektif untuk memancarkan aura positif. Kemudian yang kedua Menulis: Tulisan juga bisa jadi cerminan karakter. Lewat karya sastra, opini, atau konten media sosial, mahasiswa bahasa bisa menunjukkan kepekaan dan kecerdasannya dalam menanggapi isu. Terakhir Berpikir kritis: Kemampuan menganalisis masalah kebahasaan atau sosial membuat mahasiswa punya daya tarik intelektual tersendiri.
Selain itu, berpartisipasi dalam aktivitas seperti Duta Bahasa, kompetisi debat, penulisan, atau organisasi yang bergerak di bidang literasi juga dapat menjadi wujud nyata dari aura farming. Melalui pengalaman tersebut, kita dapat belajar untuk tampil secara profesional, mengasah kemampuan kepemimpinan, dan menunjukkan versi terbaik dari diri kita. Saat ini, hampir semua mahasiswa aktif di media sosial. Dan di situlah “aura” kita sering kali terlihat oleh orang lain. Media sosial bukan cuma tempat berbagi momen, tapi juga ruang membangun reputasi atau personal branding.
Mahasiswa bahasa bisa memanfaatkan platform seperti Instagram, TikTok, atau LinkedIn untuk berbagi hal-hal bermanfaat misalnya tips berbicara, refleksi kebahasaan, atau konten literasi ringan. Dengan begitu, kita bukan hanya dikenal sebagai pengguna media sosial aktif, tapi juga sebagai pribadi yang membawa pengaruh positif.
Namun, aura farming tidak boleh berubah jadi pencitraan palsu. Citra diri yang bagus itu harus datang dari keaslian dan konsistensi. Orang yang berusaha tampil baik tapi tidak punya isi akan cepat kehilangan kepercayaan. Personal branding sejatinya dibangun dari kejujuran dan kompetensi, bukan dari kepura-puraan.
Mahasiswa bahasa juga mempunyai modal besar untuk bersinar dengan kita terbiasa melakukan pengolahan kata, memahami makna, dan membaca situasi. Kalau kemampuan itu diimbangi dengan pembawaan yang positif dan rasa percaya diri, aura kita akan terpancar dengan sendirinya. Jadi, aura farming bukan cuma tren estetik yang muncul di media sosial. Ini adalah strategi cerdas untuk menampilkan versi terbaik dari diri sendiri dan seseorang yang sopan, komunikatif, percaya diri, dan konsisten dengan nilai-nilai positif.
Karena pada akhirnya, bukan hanya IPK atau nilai akademik yang akan membawa kita ke masa depan yang lebih baik. Tapi juga bagaimana kita membangun citra diri yang kuat dan autentik. Bagaimana kita mampu “memancarkan aura” yang menunjukkan kepribadian, integritas, dan kemampuan komunikasi kita sebagai mahasiswa bahasa.
Opini
Personal Branding dan Standar Harga Diri di Era Digital
Published
6 days agoon
29 July 2026By
Mitra Wacana

Abilla Shofi Khairunnisa
Prodi Psikologi
Universitas Pendidikan Indonesia
Personal branding kini menjadi salah satu topik yang sering dibincangkan di media sosial, terutama pada kalangan anak muda. Di era digital, membangun personal branding bukan lagi sekadar pilihan, namun merupakan bagian penting dalam perkembangan karier. Personal branding yang kuat dapat membuat seseorang lebih mudah dikenali baik secara personal maupun profesional.
Kini, kita dapat dengan mudah melihat potret kehidupan orang lain yang dipenuhi dengan pencapaian, produktivitas, dan kebahagiaan. Namun, tanpa disadari, kita mulai membandingkan kehidupan kita dengan apa yang ditampilkan di media sosial. Perbandingan memang dapat menjadi motivasi untuk terus berkembang. Akan tetapi, ketika perbandingan dilakukan secara berulang, hal itu justru dapat mengikis kepercayaan diri.
Secara psikologis, fenomena ini juga didukung oleh penelitian Salsabila (2024) terhadap 184 pengguna media sosial berusia 18-25 tahun yang menunjukkan bahwa semakin tinffi kecenderungan seseorang melakukan perbandingan sosial, semakin rendah pula harga dirinya. Temuan ini menunjukkan bahwa perbandingan diri yang dilakukan secara terus-menerus dapat mempengaruhi cara seseorang menilai dirinya sendiri.
Dua Konsep Cinta Diri
Persoalan ini mengingatkan saya pada konsep amour de soi dan amour propre dari Jean-Jacques Rousseau. Menurut Rousseau, manusia memiliki dua cara dalam mencintai dan memandang diri sendiri. Pertama, amour de soi, yaitu cinta diri yang lahir dari kebutuhan alami untuk hidup, berkembang, dan merasa cukup dengan diri sendiri. Dalam keadaan ini, seseorang mengembangkan diri karena hal tersebut memang bermanfaat bagi dirinya. Ia belajar untuk memahami sesuatu, bekerja demi kehidupan yang lebih baik, dan merasakan kepuasan yang berasal dari proses bertumbuh, bukan dari pujian atau pengakuan orang lain.
Sebaliknya, amour propre muncul ketika kita mulai menilai diri sendiri melalui pandangan orang lain. Rousseau tidak menganggap kebutuhan akan pengakuan sosial sebagai sesuatu yang sepenuhnya bersifat buruk. Sebagai makhluk sosial, wajar bagi manusia untuk memiliki keinginan akan penghargaan dari sesamanya. Namun, kebahagiaan dan citra diri menjadi rapuh apabila keduanya senantiasa bergantung pada pengakuan orang lain.
Cara pandang inilah yang membuat kita percaya bahwa hidup yang baik adalah hidup yang mengesankan bagi orang lain. Akibatnya, kini media sosial yang semula diciptakan sebagai ruang untuk membangun koneksi perlahan berubah menjadi ajang kompetisi untuk saling menampilkan versi terbaik kehidupan masing-masing.
Pengakuan Sosial Era Modern
Pada abad ke-18, Rousseau menemukan kecenderungan manusia untuk mencari pengakuan sosial dengan memperhatikan kehidupan masyarakat. Namun, pada abad ke-21, media sosial memperkuat kecenderungan amour propre melalui algoritmanya. Beranda media sosial cenderung lebih sering dipenuhi oleh konten yang menampilkan pencapaian, kesuksesan, dan produktivitas, sementara proses, kegagalan, dan keseharian tidak begitu terlihat.
Kondisi tersebut dapat dipahami melalui gagasan Jean Baudrillard mengenai simulakra. Menurut Baudrillard, masyarakat modern hidup di tengah representasi yang sering kali terasa lebih nyata daripada realitas itu sendiri. Media sosial memang tidak selalu menampilkan kebohongan, tetapi kehidupan yang muncul di beranda telah melalui proses pemilihan, penyuntingan, dan kurasi. Sehingga, yang terlihat hanya potongan-potongan terbaik dari kehidupan seseorang. Perlahan, representasi tersebut dipersepsikan sebagai gambaran kehidupan yang normal.
Akibatnya, kita tidak lagi membandingkan kehidupan nyata dengan hal yang nyata, melainkan dengan citra kehidupan orang lain yang telah dikemas sedemikian rupa. Kita perlahan menganggap bahwa kehidupan penuh pencapaian konstan merupakan standar yang harus dicapai, padahal apa yang kita lihat hanyalah sebagian kecil dari kenyataan yang dipilih untuk diperlihatkan kepada publik.
Tidak ada yang salah dengan membangun personal branding. Menunjukkan karya, pengalaman, dan kemampuan. Karena hal tersebut merupakan bagian penting dari pengembangan diri maupun karier. Personal branding juga dapat membuka kesempatan dan memperluas relasi. Namun, personal branding seharusnya menjadi sarana untuk memperkenalkan diri, bukan alat untuk menentukan nilai diri.
Ketika harga diri sepenuhnya bergantung pada jumlah apresiasi, validasi, atau pengakuan dari orang lain, kita justru kehilangan makna dari proses bertumbuh itu sendiri.
Barangkali, yang perlu kita bangun bukan hanya citra diri yang menarik di mata publik, tetapi juga kemampuan untuk tetap merasa cukup ketika tidak ada yang melihat. Sebab, personal branding yang sehat lahir dari seseorang yang mengenal, menerima, dan menghargai dirinya sendiri, bukan semata-mata berasal dari hasrat untuk memperoleh pengakuan orang lain.
Fisyahrah, M. M. (2024). Hubungan Sosial Comparison Dengan Harga Diri Pada Pengguna Sosial Media (Doctoral dissertation, Universitas Islam Indonesia).

Bersatu Melawan Perdagangan Orang: JBPO Gelar Kegiatan Memperingati Bulan Anti Perdagangan Manusia Sedunia

SIARAN PERS Hari Anti Perdagangan Orang Sedunia & Peluncuran Kertas Posisi Urgensi Revisi UU PTPPO “Menuju Dua Dekade Tanpa Pembaruan, Korban Terus Berjatuhan” Tier Two Coalition







