Opini
Nilai Metafora Pada Puisi “ Hujan Deras di Waktu Senja”
Published
7 months agoon
By
Mitra Wacana

Liffira Putri Yendri mahasiswa Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas.
Permasalahan yang sering muncul dalam kehidupan sehari- hari yaitu perasaan kehilangan ditengah keadaan pergolakan batin yang tak menentu. Apalagi pada saat kita menghadapi momen-momen kesepian yang penuh tanda tanya, sama halnya seperti senja yang datang di antara terang dan gelap. Dalam kondisi ini, emosi bisa tumpah ruah, sama seperti hujan yang datang tanpa aba-aba. Perasaan ini terlihat pada Kang Thohir ingin menyampaika puisi yang berjudul “Hujan Deras di Waktu Senja”.
Puisi ini menggambarkan suasana yang penuh tekanan batin, serta makna dalam perasaan yang sangat sulit dijelaskan. Pada judul puisi Kang Thohir sudah mempunyai kesan metafora yang kuat, hujan yang deras sebagai simbol ledekan emosi serta luka yang belum sempat sembuh, sementara waktu senja sebagai lambang perpisahan, keraguan, atau akhir cerita yang belum sempat terselesaikan.
Dalam puisi ini, Kang Thohir seakan-akan mengajak pembaca untuk tidak hanya merasakan saja akan tetapi juga merenungi simbol-simbol alam yang menjadi metafora dari ketidakpastian yang diantara bait-bait membuka ruang yang mendalam, dimana gaya bahasa menjadi bagian utama dalam menyampaikan suasana yang tidak terucap secara selangsung. Keindahan dalam puisi dapat lahir dari kreativitas penyair melalui pilihan dan penggunaan bahasa yang unik. Pemilihan metafora ini dapat menjadikan puisi bukan sekedar lukisan suasana saja, akan tetapi sebagi cerminan batin manusia yang sedang menghadapi pergolakan emosi. Agar pemahaman tentang nilai metafora pada puisi lebih dapat dipahami, mari kita coba perhatikan tentang nilai metafora dari puisi “ Hujan Deras di Waktu Senja” karya Kang Thohir berikut:
Hujan deras di waktu senja
Asa kian menggebu semangat
Menangkap semua kesejukan yang ada
Dengan hati penuh hangat
Mengecap indahnya kesejukan
Menyegarkan seluruh pepohonan
Bau patrikor yang semerbak
Membuat wangi suasana ‘ tuk beranjak
Menyepi Heningnya suasana
Aku menatap penuh kerinduan
Dengan demikian aku masih merasakan
Bahwa di moment-moment ini seperti mengobati suatu kenangan
Brebes, 05 september 2024
Puisi “ Hujan Deras di Waktu Senja” Karya Kang Thohir yaitu penggambaran yang indah bagaimana suasana alam yang tidak hanya menyentuh hati tetapi juga memiliki makna yang sangat mendalam tentang hubungan antara alam dan juga perasaan manusia. Pada judul puisi menunjukkan latar suasana seperti hujan deras yang turun di waktu senja yang mana suasana alam sering kali digunakan saaat momen romantis, penenang dan healing. Kata “ Hujan” dan “Senja” seringkali dikaitkan dengan hal-hal yang sedih yang menyangkut kenangan, senja dan hujan sama-sama memberi makna yang mendalam sehingga menyiapkan hati yang mendalam juga. Banyak yang mengungkapkan bahwa senja layaknya kehidupan, indah namun hanya sementara.
Untuk memahami puisi ini lebih dalam, perlu diperhatikan bagaimana penggunaan metafora yang dapat dipadukan secara halus namun sangat berdampak luas. Penyair tidak hanya menciptakan suasana, melainkan menghadirkan alam sebagai cerminan batin seseorang. Hujan deras tidak hanya sekedar air yang hanya turun dari langit, melainkan juga menjadi lambang dari pikiran yang membuat stress, kenangan yang mengguyur, bahkan kesedihan yang tidak dapat dituturkan. Sementara pada “waktu senja” tidak hanya sekedar latar waktu, akan tetapi dapat berubah menjadi metafora bagi ketidakpastian, keraguan, atau momen sebagai renungan yang tidak pernah selesai. Penyair menyamarkan realitas batin di balik fenomena alam.
Dalam gaya bahasa, metafora dapat menjadi tumpuan utama dalam puisi ini. Melalui metafora penyair dapat menyamarkan realitas batin dibalik fenomena alam, namun pada saat yang sama penyair dapat menjelaskan lebih kuat bahwa hujan deras menjadi wajah dari kesedihan atau mungkin juga pembebasan, semetara itu senja hadir sebagai waktu yang tidak hanya sunyi , tetapi juga menyimpan beban waktu untuk perenungan , mengenang, penyesalan, atau bahkan menerima. Metafora pada puisi ini dapat membuatnya terasa dalam dan setiap pembaca bisa mengisi maknanya sendiri.
Metafora dalam puisi “ Hujan Deras di Waktu Senja “ dapat berperan penting dalam menyampaikan pesan emosional yang cukup mendalam. Hujan bukan hanya sekedar fenomena alam saja akan tetapi dapat menjadi simbol dari kesedihan, kenangan yang menyakitkan, atau perasaan batin yang tidak dapat diungkapkan secara langsung. Begitu pula dengan senja, yang bukan hanya sekedar latar waktu, tetapi sebagai metafora dari akhir, kehilangan, dan juga ruang renungan yang hening. Metafora dapat memberikan makna yang sesungguhnya namun tetap menyentuh inti dari persoalan manusia, seperti perasaan kehilangan, waktu yang terus berjalan, serta harapan yang tertinggal. Metafora tidak hanya memperindah puisi saja, tetapi juga memiliki makna yang sangat luas, yang dapat memungkinkan pembaca merasakan kedalaman emosional secara personal.
Dengan penggunaan metafora yang kuat, penyair berhasil mengubah pengalaman puitik yang sangat menyentuh. Hujan deras yang digambarkan melalui puisi ini tidak hanya sekedar membahas cuaca saja akan tetapi menjadi representasi dari beban dan perasaan yang datang tanpa bisa dikendalikam. Sementara itu, senja dapat menghadirkan suasana antara terang dan gelap yang mencerminkan ketidakpastian dalam hidup. Kedua elemen ini dapat diolah dengan metafora untuk menampilkan konflik batin yang dimiliki terasa nyata. Pembaca tidak hanya memahami makna secara literal tetapi juga menggali perasaan dan kenangan mereka sendiri.
Kekuatan metafora dalam puisi ini terletak pada kemampuannya untuk menciptakan suasana yang reflektif tanpa ada penjelasan secara langsung. Tanpa menggunakan kata kesedihan, kehilangan, atau penyesalan penyair memilih menggunakan gambaran hujan dan senja sebagai simbol untuk menyampaikan semuanya. Hal ini dapat menunjukkan bahwa metafora mampu menggantikan pernyataan emosional menjadi lebih halus dan mendalam. Dengan demikian puisi tidak hanya sebagai bacaan yang indah secara bahasa, tetapi menjadikan media penyampaian perasaan yang kompleks dalam bentuk yang sederhana namun penuh makna. Metafora dalam puisi ini dapat menjadikan bukti bahwa keindahan dalam puisi terletak pada kemampuan untuk menyampaikan hal- hal yang penuh makna melalui cara yang tenang dan simbolik.
Dapat disimpulkan bahwa puisi Hujan Deras di Waktu Senja karya Kang Thohir menghadirkan makna yang mendalam melalui metafora, hujan yang mengguyur dan senja yang hilang perlahan-lahan, penyair menyingkap sebuah ruang yang penuh dengan kerinduan, perenungan, dan keheningan yang nyaris tidak terucap, Metafora dalam puisi ini bukan sekadar perbandingan, akan tetapi menjadi pengalaman puitik penyair dapat menyamarkan namun secara tidak langsung justru menyentuh inti persoalan manusia tentang perasaan, tentang kehilangan, tentang waktu, bahkan tentang harapan yang tertinggal di ujung hari.
You may like
Opini
Merevolusi Cara Kita Melihat Tugas Kuliah
Published
3 weeks agoon
29 December 2025By
Mitra Wacana

Nurisa Cahya Artika Farah,Mahasiswi semester 3 Program Studi Tadris (Pendidikan) Bahasa Indonesia, Fakultas Adab dan Bahasa, Universitas Islam Raden Mas Said Surakarta.
Di dunia perkuliahan, mahasiswa diharapkan mampu menjadi individu yang mandiri, kritis, dan kreatif dalam menghadapi berbagai tantangan akademik. Salah satu tantangan tersebut adalah tugas kuliah yang diberikan oleh dosen sebagai proses pembelajaran. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa banyak mahasiswa justru menganggap tugas kuliah sebagai beban yang membebani pikiran. Mahasiswa lebih fokus pada nilai akhir ketimbang proses belajar yang seharusnya memperkaya pengetahuan dan keterampilan. Fenomena ini menjadi gambaran bahwa sebagian mahasiswa masih memandang tugas secara sempit, tanpa menyadari bahwa melalui tugas inilah kemampuan berpikir kritis serta tanggung jawab perkuliahan dapat terasah.
Banyak kalangan mahasiswa mengeluh akan tugas kuliah yang diberikan, mereka memandangnya sebagai beban yang menumpuk dan hanya sebatas untuk mendapatkan nilai, bukan proses pembelajaran. Hal ini membuat motivasi belajar menurun yang disebabkan oleh faktor internal dan eksternal, seperti kurangnya minat, kesulitan konsentrasi, masalah pribadi, maupun kualitas hasil tugas yang tidak mencerminkan pemahaman sebenarnya. Padahal, esensi pendidikan tinggi bukan sebatas mengerjakan tugas, namun membangun cara berpikir kritis dan kreatif mahasiswa. Karena itu, saatnya mahasiswa merevolusi cara pandang terhadap tugas yang dianggap beban menjadi proses pembelajaran yang bermakna.
Perkuliahan mahasiswa sebenarnya tidak hanya belajar dari penjelasan dosen, tetapi juga dari proses mengerjakan tugas. Hal ini sejalan dengan Teori Konstruktivisme yang menekankan bahwa pengetahuan dibangun dari individu berdasarkan pengalaman dan pemahaman. Seperti halnya dalam pemberian tugas kuliah ini mahasiswa tidak hanya menerima ilmu dari dosen, tetapi juga membentuk pemahaman sendiri melalui pengalaman belajar sebelumnya. Dalam konteks ini, tugas kuliah bukanlah tujuan akhir, tetapi sebagai sarana untuk membangun pemahaman terhadap suatu konsep. Misalnya, ketika mahasiswa diminta menulis esai, mereka tidak hanya terpaku dengan teori yang sudah ada, tetapi juga menyusun gagasan atau ide pribadi berdasarkan pemahaman konseptual dan berpikir kritis. Dengan demikian, tugas menjadi penghubung antara pengetahuan dan penerapan.
Namun, faktanya di lapangan masih banyak mahasiswa yang memandang tugas sebagai sesuatu yang dipaksakan untuk semata-mata demi nilai. Hal ini sejalan dengan rendahnya motivasi dalam diri berdasarkan teori Self-Determination. Mahasiswa akan termotivasi jika memiliki kebebasan pilihan dalam menyelesaikan tugas (autonomi), merasa mampu mengerjakan (kompetensi), dan merasa bahwa tugas memiliki hubungan dengan kehidupan mereka (keterhubungan). Dengan demikian, ketika diberi tugas yang memberikan kebebasan, kemampuan, serta keterhubungan, mahasiswa akan melihat tugas bukan sebagai beban, melainkan sebagai bentuk pengembangan diri.
Selain itu, konsep belajar bermakna dari David Ausubel juga relevan dalam konteks ini. Dalam perkuliahan, hal ini berarti tugas yang diberikan seharusnya berasal dari struktur pemikiran yang telah dimiliki mahasiswa. Misalnya, tugas proyek yang menuntut mahasiswa mengaitkan teori dengan pengalaman pribadi. Ketika mahasiswa menemukan keterkaitan tersebut, proses belajar menjadi bermakna. Mereka tidak sedang mengerjakan tugas dosen melainkan sedang menemukan diri dalam proses pembelajaran.
Pandangan teori humanistik juga memperkuat gagasan ini. Dalam pandangan ini, mahasiswa dipandang sebagai individu yang unik dengan kebutuhan yang berbeda-beda. Tugas kuliah, seharusnya menjadi sarana bagi mahasiswa untuk mengekspresikan diri, mengeksplorasi nilai-nilai pribadi, dan mengembangkan potensi secara utuh. Tugas tidak hanya mengukur hasil akhir berupa angka, tetapi juga menilai proses berpikir, kreativitas, den refleksi diri mahasiswa.
Sebagai mahasiswa, saya kerap melihat beberapa mahasiswa bahwa tugas baru benar-benar dipahami maknanya setelah dikerjakan, bukan saat materi disampaikan oleh dosen. Dari tugaslah mahasiswa belajar berpikir kritis, mampu mengelola waktu, dan bertanggung jawab. Hal ini menunjukkan bahwa tugas kuliah sejatinya memiliki peran penting dalam membentuk kualitas mahasiswa, asalkan dipahami dan dijalani dengan cara pandang yang tepat.
Masalahnya sistem pendidikan kita masih berorientasi pada hasil bukan proses. Banyak mahasiswa mengerjakan tugas hanya untuk mendapatkan nilai bukan karena ingin memahami makna apa yang mereka pelajari. Oleh karena itu, perlu adanya perubahan paradigma, baik dari pihak dosen maupun mahasiswa. Merevolusi cara pandang terhadap tugas kuliah berarti menempatkan kembali tugas sebagai bagian dari proses pembelajaran bukan sebagai beban mahasiswa. Ketika mahasiswa mulai melihat tugas sebagai ruang pengembangan diri mereka akan lebih bersemangat, produktif, dan berdaya saing. Tak hanya mahasiswa, dosen pun akan lebih mudah menilai kualitas pemahaman mahasiswa. Dengan demikian, revolusi ini tidak hanya akan meningkatkan kualitas hasil belajar, tetapi juga membentuk generasi mahasiswa yang berpikir kritis, reflektif, dan siap menghadapi tantangan di kehidupan nyata. Hal yang paling berharga dari tugas kuliah bukan hanya tentang nilai yang berupa angka melainkan proses belajar yang akan menambah pemahaman.







