Opini
Nilai Metafora Pada Puisi “ Hujan Deras di Waktu Senja”
Published
9 months agoon
By
Mitra Wacana

Liffira Putri Yendri mahasiswa Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas.
Permasalahan yang sering muncul dalam kehidupan sehari- hari yaitu perasaan kehilangan ditengah keadaan pergolakan batin yang tak menentu. Apalagi pada saat kita menghadapi momen-momen kesepian yang penuh tanda tanya, sama halnya seperti senja yang datang di antara terang dan gelap. Dalam kondisi ini, emosi bisa tumpah ruah, sama seperti hujan yang datang tanpa aba-aba. Perasaan ini terlihat pada Kang Thohir ingin menyampaika puisi yang berjudul “Hujan Deras di Waktu Senja”.
Puisi ini menggambarkan suasana yang penuh tekanan batin, serta makna dalam perasaan yang sangat sulit dijelaskan. Pada judul puisi Kang Thohir sudah mempunyai kesan metafora yang kuat, hujan yang deras sebagai simbol ledekan emosi serta luka yang belum sempat sembuh, sementara waktu senja sebagai lambang perpisahan, keraguan, atau akhir cerita yang belum sempat terselesaikan.
Dalam puisi ini, Kang Thohir seakan-akan mengajak pembaca untuk tidak hanya merasakan saja akan tetapi juga merenungi simbol-simbol alam yang menjadi metafora dari ketidakpastian yang diantara bait-bait membuka ruang yang mendalam, dimana gaya bahasa menjadi bagian utama dalam menyampaikan suasana yang tidak terucap secara selangsung. Keindahan dalam puisi dapat lahir dari kreativitas penyair melalui pilihan dan penggunaan bahasa yang unik. Pemilihan metafora ini dapat menjadikan puisi bukan sekedar lukisan suasana saja, akan tetapi sebagi cerminan batin manusia yang sedang menghadapi pergolakan emosi. Agar pemahaman tentang nilai metafora pada puisi lebih dapat dipahami, mari kita coba perhatikan tentang nilai metafora dari puisi “ Hujan Deras di Waktu Senja” karya Kang Thohir berikut:
Hujan deras di waktu senja
Asa kian menggebu semangat
Menangkap semua kesejukan yang ada
Dengan hati penuh hangat
Mengecap indahnya kesejukan
Menyegarkan seluruh pepohonan
Bau patrikor yang semerbak
Membuat wangi suasana ‘ tuk beranjak
Menyepi Heningnya suasana
Aku menatap penuh kerinduan
Dengan demikian aku masih merasakan
Bahwa di moment-moment ini seperti mengobati suatu kenangan
Brebes, 05 september 2024
Puisi “ Hujan Deras di Waktu Senja” Karya Kang Thohir yaitu penggambaran yang indah bagaimana suasana alam yang tidak hanya menyentuh hati tetapi juga memiliki makna yang sangat mendalam tentang hubungan antara alam dan juga perasaan manusia. Pada judul puisi menunjukkan latar suasana seperti hujan deras yang turun di waktu senja yang mana suasana alam sering kali digunakan saaat momen romantis, penenang dan healing. Kata “ Hujan” dan “Senja” seringkali dikaitkan dengan hal-hal yang sedih yang menyangkut kenangan, senja dan hujan sama-sama memberi makna yang mendalam sehingga menyiapkan hati yang mendalam juga. Banyak yang mengungkapkan bahwa senja layaknya kehidupan, indah namun hanya sementara.
Untuk memahami puisi ini lebih dalam, perlu diperhatikan bagaimana penggunaan metafora yang dapat dipadukan secara halus namun sangat berdampak luas. Penyair tidak hanya menciptakan suasana, melainkan menghadirkan alam sebagai cerminan batin seseorang. Hujan deras tidak hanya sekedar air yang hanya turun dari langit, melainkan juga menjadi lambang dari pikiran yang membuat stress, kenangan yang mengguyur, bahkan kesedihan yang tidak dapat dituturkan. Sementara pada “waktu senja” tidak hanya sekedar latar waktu, akan tetapi dapat berubah menjadi metafora bagi ketidakpastian, keraguan, atau momen sebagai renungan yang tidak pernah selesai. Penyair menyamarkan realitas batin di balik fenomena alam.
Dalam gaya bahasa, metafora dapat menjadi tumpuan utama dalam puisi ini. Melalui metafora penyair dapat menyamarkan realitas batin dibalik fenomena alam, namun pada saat yang sama penyair dapat menjelaskan lebih kuat bahwa hujan deras menjadi wajah dari kesedihan atau mungkin juga pembebasan, semetara itu senja hadir sebagai waktu yang tidak hanya sunyi , tetapi juga menyimpan beban waktu untuk perenungan , mengenang, penyesalan, atau bahkan menerima. Metafora pada puisi ini dapat membuatnya terasa dalam dan setiap pembaca bisa mengisi maknanya sendiri.
Metafora dalam puisi “ Hujan Deras di Waktu Senja “ dapat berperan penting dalam menyampaikan pesan emosional yang cukup mendalam. Hujan bukan hanya sekedar fenomena alam saja akan tetapi dapat menjadi simbol dari kesedihan, kenangan yang menyakitkan, atau perasaan batin yang tidak dapat diungkapkan secara langsung. Begitu pula dengan senja, yang bukan hanya sekedar latar waktu, tetapi sebagai metafora dari akhir, kehilangan, dan juga ruang renungan yang hening. Metafora dapat memberikan makna yang sesungguhnya namun tetap menyentuh inti dari persoalan manusia, seperti perasaan kehilangan, waktu yang terus berjalan, serta harapan yang tertinggal. Metafora tidak hanya memperindah puisi saja, tetapi juga memiliki makna yang sangat luas, yang dapat memungkinkan pembaca merasakan kedalaman emosional secara personal.
Dengan penggunaan metafora yang kuat, penyair berhasil mengubah pengalaman puitik yang sangat menyentuh. Hujan deras yang digambarkan melalui puisi ini tidak hanya sekedar membahas cuaca saja akan tetapi menjadi representasi dari beban dan perasaan yang datang tanpa bisa dikendalikam. Sementara itu, senja dapat menghadirkan suasana antara terang dan gelap yang mencerminkan ketidakpastian dalam hidup. Kedua elemen ini dapat diolah dengan metafora untuk menampilkan konflik batin yang dimiliki terasa nyata. Pembaca tidak hanya memahami makna secara literal tetapi juga menggali perasaan dan kenangan mereka sendiri.
Kekuatan metafora dalam puisi ini terletak pada kemampuannya untuk menciptakan suasana yang reflektif tanpa ada penjelasan secara langsung. Tanpa menggunakan kata kesedihan, kehilangan, atau penyesalan penyair memilih menggunakan gambaran hujan dan senja sebagai simbol untuk menyampaikan semuanya. Hal ini dapat menunjukkan bahwa metafora mampu menggantikan pernyataan emosional menjadi lebih halus dan mendalam. Dengan demikian puisi tidak hanya sebagai bacaan yang indah secara bahasa, tetapi menjadikan media penyampaian perasaan yang kompleks dalam bentuk yang sederhana namun penuh makna. Metafora dalam puisi ini dapat menjadikan bukti bahwa keindahan dalam puisi terletak pada kemampuan untuk menyampaikan hal- hal yang penuh makna melalui cara yang tenang dan simbolik.
Dapat disimpulkan bahwa puisi Hujan Deras di Waktu Senja karya Kang Thohir menghadirkan makna yang mendalam melalui metafora, hujan yang mengguyur dan senja yang hilang perlahan-lahan, penyair menyingkap sebuah ruang yang penuh dengan kerinduan, perenungan, dan keheningan yang nyaris tidak terucap, Metafora dalam puisi ini bukan sekadar perbandingan, akan tetapi menjadi pengalaman puitik penyair dapat menyamarkan namun secara tidak langsung justru menyentuh inti persoalan manusia tentang perasaan, tentang kehilangan, tentang waktu, bahkan tentang harapan yang tertinggal di ujung hari.
You may like
Opini
Kebiasaan Untung Sendiri dan Rusaknya Aturan Bersama
Published
3 weeks agoon
23 February 2026By
Mitra Wacana

Vinsensius, S.Fil., M.M. akademisi dan penulis kajian filsafat moral, budaya, dan ekonomi perilaku. Aktif mengajar di perguruan tinggi serta menulis opini populer.
Ada tipe orang yang selalu punya alasan. Ia melanggar aturan sedikit, tapi merasa itu wajar. Ia mengambil keuntungan kecil, tapi merasa tidak merugikan siapa pun. Baginya, yang penting urusannya beres dan dirinya aman.
Masalahnya, pola seperti ini sering dibungkus dengan kalimat, “Sudah biasa begitu.” Kebiasaan akhirnya menjadi tameng. Orang tidak lagi bertanya apakah tindakannya benar, melainkan apakah tindakannya umum dilakukan.
Di titik ini, kita perlu belajar dari Immanuel Kant. Ia bukan filsuf yang bicara rumit untuk membingungkan orang. Inti pesannya sederhana: lakukan hanya tindakan yang pantas dilakukan oleh semua orang.
Kant percaya bahwa moralitas tidak ditentukan oleh kebiasaan atau keuntungan. Moralitas ditentukan oleh kewajiban. Artinya, kita bertindak benar bukan karena takut ketahuan, bukan karena ingin dipuji, dan bukan karena ingin untung. Kita bertindak benar karena itu memang benar.
Coba bayangkan satu hal sederhana. Jika semua orang menerobos lampu merah karena merasa jalan sedang sepi, apa yang akan terjadi? Mungkin awalnya tidak apa-apa. Tapi jika semua orang berpikir sama, kekacauan tinggal menunggu waktu.
Begitu juga dalam kehidupan sosial. Jika semua pegawai memanipulasi laporan sedikit saja, jika semua pejabat mengambil keuntungan kecil saja, jika semua warga mencari celah aturan demi dirinya, lama-lama sistem akan rapuh.
Kant menyebut prinsipnya sebagai imperatif kategoris. Jangan takut dengan istilahnya. Maksudnya begini: sebelum bertindak, tanyakan pada diri sendiri, “Apakah saya rela jika semua orang melakukan hal yang sama?”
Jika jawabannya tidak, maka kemungkinan besar tindakan itu tidak bermoral. Sederhana, tapi tegas.
Masalah terbesar manusia modern bukan tidak tahu aturan. Kita tahu aturan. Kita tahu mana yang benar dan mana yang salah. Masalahnya, kita sering merasa diri kita pengecualian.
Kita merasa pelanggaran kecil tidak akan berdampak besar. Kita berkata, “Ah, cuma saya saja.” Padahal, setiap orang yang berkata demikian sedang menambah satu batu kecil pada bangunan ketidakadilan.
Lebih berbahaya lagi, kebiasaan untung sendiri ini membentuk karakter. Awalnya mungkin kecil. Lama-lama menjadi pola. Dan pola itu akhirnya membentuk pribadi yang selalu menghitung keuntungan sebelum menghitung kebenaran.
Kant juga mengingatkan bahwa manusia tidak boleh diperlakukan hanya sebagai alat. Jika kita melanggar aturan demi keuntungan pribadi, sering kali kita menjadikan orang lain sebagai sarana. Kita memakai sistem, memakai kepercayaan orang, bahkan memakai hukum untuk kepentingan diri.
Mungkin secara hukum kita tidak tertangkap. Tapi secara moral, kita sudah menggerogoti kepercayaan bersama. Dan tanpa kepercayaan, masyarakat tidak akan bertahan lama.
Lalu apa solusinya? Apakah kita harus menjadi orang yang kaku dan terlalu idealis? Tidak. Moralitas bukan soal menjadi sempurna. Moralitas soal konsisten.
Pertama, biasakan bertanya sebelum bertindak. Latih diri dengan satu pertanyaan sederhana: “Bagaimana jika semua orang melakukan ini?” Pertanyaan ini bisa menjadi rem yang kuat.
Kedua, bedakan antara kebiasaan dan kebenaran. Tidak semua yang lazim itu benar. Jangan jadikan kalimat “sudah biasa” sebagai pembenaran. Justru kebiasaan perlu diuji ulang secara berkala.
Ketiga, bangun keberanian untuk berbeda. Jika lingkungan terbiasa mencari celah, orang yang taat aturan sering dianggap aneh. Tapi perubahan selalu dimulai dari orang yang berani tidak ikut arus.
Keempat, mulai dari hal kecil. Disiplin waktu, jujur dalam laporan, tidak memotong antrean, tidak memanfaatkan jabatan untuk keluarga. Tindakan kecil yang konsisten jauh lebih kuat daripada pidato moral panjang.
Kelima, bangun budaya saling mengingatkan, bukan saling membiarkan. Banyak pelanggaran bertahan karena semua orang diam. Padahal, diam sering kali berarti setuju.
Kita mungkin tidak bisa mengubah sistem besar sendirian. Namun kita bisa memastikan bahwa diri kita tidak ikut merusaknya. Itu sudah langkah penting.
Hidup bersama membutuhkan aturan. Aturan membutuhkan kepercayaan. Dan kepercayaan hanya bisa bertahan jika orang bertindak bukan demi untung sendiri, melainkan demi kebaikan bersama.
Menjadi orang yang berpegang pada kewajiban memang tidak selalu menguntungkan secara cepat. Tapi dalam jangka panjang, itulah fondasi masyarakat yang adil dan kuat.
Pada akhirnya, peradaban tidak hancur karena satu kejahatan besar. Ia runtuh karena terlalu banyak orang merasa wajar untuk sedikit saja tidak jujur.
Di situlah kita perlu tegas pada diri sendiri. Bukan karena takut dihukum, melainkan karena kita ingin hidup dalam masyarakat yang bisa dipercaya. Dan itu selalu dimulai dari pilihan pribadi yang sederhana.










