Opini
Nilai Metafora Pada Puisi “ Hujan Deras di Waktu Senja”
Published
12 months agoon
By
Mitra Wacana

Liffira Putri Yendri mahasiswa Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas.
Permasalahan yang sering muncul dalam kehidupan sehari- hari yaitu perasaan kehilangan ditengah keadaan pergolakan batin yang tak menentu. Apalagi pada saat kita menghadapi momen-momen kesepian yang penuh tanda tanya, sama halnya seperti senja yang datang di antara terang dan gelap. Dalam kondisi ini, emosi bisa tumpah ruah, sama seperti hujan yang datang tanpa aba-aba. Perasaan ini terlihat pada Kang Thohir ingin menyampaika puisi yang berjudul “Hujan Deras di Waktu Senja”.
Puisi ini menggambarkan suasana yang penuh tekanan batin, serta makna dalam perasaan yang sangat sulit dijelaskan. Pada judul puisi Kang Thohir sudah mempunyai kesan metafora yang kuat, hujan yang deras sebagai simbol ledekan emosi serta luka yang belum sempat sembuh, sementara waktu senja sebagai lambang perpisahan, keraguan, atau akhir cerita yang belum sempat terselesaikan.
Dalam puisi ini, Kang Thohir seakan-akan mengajak pembaca untuk tidak hanya merasakan saja akan tetapi juga merenungi simbol-simbol alam yang menjadi metafora dari ketidakpastian yang diantara bait-bait membuka ruang yang mendalam, dimana gaya bahasa menjadi bagian utama dalam menyampaikan suasana yang tidak terucap secara selangsung. Keindahan dalam puisi dapat lahir dari kreativitas penyair melalui pilihan dan penggunaan bahasa yang unik. Pemilihan metafora ini dapat menjadikan puisi bukan sekedar lukisan suasana saja, akan tetapi sebagi cerminan batin manusia yang sedang menghadapi pergolakan emosi. Agar pemahaman tentang nilai metafora pada puisi lebih dapat dipahami, mari kita coba perhatikan tentang nilai metafora dari puisi “ Hujan Deras di Waktu Senja” karya Kang Thohir berikut:
Hujan deras di waktu senja
Asa kian menggebu semangat
Menangkap semua kesejukan yang ada
Dengan hati penuh hangat
Mengecap indahnya kesejukan
Menyegarkan seluruh pepohonan
Bau patrikor yang semerbak
Membuat wangi suasana ‘ tuk beranjak
Menyepi Heningnya suasana
Aku menatap penuh kerinduan
Dengan demikian aku masih merasakan
Bahwa di moment-moment ini seperti mengobati suatu kenangan
Brebes, 05 september 2024
Puisi “ Hujan Deras di Waktu Senja” Karya Kang Thohir yaitu penggambaran yang indah bagaimana suasana alam yang tidak hanya menyentuh hati tetapi juga memiliki makna yang sangat mendalam tentang hubungan antara alam dan juga perasaan manusia. Pada judul puisi menunjukkan latar suasana seperti hujan deras yang turun di waktu senja yang mana suasana alam sering kali digunakan saaat momen romantis, penenang dan healing. Kata “ Hujan” dan “Senja” seringkali dikaitkan dengan hal-hal yang sedih yang menyangkut kenangan, senja dan hujan sama-sama memberi makna yang mendalam sehingga menyiapkan hati yang mendalam juga. Banyak yang mengungkapkan bahwa senja layaknya kehidupan, indah namun hanya sementara.
Untuk memahami puisi ini lebih dalam, perlu diperhatikan bagaimana penggunaan metafora yang dapat dipadukan secara halus namun sangat berdampak luas. Penyair tidak hanya menciptakan suasana, melainkan menghadirkan alam sebagai cerminan batin seseorang. Hujan deras tidak hanya sekedar air yang hanya turun dari langit, melainkan juga menjadi lambang dari pikiran yang membuat stress, kenangan yang mengguyur, bahkan kesedihan yang tidak dapat dituturkan. Sementara pada “waktu senja” tidak hanya sekedar latar waktu, akan tetapi dapat berubah menjadi metafora bagi ketidakpastian, keraguan, atau momen sebagai renungan yang tidak pernah selesai. Penyair menyamarkan realitas batin di balik fenomena alam.
Dalam gaya bahasa, metafora dapat menjadi tumpuan utama dalam puisi ini. Melalui metafora penyair dapat menyamarkan realitas batin dibalik fenomena alam, namun pada saat yang sama penyair dapat menjelaskan lebih kuat bahwa hujan deras menjadi wajah dari kesedihan atau mungkin juga pembebasan, semetara itu senja hadir sebagai waktu yang tidak hanya sunyi , tetapi juga menyimpan beban waktu untuk perenungan , mengenang, penyesalan, atau bahkan menerima. Metafora pada puisi ini dapat membuatnya terasa dalam dan setiap pembaca bisa mengisi maknanya sendiri.
Metafora dalam puisi “ Hujan Deras di Waktu Senja “ dapat berperan penting dalam menyampaikan pesan emosional yang cukup mendalam. Hujan bukan hanya sekedar fenomena alam saja akan tetapi dapat menjadi simbol dari kesedihan, kenangan yang menyakitkan, atau perasaan batin yang tidak dapat diungkapkan secara langsung. Begitu pula dengan senja, yang bukan hanya sekedar latar waktu, tetapi sebagai metafora dari akhir, kehilangan, dan juga ruang renungan yang hening. Metafora dapat memberikan makna yang sesungguhnya namun tetap menyentuh inti dari persoalan manusia, seperti perasaan kehilangan, waktu yang terus berjalan, serta harapan yang tertinggal. Metafora tidak hanya memperindah puisi saja, tetapi juga memiliki makna yang sangat luas, yang dapat memungkinkan pembaca merasakan kedalaman emosional secara personal.
Dengan penggunaan metafora yang kuat, penyair berhasil mengubah pengalaman puitik yang sangat menyentuh. Hujan deras yang digambarkan melalui puisi ini tidak hanya sekedar membahas cuaca saja akan tetapi menjadi representasi dari beban dan perasaan yang datang tanpa bisa dikendalikam. Sementara itu, senja dapat menghadirkan suasana antara terang dan gelap yang mencerminkan ketidakpastian dalam hidup. Kedua elemen ini dapat diolah dengan metafora untuk menampilkan konflik batin yang dimiliki terasa nyata. Pembaca tidak hanya memahami makna secara literal tetapi juga menggali perasaan dan kenangan mereka sendiri.
Kekuatan metafora dalam puisi ini terletak pada kemampuannya untuk menciptakan suasana yang reflektif tanpa ada penjelasan secara langsung. Tanpa menggunakan kata kesedihan, kehilangan, atau penyesalan penyair memilih menggunakan gambaran hujan dan senja sebagai simbol untuk menyampaikan semuanya. Hal ini dapat menunjukkan bahwa metafora mampu menggantikan pernyataan emosional menjadi lebih halus dan mendalam. Dengan demikian puisi tidak hanya sebagai bacaan yang indah secara bahasa, tetapi menjadikan media penyampaian perasaan yang kompleks dalam bentuk yang sederhana namun penuh makna. Metafora dalam puisi ini dapat menjadikan bukti bahwa keindahan dalam puisi terletak pada kemampuan untuk menyampaikan hal- hal yang penuh makna melalui cara yang tenang dan simbolik.
Dapat disimpulkan bahwa puisi Hujan Deras di Waktu Senja karya Kang Thohir menghadirkan makna yang mendalam melalui metafora, hujan yang mengguyur dan senja yang hilang perlahan-lahan, penyair menyingkap sebuah ruang yang penuh dengan kerinduan, perenungan, dan keheningan yang nyaris tidak terucap, Metafora dalam puisi ini bukan sekadar perbandingan, akan tetapi menjadi pengalaman puitik penyair dapat menyamarkan namun secara tidak langsung justru menyentuh inti persoalan manusia tentang perasaan, tentang kehilangan, tentang waktu, bahkan tentang harapan yang tertinggal di ujung hari.
You may like
Opini
BBM Naik, Tekanan Ekonomi Masyarakat Semakin Berat
Published
3 days agoon
12 June 2026By
Mitra Wacana
Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) hampir selalu menjadi sinyal awal meningkatnya tekanan ekonomi. Dampaknya tidak berhenti di stasiun pengisian bahan bakar, tetapi menjalar ke ongkos transportasi, biaya logistik, harga kebutuhan pokok, hingga kemampuan masyarakat mempertahankan daya beli. Karena itu, keputusan PT Pertamina menaikkan harga Pertamax dan Pertamax Green 95 pada 10 Juni 2026 bukan sekadar penyesuaian harga energi, melainkan kebijakan yang berpotensi memengaruhi aktivitas ekonomi secara lebih luas.
Pertamina menetapkan harga Pertamax (RON 92) dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter atau naik sekitar 32 persen. Sementara Pertamax Green 95 meningkat dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter. Di sisi lain, pemerintah tetap mempertahankan harga BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Solar Subsidi agar tidak berubah. Langkah ini memang dimaksudkan untuk melindungi masyarakat berpenghasilan rendah dari gejolak harga minyak dunia yang terus meningkat akibat konflik geopolitik di Timur Tengah. Namun, di balik keputusan tersebut muncul kelompok yang justru menanggung beban paling besar, yakni kelas menengah dan bawah.
Selama beberapa tahun terakhir, kelas menengah menjadi tulang punggung konsumsi rumah tangga nasional. Mereka tidak termasuk penerima bantuan sosial, tetapi juga tidak memiliki bantalan ekonomi yang cukup ketika biaya hidup meningkat secara tiba-tiba. Kenaikan harga Pertamax lebih dari 30 persen membuat kelompok ini harus mengalokasikan pengeluaran tambahan yang tidak sedikit. Pengguna kendaraan yang menghabiskan sekitar 100 liter BBM setiap bulan kini harus merogoh kocek hampir Rp400 ribu lebih banyak. Bagi mereka yang menggunakan kendaraan untuk bekerja atau menjalankan usaha dengan konsumsi sekitar 150 liter per bulan, tambahan pengeluaran mendekati Rp600 ribu menjadi beban yang nyata.
Persoalannya bukan semata-mata bertambahnya biaya membeli BBM. Kenaikan harga energi selalu memiliki efek berantai terhadap perekonomian. Biaya transportasi yang meningkat akan diikuti naiknya ongkos distribusi barang, tarif jasa logistik, biaya pengiriman, hingga harga berbagai kebutuhan sehari-hari. Pelaku usaha pada akhirnya dihadapkan pada dua pilihan yang sama-sama berat, yakni menaikkan harga jual kepada konsumen atau menekan biaya operasional agar usaha tetap bertahan. Dalam situasi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih, pilihan kedua sering kali berarti menunda ekspansi usaha, mengurangi investasi, bahkan melakukan efisiensi tenaga kerja.
Sektor logistik, transportasi, jasa kurir, pariwisata, hingga pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah diperkirakan menjadi kelompok yang paling cepat merasakan dampaknya. Ketika biaya operasional meningkat sementara daya beli masyarakat melemah, ruang bagi dunia usaha untuk tumbuh menjadi semakin sempit. Jika kondisi ini berlangsung dalam waktu yang cukup lama, perlambatan ekonomi dan meningkatnya risiko pemutusan hubungan kerja bukanlah sesuatu yang mustahil terjadi.
Sejumlah ekonom menilai kenaikan harga Pertamax akan memicu inflasi, baik secara langsung maupun tidak langsung. Inflasi tidak hanya berasal dari naiknya harga bensin dalam perhitungan indeks harga konsumen, tetapi juga dari meningkatnya biaya distribusi yang akhirnya mendorong kenaikan harga berbagai komoditas. Dampak lanjutan yang paling dikhawatirkan adalah melemahnya konsumsi rumah tangga, padahal konsumsi selama ini menjadi mesin utama pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Kajian dari Center of Economic and Law Studies (CELIOS) bahkan memperkirakan tekanan terhadap daya beli kelas menengah dapat memperbesar jumlah masyarakat yang rentan jatuh ke dalam kemiskinan. Ketika pengeluaran untuk kebutuhan pokok dan transportasi semakin besar, ruang untuk menabung, berinvestasi, maupun membelanjakan pendapatan pada sektor-sektor produktif akan semakin menyempit.
Di sisi lain, pemerintah berpendapat dampak terhadap inflasi nasional masih relatif terbatas karena Pertamax hanya dikonsumsi oleh kelompok tertentu dan memiliki bobot yang kecil dalam keranjang inflasi. Argumentasi tersebut memang memiliki dasar statistik. Namun dalam praktiknya, dampak ekonomi tidak selalu tercermin hanya melalui angka inflasi. Pelemahan daya beli kelas menengah, berkurangnya konsumsi, dan meningkatnya biaya usaha juga merupakan indikator penting yang menentukan kesehatan ekonomi nasional.
Kenaikan harga Pertamax juga membuka peluang terjadinya perpindahan pengguna ke BBM bersubsidi. Semakin lebar selisih harga antara Pertamax dan Pertalite, semakin besar pula dorongan masyarakat untuk beralih menggunakan BBM yang disubsidi negara. Jika migrasi ini terjadi dalam skala besar, beban subsidi energi yang harus ditanggung pemerintah akan meningkat dan ruang fiskal negara menjadi semakin terbatas.
Di tengah situasi tersebut, perdebatan publik kemudian bergeser pada prioritas belanja negara. Sejumlah ekonom dan aktivis mempertanyakan mengapa pemerintah tetap mempertahankan berbagai program dengan anggaran yang sangat besar, sementara masyarakat mulai menghadapi tekanan biaya hidup yang semakin berat. Program Makan Bergizi Gratis (MBG), misalnya, menjadi salah satu kebijakan yang paling banyak disorot karena menyerap anggaran ratusan triliun rupiah. Kritik yang muncul bukan semata-mata menolak tujuan program tersebut, melainkan mempertanyakan apakah alokasi anggaran sebesar itu masih menjadi pilihan yang paling tepat ketika daya beli masyarakat melemah dan kebutuhan perlindungan sosial semakin meningkat.
Kritik serupa juga diarahkan pada berbagai program prioritas lain yang dinilai belum memberikan dampak ekonomi secara langsung bagi masyarakat. Menurut para pengamat, ketika ruang fiskal semakin sempit, pemerintah seharusnya lebih memprioritaskan penciptaan lapangan kerja, memperkuat perlindungan sosial yang tepat sasaran, membantu sektor usaha yang terdampak, serta menjaga daya beli masyarakat agar roda ekonomi tetap berputar.
Pada akhirnya, kenaikan harga Pertamax bukan sekadar persoalan naiknya harga BBM nonsubsidi. Kebijakan ini menjadi ujian bagi pemerintah dalam menjaga keseimbangan antara kesehatan fiskal negara dan kesejahteraan masyarakat. Kenaikan harga energi mungkin tidak dapat dihindari ketika harga minyak dunia melonjak. Namun, yang akan menentukan dampaknya adalah bagaimana pemerintah merespons tekanan tersebut melalui kebijakan yang mampu melindungi masyarakat, menjaga aktivitas dunia usaha, dan memastikan bahwa beban penyesuaian ekonomi tidak terus-menerus dipikul oleh kelas menengah.
Sebab ketika kelas menengah mulai mengurangi konsumsi, dunia usaha menahan ekspansi, dan biaya hidup terus meningkat, yang dipertaruhkan bukan hanya angka inflasi atau pertumbuhan ekonomi. Yang dipertaruhkan adalah kepercayaan masyarakat bahwa setiap kebijakan negara benar-benar berpihak pada mereka yang setiap hari bekerja, membayar pajak, dan menjadi penggerak utama roda perekonomian Indonesia.
Ruliyanto







