Opini
Nilai Metafora Pada Puisi “ Hujan Deras di Waktu Senja”
Published
10 months agoon
By
Mitra Wacana

Liffira Putri Yendri mahasiswa Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas.
Permasalahan yang sering muncul dalam kehidupan sehari- hari yaitu perasaan kehilangan ditengah keadaan pergolakan batin yang tak menentu. Apalagi pada saat kita menghadapi momen-momen kesepian yang penuh tanda tanya, sama halnya seperti senja yang datang di antara terang dan gelap. Dalam kondisi ini, emosi bisa tumpah ruah, sama seperti hujan yang datang tanpa aba-aba. Perasaan ini terlihat pada Kang Thohir ingin menyampaika puisi yang berjudul “Hujan Deras di Waktu Senja”.
Puisi ini menggambarkan suasana yang penuh tekanan batin, serta makna dalam perasaan yang sangat sulit dijelaskan. Pada judul puisi Kang Thohir sudah mempunyai kesan metafora yang kuat, hujan yang deras sebagai simbol ledekan emosi serta luka yang belum sempat sembuh, sementara waktu senja sebagai lambang perpisahan, keraguan, atau akhir cerita yang belum sempat terselesaikan.
Dalam puisi ini, Kang Thohir seakan-akan mengajak pembaca untuk tidak hanya merasakan saja akan tetapi juga merenungi simbol-simbol alam yang menjadi metafora dari ketidakpastian yang diantara bait-bait membuka ruang yang mendalam, dimana gaya bahasa menjadi bagian utama dalam menyampaikan suasana yang tidak terucap secara selangsung. Keindahan dalam puisi dapat lahir dari kreativitas penyair melalui pilihan dan penggunaan bahasa yang unik. Pemilihan metafora ini dapat menjadikan puisi bukan sekedar lukisan suasana saja, akan tetapi sebagi cerminan batin manusia yang sedang menghadapi pergolakan emosi. Agar pemahaman tentang nilai metafora pada puisi lebih dapat dipahami, mari kita coba perhatikan tentang nilai metafora dari puisi “ Hujan Deras di Waktu Senja” karya Kang Thohir berikut:
Hujan deras di waktu senja
Asa kian menggebu semangat
Menangkap semua kesejukan yang ada
Dengan hati penuh hangat
Mengecap indahnya kesejukan
Menyegarkan seluruh pepohonan
Bau patrikor yang semerbak
Membuat wangi suasana ‘ tuk beranjak
Menyepi Heningnya suasana
Aku menatap penuh kerinduan
Dengan demikian aku masih merasakan
Bahwa di moment-moment ini seperti mengobati suatu kenangan
Brebes, 05 september 2024
Puisi “ Hujan Deras di Waktu Senja” Karya Kang Thohir yaitu penggambaran yang indah bagaimana suasana alam yang tidak hanya menyentuh hati tetapi juga memiliki makna yang sangat mendalam tentang hubungan antara alam dan juga perasaan manusia. Pada judul puisi menunjukkan latar suasana seperti hujan deras yang turun di waktu senja yang mana suasana alam sering kali digunakan saaat momen romantis, penenang dan healing. Kata “ Hujan” dan “Senja” seringkali dikaitkan dengan hal-hal yang sedih yang menyangkut kenangan, senja dan hujan sama-sama memberi makna yang mendalam sehingga menyiapkan hati yang mendalam juga. Banyak yang mengungkapkan bahwa senja layaknya kehidupan, indah namun hanya sementara.
Untuk memahami puisi ini lebih dalam, perlu diperhatikan bagaimana penggunaan metafora yang dapat dipadukan secara halus namun sangat berdampak luas. Penyair tidak hanya menciptakan suasana, melainkan menghadirkan alam sebagai cerminan batin seseorang. Hujan deras tidak hanya sekedar air yang hanya turun dari langit, melainkan juga menjadi lambang dari pikiran yang membuat stress, kenangan yang mengguyur, bahkan kesedihan yang tidak dapat dituturkan. Sementara pada “waktu senja” tidak hanya sekedar latar waktu, akan tetapi dapat berubah menjadi metafora bagi ketidakpastian, keraguan, atau momen sebagai renungan yang tidak pernah selesai. Penyair menyamarkan realitas batin di balik fenomena alam.
Dalam gaya bahasa, metafora dapat menjadi tumpuan utama dalam puisi ini. Melalui metafora penyair dapat menyamarkan realitas batin dibalik fenomena alam, namun pada saat yang sama penyair dapat menjelaskan lebih kuat bahwa hujan deras menjadi wajah dari kesedihan atau mungkin juga pembebasan, semetara itu senja hadir sebagai waktu yang tidak hanya sunyi , tetapi juga menyimpan beban waktu untuk perenungan , mengenang, penyesalan, atau bahkan menerima. Metafora pada puisi ini dapat membuatnya terasa dalam dan setiap pembaca bisa mengisi maknanya sendiri.
Metafora dalam puisi “ Hujan Deras di Waktu Senja “ dapat berperan penting dalam menyampaikan pesan emosional yang cukup mendalam. Hujan bukan hanya sekedar fenomena alam saja akan tetapi dapat menjadi simbol dari kesedihan, kenangan yang menyakitkan, atau perasaan batin yang tidak dapat diungkapkan secara langsung. Begitu pula dengan senja, yang bukan hanya sekedar latar waktu, tetapi sebagai metafora dari akhir, kehilangan, dan juga ruang renungan yang hening. Metafora dapat memberikan makna yang sesungguhnya namun tetap menyentuh inti dari persoalan manusia, seperti perasaan kehilangan, waktu yang terus berjalan, serta harapan yang tertinggal. Metafora tidak hanya memperindah puisi saja, tetapi juga memiliki makna yang sangat luas, yang dapat memungkinkan pembaca merasakan kedalaman emosional secara personal.
Dengan penggunaan metafora yang kuat, penyair berhasil mengubah pengalaman puitik yang sangat menyentuh. Hujan deras yang digambarkan melalui puisi ini tidak hanya sekedar membahas cuaca saja akan tetapi menjadi representasi dari beban dan perasaan yang datang tanpa bisa dikendalikam. Sementara itu, senja dapat menghadirkan suasana antara terang dan gelap yang mencerminkan ketidakpastian dalam hidup. Kedua elemen ini dapat diolah dengan metafora untuk menampilkan konflik batin yang dimiliki terasa nyata. Pembaca tidak hanya memahami makna secara literal tetapi juga menggali perasaan dan kenangan mereka sendiri.
Kekuatan metafora dalam puisi ini terletak pada kemampuannya untuk menciptakan suasana yang reflektif tanpa ada penjelasan secara langsung. Tanpa menggunakan kata kesedihan, kehilangan, atau penyesalan penyair memilih menggunakan gambaran hujan dan senja sebagai simbol untuk menyampaikan semuanya. Hal ini dapat menunjukkan bahwa metafora mampu menggantikan pernyataan emosional menjadi lebih halus dan mendalam. Dengan demikian puisi tidak hanya sebagai bacaan yang indah secara bahasa, tetapi menjadikan media penyampaian perasaan yang kompleks dalam bentuk yang sederhana namun penuh makna. Metafora dalam puisi ini dapat menjadikan bukti bahwa keindahan dalam puisi terletak pada kemampuan untuk menyampaikan hal- hal yang penuh makna melalui cara yang tenang dan simbolik.
Dapat disimpulkan bahwa puisi Hujan Deras di Waktu Senja karya Kang Thohir menghadirkan makna yang mendalam melalui metafora, hujan yang mengguyur dan senja yang hilang perlahan-lahan, penyair menyingkap sebuah ruang yang penuh dengan kerinduan, perenungan, dan keheningan yang nyaris tidak terucap, Metafora dalam puisi ini bukan sekadar perbandingan, akan tetapi menjadi pengalaman puitik penyair dapat menyamarkan namun secara tidak langsung justru menyentuh inti persoalan manusia tentang perasaan, tentang kehilangan, tentang waktu, bahkan tentang harapan yang tertinggal di ujung hari.
You may like
Opini
Sejarah May Day di Indonesia: Dari Perlawanan Kolonial hingga Momentum Aksi Modern
Published
3 hours agoon
30 April 2026By
Mitra Wacana
Peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day setiap 1 Mei di Indonesia bukan sekadar seremoni tahunan. Ia merupakan jejak panjang perjuangan kelas pekerja yang tumbuh sejak era kolonial, melewati berbagai rezim politik, hingga menjadi ruang artikulasi tuntutan buruh di masa kini.
Jejak Awal di Masa Kolonial
Catatan sejarah menunjukkan, peringatan Hari Buruh pertama di Indonesia terjadi pada 1 Mei 1918, saat wilayah ini masih berada di bawah kekuasaan Hindia Belanda. Aksi tersebut dipelopori oleh serikat buruh Kung Tang Hwee di Surabaya. Para pekerja turun ke jalan sebagai bentuk perlawanan terhadap kebijakan kolonial yang dinilai eksploitatif—mulai dari upah rendah hingga kondisi kerja yang tidak layak.
Momentum ini tidak hanya menjadi tonggak awal gerakan buruh di Indonesia, tetapi juga disebut sebagai salah satu peringatan May Day pertama di kawasan Asia. Selain di Surabaya, aksi serupa juga muncul di Semarang, menandai mulai terorganisasinya kesadaran kolektif buruh terhadap hak-hak mereka.
Pengakuan di Awal Kemerdekaan
Pasca kemerdekaan, pemerintah Indonesia menunjukkan keberpihakan terhadap buruh dengan menetapkan 1 Mei sebagai hari peringatan resmi. Pada 1946, Kabinet Sjahrir mendorong pengakuan tersebut, yang kemudian diperkuat melalui Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1948. Regulasi ini memberikan hak libur bagi pekerja setiap 1 Mei sebagai bentuk penghormatan atas perjuangan mereka.
Namun, pengakuan tersebut tidak berlangsung konsisten. Dinamika politik nasional membawa perubahan signifikan terhadap ruang gerak buruh di tahun-tahun berikutnya.
Represi di Era Orde Baru
Situasi berubah drastis setelah peristiwa 1965. Pada masa Orde Baru (1966–1998), peringatan May Day dilarang dan dicap sebagai aktivitas yang berpotensi mengganggu stabilitas nasional. Pemerintah menerapkan sistem serikat tunggal melalui Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI), sekaligus membatasi kemunculan organisasi buruh independen.
Sejumlah aktivis yang berupaya melawan pembatasan ini menghadapi tekanan serius. Nama-nama seperti Muchtar Pakpahan dari Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI) menjadi simbol perlawanan, meski harus berhadapan dengan intimidasi hingga pemenjaraan. Tragedi pembunuhan Marsinah pada 1993 menjadi salah satu peristiwa paling kelam dalam sejarah gerakan buruh Indonesia, yang hingga kini masih menyisakan luka dan pertanyaan.
Kembali Bangkit dan Pengakuan Resmi
Memasuki era Reformasi, ruang kebebasan berekspresi mulai terbuka. Buruh kembali memperingati May Day secara terbuka dengan berbagai aksi, mulai dari unjuk rasa hingga long march. Tekanan yang konsisten dari gerakan buruh akhirnya membuahkan hasil.
Pada 2013, pemerintah di bawah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono resmi menetapkan 1 Mei sebagai hari libur nasional. Kebijakan ini menandai kembalinya pengakuan negara terhadap pentingnya peran buruh dalam pembangunan.
Evolusi Tuntutan: Dari Upah hingga Kebijakan Makro
Seiring waktu, tuntutan buruh di Indonesia mengalami perkembangan signifikan. Jika pada era kolonial fokus utama adalah kenaikan upah dan perbaikan kondisi kerja, maka di era Reformasi tuntutan mulai bergeser ke ranah regulasi, seperti penolakan revisi Undang-Undang Ketenagakerjaan yang dinilai merugikan pekerja.
Memasuki era modern, hingga 2026, spektrum tuntutan semakin luas. Buruh tidak hanya menyoroti isu upah dan kondisi kerja, tetapi juga kebijakan makro seperti penghapusan sistem outsourcing, penyesuaian Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP), jaminan sosial, serta dorongan pengesahan regulasi ketenagakerjaan yang berpihak pada pekerja sesuai putusan Mahkamah Konstitusi.
Momentum yang Terus Hidup
Hari Buruh di Indonesia hari ini menjadi lebih dari sekadar peringatan historis. Ia adalah panggung bagi pekerja untuk menyuarakan aspirasi, menuntut keadilan, dan mengingatkan negara akan tanggung jawabnya.
Dari jalanan Surabaya pada 1918 hingga gelombang aksi di berbagai kota pada 2026, May Day terus hidup sebagai simbol perjuangan yang belum selesai—sebuah pengingat bahwa kesejahteraan dan keadilan bagi buruh adalah proses yang harus terus diperjuangkan.
Ruliyanto

Sejarah May Day di Indonesia: Dari Perlawanan Kolonial hingga Momentum Aksi Modern

Kasus Daycare Little Aresha Yogyakarta: 13 Tersangka Ditetapkan, Puluhan Balita Diduga Jadi Korban

Patrimonialisme Modern: Mengkaji pergeseran dari birokrasi legal-rasional menuju bentuk Neo-Patrimonialisme

Kasus Daycare Little Aresha Yogyakarta: 13 Tersangka Ditetapkan, Puluhan Balita Diduga Jadi Korban

Patrimonialisme Modern: Mengkaji pergeseran dari birokrasi legal-rasional menuju bentuk Neo-Patrimonialisme






