Opini
BBM Naik, Tekanan Ekonomi Masyarakat Semakin Berat
Published
3 hours agoon
By
Mitra Wacana
Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) hampir selalu menjadi sinyal awal meningkatnya tekanan ekonomi. Dampaknya tidak berhenti di stasiun pengisian bahan bakar, tetapi menjalar ke ongkos transportasi, biaya logistik, harga kebutuhan pokok, hingga kemampuan masyarakat mempertahankan daya beli. Karena itu, keputusan PT Pertamina menaikkan harga Pertamax dan Pertamax Green 95 pada 10 Juni 2026 bukan sekadar penyesuaian harga energi, melainkan kebijakan yang berpotensi memengaruhi aktivitas ekonomi secara lebih luas.
Pertamina menetapkan harga Pertamax (RON 92) dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter atau naik sekitar 32 persen. Sementara Pertamax Green 95 meningkat dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter. Di sisi lain, pemerintah tetap mempertahankan harga BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Solar Subsidi agar tidak berubah. Langkah ini memang dimaksudkan untuk melindungi masyarakat berpenghasilan rendah dari gejolak harga minyak dunia yang terus meningkat akibat konflik geopolitik di Timur Tengah. Namun, di balik keputusan tersebut muncul kelompok yang justru menanggung beban paling besar, yakni kelas menengah dan bawah.
Selama beberapa tahun terakhir, kelas menengah menjadi tulang punggung konsumsi rumah tangga nasional. Mereka tidak termasuk penerima bantuan sosial, tetapi juga tidak memiliki bantalan ekonomi yang cukup ketika biaya hidup meningkat secara tiba-tiba. Kenaikan harga Pertamax lebih dari 30 persen membuat kelompok ini harus mengalokasikan pengeluaran tambahan yang tidak sedikit. Pengguna kendaraan yang menghabiskan sekitar 100 liter BBM setiap bulan kini harus merogoh kocek hampir Rp400 ribu lebih banyak. Bagi mereka yang menggunakan kendaraan untuk bekerja atau menjalankan usaha dengan konsumsi sekitar 150 liter per bulan, tambahan pengeluaran mendekati Rp600 ribu menjadi beban yang nyata.
Persoalannya bukan semata-mata bertambahnya biaya membeli BBM. Kenaikan harga energi selalu memiliki efek berantai terhadap perekonomian. Biaya transportasi yang meningkat akan diikuti naiknya ongkos distribusi barang, tarif jasa logistik, biaya pengiriman, hingga harga berbagai kebutuhan sehari-hari. Pelaku usaha pada akhirnya dihadapkan pada dua pilihan yang sama-sama berat, yakni menaikkan harga jual kepada konsumen atau menekan biaya operasional agar usaha tetap bertahan. Dalam situasi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih, pilihan kedua sering kali berarti menunda ekspansi usaha, mengurangi investasi, bahkan melakukan efisiensi tenaga kerja.
Sektor logistik, transportasi, jasa kurir, pariwisata, hingga pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah diperkirakan menjadi kelompok yang paling cepat merasakan dampaknya. Ketika biaya operasional meningkat sementara daya beli masyarakat melemah, ruang bagi dunia usaha untuk tumbuh menjadi semakin sempit. Jika kondisi ini berlangsung dalam waktu yang cukup lama, perlambatan ekonomi dan meningkatnya risiko pemutusan hubungan kerja bukanlah sesuatu yang mustahil terjadi.
Sejumlah ekonom menilai kenaikan harga Pertamax akan memicu inflasi, baik secara langsung maupun tidak langsung. Inflasi tidak hanya berasal dari naiknya harga bensin dalam perhitungan indeks harga konsumen, tetapi juga dari meningkatnya biaya distribusi yang akhirnya mendorong kenaikan harga berbagai komoditas. Dampak lanjutan yang paling dikhawatirkan adalah melemahnya konsumsi rumah tangga, padahal konsumsi selama ini menjadi mesin utama pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Kajian dari Center of Economic and Law Studies (CELIOS) bahkan memperkirakan tekanan terhadap daya beli kelas menengah dapat memperbesar jumlah masyarakat yang rentan jatuh ke dalam kemiskinan. Ketika pengeluaran untuk kebutuhan pokok dan transportasi semakin besar, ruang untuk menabung, berinvestasi, maupun membelanjakan pendapatan pada sektor-sektor produktif akan semakin menyempit.
Di sisi lain, pemerintah berpendapat dampak terhadap inflasi nasional masih relatif terbatas karena Pertamax hanya dikonsumsi oleh kelompok tertentu dan memiliki bobot yang kecil dalam keranjang inflasi. Argumentasi tersebut memang memiliki dasar statistik. Namun dalam praktiknya, dampak ekonomi tidak selalu tercermin hanya melalui angka inflasi. Pelemahan daya beli kelas menengah, berkurangnya konsumsi, dan meningkatnya biaya usaha juga merupakan indikator penting yang menentukan kesehatan ekonomi nasional.
Kenaikan harga Pertamax juga membuka peluang terjadinya perpindahan pengguna ke BBM bersubsidi. Semakin lebar selisih harga antara Pertamax dan Pertalite, semakin besar pula dorongan masyarakat untuk beralih menggunakan BBM yang disubsidi negara. Jika migrasi ini terjadi dalam skala besar, beban subsidi energi yang harus ditanggung pemerintah akan meningkat dan ruang fiskal negara menjadi semakin terbatas.
Di tengah situasi tersebut, perdebatan publik kemudian bergeser pada prioritas belanja negara. Sejumlah ekonom dan aktivis mempertanyakan mengapa pemerintah tetap mempertahankan berbagai program dengan anggaran yang sangat besar, sementara masyarakat mulai menghadapi tekanan biaya hidup yang semakin berat. Program Makan Bergizi Gratis (MBG), misalnya, menjadi salah satu kebijakan yang paling banyak disorot karena menyerap anggaran ratusan triliun rupiah. Kritik yang muncul bukan semata-mata menolak tujuan program tersebut, melainkan mempertanyakan apakah alokasi anggaran sebesar itu masih menjadi pilihan yang paling tepat ketika daya beli masyarakat melemah dan kebutuhan perlindungan sosial semakin meningkat.
Kritik serupa juga diarahkan pada berbagai program prioritas lain yang dinilai belum memberikan dampak ekonomi secara langsung bagi masyarakat. Menurut para pengamat, ketika ruang fiskal semakin sempit, pemerintah seharusnya lebih memprioritaskan penciptaan lapangan kerja, memperkuat perlindungan sosial yang tepat sasaran, membantu sektor usaha yang terdampak, serta menjaga daya beli masyarakat agar roda ekonomi tetap berputar.
Pada akhirnya, kenaikan harga Pertamax bukan sekadar persoalan naiknya harga BBM nonsubsidi. Kebijakan ini menjadi ujian bagi pemerintah dalam menjaga keseimbangan antara kesehatan fiskal negara dan kesejahteraan masyarakat. Kenaikan harga energi mungkin tidak dapat dihindari ketika harga minyak dunia melonjak. Namun, yang akan menentukan dampaknya adalah bagaimana pemerintah merespons tekanan tersebut melalui kebijakan yang mampu melindungi masyarakat, menjaga aktivitas dunia usaha, dan memastikan bahwa beban penyesuaian ekonomi tidak terus-menerus dipikul oleh kelas menengah.
Sebab ketika kelas menengah mulai mengurangi konsumsi, dunia usaha menahan ekspansi, dan biaya hidup terus meningkat, yang dipertaruhkan bukan hanya angka inflasi atau pertumbuhan ekonomi. Yang dipertaruhkan adalah kepercayaan masyarakat bahwa setiap kebijakan negara benar-benar berpihak pada mereka yang setiap hari bekerja, membayar pajak, dan menjadi penggerak utama roda perekonomian Indonesia.
Ruliyanto
Opini
Understanding Stress: Why it Matters and How to Manage It
Published
1 day agoon
11 June 2026By
Mitra Wacana

Anna de Muinck Keizer university of Amsterdam
Indonesia is among the seven countries with the highest stress levels in Southeast Asia. As it affects a large part of the population it is important to understand what stress is and how we can cope with it.
What is stress?
Stress is a normal part of life. Everyone experiences stress at some point, whether it is caused by work, family responsibilities, financial concerns, or major life changes. Stress is the body’s natural response to challenges and demands. There are different types of stress. Acute stress is defined as stress caused by an immediate reaction to a certain stressor. The stress disappears when the situation is over and can be caused by for example running late for an appointment or an upcoming presentation. Chronic stress is experienced when stress is built up from repeated exposure to stressful situations. There are chemical changes in your body that occur and can be caused by for example a high-demanding job or financial difficulties.
Symptoms and consequences
Stress can manifest in an individual in different ways. Cognitive symptoms can be memory problems or constant worrying and anxiety. But an individual can also experience loneliness or irritability. Other symptoms could be neglecting responsibilities, sleep disturbances or appetite changes. Possible physical symptoms could be (chronic) fatigue, skin problems or breathing problems. If these symptoms of stress are experienced long-term, it can have several consequences. Long-term stress can cause mental health problems like depression and personality disorders. Other consequences could be eating disorders, gastrointestinal problems or an increased risk of cardiovascular diseases.
Coping strategies
The way we respond to stress has an influence on our overall wellbeing and coping strategies are the methods people use to handle stress. Maladaptive coping strategies are negative ways of managing your stress, these strategies may cause short-term relief but worsen mental health in the long run. Denial, substance use, avoidance or self-blame are recognized as examples of unhealthy coping strategies. However, adaptive coping strategies are healthy ways to manage your stress and can improve your wellbeing. These positive reactions to stress are for example seeking support, exercising, praying or practicing self-care.
An effective way to cope with stress is talking about it. Research has shown that social support can help reduce stress and improve wellbeing. Discussing stress and mental health with for example your family members or trusted friends can reduce feelings of isolation, increase resilience to stress and encourage help-seeking behaviour. Unfortunately, mental health problems are still surrounded by a stigma. Improving our knowledge on mental health can help reduce this stigma and adapting a positive attitude against mental health are critical for encouraging help seeking behaviour. It should be normalised that seeking support is a sign of strength, not weakness.
In addition to seeking support, small daily habits can help reduce stress. Maintaining a healthy diet, regular exercise, practicing deep breathing, listening to music, spending time with loved ones or even just taking a walk can contribute to better mental well-being.
Key takeaway: Stress remains a part of life, but it should not take control. By recognizing stress, having open discussions about mental health and engaging in healthy coping strategies, we can improve our well-being and strengthen our resilience.
References
Attia, M., Ibrahim, F. A., Elsady, M. A., Khorkhash, M. K., Rizk, M. A., Shah, J., & Amer, S. A. (2022). Cognitive, emotional, physical, and behavioral stress-related symptoms and coping strategies among university students during the third wave of COVID-19 pandemic. Frontiers in Psychiatry, 13, 933981. https://doi.org/10.3389/fpsyt.2022.933981
Bienertova‐Vasku, J., Lenart, P., & Scheringer, M. (2020). Eustress and distress: neither good nor bad, but rather the same? BioEssays, 42(7), e1900238. https://doi.org/10.1002/bies.201900238
Chaaya, R., Sfeir, M., Khoury, S. E., Malhab, S. B., & Khoury-Malhame, M. E. (2025). Adaptive versus maladaptive coping strategies: insight from Lebanese young adults navigating multiple crises. BMC Public Health, 25(1), 1464. https://doi.org/10.1186/s12889-025-22608-4
Hartini, N., Fardana, N. A., Ariana, A. D., & Wardana, N. D. (2018). Stigma toward people with mental health problems in Indonesia. Psychology Research and Behavior Management, Volume 11, 535–541. https://doi.org/10.2147/prbm.s175251
IPB University. (2026, January). 28 million Indonesians experience mental health problems, IPB University Faculty of Medicine lecturer: Reasonable. IPB University. https://www.ipb.ac.id/news/index/2026/01/28-million-indonesians-experience-mental-health-problems-ipb-university-faculty-of-medicine-lecturer-reasonable/
Reblin, M., & Uchino, B. N. (2008a). Social and emotional support and its implication for health. Current Opinion in Psychiatry, 21(2), 201–205. https://doi.org/10.1097/yco.0b013e3282f3ad89
Regene AI. (2024). The most stressed your body and how to manage it. Regene AI. https://regene.ai/articles/most-stressed-your-body-and-how-to-manage-it
Salim, N. K., Benu, J. M. Y., Pello, S. C., & Anakaka, D. L. (2024). Attitudes toward mental health and help-seeking behaviour among psychology students at Nusa Cendana University. Journal of Health and Behavioral Science, 6(3), 361–375
Srakocic, S. (2023, December 12). What’s the difference between chronic and acute stress? Healthline. https://www.healthline.com/health/stress/acute-vs-chronic-stress#symptoms

BBM Naik, Tekanan Ekonomi Masyarakat Semakin Berat

Understanding Stress: Why it Matters and How to Manage It






